Tampilkan postingan dengan label 1955. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1955. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Maret 2025

Konferensi Asia-Afrika 1955: Pemandangan di dalam dan sekitar Gedung Merdeka

Suasana konferensi di dalam Gedung Merdeka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gedung Merdeka dengan penjagaan ketat aparat keamanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu pertigaan Gedung Merdeka, dengan barisan tentara penabuh genderang di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Khalayak menyaksikan barisan tentara penabuh genderang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: April 1955
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto yang dimuat mulai posting tanggal 30 September 2013 hingga 17 November 2013.

Sabtu, 06 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1955-1958 & 1970

Het Parool, 19 April 1955
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Bagi Leo Jordaan yang membuat karikatur ini, Konferensi Asia Afrika di Bandung adalah ajang buat Zhou Enlai untuk menawarkan komunisme dan Jawaharlal Nehru untuk mengkampanyekan nasionalisme-sekuler di kalangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

(klik untuk memperbesar | © Menno van Meeteren / AVS)

Karikatur yang berjudul Het verloren paradijs ("surga yang lepas") ini disebut berasal dari tahun 1956, tapi mungkin dibuat di tahun 1950. Karya ini menggambarkan seorang Belanda dengan pakaian a la Gubernur Jenderal meninggalkan Indonesia dengan menahan malu, sementara Singa Belanda yang mendampinginya tampak cedera.

Vrij Nederland, 1 Maret 1958
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Perang saudara di Indonesia antara pemerintah pusat di Jakarta dengan pemberontak di Sumatera Barat digambarkan oleh Leo Jordaan sebagai peristiwa di mana pada ujungnya dunia komunisme (diwakili oleh Nikita Khrushchev dan Mao Zedong) adalah pihak yang akan mengambil keuntungan.

De Tijd - De Maasbode, 12 Agustus 1970
(klik untuk memperbesar | © Charles Boost / AVS)

Soekarno banyak berkunjung ke manca negara, dan berbagai negara di Eropa, tapi tidak pernah ke Belanda. Karenanya, kunjungan Soeharto ke Belanda di tahun 1970 merupakan tonggak penting dalam pemulihan persahabatan antara Belanda dan Indonesia. Namun, di Belanda sudah menunggu berbagai kalangan yang cenderung negatif terhadap Indonesia seperti diperlihatkan di karikatur di atas. Ini mulai dari Door de Eeuwen Trouw yang mendukung RMS, hingga ke kalangan yang menyebut Soeharto sebagai moordenaar (jagal), dan yang memperjuangkan hak-hak rakyat Papua.

Waktu: 1955, 1956, 1958, 1970
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Boost | Leo Jordaan | Menno van Meeteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 10 Desember 2020

Karikatur Belanda tentang korupsi pejabat tinggi Indonesia di tahun 1955-1956

Het Parool, 16 Agustus 1955
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Djody Gondokusumo adalah Menteri Kehakiman di Kabinet Ali Sostroamidjojo I, tepatnya dari tahun 1953 hingga Agustus 1955. Djody tersandung kasus gratifikasi dari pengusaha Hong Kong bernama Bong Kim Chong demi kemudahan mendapatkan visa. Karikatur di atas mengacu ke berita Reuter/AP yang menyebut angka 200.000 strait dollar (mata uang yang digunakan di jajahan Inggris di Asia Tenggara). Tampak Djody digambarkan berada di balik jeruji dalam tahanan polisi militer, di area dengan latar belakang kawasan pecinan.

Het Parool, 16 Agustus 1956
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Entah kebetulan atau tidak, persis di tanggal yang sama setahun kemudian, media yang sama dengan karikaturis yang sama memuat kasus korupsi yang menyeret Menteri Luar Negeri Ruslan Abdulgani, terkait dengan warga Tionghoa bernama Lie Hok Thay. Putusan pengadilan di bulan April 1957 memvonis Ruslan denda sebesar Rp. 5.000 karena membawa uang titipan dari Lie Hok Thay ke Amerika Serikat untuk Letkol Prayogo. Di sidang bulan September 1957, Lie Hok Thay mengaku juga memberi uang sebesar Rp. 930.000 kepada Ruslan (di samping Rp 1.117.000 untuk Menteri Penerangan saat itu Sutan Makmur).

Karikatur di atas menggambarkan Ruslan berada di London dalam Konferensi Suez, diapit Menlu Belanda Joseph Luns dan Menlu AS John Foster Dulles. Tampak Luns berbisik ke Ruslan: "Rindu pulang kampung?" sementara Ruslan memikirkan polisi militer yang sudah siap dengan borgol.

Waktu: 1955, 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia dan Inggris
Tokoh: Djody Gondokusumo (Menteri Kehakiman), Ruslan Abdulgani (Menteri Luar Negeri)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 12 November 2020

Karikatur Belanda tentang pertemuan Menlu Belanda dan Indonesia, Joseph Luns dan Anak Agung, di tahun 1955-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Het Parool, terbitan 13 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas hubungan Indonesia dan Belanda, tapi pertemuan ini dibayang-bayangi oleh de derde man (orang ketiga), yaitu Leon Jungschläger yang kasus hukumnya memperburuk hubungan kedua negara.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 17 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas perbaikan hubungan Indonesia dan Belanda. Luns tapi tampak tidak begitu bahagia karena Anak Agung tampak yang mendikte pembicaraan. Istilah menu à la carte diplesetkan oleh Jordaan menjadi menu à la (Dja-)carte.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: ?, terbitan akhir 1955 atau awal 1956
Juru gambar: Charles Boost
Isi: Karikatur ini berjudul Daar zijn we weer (kita bertemu lagi), yang memperlihatkan keengganan Joseph Luns bertemu dengan Anak Agung. Menariknya, Joseph Luns jutsru tampak didorong oleh orang-orang berpeci, atau pihak Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 21 Januari 1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns di Jenewa dengan dibayang-bayangi kekhawatiran pecahnya hoop (harapan), begrip (pengertian), dan vertrowen (kepercayaan) antara kedua negara yang diwakili.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 24 Februari1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Pertemuan antara Anak Agung dan Joseph Luns di Swiss pada musim dingin benar-benar membuat pembicaraan antara keduanya membeku.

Waktu: 1955, 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke pertemuan Anak Agung dan Joseph Luns di Jenewa, Swiss
Tokoh: Ida Anak Agung Gde Agung (Menteri Luar Negeri Indonesia), Joseph Luns (Menteri Luar Negeri Belanda)
Peristiwa: Di akhir tahun 1955 dan awal 1956 berlangsung Konferensi Belanda-Indonesia dengan tujuan memperbaiki hubungan kedua negara, yang delegasinya dipimpin oleh menteri luar negeri masing-masing.
Juru foto/gambar: Charles Boost / Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 08 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1954-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)
30 Januari 1954. Kasus persidangan Leon Jungschläger pernah menjadi kontoversi sengit antara Belanda dan Indonesia. Belanda merasa bahwa Indonesia tidak sepenuhnya jujur dalam hal ini. Karikatur ini menggambarkan bagaimana ketika Soekarno bicara tentang kasus ini, di depan a.l. Dwight Eisenhower dan John Foster Dulles, detektor kebohongan ditawarkan, tetapi Amerika (diwakili Richard Nixon) menolaknya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
15 November 1955. Soekarno berkata di Bandung bahwa "Hanya ada tiga pemimpin besar dalam sejarah yang mampu menarik jutaan orang untuk berkumpul: Hitler, Gandhi, dan Soekarno!" Ucapan penuh percaya diri ini disambar karikaturis Leendert Jordaan dengan menggambarkan Soekarno bersama pecinya, diberi kacamata dan jubah Gandhi, serta rambut, seragam, dan ayunan tangan Hitler. Jordaan memberi judul karikatur ini "three in one".
(klik untuk memperbesar | © AVS)
24 Mei 1956. Soekarno mendapat gelar doktor kehormatan dari Columbia University, dan langsung merobek pengakuan bersalah terhadap Belanda.

Waktu: 1955, 1955, 1956
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Charles Boost (nomor 1 dan 3), Leendert Jurriaan Jordaan (nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 17 April 2016

Gadis dan perempuan Bali zaman dulu dalam pelbagai aktifitas (2)

Membuat tembikar
(klik untuk memperbesar |
© Alphons Louis Marie Antoine Hubert Hustin / fotomuseum)
Membuat tembikar, 1955
(klik untuk memperbesar | © Three Lions / Getty Images)
Mengusung tembikar
(klik untuk memperbesar |
© Alphons Louis Marie Antoine Hubert Hustin / fotomuseum)
Berjualan
(klik untuk memperbesar |
© Travellers Official Information Bureau / fotomuseum)
Waktu: 1955 (nomer 2)
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: l.d.a.
Sumber / Hak cipta: Getty Images / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Sabtu, 30 Januari 2016

Malcolm X di Bandung, 1955

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1955
Tempat: Bandung
Tokoh: Malcolm X (pejuang hak asasi manusia; paling kanan)
Peristiwa: Malcolm X di Bandung sebagai peserta Konferensi Asia Afrika
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:  Ini termasuk foto yang jarang dipublikasikan tentang kehadiran Malcolm X di KAA 1955 Bandung.

Minggu, 11 Januari 2015

Bintang film dan pembuatan film di sekitar tahun 1955

Sang bintang film datang ke studio dengan becak.
(klik untuk memperbesar | © Three Lions/Getty Images)
Pengambilan gambar di studio.
(klik untuk memperbesar | © Three Lions/Getty Images)

Waktu: sekitar 1955
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Getty Images
Catatan:

Kamis, 16 Oktober 2014

Aksi TNI di sebuah desa di sekitar tahun 1955

(klik untuk memperbesar | © Three Lions / Getty Images)
(klik untuk memperbesar | © Three Lions / Getty Images)
(klik untuk memperbesar | © Three Lions / Getty Images)

Waktu: sekitar 1955
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa: ?
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Getty Images
Catatan:

Senin, 15 September 2014

Wajah Bung Hatta di tahun 1947, 1948, 1955

Bung Hatta mengetik, Agustus 1947
gahetna)
Bung Hatta di dekat radio, 1948
klik untuk memperbesar (© gahetna)
Bung Hatta 1948
klik untuk memperbesar (© gahetna)
Bung Hatta 16 Agustus 1955
klik untuk memperbesar (© gahetna)
klik untuk memperbesar (© gahetna)
Waktu: l.d.a.
Tempat:
Tokoh: Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:


UPDATE 9 Oktober 2021
Foto nomor 3 dalam ukuran yang lebih besar:
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Jumat, 27 Juni 2014

Pertemuan 5 negarawan dalam rangka persiapan Konferensi Asia Afrika, 1955

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 8 Januari 1955
Tempat: Istana Bogor
Tokoh: U Nu (Perdana Menteri Burma), Mohammed Ali Bogra (Perdana Menteri Pakistan), Ali Sastroamidjojo (Perdana Menteri RI), John Lionel Kotelawala (Perdana Menteri Sri Lanka), Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India)
Peristiwa: Lima kepala pemerintahan dari Burma, Pakistan, Indonesia, Sri Lanka, dan India bertemu di Bogor untuk mempersiapkan Konferensi Asia Afrika yang kemudian diadakan di Bandung, April 1955.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis
Catatan: Pertemuan ini terkadang disebut juga Konferensi Panca Negara.

Sabtu, 21 Juni 2014

Jawaharlal Nehru dan Indira Gandhi di Bandung, 1955

(klik untuk memperbesar)
Waktu: April 1955
Tempat: Bandung
Tokoh: Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Indira Priyadarshini Gandhi (anak Jawaharlal Nehru)
Peristiwa: Nehru dan puterinya Indira berada di Bandung dalam rangka pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis

Kamis, 17 April 2014

Wajah Soekarno di tiga dasawarsa

(1945 - klik untuk memperbesar)
(1947 - klik untuk memperbesar)
(1955 - klik untuk memperbesar)
(1961 - klik untuk memperbesar)
(1960an - klik untuk memperbesar)
(1966 - klik untuk memperbesar)
Waktu: 1945 [1], 21 Juli 1947 [2], September 1955 [3], Agustus 1961 [4], 1960-an [5], 1966 [6]
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer: Howard Sochurek [3], Paul Popper [4], Co Rentmeester [6]
Sumber / Hak cipta: Express [1], Underwood Archives [2], Time Life [3], Popperfoto [4], AFP [5], Time Life [6]

Rabu, 26 Maret 2014

Soekarno di ruang kerjanya di Istana Merdeka, 1955

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: September 955
Tempat: Istana Merdeka, Jakarta
Tokoh: Soekarno (Presiden Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer: J. Baylor Roberts
Sumber / Hak cipta: National Geographic / Getty Images

Minggu, 15 Desember 2013

Warga Bandung menanti delegasi Konferensi Asia-Afrika, 1955

Waktu: April 1955
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa: Warga Bandung menantikan kedatangan delegasi Konferensi Asia-Afrika.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis

Sabtu, 30 November 2013

Pedagang buah-buahan di Jakarta, 1955

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 27 Mei 1955
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Norman Williams
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis




Rabu, 20 November 2013

Konferensi Asia-Afrika: Soekarno

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: April 1955
Tempat: Bandung
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Ali Sastroamidjojo (Perdana Menteri RI)
Peristiwa: Ali Sastroamidjojo menyambut kedatangan Soekarno (atas); Soekarno berbicara di depan para delegasi konferensi (bawah)
Fotografer: Howard Sochurek (atas), Lisa Larsen (bawah)
Sumber / Hak cipta: LIFE