Rabu, 20 Mei 2020

Kejutan budaya untuk tentara Belanda di Indonesia (1)

PENGANTAR

Ketika Belanda mengirim bala tentaranya ke Indonesia di tahun 1945-1949, tidak sedikit di antara mereka yang baru pertama kali datang ke Indonesia. Kejutan budaya pun tak terhindarkan, seperti yang direkam oleh beberapa gambar di bawah ini. Gambar-gambar ini menangkap sudut pandang Belanda atas sisi kocak dari perang di Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Musuh Belanda selain TNI adalah nyamuk. Sulit dikalahkan meskipun Belanda sudah mengerahkan bermacam senjata seperti semprotan dan sapu lidi.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Selamat datang di negeri yang ukurannya serba lebih kecil. Awas ... kalau naik becak, naik delman bakal kejeduk. Jadi hiburan buat kuda.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Dulu sebelum lelaki Indonesia datang ke Belanda untuk melihat wanita bule berpakaian minim, yang terjadi adalah sebaliknya: lelaki Belanda datang ke Indonesia untuk melihat aurat perempuan Nusantara. Kalau dia tentara, dia punya dalih: "tugas pengintaian".
 
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Akhirnya tentara Belanda menyimpulkan bahwa memelihara monyet jauh lebih ampuh dalam menghadapi kutu rambut daripada DDT.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Tentara Belanda mendapati bahwa dengan menyuruh bocah Indonesia mereka bisa hidup laksana seorang sultan.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Pasukan Belanda masih harus belajar bahwa memukul kentongan itu membangunkan seiisi kampung.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Tentara Belanda harus membiasakan diri merayakan Natal dan Tahun Baru dengan makan sate, bukan minum anggur.

Waktu: semasa perang kemerdekaan
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Penggambar: S. van Basel (#1-2), Johnny Rider (#3-6)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar