Tampilkan postingan dengan label 1904. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1904. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2026

Residen Semarang, Pieter Sijthoff, beserta pengiringnya, 1904

Residen Semarang, Pieter Sijthoff, beserta pengiringnya yang membawa payung kebesaran dan tanpa alas kaki
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1904
Tempat: Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 09 Februari 2026

Pembantaian Belanda atas warga Kuta Reh semasa Perang Aceh, 1904

Pasukan Belanda (kulit putih dan coklat) berpose mengelilingi warga Kuta Reh yang gugur. Seorang bocah Aceh tampak duduk sendiri di antara reruntuhan benteng bambu.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 14 Juni 1904
Tempat: Kuta Reh (Bambel, Aceh Tenggara)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 31 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (25)

Kawasan pesisir utara Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1904: Beberapa pria Belanda berkemah di tepi Ranu Kumbolo di kaki Gunung Semeru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gereja di Maluku (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekelompok warga Dayak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Arak-arakan perahu berhias di pantai
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1904
Tempat: a.l. Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan, Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 18 Desember 2020

Karikatur-karikatur karya Johan Braakensiek tentang Nona Belanda dan Mbok Indonesia, 1904-1930

Amerika punya Uncle Sam, Inggris memiliki John Bull, dan dari Belanda ada Nederlandse Maagd (Dutch Maiden; Nona Belanda). Nona Belanda ini bisa tampil dalam versi terhormat seperti dewi Romawi, atau versi ndeso dalam pakaian tradisional Belanda.

Para karikaturis Belanda zaman dulu tampaknya juga mencoba mengilustrasikan Hindia-Belanda dalam bentuk seorang perempuan. Perempuan ini bisa mengenakan kain dan kebaya, atau kain kemben. Si Mbok Indonesia ini terkadang langsing, terkadang juga berisi; terkadang terlihat lanjang, atau memiliki banyak anak.

Posting kali ini akan memperlihatkan si Nona Belanda dalam kaitannya dengan Indonesia, atau malah muncul bersamaan dengan si Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Agustus 1904
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

John Bull, yang mengalami konflik di jajahannya di Afrika Selatan, bertemu dengan Nona Belanda, yang masih berperang melawan rakyat Aceh. John Bull menawarkan Nona Belanda untuk meniru cara dia di Afrika Selatan, yaitu dengan membuat kamp konsentrasi serta juga memerangi wanita dan anak-anak. Nona Belanda menampik dengan berujar bahwa dia memerangi musuhnya, tapi tidak menyiksanya.

De Amsterdammer, 16 April 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Perang Jepang melawan Rusia di tahun 1904-1905, yang dimenangkan Jepang, telah membuat Nona Belanda merasa khawatir bahwa posisi Mbok Indonesia terancam. Si Nona berteriak minta pertolongan, yang disambut oleh PM Belanda Abraham Kuyper. Saat itu Belanda tampaknya sudah memiliki firasat bahwa Jepang suatu saat akan datang ke Indonesia.

De Amsterdammer, 20 Agustus 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Louis Frederik Johannes Bouwmeester adalah salah seorang seniman teater dan perfilman Belanda yang terkenal. Di tahun 1905-1906 Bouwmeester meninggalkan Belanda untuk menjalankan bakat seninya di Hindia-Belanda. Kepergian ini membuat Nona Belanda tampak cemburu dan bertanya apakah Bouwmeester sudah merasa menjadi seniman yang terlalu besar untuk ukuran Belanda. Bouwmeester menjawab bahwa ada hal-hal kecil yang mendorongnya pergi, katanya sambil menggandeng tangan Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Oktober 1916
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bagaimana berharganya wilayah jajahan Hindia-Belanda buat Nona Belanda, laksana untaian kalung zamrud.

De Amsterdammer, 9 Oktober 1920
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Nona Belanda memperkenalkan Dirk Fock sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru. Sambutan Mbok Indonesia cukup mengagetkan.

1930
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Letusan Gunung Merapi di tahun 1930 menginspirasi Johan Braakensiek untuk memperlihatkan bahwa Nona Belanda bisa menjadi pelindung bagi Mbok Indonesia dan anak-anaknya.

Waktu: 1904, 1905, 1916, 1920, 1930
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 02 November 2020

Karikatur Belanda yang kritis atas Perang di Aceh, 1896-1935

Tidak semua pihak di Belanda setuju atau malah mendukung sepak terjang Belanda di Perang Aceh. Tiga karikatur di bawah ini adalah contoh dari suara kritis yang mengingatkan masyarakat Belanda bahwa perang di Aceh telah membawa banyak sekali korban, termasuk dari kalangan sipil.

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karya Johan Braakensiek yang diterbitkan tanggal 27 September 1896. Karikatur ini memperlihatkan IsaƤc Dignus Fransen van de Putte, politisi Belanda yang sempat menjadi Perdana Menteri dan Menteri Urusan Jajahan; Van de Putte tampaknya turut terlibat dalam keputusan untuk melancarkan aksi militer di Aceh. Teks di bawah menyebutkan bagaimana Van de Putte berkata "Saya tidak sekejap pun mundur dari tanggung jawab yang saya pikul," dengan postur tubuh yang percaya diri tetapi dengan muka yang berpaling dari kekacauan dan penderitaan yang muncul dari Perang Aceh.

(klik untuk memperbesar | AVS)

Karya Albert Hahn dari tahun 1904. Karikatur ini menggambarkan langit memerah darah, rakyat Aceh bergelimpangan membasahi bumi dengan darah. PM Belanda, Abraham Kuyper, yang memang juga rohaniawan, berjalan di antara jasad warga Aceh sambil mengutip kitab suci, sementara seorang lain membagi-bagikan kitab suci ke mayat warga Aceh.
Teks puitis di bawah kartikatur berbunyi ("Bram" tampaknya dimaksudkan Abraham Kuyper):
Perang Aceh itu pada mulanya adalah ketidakadilan, begitu sabda Tuhan.
Bram berkata: "Ketidakadilan itu dilarang", maka jadilah dia bukan ketidakadilan.
Tewasnya orang Aceh, di persisaan Deli yang kaya,
- tapi kemudian bawakan dia rahmat Injil!

(klik untuk memperbesar | AVS)

Karya Chris Lebeau dari tahun 1935. Karikatur ini diarahkan ke pengagungan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz sebagai pahlawan Perang Aceh. Karya ini menyindir bahwa apa yang dielu-elukan sebagai "Nederlands Pacificator" (pembawa perdamaian Belanda) dan "De vredestichter die men huldigt" (pembawa perdamaian yang diagungkan orang" sejatinya berdiri di atas penderitaan banyak orang dan dengan topangan meriam.
Gambar dua pesawat tampaknya (tempur) tampaknya ditambahkan untuk mengingatkan warga Belanda akan efek mengerikan kerusakan akibat Perang Dunia I beberapa tahun sebelumnya. Pada masa Perang Aceh belum ada penggunaan pesawat tempur di dunia.

Waktu: 1896, 1904, 1935
Tempat: tiga karikatur ini mengacu ke perang yang terjadi di Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek / Albert Hahn / Chris Lebeau
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk / Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 25 September 2020

Kartu pos kuno tentang Minangkabau

Padang Panjang, antara 1895 dan 1904: Memajang harimau hasil buruan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Mengangkut harimau hasil buruan
(klik untuk memperbesar | © G. Kling / AVS)
Mesjid di Koto Baru dekat Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Mesji di pesawahan kampung Tabu, Palembayan, Agam
(klik untuk memperbesar | © C. Nieuwenhuis / AVS)
Lembah Harau
(klik untuk memperbesar | © Tjan Djoe Sien / AVS)
Waktu:
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: G. Kling / C. Nieuwenhuis / Tjan Djoe Sien
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 23 September 2020

Kartu pos lama tentang Medan

Istana Sultan Deli
(klik untuk memperbesar | © AVS)

1900-1904: Perkebunan tembakau
(klik untuk memperbesar | © Togo & Co. / AVS)

Waktu: antara 1900 dan 1904 (foto kedua)
Tempat: Medan dan sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: Togo & Co. (foto kedua)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 13 September 2020

Kartu pos kuno tentang berbagai daerah

1900-1904: Sumur minyak di Kalimantan Timur
(klik untuk memperbesar | © Rob. Hennemann & Co. / AVS)

1900-1904: Perkampungan warga Bali di Lombok
(klik untuk memperbesar | © Gebr. van Straaten / AVS)

1920-1929: Borobudur
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kampung Ketang, Manado
(klik untuk memperbesar | © Gebr. Que / AVS)

Waktu: antara 1900 dan 1904 (nomor 1 & 2), 1920 dan 1929 (nomor 3)
Tempat: Kalimantan Timur, Lombok, Magelang, Manado
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: Rob. Hennemann & Co. / Gebr. van Straaten / ? / Gebr. Que
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 09 September 2020

Kartu pos lama tentang Bali

1900-1904: Gianyar
(klik untuk memperbesar | © Visser & Co. / AVS)

1910-1924: Batur
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sekitar 1970-an: Sekitar Pura Besakih
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sekitar 1970-an: Tanah Lot
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1900-1904, 1910-1924, 1970-an
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: Visser & Co. (foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 07 September 2020

Kartu pos kuno tentang Ambon

1895-1904: Jalan Gereja
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1895-1904: De Esplanade
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1895-1904: Pecinan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1895-1904: Pecinan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1905-1914: Pecinan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1920-1929: Air terjun Batu Gantung
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waktu: antara 1895-1904,  1905-1914, 1920-1929
Tempat: Ambon
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: K.D. Que / Ambonsche Drukkerij / Gebroeders Que / Que Team Sio
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Foto nomor 3 pernah dimuat di posting ini dalam ukuran yang lebih kecil.

Kamis, 03 September 2020

Poster rekrutmen tentara marinir Belanda a.l. untuk diterjunkan di Hindia-Belanda, awal abad ke-20

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1895 dan 1904
Tempat: poster ini diedarkan di Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Poster iklan rekrutmen tentara ini diedarkan di Belanda ketika Perang Aceh sedang berkecamuk. Berbeda dengan poster yang dimuat di blog ini dua hari lalu, iklan rekrutmen tentara ini khusus untuk kesatuan marinir, dan penugasan selain di Hindia-Belanda, juga bisa di Belanda sendiri, atau di Suriname.
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 30 Agustus 2020

Kartu pos kuno tentang Keraton Solo dan Pakubuwono X

Antara 1900 dan 1904: Pakubuwono X
(klik untuk memperbesar | © Albrecht & Co. / AVS)

Antara 1900 dan 1904: Alun-alun Keraton Solo
(klik untuk memperbesar | ©  Vogel vd Heijde & Co. / AVS)

Keraton Solo
(klik untuk memperbesar | © Nanyo & Co. / AVS)

Bagian depan Keraton Solo
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1900 dan 1904 (dua foto pertama)
Tempat: Solo
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 28 Agustus 2020

Kartu pos kuno tentang Surabaya

Menara Wilhelmina
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kantor Pos dan Telegraf
(klik untuk memperbesar | © G.C.T. van Dorp & Co. / AVS)

Pemakaman seorang wanita terkemuka yang dijuluki "Raden Ayu"
(klik untuk memperbesar | © J.M.Chs. Nijland / AVS)

Antara 1900 dan 1904: Prosesi pemakaman Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © J.M.Chs. Nijland / AVS)

Waktu: antara 1900 dan 1904 (foto terakhir); foto lainnya tanpa tahun
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 26 Agustus 2020

Kartu pos kuno tentang Aceh

1900-1904: Bivak Belanda di Samalanga, Bireuen
(klik untuk memperbesar | © C. Nieuwenhuis / AVS)
1901: Kartu pos bergambar bivak Belanda di Lamjamu, dan Panglima Tibang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1903: Kartu pos bergambar pastor Henricus Christiaan Verbraak, rohaniawan yang mendampingi prajurit Belanda semasa Perang Aceh dari tahun 1874 hingga 1899, dan tampaknya itu a.l. yang menyematkan tanda jasa di dadanya.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1905-1919: Konvoi logistik KNIL berisi bahan makanan dari Indrapuri semasa Perang Aceh
(klik untuk memperbesar | © Jean Demmeni / AVS)
1905-1919: Pintu masuk keraton di dekat jembatan Peunayong
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Masjid Raya Baiturrahman
(klik untuk memperbesar | © Tio Tek Hong / AVS)
1900-1904: Ini kasus menarik. Kartu pos ini ngakunya Groet uit Atjeh (salam dari Aceh) dan dicetak di Kutaraja oleh studio Reicher & Co. Tapi gambar yang disebut Chineesche Gebauw (bangunan Tionghoa) jelas-jelas mesjid; yang kiri atas adalah Masjid Agung Palembang, yang di bawahnya kemungkinan mesjid yang sama tetapi dalam tahap pemugaran dan pengembangan. Tampaknya jualan informasi yang ngawur sudah ada sejak zaman dulu.
(klik untuk memperbesar | © Reicher & Co / AVS)

Waktu: 1901, 1903, 1904, 1919
Tempat: Aceh (catatan: kartu pos bergambar pastor Verbraak dikirim dari Padang)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: C. Nieuwenhuis; Jean Demmeni; Reicher & Co; Tio Tek Hong
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: (1) Link di deskripsi kartu pos, jika ada, adalah tautan ke posting terkait di blog ini yang pernah muncul sebelumnya. (2) Patung pastor H.C. Verbraak masih berdiri di Taman Maluku di Bandung. (3) Kartu pos tentang Masjid Agung Palembang akan dimuat pada tanggal 27 September 2020.