Tampilkan postingan dengan label Gombong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gombong. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2026

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (16)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

Johannes Leimena (menatap kamera) di atas jembatan kereta yang memisahkan wilayah yang dikontrol Belanda dan area yang dikuasai para pejuang. Leimena kemungkinan besar sedang mengawal, memantau, dan menjalankan proses pertukaran warga militer antara kedua pihak yang bertikai.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Gombong
Tokoh: Johannes Leimena (Menteri Kesehatan, pahlawan nasional)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 27 September 2024

Aneka foto dari masa perang kemerdekaan (1)

Kemungkinan besar 1948: Seorang Belanda bernama Rob Nieuwenhuijs di jembatan kereta api Gombong, Kebumen, yang menjadi batas "status quo" antara wilayah yang dikuasai Belanda di barat dan TNI di timur. Jembatan ini menjadi tempat di mana Belanda dan TNI beberapa kali menjalankan pertukaran tawanan ataupun warga sipil.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Yogyakarta, 19 Desember 1948: Pergerakan pasukan Belanda dari Brigade T di saat Aksi Polisionil 2
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Yogyakarta, 19 Desember 1948: Pasukan Belanda dari Resimen Infantri 1-15 merengsek ke Yogyakarta pada saat Aksi Polisionil 2
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Medan, 14 Februari 1947: Para pejuang kemerdekaan yang berasal dari TNI dan Masyumi yang tertangkap dan ditahan militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947, 1948
Tempat: Gombong, Medan, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Foto nomor 3 pernah dimuat di posting ini; foto nomor 4 di posting ini.

Minggu, 02 September 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (27): Kerusakan di Jawa Tengah

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Juli 1947: Perumahan warga Tionghoa yang rusak di Salatiga
(klik untuk memperbesar | © N. Kroeze / gahetna)
Juli 1947: Perumahan warga Tionghoa di Salatiga dengan coretan "Indonesia boeat bangsa Indonesia"
(klik untuk memperbesar | © N. Kroeze / gahetna)
24 Juli 1947: Puing-puing bangunan warga Tionghoa di Tegal
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
24 Juli 1947: Bangunan warga Tionghoa yang dibakar di Tegal
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
1 Agustus 1947: Kerusakan perumahan warga Tionghoa di Demak
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
5 Agustus 1947: Reruntuhan bangunan warga Tionghoa di Gombong
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Demak, Gombong, Salatiga, Tegal
Tokoh:
Peristiwa: Kerusakan atas perumahan warga Tionghoa di wilayah Jawa Tengah sebagai akibat dari aksi para pejuang kemerdekaan dalam rentetan kekerasan menyusul Aksi Polisionil 1 yang dilancarkan militer Belanda.
Fotografer: antara lain N. Kroeze dan P. de Bruijn
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 19 September 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (15)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

Perbincangan antara pihak Republik Indonesia dengan Belanda di saat penyerahan warga, dengan disaksikan dua perwira militer dari Inggris dan Amerika
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Tiga dari warga Jerman, salah satunya adalah seorang sersan Kriegsmarine (Angkatan Laut), yang ikut diberangkatkan ke wilayah kekuasaan Belanda.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Sebagian dari warga Jerman yang diberangkatkan dari wilayah Republik Indonesia.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kedatangan para warga Jerman di stasiun Manggarai, sebelum dibawa ke sebuah kamp (yang sayang tidak disebutkan di mana).
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 11 Juli 1948
Tempat: Gombong
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 11 Juli 1948 pihak Republik Indonesia kembali menyerahkan warga dan kerabat KNIL yang sebelumnya masih berada di wilayah para pejuang. Kali ini, proses pemberangkatan ke wilayah kekuasaan Belanda diikuti pula oleh beberapa warga Jerman yang selama ini berada di wilayah Republik.
Fotografer: J.G. Enkelaar (foto nomer 1, 2, dan 4); R.G. Jonkman (foto nomer 3)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 17 September 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (14)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

Pihak TNI memeriksa daftar warga dan kerabat KNIL yang akan diserahkan ke pihak Belanda, dengan disaksikan oleh pengamat militer dari Skotlandia
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Warga dan kerabat KNIL yang diberangkatkan ke wilayah yang dkuasai Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Warga dan kerabat KNIL yang diberangkatkan ke wilayah yang dkuasai Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Tim palang merah Belanda yang menerima dan mendampingi pemberangkatan warga dan kerabat KNIL dari Gombong ke wilayah kekuasaan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 28 Juni 1948 (3 foto pertama), 8 Agustus 1948 (foto terakhir)
Tempat: Gombong
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 28 Juni 1948 pihak Republik Indonesia kembali menyerahkan warga dan kerabat KNIL yang sebelumnya berada di wilayah kekuasaan Republik.
Fotografer: J.G. Enkelaar (tiga foto pertama), van Overbeek (foto terakhir)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 13 September 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (12)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 27 Mei 1948
Tempat: Gombong
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 27 Mei 1948 pihak Republik Indonesia dan Belanda bertemu di jembatan Gombong dalam rangka penyerahan para prajurit asal jazirah Hindia yang selama ini berjuang di pihak Indonesia. Serah terima ini dihadiri oleh perwakilan Konsulat India, J. Bose (berdasi di foto keempat). Para prajurit ini kemudian diberangkatkan ke Jakarta dengan kereta, untuk kemudian pulang ke tanah air mereka dengan menggunakan kapal laut.
Fotografer: N. Kroeze
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 07 September 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (9)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 22 Mei 1948
Tempat: setelah pemberangkatan dari Gombong
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 22 Mei 1948 pihak Republik Indonesia menyerahkan kerabat prajurit KNIL yang sebelumnya berada di wilayah Republik dan terputus hubungan dengan para tentara KNIL ini. Para keluarga KNIL ini diserahkan di Gombong, dijemput oleh pihak Belanda, kemudian diberangkatkan oleh pihak Belanda dengan kereta api ke stasiun Kalibata. Setelah menjalani pencatatan dan pemeriksaan kesehatan sebagian para kerabat KNIL ini kemudian diberangkatkan ke tempat penampungan di Bogor.
Foto-foto di atas memperlihatkan suasana di dalam kereta dari Gombong menuju Jakarta.
Fotografer: R.G. Jonkman
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 05 September 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (8)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

Gerbong kereta yang menjadi sarana transportasi keluarga KNIL
(klik untuk memperbesar | ©  gahetna)
Pihak Republik di sisi jembatan yang menjadi wilayah Indonesia
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pihak Republik dengan latar belakang kereta pembawa kerabat KNIL
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pertemuan wakil Indonesia dan Belanda dengan perantaraan KTN
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pihak Belanda yang siap menerima warga KNIL
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pihak Belanda menikmati makanan dengan alas daun pisang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 22 Mei1948
Tempat: Gombong
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 22 Mei 1948 pihak Republik Indonesia menyerahkan kerabat prajurit KNIL yang sebelumnya berada di wilayah Republik dan terputus hubungan dengan para tentara KNIL ini. Para keluarga KNIL ini diserahkan di Gombong, dijemput oleh pihak Belanda, kemudian diberangkatkan ke stasiun kereta Kalibata . Setelah menjalani pencatatan dan pemeriksaan kesehatan sebagian para kerabat KNIL ini kemudian diberangkatkan ke tempat penampungan di Bogor.
Fotografer: R.G. Jonkman
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 03 September 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (7)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 26 April 1948
Tempat: Gombong
Tokoh:
Peristiwa: Dua hari setelah pihak Belanda menyerahkan 400 pejuang TNI yang sebelumnya ditawan, pihak Belanda memberangkatkan anak-isteri dari sebagian pejuang ini. Foto-foto ini memperlihatkan pertemuan pihak Belanda yang akan menyerahkan, dengan pihak Indonesia yang akan menerima. Foto ketiga menunjukkan adanya pengamat militer dari Skotlandia di peristiwa ini.
Fotografer: J.C. Taillie
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 30 Agustus 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (5)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 24 April 1948
Tempat: Gombong
Tokoh:
Peristiwa: Rangkaian kereta yang berangkat dari Bandung berhenti sebelum jembatan. Setelah pemeriksaan dokumen dan formalitas lainnya selesai, para tawanan perang turun dari gerbong kereta dan berjalan menuju wilayah Republik dengan melewati jembatan dan melintasi satuan keamanan Republik yang menjaga jembatan di sisi lainnya. Para tawanan tampak membawa barang-barang pribadinya. Ada juga kotak besar yang harus ditandu beberapa orang. Sementara itu sebagian tawanan tampak masih terlihat terluka; malah ada yang harus digendong rekannya.
Fotografer: Haasjes
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Sebagian foto di sini mengupdate posting tanggal 5 Januari 2015.

Senin, 28 Agustus 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (4)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 24 April 1948
Tempat: Gombong
Tokoh:
Peristiwa: Rangkaian kereta yang berangkat dari Bandung berhenti sebelum jembatan. Setelah pemeriksaan dokumen dan formalitas lainnya selesai, para tawanan perang turun dari gerbong kereta dan berjalan menuju wilayah Republik dengan melewati jembatan dan melintasi satuan keamanan Republik yang menjaga jembatan di sisi lainnya. Para tawanan tampak membawa barang-barang pribadinya. Ada juga kotak besar yang harus ditandu beberapa orang. Sementara itu sebagian tawanan tampak masih terlihat terluka; malah ada yang harus digendong rekannya.
Fotografer: Haasjes
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Sebagian foto di sini mengupdate posting tanggal 5 Januari 2015.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (3)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 24 April 1948
Tempat: Gombong
Tokoh:
Peristiwa: Rangkaian kereta yang berangkat dari Bandung berhenti sebelum jembatan. Setelah pemeriksaan dokumen dan formalitas lainnya selesai, para tawanan perang turun dari gerbong kereta dan berjalan menuju wilayah Republik dengan melewati jembatan dan melintasi satuan keamanan Republik yang menjaga jembatan di sisi lainnya. Para tawanan tampak membawa barang-barang pribadinya. Ada juga kotak besar yang harus ditandu beberapa orang. Sementara itu sebagian tawanan tampak masih terlihat terluka; malah ada yang harus digendong rekannya.
Fotografer: Haasjes
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Sebagian foto di sini mengupdate posting tanggal 5 Januari 2015.