Tampilkan postingan dengan label abad ke-19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abad ke-19. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kesibukan di pesisir Jakarta

Karya Joseph Meyer yang diwarnai: Menampilkan orang berkuda dengan topi lebar, nelayan yang sibuk di atas perahu mereka, dua perempuan di bawah pohon, serta gedung-gedung di balik dinding batas pertahanan
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Versi tak berwarna salinan oleh W. Wallis, yang menyalin dari C. Reiss (yang menyalin dari Joseph Meyer)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1850
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Jerman
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: aslinya oleh Joseph Meyer, disalin oleh C. Reiss, dan kemudian oleh W. Wallis
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi lain dari lukisan di atas pernah dimuat di posting ini.

Rabu, 25 Maret 2026

Hotel Marine di Jakarta dan Hotel Deli di Medan di abad ke-19

Hotel Deli di Sumatera Utara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Hotel Marine di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: abad ke-19
Tempat: Deli (atas), Jakarta (bwah)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury & Page (foto kedua)
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 24 Maret 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Perang Aceh (3)

Pemboman wilayah Aceh oleh armada laut Belanda
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1873
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Rotterdam (Belanda)
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Nijgh & Van Ditmar
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Minggu, 22 Maret 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Perang Aceh (2)

Kompleks pemakaman Keraton Aceh (atas); jembatan di atas Krueng Aceh di sekitar Gampong Jawa (bawah)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Pasukan Belanda menduduki Gunongan (atas); meriam dan peluru yang tergeletak di area Keraton Aceh (bawah)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1874
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Haarlem (Belanda)
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Emrik & Binger
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Lukisan-lukisan di atas tampaknya merupakan reproduksi tangan atas foto-foto keluaran Topografische Dienst van Nederlands-Indiƫ (lihat posting di sini, sini, sini, dan sini).

Sabtu, 03 Januari 2026

Kamis, 01 Januari 2026

Senin, 22 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang warga dan hewan di Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: kemungkinan abad ke-19 
Tempat terbit: London 
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas memperlihatkan satwa dan juga wajah-wajah orang Jawa. D.ki.k.ka. dan d.a.k.b.: elang dan burung hantu, kuntul, kijang, harimau menyerang seorang lelaki yang menunggang kerbau, harimau, wanita dari kalangan biasa dan pengantin ningrat, pekerja pria dan prajurit
Juru foto/gambar: Archibald Fullarton
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Kamis, 04 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Lukisan kuno tentang kawah Gunung Papandayan

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: kemungkinan abad ke-19 
Tempat terbit: Belanda atau Inggris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Pieter van Oort / W.J. Gordon
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Minggu, 30 November 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Lukisan kuno tentang Gunung Api Banda

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: kemungkinan besar abad ke-19 
Tempat terbit: Belanda (?)
Tokoh:
Deskripsi: Ini merupakan tiga penampakan Gunung Api Banda: sisi tenggara (atas), sisi timur laut (bawah kiri), dan kawahnya (bawah kanan).
Juru foto/gambar: Van Oort
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Jumat, 28 November 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Lukisan kuno tentang lembah beracun di Banten

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: abad ke-19 
Tempat terbit: kemungkinan London 
Tokoh:
Deskripsi: Ini kemungkinan berasal dari catatan perjalanan Alexander Loudon di Banten. Lembah beracun yang ditulis Guevo Upas ini masih sulit diidentifikasi. Tapi kemungkinan ini adalah salah satu mata sumber gas belerang di Banten yang membuat binatang (dan manusia?) yang mendekatinya terkena sesak napas dan kemudian tewas.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Senin, 24 November 2025

Sabtu, 26 April 2025

Beberapa lukisan kuno tentang Jakarta dari berbagai masa (4)

Karya C. Reiss (aslinya karya Joseph Meyer), abad ke-19: Salah satu sudut Jakarta dengan gedung-gedung perkotaan di latar belakang, serta Laut Jawa di sebelah kanan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Karya T. Dixon, 1818: Lukisan yang cukup dramatis karena mengesankan seolah-olah Jakarta berada di kaki gunung berapi dan dipenuhi oleh perkebunan kelapa
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: abad ke-19 (a.l. 1818)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: C. Reiss (aslinya karya Joseph Meyer), T. Dixon
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 22 Maret 2024

Gambar-gambar karya Auguste van Pers tentang kegiatan warga Hindia-Belanda sehari-hari di abad ke-19 (2)

Penjual ketupat
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Mencari kutu
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Dua wanita menumbuk padi
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: pertengahan abad ke-19
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Auguste van Pers
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 20 Maret 2024

Gambar-gambar karya Auguste van Pers tentang kegiatan warga Hindia-Belanda sehari-hari di abad ke-19 (1)

Pedagang jajanan yang manis-manis
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pandai keris
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Gardu ronda
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: pertengahan abad ke-19
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Auguste van Pers
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 19 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam foto studio: Studio Woodbury & Page, Jakarta (3)

Antara 1900 dan 1910: Seorang perwira KNIL Laut
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang pria Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1900-1910 (foto pertama); pertengahan kedua abad ke-19 (foto lainnya)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Woodbury & Page (dua foto terakhir); dan penerusnya, Studio Busenbender & Co, (foto pertama)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Di dua foto terakhir Woodbury & Page masih mencantumkan "Amsterdam".

Jumat, 15 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam foto studio: Studio Woodbury & Page, Jakarta (1)

Seorang pria Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1863: Seorang wanita Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: pertengahan kedua abad ke-19 (a.l. 1863)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 20 September 2023

Iklan tentang cairan perawatan rambut "minyak Makassar" di Inggris, abad ke-19

(klik untuk memperbesar)

Waktu: abad ke-19
Tempat: Inggris
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Dari buku Hair: An Illustrated History karya Susan J. Vincent
Catatan:

Senin, 10 Februari 2020

Beberapa sarana transportasi zaman dulu

Sarana yang selama ratusan tahun telah terbukti cepat, lincah, dan fleksibel adalah berkuda, seperti yang dilakukan oleh pejabat muda Belanda ini, ketika menginspeksi wilayah Priangan di abad ke-19, dengan dikawal oleh rombongan kuda warga lokal.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Untuk pejabat yang lebih tinggi, kereta berkuda seperti yang terlihat di Cisokan (Cianjur, sebelum 1874) ini akan memberikan lebih banyak kenyamanan dalam perjalanan.
(klik untuk memperbesar | © Woodbury & Page / Universiteit Leiden)
Para pembesar yang sangat tinggi tentunya memiliki kereta kencana seperti milik Susuhunan Solo ini (sebelum 1874).
(klik untuk memperbesar | © Woodbury & Page / Universiteit Leiden)
Jika daya angkut lebih penting daripada kecepatan, maka pedati sapi merupakan pilihan yang telah teruji berabad-abad, seperti pengangkut air di Medan tahun 1900 ini.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pedati sapi juga sangat fleksibel dalam hal jenis beban yang bisa angkut. Pedati di Semarang pada tahun 1901/1902 ini misalnya mengangkut kaleng minyak.
(klik untuk memperbesar | © A.E.F. Muntz / Universiteit Leiden)
Penemuan dan produksi massal kendaraan bermotor di awal abad ke-20 perlahan-lahan menyingkirkan transportasi bertenaga hewan. Ketika mobil mulai populer, pemerintah Hindia-Belanda mulai membangun jembatan berbasis besi untuk menyeberangi sungai, seperti jembatan Sungai Cimanuk di Tomo (Sumedang) pada tahun 1915 ini.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: abad ke-19, 1874, 1900, 1901/1902, 1915
Tempat: Cianjur, Jawa Barat, Medan, Semarang, Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: A.E.F. Muntz / Woodbury & Page (Batavia)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 04 November 2019

Corak, ukuran, dan warna payung sebagai pembeda status di Kesultanan Yogyakarta

Bagi kita di zaman sekarang, payung adalah hal lumrah yang sangat mudah didapat, bahkan dengan mudah dibuang begitu saja jika memang sudah dianggap rusak. Tidak halnya dengan nenek moyang kita zaman dulu: Tidak semua orang bisa, bahkan tidak semua orang berhak, memiliki payung. Memiliki payung, atau dipayungi, adalah sebuah hak istimewa yang hanya dinikmati oleh kalangan tinggi saja.

Bagi kita akan tambah mengherankan untuk mengetahui bahwa payung di zaman dulu ternyata juga perlambang dari posisi, jabatan, dan/atau jenjang kebangsawanan. Gambar berikut ini menampilkan berbagai ukuran, corak, dan warna payung di kalangan Keraton Yogyakarta sebagai tanda pengenal dari siapa yang dipayungi.

(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)

Waktu: abad ke-19 (?)
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan: