Tampilkan postingan dengan label unjuk rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unjuk rasa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (2)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Vreugde na de bevrijding door de politionele actie. Java.
  • Terjemahan:Kegembiraan [masyarakat] setelah pembebasan [dari kekuasaan Republik] melalui Aksi Polisionil [1]. Jawa.
  • Bahasan:Foto ini diambil pada tanggal 27 Agustus 1947 di Pematang Siantar, bukan di Jawa. Dan ini adalah unjuk rasa mendukung pembentukan Negara Sumatera Timur, bukan reaksi atas Aksi Polisionil 1 yang dimulai Belanda di bulan Juli 1947.
  • Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.
Waktu: 27 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 25 September 2024

Kelompok kiri merayakan Hari Buruh di Jakarta, 1 Mei 1947 (2)

Berbagai slogan dan nama organisasi diusung, seperti "SBM (Sarikat Boeroeh Moebil", "Kokohkan Barisanmu", "Sarekat Boeroeh Djawatan Oeroesan Laoet T[andjoen]g Prioek", "1 Mei", "Djakarta 1 Mei", "Sarekat Buruh ... Pertjetakan ... Indonesia", dll.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang tokoh kiri Belanda (?) berorasi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tokoh kiri asal Belanda yang aktif di Asia, Brend Blokzijl
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Orasi dari tokoh kiri lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1 Mei 1947
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting ini.

Kamis, 19 September 2024

Republik Indonesia Serikat (11) - Negara Sumatera Timur: Foto-foto tambahan dari unjuk rasa di Pematang Siantar mendukung pembentukan NST

Pengantar: Sejarah Indonesia tentang masa tahun 1949-1950 akan menyebut kata RIS alias Republik Indonesia Serikat. Tetapi kita tidak banyak menemukan bahasan tentang hal itu. Boleh jadi karena negeri-negeri federasi ini dianggap negara boneka buatan Belanda, dan tokoh-tokohnya dipandang sebagai kaki tangan Belanda di dalam usaha mereka mempertahankan kendali mereka atas Indonesia.

Seri posting kali ini akan menampilkan beberapa foto yang berkenaan dengan RIS ini. Mudah-mudahan ini bisa berkontribusi di dalam menggali bagian sejarah Indonesia yang tampak terlantarkan ini.


Pengunjuk rasa dengan spanduk yang a.l. bertuliskan "Kami minta(m) Daerah Istimewa Soematra Timoer" dan "Kembalikan keamanan dan keadilan pada kami"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kerumunan para pengunjuk rasa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seri foto ini merupakan lanjutan dari posting sebelumnya yang dimuat sepuluh tahun lalu.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua tokoh Negara Sumatera Timur di antara para pengunjuk rasa: Tengku Dzulkarnain (melambaikan tangan) dan Tengku Mansyur (berpeci)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 27 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh: Tengku Mansyur (pemimpin Negara Sumatera Timur), Tengku Dzulkarnain (Ketua Dewan Sementara NST)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 07 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (4)

Beberapa warga kesatuan militer asal Maluku yang mendukung RMS mengadakan konferensi pers setelah unjuk rasa
(klik untuk memperbesar | © MHM)
Johannes Leimena, pendukung Republik Indonesia, menemui para pengunjuk rasa
(klik untuk memperbesar | © MHM)
Spanduk paling depan dimulai dengan kata "BUKAN Leimena ..."
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh: Johannes Leimena (Menteri Kesehatan, pahlawan nasional)
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Sabtu, 05 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (3)

(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Kamis, 03 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (2)

(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Selasa, 01 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (1)

(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Senin, 27 April 2020

Jepretan Charles Breijer 1947-1953: Anak-anak merayakan Hari Proklamasi yang keempat, 1949

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)

Waktu: 17 Agustus 1949
Tempat: Charles Breijer menyebut "dalam perjalanan menuju Jakarta"
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Sabtu, 28 Maret 2020

Unjuk rasa pelajar, mahasiswa, dan pemuda anti pemerintahan Soekarno (6): 1966

24 Februari: Unjuk rasa bersama yang juga dihadiri perwakilan Kowani
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
26 Mei: Unjuk rasa di depan kantor Letjen Soeharto meminta Sidang Istimewa MPRS tanggal 1 Juni 1966 untuk merombak kabinet
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
22 Agustus: Mahasiswa, pemuda, dan pelajar turun ke jalan ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... untuk menyampaikan ketidapuasan atas pidato kenegaraan Presiden Soekarno di Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1966
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)

Waktu: 1966
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Netherlands National News Agency
Catatan:

Kamis, 26 Maret 2020

Unjuk rasa pelajar, mahasiswa, dan pemuda anti pemerintahan Soekarno (5): Maret 1966

9 Maret: Para pengunjuk rasa menduduki Istora
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
14 Maret: Para pengunjuk rasa menaiki truk RPKAD (?) ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... menyambut gembira keluarnya Supersemar
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
17 Maret: Para pengunjuk rasa di Lapangan Banteng ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... antara lain mengusung daftar para pelajar dan mahasiswa yang tewas saat berunjuk rasa sebelumnya
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Waktu: 9/14/17 Maret 1966
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Netherlands National News Agency
Catatan:

Senin, 13 Mei 2019

Unjuk rasa membakar gambar Franklin D. Roosevelt dan Winston Churchill, 1944

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 15 November 1944
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh:
Peristiwa:  Unjuk rasa anti Sekutu yang diorganisir Jepang, dengan membakar gambar  Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt, dan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:  Catatan foto menyebutkan bahwa Soekarno terlibat langsung dalam aksi ini.

Sabtu, 27 April 2019

Kelompok kiri mengusung potret Soekarno dan juga Lenin serta Stalin, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1 Mei 1947
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh:
Peristiwa: Kelompok kiri memperingati tanggal 1 Mei dengan mengusung potret Stalin serta Lenin, dan juga Soekarno.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 19 Januari 2019

Beberapa foto dari tahun 1960-an

Ini adalah beberapa foto tanpa catatan yang mengundang pembaca untuk memberikan kontribusi tentang peristiwa apa, di mana, dan kapan.
Keterangan di bawah hanya perkiraan yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

Sukarelawati untuk diterjunkan di Papua dalam masa Trikora?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Soekarno menyematkan tanda jasa, atau melantik seorang perwira militer
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Unjuk rasa anti komunis menentang Universitas Res Publica?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Seorang tokoh kiri dibawa ke Mahmilub?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1960-an
Tempat: Jakarta (kecuali foto pertama)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 17 Januari 2019

Beberapa foto dari tahun 1950-an

Ini adalah beberapa foto tanpa catatan yang mengundang pembaca untuk memberikan kontribusi tentang peristiwa apa, di mana, dan kapan.
Keterangan di bawah hanya perkiraan yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

Ujuk rasa ke Istana Merdeka 17 Oktober 1952?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ujuk rasa ke Istana Merdeka 17 Oktober 1952?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ujuk rasa ke Istana Merdeka 17 Oktober 1952?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pemberontakan PRRI/Permesta?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
17 Desember 1957: Kesebelasan Belanda meninggalkan lapangan hijau dalam suasana panas ketika Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset Belanda di Indonesia
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1950-an
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 24 November 2018

Unjuk rasa kelompok kiri Belanda mengusung foto Soekarno dan Aidit, 1970

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 31 Juli 1970
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Menjelang kunjungan Presiden Soeharto ke Belanda di bulan September 1970, kelompok kiri Belanda melakukan unjuk rasa dengan meneriakkan Suharto Niet Gewenst (Soeharto tidak diinginkan), atau Vrijheid voor 150.000 pol. Gevangenen (kebebasan untuk 150.000 tahanan politik; maksudnya anggota PKI yang ditahan), serta membawa foto-foto dua tokoh yang pada saat itu sudah meninggal atau dieksekusi: Soekarno dan D.N. Aidit.
Fotografer: Dick Coersen
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 24 Agustus 2018

Warga Vietnam di Jepang berunjuk rasa mendukung kemerdekaan Indonesia, 1949

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 17 Januari 1949
Tempat: Taman Hibiya, Tokyo (Jepang)
Tokoh:
Peristiwa: Dr. Nguyen Rinh Nhiep, dengan diapit dua warga Vietnam lainnya, berorasi menentang Aksi Polisionil 2 yang dilancarkan Belanda, dan mendukung kemerdekaan Indonesia. Mereka mengusung pamflet bertuliskan Merdeka serta Vietnam serta pamflet lainnya dalam bahasa Inggris dan huruf Kanji.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Salah satu pamflet yang tampaknya diniatkan ironis berbunyi sbb.:
A message to Mr. Tojo,
Dear Tojo-San:
Though you've been hanged, we uphold your Pearl Harbor spirit..!
Yours very truly,
Dutch Militarists
The Hague, December 24 1948

Sementara karikatur menggambarkan seseorang bertuliskan Indonesia diseret oleh seorang wanita yang berkata Darling, you get into the coffin, please menuju kendaraan militer bertuliskan Dutch colonialism semantara orang-orang lain berlari menuju Conference dengan arah New Delhi.

Minggu, 19 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (20): Unjuk rasa di Medan

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 4 September 1947
Tempat: Medan
Tokoh:
Peristiwa: Warga Tionghoa di Medan berunjuk rasa menentang para pejuang kemerdekaan yang dianggap sebagai kepanjangan atau kelanjutan dari kekejaman militer Jepang yang menimpa warga Tionghoa di masa pendudukan Jepang.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Posting sebelum ini juga membahas hal yang sama.