Tampilkan postingan dengan label Purwokerto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purwokerto. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2025

Foto udara atas kawasan-kawasan industri di Jawa, sekitar pertengahan 1920-an (7)

Pabrik gula Sewugalur di Kulonprogo, Yogyakarta, yang area pabriknya tampak besar dibanding kawasan pemukiman pegawainya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik gula Purwokerto di tengah pesawahan, perkebunan tebu, dan pemukiman warga serta pegawai pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik gula Kalirejo di Sumpiuh, Banyumas, dengan sebuah taman bundar yang dikelilingi perumahan pegawai pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Jawa (Banyumas, Purwokerto, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 18 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Dua sobekan dari sebuah album foto

Antara 1930 dan 1935: Pembukaan sekolah pribumi khusus perempuan di Mardikenya, Purwokerto (atas); dua warga Tionghoa dengan nama Ang Beng Siang dan Ang [?] Koan (bawah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Yogyakarta, 18 Desember 1934: Para pegawai OVL (kemungkinan Openbare Verlichting = Jawatan Lampu Penerangan Umum)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Antara 1930 dan 1935: 30 pria Eropa dengan pakaian resmi bersama seorang pria Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman asal dua foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1934
Tempat: Jawa (a.l. Purwokerto, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 23 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (21)

Schouwburg, dengan plang jalan Komedie Buurt, sekarang Gedung Kesenian Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah sudut Jakarta dengan jalur trem
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920: Tiga wanita Jawa membatik
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920-an: Kemungkinan Pangeran Buleleng, Gusti Ngurah Ketut Jelantik, bersama tiga penari Legong
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1916: Stasiun kereta Purwokerto
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1916, 1920, 1920-an
Tempat: a.l. Buleleng, Jakarta, Purwokerto
Tokoh: Gusti Ngurah Ketut Jelantik (Pangeran Buleleng)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 04 Juni 2020

Wajah beberapa sekolah di zaman Belanda

Sebuah sekolah menengah untuk warga Belanda dan lokal. Sebagian murid pria lokal tampak mengenakan blankon, kain, dan tanpa alas kaki.
(klik untuk memperbesar | © L. Che Ian / NGA)
Sebuah sekolah untuk berbagai jenjang usia yang tampaknya khusus untuk pemuda lokal (kalau diasumsikan bahwa para perempuan Belanda adalah keluarga dari tenaga pengajar). Pakaian para pelajar sudah merupakan campuran dan kombinasi dari elemen Barat dan lokal.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekolah Zendings (misi) di Kuranga, Tomohon
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Purwokerto, antara 1930-1935: Pembukaan sekolah untuk anak perempuan di Mardikenya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan, kemungkinan di Jawa Barat berdasarkan model kebayanya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah sekolah sangat sederhana di Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: tidak ada informasi tentang waktu pengambilan foto, kecuali foto nomor 4, tapi bisa dipastikan sudah di abad ke-20 sebelum zaman Jepang
Tempat: Bogor, Purwokerto, Tomohon
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 13 Desember 2018

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 13: Para prajurit KNIL

1946/1947: Kesatuan KNIL di-reorganisir setelah pasukan Jepang pulang ke tanah airnya dan militer Belanda kembali datang ke Indonesia. Tampak serdadu KNIL berbaris dengan kelewangnya.
(klik untuk memperbesar | © Jan Stevens / spaarnestad)
14 November 1947: Van Mook menyematkan tanda kehormatan pada prajurit KNIL yang dianggap berjasa untuk Kerajaan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Purwokerto, 9 Desember 1947: Tentara KNIL penuh percaya diri dengan senjata apinya
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)
Indralaya, Februari 1948: Pasukan KNIL menyusuri sungai
(klik untuk memperbesar | © Bosman / gahetna)
Jawa Tengah, Maret 1948: Pasukan KNIL di sebuah stasiun kereta terakhir sebelum garis demarkasi
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)
Oktober 1949: Pasukan infantri KNIL di Batusangkar
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1946, 1947, 1948, 1949
Tempat: Batusangkar, Indralaya, Jawa Tengah, Purwokerto
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Jan Stevens  / J.C. Taillie / Bosman
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 09 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (15): Mengais sisa barang di antara puing-puing rumah di Purwokerto

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 27 Juli 1947
Tempat: Purwokerto
Tokoh:
Peristiwa: Warga Tionghoa di Purwokerto mencari dan mengais barang-barang yang mungkin masih bisa diselamatkan di antara puing-puing reruntuhan rumah mereka. Perumahan mereka dihancurkan para pejuang kemerdekaan dalam rentetan aksi kekerasan menyusul Aksi Polisionil 1 yang dilancarkan militer Belanda.
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Selasa, 07 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (14): Kerusakan di Purwokerto

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

24 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
24 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
8 Desember 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
8 Desember 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 24 Juli 1947 & 8 Desember 1947
Tempat: Purwokerto
Tokoh:
Peristiwa: 24 Juli 1947, warga Tionghoa di Purwokerto mencari dan mengais barang-barang yang mungkin masih bisa diselamatkan di antara puing-puing reruntuhan rumah mereka. Perumahan mereka dihancurkan para pejuang kemerdekaan dalam rentetan aksi kekerasan menyusul Aksi Polisionil 1 yang dilancarkan militer Belanda. Empat bulan kemudian, di Desember 1947, tampak sisa-sisa perumahan yang ditinggalkan dan tidak terurus, serta mulai ditumbuhi semak belukar.
Fotografer: P. de Bruijn (dua foto pertama), J.C. Taillie (dua foto terakhir)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 11 April 2018

Aksi Polisionil 1: Beberapa foto dari Jawa Tengah

Banyumas, September 1947: Sabotase TNI atas jembatan di atas parit ini memperlambat laju kendaraan lapis baja Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
27/28 Juli 1947: Pos pemberhentian Belanda di antara Banyumas dan Cilacap
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad / gahetna)
20 Juli 1947: Pasukan Belanda menguasai alun-alun Purwokerto
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad / gahetna)
Konvoi pasukan Belanda di Solo
(klik untuk memperbesar | © Henri  Cartier Bresson / Magnum / gahetna)
Tegal, Juli 1947: Penduduk membongkar barikade yang dipasang para pejuang, dengan disaksikan prajurit Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ambarawa, Agustus 1947: Kesatuan KNIL dalam pertempuran melawan para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1947
Tempat: Ambarawa, Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Solo, Tegal
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar (2 foto), Henri  Cartier Bresson (1 foto)
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 3 Januari 2020
Foto nomor 3 dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)

Jumat, 01 September 2017

Gombong sebagai tempat pertukaran warga militer antara Indonesia dan Belanda, 1948 (6)

PENGANTAR

Perjanjian Renville memiliki banyak peristiwa lanjutan. Sebelum ini sudah kita lihat di beberapa posting sebelumnya bagaimana TNI harus hijrah dari beberapa wilayah menuju daerah yang diakui sebagai area kekuasaan Republik Indonesia. Selain itu terjadi pula pertukaran militer dari wilayah kekuasaan Belanda ke daerah Republik, dan sebaliknya.

Belanda, misalnya menyerahkan ratusan pejuang yang ditahan Belanda. Belanda juga memberangkatkan beberapa anak-isteri dari pejuang TNI ke wilayah Republik. Sebaliknya, Republik Indonesia juga menyerahkan keluarga KNIL yang selama ini berada di wilayah kekuasan Republik dan terputus hubungan dengan kerabat KNIL mereka.

Selain itu, Republik juga menyerahkan para prajurit Inggris asal jazirah Hindia yang membelot dan berjuang di pihak Indonesia. Tentara-tentara India ini kemudian dikembalikan Belanda ke tanah kelahiran mereka. Menarik pula bahwa ternyata masih ada sisa-sisa Nazi Jerman yang berlindung di wilayah Republik. Setelah perjanjian Renville; Indonesia juga menyerahkan warga-warga Jerman ini.

Gombong, sebuah kecamatan di Kebumen, Jawa Tengah, memainkan peranan penting di peristiwa-peristiwa ini. Lokasinya di perbatasan antara wilayah yang dikuasai Belanda dengan area kekuasan Republik, serta adanya stasiun kereta api, membuat kota ini dipilih menjadi tempat di mana serah-terima di atas berlangsung.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 26 April 1948
Tempat: Purwokerto
Tokoh:
Peristiwa: Dua hari setelah pihak Belanda menyerahkan 400 pejuang TNI yang sebelumnya ditawan, pihak Belanda memberangkatkan anak-isteri dari sebagian pejuang ini. Foto-foto ini kemungkinan diambil di Purwokerto, ketika rangkaian kereta ini berada di perjalanan menuju Gombong, di mana keluarga pejuang ini akan diserahkan ke pihak Republik.
Fotografer: J.C. Taillie
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 15 Juli 2017

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (12): Purwokerto

5 Agustus 1947: Sumpiuh
(klik untuk memperbesar | © van Kalken / gahetna)
5 Agustus 1947: Sumpiuh
(klik untuk memperbesar | © van Kalken / gahetna)
24 Juli 1947: Reruntuhan sebuah pabrik
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
24 Juli 1947: Reruntuhan sebuah pabrik
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
8 Desember 1947
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)
Waktu: Juli/Agustus/Desember 1947
Tempat: Purwokerto
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 agar aset yang dianggap penting tidak jatuh ke tangan Belanda.
Fotografer: van Kalken / P. de Bruijn / J.C. Taillie
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 30 Juli 2017
Foto pertama dengan kualitas yang lebih baik:
5 Agustus 1947: Sumpiuh
(klik untuk memperbesar | © van Kalken / gahetna)