Tampilkan postingan dengan label 1933. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1933. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (18)

Sebuah kantor pos dan telegraf
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1933: Seorang perwira KNIL (kiri) menyambut kedatangan seorang petinggi/tamu (Jepang?) yang dikawal seorang tentara (Jepang?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1930: Sebuah gedung yang bermandikan cahaya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang lelaki Belanda dan beberapa wanita lokal
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1900: Gamelan keraton
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1900, 1930, 1933
Tempat: a.l. Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 23 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (2)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Keluarga Keraton Kanoman di tahun 1931: Samsoedin memperlihatkan ayahnya (Sultan Anom?), ibunya, dan saudara-saudaranya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Acara ulang tahun keponakan Samsoedin, anak dari Mochtar, yang bernama Otje
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang menunjukkan Samsoedin bersama teman-teman sekolahnya di MULO-C, saat lebaran 1931, serta bersama mobil dan anjing herder di 1933
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perjalanan Samsoedin bersama ayah, ibu, dan saudara a.l. ke Surabaya, Mojokerto, dan Pantai Popoh di Tulungagung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perjalanan Samsoedin bersama ayah, ibu, dan saudara mengunjungi Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon, serta acara sekaten di Solo dan Yogyakarta, di samping Pasar Gede dan Sriwedari, Solo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Keluarga Samsoedin di Jakarta; di bagian atas ada tiga foto yang lepas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Cirebon, Jakarta, Magelang, Mojokerto, Semarang, Solo, Tulungagung, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 09 Juni 2022

Perkebunan tebu pemasok pabrik gula Wonopringgo, Pekalongan, 1926

Perkebunan tebu di kawasan Bojong Kidul dengan latar belakang Gunung Slamet
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah seorang mandor perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Mesin pompa air di perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para mandor perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gunung Slamet dilihat dari kawasan perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1926, kecuali foto terakhir 1933
Tempat: Wonopringgo (Pekalongan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 27 Desember 2021

"Geng" motor di Bandung, tahun 1930-an

(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: antara 1930 dan 1933
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Gambar diambil dari album foto milik keluarga Samsudin.

Minggu, 14 Februari 2021

Poster partai politik Belanda yang mendukung dan menolak kemerdekaan Indonesia, 1929/1933/1948

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster di atas diterbitkan oleh Partai Komunis Belanda dalam kampanye pemilihan umum parlemen Belanda di tahun 1929. Poster ini menyatakan bahwa 50 juta rakyat Indonesia mulutnya dibungkam, dengan bendera Belanda, dan oleh tangan dengan tera Singa Belanda; dan bahwa hanya Partai Komunis Belanda yang berjuang untuk mereka, dan karenanya menyeru rakyat Belanda agar memilih Louis de Visser, Ketua Partai Komunis Belanda saat itu.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciƫn di perairan Hindia-Belanda di bulan Februari 1933 menggoncang dunia politik Belanda yang tidak menyangkan akan adanya pembangkangan dari kalangan bersenjata di wilayah Hindia-Belanda terhadap pemerintah Belanda. Dalam pemilihan umum parlemen Belanda tahun 1933 kalangan komunis Belanda menggunakan peristiwa ini untuk menyerukan lepasnya Indonesia dari (kekuasaan) Belanda, dan mengutip ucapan Karl Marx (tapi dengan menampilkan siluet Lenin) bahwa "Suatu bangsa tidak akan bebas selama ia menindas bangsa lain".

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Posisi yang berbeda dipegang oleh Partai Anti-Revolusioner. Dalam pemilihan umum Belanda tahun 1948, di tengah konflik bersenjata di Indonesia, partai Protestan konservativ yang a.l. dimotor oleh ini menyatakan bahwa yang harus ditegakan di Hindia-Belanda adalah hukum (Belanda) dan bukan kekacauan yang ditimbulkan oleh Republik (Indonesia).

Waktu: 1929, 1933, 1948
Tempat: poster di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke hal terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 12 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan cepat dari Belanda ke Indonesia, 1933-1934

Setelah berhasil melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di tahun 1924, para perintis penerbangan Belanda membuat rekor baru di bulan Desember tahun 1933: penerbangan Belanda-Indonesia dalam waktu 4 hari, sebuah prestasi yang mencengangkan di saat itu (lihat posting tentang ini).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di bulan November 1933, sudah keluar perangko yang menggambarkan akan adanya penerbangan pos cepat pertama antara Amsterdam dan Jakarta. Gambar yang ditampilkan pesawat berbaling-baling tiga, yang sedikit banyak mirip dengan pesawat Fokker F18 "Pelikan" yang sebulan kemudian melakukan penerbangan yang sebenarnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini keluar tahun 1934 untuk mengenang pesawat "Pelikan" dan empat awaknya yang menempuh rute penerbangan terpanjang di dunia saat itu sejauh 14.350 km. Sebagai perbandingan, poster ini menunjukkan rute penerbangan terjauh negara lain seperti Inggris (London-Kapstadt dan London-Madras), serta Perancis (Marseille-Saigon) yang masih lebih pendek daripada Amsterdam-Jakarta-Bandung.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kalau sebelumnya pabrik biskuit Elder membuat permainan papan untuk mengenang penerbangan H-NACC di tahun 1924, maka kali ini giliran pabrik semir sepatu Erdal untuk membuat permainan yang mirip untuk mengenang penerbangan Pelikan PH-AIP. Permainan ini memperlihatkan rute mulai dari Amsterdam dengan tujuan Jakarta, dilanjutkan ke Bandung, dan kembali ke Amsterdam.

Waktu: 1933, 1934
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 27 Oktober 2020

Patung Jenderal Van Heutsz di kota kelahirannya Coevorden, Belanda, 1933

Catatan atau keterangan asli pada foto-foto dari arsip Belanda, yang a.l. dimuat di posting ini, tidak jarang menjuluki para pejuang kemerdekaan dengan istilah "ekstremis", "subversif", "bandit", bahkan "teroris". Pahlawan bagi satu pihak, memang bisa jadi penjahat bagi pihak lain; dan sebaliknya. Demikian juga halnya dengan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz: Bagi Belanda dia adalah pahlawan yang memenangkan perang alot melawan rakyat Aceh; sementara sejarah Indonesia mengenangnya sebagai pembantai rakyat Aceh.

Di tahun 1933, sembilan tahun setelah Van Heutsz meninggal, Pangeran Hendrik (suami Ratu Wilhelmina) meresmikan berdirinya patung Van Heutsz di Coevorden, tempat kelahiran jenderal ini. Foto di bawah memperlihatkan patung ini di tahun peresmiannya. Di tahun 2009, atau 76 tahun kemudian, Coevorden diam-diam membongkar patung ini dan memindahkannya. Tampaknya waktu juga bisa mengubah pandangan orang tentang apakah seseorang itu bisa menjadi kebanggaan atau tidak.

(klik untuk memperbesar | AVS)

(klik untuk memperbesar | AVS)

Waktu: 1933
Tempat: Coevorden, Belanda
Tokoh: Joannes Benedictus van Heutsz (Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 13 Februari 2019

Penjualan "Aplus", oli mesin buatan Hindia-Belanda, 1933

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1933
Tempat: Jawa (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Minjak motor yang ringankan benzine ini saat itu dipasarkan hingga ke New York.

Jumat, 04 Januari 2019

Sambutan atas kedatangan pesawat Pelikan, alat transportasi pertama yang menempuh perjalanan dari Belanda ke Indonesia hanya dalam 4 hari, 1933

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 23 Desember 1933
Tempat: Cililitan (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa: Perjalanan dari Belanda menuju Hindia-Belanda zaman dulu bisa berlangsung beberapa bulan dengan menggunakan kapal uap. Terobosan pertama dilakukan oleh KLM di tahun 1924 dengan penerbangan pertama menuju Hindia-Belanda; dan perjalanan ini berlangsung sekitar lima minggu dengan paling tidak 20 pemberhentian. Pada bulan Desember 1933 KLM mencatat sejarah baru, karena pesawat Fokker F18 bermesin tiga  dengan nama "Pelikan" dan berkode PH-AIP, berhasil menempuh perjalanan dari Schippol menuju Jakarta "hanya" dalam waktu 4 hari, 4 jam, serta 40 menit; sebuah rekor yang mencengangkan di saat itu. Tidak heran, warga Belanda di Jakarta pada saat itu berbondong-bondong datang ke Cililitan (sekarang "Halim Perdanakusuma") untuk menyambut kedatangan alat transportasi "ajaib" ini.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Jumat, 14 Desember 2018

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciƫn, 1933 (2)

Kapal HNMLS De Zeven Provinciƫn adalah sebuah kapal perang Belanda buatan tahun 1909. Di bulan November 1910 kapal ini berangkat dari Belanda menuju Hindia-Belanda, tempat dia nantinya bertugas, dan sampai dua bulan kemudian di Januari 1911.

Di bulan Februari 1933, ketika kapal ini berada di perairan barat laut Sumatera, para awak dan serdadu kapal mendapat kabar bahwa pemerintah Hindia-Belanda akan melakukan tindakan pemotongan upah dan gaji sebagai kebijakan menghadapi resesi ekonomi dunia saat ini. Hal ini memicu para awak kapal untuk melakukan pemberontakan. Kejadian ini mengagetkan masyarakat Belanda dan menggemparkan dunia politik Belanda, bahkan hingga beberapa bulan sesudahnya.

Selama enam hari, De Zeven Provinciƫn berlayar menyusuri pantai Sumatera ke arah selatan, hinggak akhirnya pemerintah Belanda (bukan Hindia-Belanda) memberi lampu hijau kepada kesatuan KNIL Udara untuk membom pesawat yang membangkang ini. Dua puluh tiga awak tewas akibat serangan udara, sementara lambung pesawat rusak berat.

Pemberontakan berakhir. Para awak dan serdadu yang memberontak dibawa ke Pulau Onrust dan dipenjarakan. Salah satunya adalah awak asal Maluku, Pelupessy, yang kemudian, ketika Indonesia menyatakan merdeka, bergabung dengan Divisi Siliwangi di wilayah sekitar Tasikmalaya.

Pesawat amfibi dan kapal selam yang memburu De Zeven Provinciƫn.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
De Zeven Provinciƫn rusak setelah dijatuhi bom yang menewaskan 23 awak kapal.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penjelajah Java (kiri) mendekati De Zeven Provinciƫn (kanan) setelah kapal yang memberontak ini dibom.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal angkut Orion membawa para awak De Zeven Provinciƫn ke Pulau Onrust untuk ditahan.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: Februari 1933
Tempat: perairan lepas pantai Sumatera (kecuali foto terakhir: perairan Pulau Onrust)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 12 Desember 2018

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciƫn, 1933 (1)

Kapal HNMLS De Zeven Provinciƫn adalah sebuah kapal perang Belanda buatan tahun 1909. Di bulan November 1910 kapal ini berangkat dari Belanda menuju Hindia-Belanda, tempat dia nantinya bertugas, dan sampai dua bulan kemudian di Januari 1911.

Di bulan Februari 1933, ketika kapal ini berada di perairan barat laut Sumatera, para awak dan serdadu kapal mendapat kabar bahwa pemerintah Hindia-Belanda akan melakukan tindakan pemotongan upah dan gaji sebagai kebijakan menghadapi resesi ekonomi dunia saat ini. Hal ini memicu para awak kapal untuk melakukan pemberontakan. Kejadian ini mengagetkan masyarakat Belanda dan menggemparkan dunia politik Belanda, bahkan hingga beberapa bulan sesudahnya.

Selama enam hari, De Zeven Provinciƫn berlayar menyusuri pantai Sumatera ke arah selatan, hinggak akhirnya pemerintah Belanda (bukan Hindia-Belanda) memberi lampu hijau kepada kesatuan KNIL Udara untuk membom pesawat yang membangkang ini. Dua puluh tiga awak tewas akibat serangan udara, sementara lambung pesawat rusak berat.

Pemberontakan berakhir. Para awak dan serdadu yang memberontak dibawa ke Pulau Onrust dan dipenjarakan. Salah satunya adalah awak asal Maluku, Pelupessy, yang kemudian, ketika Indonesia menyatakan merdeka, bergabung dengan Divisi Siliwangi di wilayah sekitar Tasikmalaya.


Kapal perang De Zeven Provinciƫn (atas), dikawal sebuah kapal torpedo (bawah) dalam perjalanan kedua dari Belanda menuju Hindia-Belanda.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penjelajah Java (kiri) dan Piet Hein (kanan) yang diperintahkan memburu De Zeven Provinciƫn.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal selam dan pesawat amfibi yang memburu De Zeven Provinciƫn.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penyapu ranjau Gouden Leeuw (kanan) mebuntuti dan mengawasi De Zeven Provinciƫn (kiri).
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penjelajah Java (kanan) dan Piet Hein (kiri) mengepung De Zeven Provinciƫn (tengah).
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: Februari 1933 (kecuali foto pertama, 1921)
Tempat: perairan lepas pantai Sumatera (kecuali foto pertama, perairan Den Helder, Belanda)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 02 Mei 2018

Para raja Sumba bersama administrator Belanda, L.C. Heyting, 1933

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1933
Tempat: Waingapu (Sumba)
Tokoh:
Peristiwa: Para raja Sumba berkumpul mengucapkan selamat jalan kepada administrator L.C. Heyting yang pulang ke Belanda.
Fotografer: Wa Tjioe
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan foto menyebutkan nama-nama raja sbb.: Taku Geli (Laura), Umbu Pati (Wewewa/Waijewa), Dera Wula (Kodi), David Bulan (Kodibengeto-Kodibelager), Koki Daha (Lauli), Umbu Mohamad (Memboro), Umbu Mbili Ngemunasa (Umbu Ratu Nggay), Umbu Sapi Pateuku (Anakalang), Guling Manyoba (Wanokaka), Eda Bora (Lamboya)

Minggu, 19 November 2017

Perkembangan Hotel Preanger, Bandung, dan jalan di sekitarnya dari tahun 1930 ke 1935

1930
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
1930
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
1930
(klik untuk memperbesar | © A.H. de Chantepie / KITLV)
1933
(klik untuk memperbesar | ©  J.H.B. Kuneman / KITLV)
1935
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
1935
(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: 1930, 1933, 1935
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Senin, 07 Agustus 2017

Jepretan K.T. Satake: Dua wanita Jawa membatik sekitar tahun 1933

(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: sekitar 1933
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: K.T. Satake
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan: K.T. Satake adalah fotografer Jepang yang berkeliling di Hindia-Belanda di tahun 1930-an dan mempublikasikan foto-fotonya di album berjudul Sumatra Java Bali yang dikeluarkan di tahun 1935.

Kamis, 03 Agustus 2017

Jepretan K.T. Satake: Kebun Raya Bogor di sekitar tahun 1933

(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: sekitar 1933
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: K.T. Satake
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan: K.T. Satake adalah fotografer Jepang yang berkeliling di Hindia-Belanda di tahun 1930-an dan mempublikasikan foto-fotonya di album berjudul Sumatra Java Bali yang dikeluarkan di tahun 1935.

Kamis, 20 Juli 2017

Jepretan K.T. Satake: Kaldera Tengger di sekitar tahun 1933

Gunung Semeru (belakang), Gunung Bromo (berasap), Gunung Batok (depan)
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Gunung Batok
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Gunung Semeru
(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: sekitar 1933
Tempat: Tengger
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: K.T. Satake
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan: K.T. Satake adalah fotografer Jepang yang berkeliling di Hindia-Belanda di tahun 1930-an dan mempublikasikan foto-fotonya di album berjudul Sumatra Java Bali yang dikeluarkan di tahun 1935.