Tampilkan postingan dengan label NSB (Nationaal-Socialistische Beweging). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NSB (Nationaal-Socialistische Beweging). Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Perjalanan kereta menuju acara Landdag di Jakarta (2)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk perjalanan kereta menuju Landdag, atau pertemuan akbar di Jakarta yang menjadi ajang unjuk kekuatan para pendukung NSB.


Kemungkinan di stasiun Madiun (?): Para peserta Landdag
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

… menunggu kereta yang akan membawa mereka ke arah Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Ketibaan para peserta Landdag asal Jawa Tengah dan Jawa Timur di stasiun Manggarai …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

… menjadi kesempatan untuk foto bersama di depan gerbong khusus Landdag
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Desember 1937
Tempat: Jakarta, Madiun (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 05 Juni 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Perjalanan kereta menuju acara Landdag di Jakarta (1)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk perjalanan kereta menuju Landdag, atau pertemuan akbar di Jakarta yang menjadi ajang unjuk kekuatan para pendukung NSB.


Para peserta Landdag di kereta dalam perjalanan menuju Jakarta; tampak sebagian berwajah lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Salah satu peserta Landdag mengisi waktu di kereta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Kedatangan para peserta Landdag asal Bandung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Foto bersama setiba di stasiun Manggarai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Dua gerbong dipesan khusus untuk peserta Landdag asal Jawa Tengah dan Jawa Timur
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Desember 1937
Tempat: Jawa (a.l. Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 03 Juni 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Landdag, pertemuan akbar para pengikut NSB

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk Landdag, atau pertemuan akbar para pengikut NSB yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 18 Desember 1937. Pertemuan ini selain menjadi ajang konsolidasi juga menjadi kesempatan bagi NSB untuk unjuk kekuatan.


Petinggi NSB, dr. Van Oordt, berbicara di pertemuan pengikut NSB. Tampak beberapa bendera NSB dipasang dengan identifikasi asal daerah seperti Jokjakarta, Soekaboemi, dan Soerabaia.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Ruangan acara dipenuhi oleh seragam fasis hitam-hitam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Tentu saja salam fasis menjadi bagian dari acara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Jurnal mingguan NSB Volk en Vaderland diedarkan di kalangan anggota NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Ada pula pameran material propaganda NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Sebuah pojok tampak ramai dikerumuni ibu-ibu NSB, barangkali tempat cendera mata
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 18 Desember 1937
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 01 Juni 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Para petinggi NSB

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda.


Gerrit van Duyl (?) menjelang pertemuan akbar Landdag
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gerrit van Duyl bersama istri dan anak (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gerrit van Duyl menyambut, atau disambut, di bandara (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gerrit van Duyl bersama para peserta Landdag yang tiba di stasiun kereta (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Petinggi NSB di stasiun kereta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1937
Tempat: Jakarta
Tokoh: Gerrit van Duyl? (teolog Protestan dan politisi pucuk pimpinan NSB)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 30 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Para pengikut NSB di Medan

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda.


22 Februari 1935: Sebuah rumah yang menjadi markas NSB di Medan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
8 Juli 1936: Pimpinan NSB di Medan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
6 September 1936: Tokoh NSB Belanda, Gerrit van Duyl (memegang topi kolonial) bersama para pengikut NSB di pelabuhan Belawan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… sebelum Van Duyl kembali ke Belanda setelah lawatannya di Nusantara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1935, 1936
Tempat: Medan
Tokoh: Gerrit van Duyl (teolog Protestan dan politisi pucuk pimpinan NSB)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lelaki di foto keempat yang mengenakan topi kolonial di belakang Van Duyl lumayan mirip dengan tokoh yang disinyalir sebagai "dalang" NSB oleh karikatur yang pernah dimuat di posting ini. Pilihan lain adalah lelaki paling kanan di foto kedua.

Sabtu, 28 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Ir. Anton Ludovicus van der Laaken, pucuk pimpinan NSB yang peranakan

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk tentang insinyur asal Bandung, Anton Ludovicus van der Laaken, yang menjadi pucuk pimpinan NSB di Hindia-Belanda. Menarik untuk dicatat bahwa Van der Laaken, seperti halnya sekitar 70% pendukung NSB di Hindia-Belanda, berdarah indo, alias campuran antara Belanda dan Indonesia. Tingginya persentase pengikut NSB yang peranakan memunculkan dugaan bahwa para indo ini melihat NSB sebagai saluran untuk memperlihatkan bahwa mereka tidak kalah kelas dengan Belanda "totok".


Van der Laaken dalam seragam fasis hitam-hitam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, 18 Desember 1937: Van der Laaken mengacungkan salam fasis di acara Landdag (pertemuan akbar) NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, 18 Desember 1937: Van der Laaken (di jendela kedua dari kanan) di kendaraan yang membawa para pengikut NSB peserta Landdag ke hotel tempat mereka menginap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1937
Tempat: Jakarta
Tokoh: Anton Ludovicus van der Laaken (pemimpin NSB di Hindia-Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 26 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Pengikut NSB di Surabaya

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, antara lain di Surabaya.


19 Januari 1934: Deklarasi pendirian NSB di Surabaya, dengan bendera NSB, foto Ratu Wilhelmina, dan foto Anton Mussert
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
19 Januari 1935: Foto bersama para pengikut NSB memperingati satu tahun berdirinya NSB di Surabaya, sesi para lelaki …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan sesi foto bersama para wanita
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
22 Agustus 1936: Pimpinan Nationale Jeugdstorm (berseragam) bersama seorang petinggi NSB …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
…  dan bersama tiga petinggi NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga pimpinan NSB di Surabaya, salah satunya kemungkinan berdarah campuran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an (a.l. 1934, 1935, 1936)
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 24 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


Anton Mussert di tangsi tentara Darmo, Surabaya, bersama simpatisan NSB dari kalangan militer. D.ki.ke.ka.: Kruitbos (pemimpin NSB Surabaya, mantan kapten artileri), Koppers (kolonel kesatuan lapis baja), Anton Mussert, 2 petinggi NSB, J. de Mos (kapten KNIL)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kruitbos (kedua dari kiri) dan Anton Mussert (tengah), di teras sebuah rumah dengan lambang NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert bersama para pendukung NSB di Tretes, Pasuruan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1935
Tempat: Surabaya, Tretes (Pasuruan)
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga karikatur yang kritis atas kunjungan Anton Mussert ini di posting ini.

Minggu, 22 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Pengikut NSB di Bandung

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda.


Lima pengurus NSB Bandung, salah satunya berwajah lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang kader NSB bersama pembantu rumah tangganya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Petinggi NSB Bandung dalam pakaian putih-putih …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… sebagian beralih ke seragam fasis hitam-hitam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 20 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Lambang dan organ NSB

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda.


18 Desember 1937: Segitiga lambang NSB dekat lonceng Natal di acara Landdag (pertemuan akbar) di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Hanya ada di Hindia-Belanda: Segitiga lambang NSB di gong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua pendukung NSB membaca Volk en Vaderland, jurnal mingguan NSB, sambil mengenakan fez (peci)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an (a.l. 1937)
Tempat: Jawa (a.l. Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 18 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Pengikut NSB di Jakarta dan Semarang

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, antara lain di Batavia (Jakarta).


29 Oktober 1935: Pimpinan NSB Batavia, Plaggert, berpidato didampingi petinggi NSB lainnya, yang salah satunya berwajah lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

27/28 Desember 1935: Kedatangan para pengikut NSB dari kereta asal Jakarta/Bandung/Cirebon di stasiun Semarang dalam rangka mengikuti pertemuan akbar Landdag (di sebelah kanan tampak pula warga lokal berseragam fasis hitam-hitam)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

1936: Para pengikut NSB berkumpul di bioskop/restoran Capitol (di depan Mesjid Istiqlal sekarang) menyambut pertunangan Putri Juliana. Catatan foto menyebut Wat in Nederland niet mogelijk is! (Sesuatu yang mustahil di Belanda!)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

18 Agustus 1936: Pertemuan sekitar 800 pendukung NSB di bioskop Royal (Jalan Bojong, Semarang) dengan slogan-slogan anti komunisme, mengeklaim Papua, dan pengedepanan kewajiban di atas hak.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1935, 1936
Tempat: Jakarta, Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 16 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Nationale Jeugdstorm, Hitlerjugend-nya warga Belanda

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda. Termasuk antara lain para remaja yang bergabung dalam Nationale Jeugdstorm, perkumpulan yang semisal dengan Hitlerjugend di Jerman.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: