Tampilkan postingan dengan label Willem Schermerhorn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Willem Schermerhorn. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2026

Para politisi Belanda setelah dimerdekakan dari tahanan Jerman Nazi, untuk kemudian harus menghadapi masalah kemerdekaan Indonesia, 1945

14 tokoh Belanda yang ditahan Jerman Nazi sebagai balasan atas penahanan warga-warga Jerman di Hindia Belanda di bulan Mei 1940. Foto diambil setelah mereka dibebaskan menyusul kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 24 Juni 1945
Tempat: wilayah selatan Belanda
Tokoh:
  • Eelco van Kleffens (ketiga dari kanan: kelak Menteri Luar Negeri Belanda, kemudian menjadi diplomat Belanda di PBB dan harus menghadapi perdebatan tentang kemerdekaan Indonesia)
  • Pieter Lieftinck (keenam dari kiri: kelak Menteri Keuangan Belanda dan a.l. harus menghadapi problematika moneter Uni Belanda-Indonesia hasil Konferensi Meja Bundar)
  • Willem Drees (kelima dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. ikut terlibat di belakang layar dalam Perundingan Renville)
  • Willem Schermerhorn (ketujuh dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. terlibat langsung dalam Perundingan Linggarjati)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 26 September 2025

Van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, dan para tamunya di tahun 1948 (2)

Acara resepsi perpisahan Van Mook sebagai Letnan Gubernur Jenderal: Van Mook dan istri menyambut kedatangan Wali Negara Pasundan, R.A.A. Wiranatakusumah, yang mengombinasikan pakaian barat dengan peci
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pasangan Van Mook menerima kedatangan para tamu yang akan melepasnya sebagai Letnan Gubernur Jenderal 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Van Mook menyalami mantan PM Belanda, Willem Schermerhorn, yang datang untuk memberikan salam perpisahan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Van Mook membubuhkan tanda tangan ke sebuah foto (?) yang disodorkan seorang pemuda di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1 Agustus 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh a.l.: Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 06 November 2024

Van Mook di Jakarta, Agustus/September 1946

25 Agustus 1946: Van Mook (bertolak pinggang) bersama Jenderal Mansergh (tengah) menyambut kedatangan diplomat Inggris Lord Killearn yang akan menjadi salah satu penengah dalam perundingan Linggajati
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
25 Agustus 1946: Van Mook berbincang bersama Lord Killearn dengan disaksikan Jenderal Mansergh, kemungkinan di landasan Kemayoran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
September 1946: Van Mook duduk di samping mantan PM Belanda Willem Schermerhorn yang sedang berbicara, kemungkinan di sebuah acara terkait perundingan Linggajati. Di depan tampak sebuah papan nama dari kertas bertuliskan "Mr. Soetan Sjahrir". Kelak 20 tahun kemudian ketika Soetan Sjahrir wafat di luar negeri setelah "diasingkan" oleh Soekarno, Schermerhorn menjadi salah satu pelayat yang memberikan hormat kepada jenazah Sjahrir ketika disemayamkan di Belanda.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: Agustus/September 1946
Tempat: Jakarta
Tokoh: 

Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edisi lain dari foto pertama pernah dimuat di posting ini.

Rabu, 14 Desember 2022

Gubernur Jenderal Hindia-Belanda terakhir, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer: Kepulangan ke Belanda setelah ditahan Jepang

Eindhoven, 9 September 1945: Tjarda menginjakkan kaki kembali di Belanda setelah 3 tahun ditawan Jepang. Saudara perempuannya menyambut dan memeluknya di bandara Welschap.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Eindhoven, 9 September 1945: Rombongan Tjarda disambut Putri Juliana (kanan) yang tampaknya berbincang dengan perwira Angkatan Udara Inggris yang menerbangkan Tjarda pulang (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Den Haag, Oktober 1945: Tjarda (kanan) datang ke Den Haag disambut PM Belanda, Willem Schermerhorn (kiri), dan Menteri Luar Negeri, Eelco van Kleffens (tengah)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: September dan Oktober 1945
Tempat: Den Haag dan Eindhoven (Belanda)
Tokoh: Eelco van Kleffens (Menteri Luar Negeri Belanda); Jonkheer Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1936-1942); Willem Schermerhorn (Perdana Menteri Belanda 1945-1946)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 19 November 2021

Perundingan Hoge Veluwe, 1946

Perundingan Hoge Veluwe (dalam pelajaran sejarah Indonesia umumnya ditulis Hooge-Veluwe) merupakah salah satu usaha awal untuk membawa konflik Belanda-Indonesia ke meja perundingan. Saat itu Republik Indonesia belum berumur setahun, Belanda masih melihat Indonesia sebagai negeri miliknya, sementara ketegangan antara NICA dan para pemuda Indonesia masih berujung pada perseteruan bersenjata. Meski perundingan ini sendiri berujung buntu, peristiwa ini merupakan tahap yang mendasari perundingan berikutnya, terutama pertemuan Linggarjati.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Foto di atas memperlihatkan kedua delegasi alam acara pengeluaran pernyataan. Delegasi Indonesia diwakili (d.ki.k.ka.) oleh Sudarsono, Suwandi, dan Sekretaris Negara Abdul Gaffar Pringgodigdo; sementara delegasi Belanda oleh Perdana Menteri Willem Schermerhorn dan Surio Santoso.

Waktu: 23/24 April 1946
Tempat: Hoge Veluwe (Belanda)
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 13 November 2021

Penandatangan hasil perundingan Linggarjati, 1946 (tambahan foto 2)

Amir Syarifudin, Mohammad Roem, F. de Boer (?), Sutan Sjahrir, Willem Schermerhorn, Van Mook, Max van Poll
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Adnan Kapau Gani dan Susanto
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 15 November 1946
Tempat: Linggarjati (Kuningan)
Tokoh:
  • Adnan Kapau Gani (kelak Wakil Perdana Menteri)
  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri)
  • Amir Syarifuddin Harahap (Menteri Pertahanan)
  • Willem Schermerhorn (politisi mantan Perdana Menteri Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politisi)
  • Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI)
  • F. de Boer (politisi liberal Belanda)
  • Susanto
Peristiwa: penandatangan hasil perundingan Linggarjati
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 11 November 2021

Penandatangan hasil perundingan Linggarjati, 1946 (tambahan foto 1)

Mohammad Roem dan Willem Schermerhorn
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Sutan Sjahriri dan Willem Schermerhorn
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 15 November 1946
Tempat: Linggarjati (Kuningan)
Tokoh: Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri); Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: penandatangan hasil perundingan Linggarjati
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 09 November 2021

Para politisi Indonesia dan Belanda di perundingan Linggarjati, 1946

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Dari kiri ke kanan:
  • Johannes Leimena (kelak Menteri Kesehatan)
  • Adnan Kapau Gani (kelak Wakil Perdana Menteri)
  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri)
  • Amir Syarifuddin Harahap (Menteri Pertahanan)
  • Willem Schermerhorn (politisi mantan Perdana Menteri Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politisi)
  • Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI)
  • F. de Boer (politisi liberal Belanda)
  • Sudarsono (Menteri Sosial)
  • Ali Budiarjo (sekretaris delegasi Indonesia)
Waktu: 11/12 November 1946
Tempat: Linggarjati (Kuningan)
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 16 November 2020

Karikatur tentang silang pendapat Belanda menghadapi kemerdekaan Indonesia

Dalam menarasikan perjuangan kemerdekaan, buku pelajaran sejarah di Indonesia, begitu juga blog ini, umumnya menggunakan istilah "Belanda" seolah-olah sebagai satu blok yang menyatu. Sejatinya, ada banyak pandangan di Belanda dalam menyikapi kemerdekaan Indonesia; mulai dari yang mendukung penuh (mis. kelompok komunis), hingga ke yang menentang mati-matian (mis. kelompok konservativ), dan tentunya posisi di antara keduanya dengan kadar kebebasan untuk Indonesia yang berbeda-beda mulai dari yang seminimal mungkin hingga ke yang relatif luas. Beberapa karikatur di bawah ini menyiratkan perbedaan-perbedaan ini.

Het Parool, 21 Mei 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan kendaraan pemerintah Belanda yang sudah sesak dengan Louis Beel, Willem Drees, dan Jan Jonkman dengan beban perjanjian Linggarjati, dicoba dihentikan oleh Carl Romme dan Jo Meynen yang ingin ikut menumpang.

De Groene Amsterdammer, 23 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan ketersesatan para politisi Belanda di labirin Indonesia. Mereka bukan hanya tidak menjalani langkah dan posisi yang sama, tapi sebagian tampak bingung harus ke mana. Tokoh-tokoh yang ditampilkan a.l.: Max van Poll, Van Mook, Willem Drees, Koos Vorrink, Jan Jonkman, Willem Schermerhorn, Pieter Sjoerds Gerbrandy, Louis Beel, Carl Romme, dan Eelco van Kleffens.

Elsevier, 13 Agustus 1949
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Silang langkah para politisi Belanda dalam menghadapi kemerdekaan Indonesia diperlihatkan dalam sebuah karikatur yang menggambarkan perosotan yang meliuk-liuk, memiliki banyak putaran, meninggalkan banyak tahap seperti perjanjian Linggarjati dan Renville, keputusan Dewan Keamanan PBB, serta perjanjian Roem-Royen, sebelum menuju putaran final di Konferensi Meja Bundar dengan hasil akhir yang masih menjadi tanda tanya. Beberapa tokoh tampak terlempar atau tertinggal, seperti Willem Schermerhorn, Jan Jonkman, Van Mook, dan Louis Beel. Tokoh-tokoh lain tampak masih bertahan, seperti Carl Romme, Willem Drees, Eelco van Kleffens, Herman van Roijen, dan Van Maarseveen, tetapi mahkota Kerajaan Belanda tampak akhirnya terlempar juga.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke
Tokoh:

  • Carl Romme (anggota parlemen, pendiri Partai Rakyat Katolik)
  • Eelco van Kleffens (diplomat Belanda di PBB)
  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan)
  • Jan Herman van Roijen (diplomat)
  • Johannes Henricus van Maarseveen (Menteri Urusan Jajahan)
  • Johannes Meynen (politisi)
  • Koos Vorrink (pemuka kelompok sosialis) 
  • Louis Joseph Maria Beel (PM Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politisi)
  • Pieter Sjoerds Gerbrandy (politisi penentang kemerdekaan Indonesia)
  • Willem Drees (Wakil PM Belanda)
  • Willem Schermerhorn (mantan PM Belanda)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Eppo Doeve
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 04 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1931-1947

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Ini mungkin karikatur terawal yang menampilkan Soekarno. Gambar ini dimuat di harian De Notenkraker terbitan 1 Augustus 1931. Setahun sebelumnya Soekarno mengeluarkan pledoi "Indonesia menggugat" yang ditulisnya di penjara. Menteri Urusan Jajahan, Simon de Graaff, menyangkal adanya tahanan politik, dan dikutip menyebut "Kami tidak memiliki tahanan politik, hanya keadilan yang kokoh tertanam di sanubari."

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Harian Metro terbitan 26 Oktober 1945 menampilkan karikatur Soekarno di halaman depan dengan judul "Soekarno membebaskan Hindia[-Belanda]". Soekarno digambarkan mencoba membebaskan seorang perempuan terikat, perlambang Hindia-Belanda ("Mbok Indonesia"), dengan langsung menebang pohonnya, bukan membuka tali pengikatnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur terbitan 16 November 1946 menampilkan pertandingan bola, antara Soekarno, bersama Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir, di satu tim, melawan tim politisi Belanda a.l. yang terdiri dari Schermerhorn, van Mook, van Roijen (?), van Verduynen, dan Lampson. Yang menjadi objek tendang dan permainan adalah mahkota Kerajaan Belanda.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur keluaran 5 Juli 1947 ini menampilkan bagaimana Soekarno dan van Mook, yang sedang berdebat tentang (Perjanjian) Linggarjati, kaget ketika Amerika Serikat, dilambangkan dengan Paman Sam, datang bergabung dengan berkata "Hello boys! Aku datang untuk menengahi."

Waktu: 1931, 1945, 1946, 1947
Tempat:
Tokoh: Soekarno (pejuang kemerdekaan, kemudian Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Wybo Meyer, Marten Toonder, Eppo Doeve, Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 14 Maret 2020

Kedatangan jenazah Sutan Sjahrir di bandara Schiphol, 1966 (2)

PENGANTAR

Blog ini banyak memuat foto yang memperlihatkan andil Sutan Sjahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tragedi dalam sejarah republik ini adalah bahwa Sjahrir kemudian harus mengasingkan diri jauh dari negeri kelahirannya, dan menghembuskan nafas terakhirnya di negeri orang.

Ketika pemerintahan Soekarno mulai akhir 1950-an makin menunjukkan sifat otoriter, beberapa tokoh yang dianggap tidak sepaham dengan Soekarno ditangkap dan dipenjara, termasuk Sjahrir di tahun 1962. Kesehatan Perdana Menteri pertama ini memburuk di dalam tahanan, dan Sjahrir mengalami stroke di tahun 1965. Pahlawan yang mendapat julukan "Bung Kecil" ini —karena badannya memang tidak tinggi— kemudian mendapat izin untuk meninggalkan Indonesia menuju Swiss, dengan alasan demi perawatan kesehatan.

Di Swiss ini pula, Sjahrir beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 9 April 1966, meninggal dunia, tanpa sempat melihat kembali negeri yang kemerdekaannya dia perjuangkan. Jenazahnya diterbangkan dari Zurich ke Belanda, seperti yang akan ditampilkan di posting ini.

Jasad Sutan Sjahrir diturunkan dari pesawat ke mobil jenazah ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... kemudian dari mobil jenazah dipindahkan menuju ruang persemayaman ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... dengan disaksikan oleh warga masyarakat yang berdatangan ke bandara
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Poppy Sjahrir menerima ucapan belasungkawa ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... termasuk dari Prof. Willem Schermerhorn ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... mantan Perdana Menteri Belanda yang merupakan "lawan" Sutan Sjahrir di perundingan Linggarjati
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)

Waktu: 17 April 1966
Tempat: Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda
Tokoh: Willem Schermerhorn (Perdana Menteri Belanda 1945-1946 di saat awal pergolakan kemerdekaan Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer: Ben Hansen (foto no. 1), Cor Mulder (foto no. 4-6)
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / ANP Historisch Archief
Catatan: Sebelumnya di posting ini disebutkan bahwa istri Sjahrir di atas adalah "Maria Duchateau"; padahal seharusnya Siti Wahjunah Saleh (Poppy Sjahrir). Dengan ini informasi tsb. dibetulkan.

Kamis, 23 Mei 2019

Soekarno dalam karikatur Belanda tahun 1940-an (4)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Karikatur ini memperlihatkan pandangan si karikaturis bahwa Amerika menekan Belanda untuk menandatangani Perjanjian Linggarjati, dan di lain pihak menjanjikan Indonesia bantuan Dolar yang membuat Indonesia tidak mengacuhkan (Gulden-nya) Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 17 Mei 2019

Soekarno dalam karikatur Belanda tahun 1940-an (1)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: 1945
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Karikatur ini mengacu pada lukisan Rembrandt The Anatomy Lesson of Dr. Nicolaes Tulp, dan memperlihatkan bagaimana beberapa tokoh ada dalam proses pengguntingan wilayah Indonesia dari kekuasaan Belanda. Tokoh Indonesia yang disebut adalah Soekarno, Muhammad Hatta, Amir Syarifuddin, dan Oto Iskandar di Nata. Menariknya, karikatur ini juga menggambarkan van Mook dan Willem Schermerhorn (di samping Logeman dan Y.D. Plas) sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab atas lepasnya Indonesia dari wilayah Belanda. Mudah ditebak bahwa karikatur ini berasal dari kelompok yang menginginkan Indonesia, juga Suriname, tetap berada di bawah kekuasaan Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:  Teks di gambar tsb. bermakna "Jangan berunding .. [tapi] bertindak! Pelajaran Anatomi, tahun 1945. Warga Belanda, hentikan pemotongan!! Kerajaan tidak boleh binasa karena politiknya sendiri."


UPDATE 10 November 2020: Poster yang sama dari arsip Atlas van Stolk

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Minggu, 04 Juni 2017

Kedatangan para pembesar Belanda ke Indonesia semasa perang kemerdekaan, 1947-1948

Kemayoran 14 September 1946: Wim Schermerhorn (berdasi) dan van Mook (berkaca mata)
(klik untuk memperbesar | © ANP)
Kemayoran 14 September 1946 (d.ki.k.ka.): Max van Poll, F. de Boer, van Mook, Wim Schermerhorn
(klik untuk memperbesar | © ANP)
Kemayoran 14 September 1946: Max van Poll (berdasi belakang), Wim Schermerhorn (berdasi depan)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kemayoran 14 September 1946 (d.ki.k.ka.): Max van Poll, van Mook, Wim Schermerhorn, F. de Boer
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Jakarta 7 Mei 1947 (d.ki.k.ka.): Jonkman, van Mook, Wim Schermerhorn, Max van Poll, Louis Beel. Pria berpeci di latar belakang adalah Muhammad Natsir.
(klik untuk memperbesar | © ANP)
Kemayoran 1 November 1948: Louis Beel dan van Mook
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1947, 1948
Tempat: Kemayoran (Jakarta)
Tokoh:

  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • F. de Boer (politisi liberal Belanda)
  • Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan)
  • Louis Joseph Maria Beel (Perdana Menteri Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politikus Belanda, anggota delegasi Belanda di dalam perundingan Linggarjati)
  • Muhammad Natsir (Menteri Penerangan) 
  • Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)

  • Peristiwa:
    Fotografer: Hugo Wilmar
    Sumber / Hak cipta: ANP / Spaarnestad Photo
    Catatan:


    UPDATE 9 Oktober 2021
    Foto nomor 2 dalam saat pemotretan yang sedikit berbeda:
    (klik untuk memperbesar | © AVS)

    Senin, 08 Agustus 2016

    Acara penandatangan perjanjian Linggarjati dalam jepretan Cas Oorthuys (7): Acara makan-makan

    Sutan Sjahrir, van Mook, dan Schermerhorn dalam acara prasmanan
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    ? dan Lord Killearn di hadapan meja prasmanan
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    Van Mook dan ?
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    Juru masak istana mencicipi hidangan sebelum disajikan untuk para delegasi
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    Para juru masak istana menyiapkan makanan untuk dihidangkan
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    Waktu: 25 Maret 1947
    Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Negara, Jakarta)
    Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda); Lord Killearn (Miles Wedderburn Lampson, diplomat Inggris); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI); Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)
    Peristiwa: Para anggota delegasi Indonesia dan Belanda di acara makan-makan setelah penandatanganan naskah perjanjian Linggarjati.
    Fotografer: Cas Oorthuys
    Sumber / Hak cipta: Fotoleren
    Catatan:

    Jumat, 05 Agustus 2016

    Acara penandatangan perjanjian Linggarjati dalam jepretan Cas Oorthuys (4): Penandatanganan

    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    (klik untuk memperbesar | © fotoleren)
    Waktu: 25 Maret 1947
    Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Negara, Jakarta)
    Tokoh: Adnan Kapau Gani (pejuang kemerdekaan); Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda); Maximus Josephus Maria van Poll (politikus Belanda; Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri RI); Soesanto Tirtoprodjo (Menteri Kehakiman RI); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI); Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)
    Peristiwa: Acara sambutan dan penandatangan naskah perjanjian Linggarjati oleh anggota delegasi Indonesia dan Belanda.
    Fotografer: Cas Oorthuys
    Sumber / Hak cipta: Fotoleren
    Catatan: Urutan duduk dari kiri ke kanan:
    1. ?
    2. Soesanto Tirtoprodjo
    3. van Mook
    4. Sutan Sjahrir
    5. Schermerhorn
    6. Mohammad Roem
    7. Max van Poll
    8. Adnan Gani
    9. Ali Budiarjo