Tampilkan postingan dengan label penari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penari. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (8)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Tulisan di bilik bambu berbunyi "1946" dan "slamet dateng". Bendera Belanda bergantungan dari atap. Ada kemungkinan ini adalah sambutan sebuah kampung atas kedatangan tentara Belanda …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dengan menyuguhkan acara kesenian tradisional, dan memberi kesempatan foto bersama dengan para bintang panggung.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gamelan pengiring yang kemungkinan besar adalah kelompok gambang kromong mengindikasikan bahwa peristiwa ini terjadi di Jakarta …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan acara yang disuguhkan adalah lenong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah rumah yang dijadikan pasukan Belanda sebagai pos dan ditambahi dengan gardu penjagaan yang dikelilingi gundukan karung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: kemungkinan besar Jakarta dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 07 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno dari abad ke-17 tentang tarian pasangan Jawa

Lukisan ini mencoba menampilkan laporan perjalanan tentang orang Jawa yang menari berpasangan dengan diiringi gamelan. Penggambaran beberapa hal tampaknya sangat dipengaruhi imajinasi pelukis,seperti bentuk gamelan, kemben tipis, kain para penari, dan blangkon atau tutup kepala kaum pria.
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: awal abad ke-17
Tahun peristiwa: akhir abad ke-16
Tempat terbit: kemungkinan Jerman
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Theodore De Bry
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Rabu, 24 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno karya Theodor de Bry tentang tarian Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: abad ke-16 
Tempat terbit: kemungkinan Frankfurt am Main 
Tokoh:
Deskripsi: Theodor de Bry terkenal sebagai ilustrator abad ke-16 yang banyak memperkenalkan kepada warga Eropa suasana di luar Eropa seperti Amerika dan Asia Timur termasuk Nusantara. Karena de Bry menumpahkan imaginasinya berdasarkan naskah-naskah dan narasi yang dia baca atau dapat, dan bukan menyaksikan sendiri, maka tidak jarang hasil karyanya harus dipandang dengan cermat. Seperti halnya gambar tentang tarian Jawa di atas ini. Kemungkinan de Bry mendapatkan info bahwa tarian ini dilakukan berpasangan antara lelaki dan perempuan. Dan bahwa barisan perempuan mengenakan penutup dada (kemben), kain semata kaki, dan seledang. Pakaian barisan lelaki sulit ditebak jika mengikuti karya de Bry, tetapi kemungkinan penutup kepala yang digambar adalah blangkon tetapi dalam imaginasi de Bry. Pemain gamelan digambarkan dengan jongkok, yang seharusnya duduk, dengan bilah-bilah gamelan yang dilukiskan berdiri padahal seharusnya terlentang. Dan tentu saja, pemain gamelan tidak seorang diri.
Juru foto/gambar: Theodor de Bry
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Minggu, 21 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (23)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Waar de bevolking bevrijd is en er weer Recht en Veiligheid is. De opening van het vliegveld ging gepaard met een slamatan voor allen die er aan hadden gewerkt. Bevolking en hooge gasten o.a. de Radja van Djemebrana genieten van de dansen.
  • Terjemahan:Di mana penduduk dibebaskan [dari kekuasaan Republik] di situlah keadilan dan keamanan kembali ditegakkan. Pembukaan landasan pacu [di Jembrana, Bali] diiringi dengan acara kemeriahan untuk semua yang telah terlibat dalam pengerjaannya. Warga dan tamu-tamu terhormat, termasuk Raja Jembrana, menikmati suguhan tarian.
  • Bahasan: Di sini penulis propaganda ingin menunjukkan bahwa warga Jembrana merasa terbebas setelah Belanda datang dan lebih memilih untuk bekerja sama dengan Belanda.
  • Catatan:
Waktu: kemungkinan 1946
Tempat: Jembrana (Bali)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 08 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (9)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin menampilkan seorang penari ronggeng di sebuah kawasan yang ramai. Wanita ini mengenakan kemben merah dengan kain penutup pundak yang juga merah. Dia memakai kain panjang, yang dipenuhi dengan untaian aneka ragam kain-kain lain yang tampaknya menjadi ciri dari penari "jalanan" saat itu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI lumayan bagus menangkap apa yang kemungkinan dulu dilihat oleh Hardouin, termasuk keramaian yang terjadi di latar belakang
(klik untuk memperbesar)
Menurut Hardouin, ini adalah penari ronggeng pria, sesuatu yang sejatinya hampir selalu dikaitkan dengan perempuan. Berbeda dengan penari ronggeng perempuan, pakaian si penari pria tampak lebih kompleks. Dia mengenakan hiasan di kepala serta di dada, membawa keris, beberapa lapis kain di pinggang, serta untaian pernik yang menjuntai dari kepalanya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini sangat bagus menampilkan si penari. Pakaian, perhiasan, dan pernak-perik digambarkan dengan sangat meyakinkan. Bahkan posisi tangan yang khas dalam tarian, juga direka dengan tepat. Menariknya, AI membuat sendiri latar belakang yang terinspirasi oleh lukisan tapi memang berbeda.
(klik untuk memperbesar)
 
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 04 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (7)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah lukisan Hardouin tentang seorang penari perempuan di sebuah keraton Jawa. Hardouin cukup jeli untuk menampilkan banyak detail di pakaian si penari: mulai dari penutup kepala, anting-anting, ornamen di dada, hiasan di lengan atas, ikat pinggang, hingga ke motif kain batik yang dikenakan si penari.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Cukup mengagetkan bahwa AI bisa mereka ulang detail yang dijabarkan Hardouin di lukisannya, mulai dari penutup kepala hingga ke kain batik, dan instruksi ke AI sepenuhnya tanpa prompt khusus, hanya permintaan membuat lukisan menjadi semacam foto realistis.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah penjual unggas hidup yang tampaknya menjajakan dagangannya di sebuah kawasan pecinan. Dia memikul seekor kalkun, paling tidak dua ayam kampung dan satu bebek. Si pria ini berpakaian seperti lelaki kelas bawah biasa pada zamannya: telanjang dada dan nyeker, tetapi bertutup kepala, bercelana dan bersarung.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup meyakinkan untuk menampilkan si penjual unggas. Si ayam kalkun bisa terdeteksi, begitu juga bilah bambu melengkung yang menjadi pikulan di pria. Hanya ayam yang di sebelah kiri tereduksi menjadi dua ekor dalam komposisi yang berbeda dari lukisan Hardouin.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 31 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (5)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang "nyai" menurut Hardouin, atau pengelola rumah tangga dari sebuah rumah besar, biasanya milik warga Belanda. Seorang "nyai" memiliki status yang lebih tinggi daripada warga biasa, meski kata ini juga bermakna gundik lokal yang mendampingi seorang pria Belanda. Lokasi gambar ini kemungkinan besar di Jakarta, terlihat dari kawasan pecinan di tepi sebuah kali. Nyai ini membawa payung kertas, yang menunjukkan statusnya yang lebih tinggi, serta sepatu. Pakainnya adalah baju kurung di atas sebuah sarung, dengan kain batik coklat yang menutupi pundaknya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI bisa menampilkan dengan jelas bagaimana penampilan seorang "nyai" di abad ke-19. AI juga menggambarkan jembatan dan perumahan di latar belakang dengan cukup jelas, meskipun di aslinya cukup kabur. Tapi dia keliru menampilkan kusir dan "kernet" kereta kuda, dia mana dua-duanya digambarkan duduk di bagian belakang kereta. Kemudian, atap perahu yang segitiga juga ditampilkan bundar.
(klik untuk memperbesar)
Topeng Babakan merupakan sebuah tarian yang berasal dari kawasan Cirebon. Hardouin cukup bisa menampilkan karakter khas jalur pantai utara Jawa yang muncul di tarian ini: muncul di kalangan rakyat kecil. Ini terlihat dari jenis pakaian yang dikenakan para pria, yang bukan merupakan baju perlente atau ningrat; serta kostum penari perempuan yang diramaikan oleh gantungan dari kain-kain aneka corak, musik pengiring yang sederhana, dan tentunya pertunjukannya yang di tempat ramai terbuka, bukan di gedung atau keraton.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI mendapat kesulitan untuk menampilkan tarian ini dengan benar, sehingga perlu suntingan lebih lanjut. Secara umum, subjek lukisan bisa digambarkan dengan lumayan bagus. Tetapi, dalam tarian ini, pose tangan penari, lelaki yang ikut menari, serta pemukul gendang, bukan postur tangan yang biasa terlihat sehari-hari, sehingga AI sejatinya gagal menggambarkannya. Kemudian, AI tidak melihat bahwa hidung bundar di penari lelaki merupakan bagian dari sebuah topeng, bukan benjolan daging abnormal di kepala.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 21 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (7)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah toko di Jakarta yang menjual aneka barang a.l. porselan, lampu gantung, lampu duduk, jam dinding, lukisan, dll. Toko tampak dijaga oleh seorang yang berwajah dan berpakaian lokal, sementara para pengunjung berkulit putih dan mengenakan pakaian perlente, yang mengindikasikan bahwa ini merupakan sebuah toko berkelas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang wanita Belanda berkebaya, yang tampaknya menghuni sebuah gedung mewah dengan lahan yang luas, membeli ayam hidup dari pedagang yang datang. Si pedagang kemungkinan adalah pria yang berlutut dan membawa golok. Pria yang berdiri di tengah bisa merupakan orang yang memikul ayam, atau juga pembantu atau tukang kebun di rumah itu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pesta dansa warga Belanda di depan sebuah rumah bergaya kolonial, kemungkinan di Jakarta. Tarian yang dibawakan oleh warga kulit putih ini diiringi musik terompet dan genderang yang dilantunkan warga lokal. Warga lokal pula yang membawa penerangan dalam bentuk obor, sekaligus menjadi penonton yang berkerumun.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang biarawati berdiri di di dekat patung pastor Henricus van der Grinten di area kuburan Belanda di Tanahabang. Kompleks pemakaman ini sekarang menjadi Museum Taman Prasasti. Pastor Henricus sendiri a.l. dikenal sebagai misionaris yang aktif menyebarkan ajaran Kristiani di wilayah Jakarta.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah adegan yang boleh jadi lumayan romantis: Di malam bulan purnama, tampak seorang pemuda bersandar di sebuah pohon memainkan seruling. Kemungkinan lagu yang dia lantunkan adalah nada-nada yang dia persembahkan ke wanita pujaannya yang tampak mengintip dari jendela terbuka di sebelah kanan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 03 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (5)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Jawa Timur: Pertunjukan tarian di lapangan terbuka di sebuah desa dengan latar belakang Gunung Arjuno
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sumedang: Sebuah pemandangan tentang sebuah kampung di waktu malam. Tampak empat orang mengelilingi sebuah ungun untuk menghangatkan badan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Jawa Timur: Seekor macan tutul minum di sebuah telaga di dekat sebuah sungai yang mengalir deras
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Malang: Aktivitas warga di Wendit yang berkisar di kegiatan air seperti mandi, cuci, atau sekedar bersantai dan bercengkerama. Lokasi ini sekarang menjadi tempat wisata air.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Jumat, 27 Juni 2025

Sebuah rangkaian foto tentang berbagai tari Jawa di kalangan keraton, keluaran tahun 1925 (8)

67. Tari Kapang-kapang di Solo, yang merupakan bagian awal dari tari Serimpi
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Tari Bedhaya di Solo: 68. posisi sembah, 69. sesudah sembah
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
70. Tari Bedhaya di Solo
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
71. Tari Serimpi di Solo
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua postur penari Serimpi: 72. posisi Garuda, 73. menghadapi lawan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1925
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 25 Juni 2025

Sebuah rangkaian foto tentang berbagai tari Jawa di kalangan keraton, keluaran tahun 1925 (7)

61. Seperangkat gamelan di Lembaga Kolonial di Amsterdam
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
62. Garuda dan Gatotkaca
63. Hanoman, para punakawan, dan tokoh bernama Bambang (?)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
64. Sekelompok pemain wayang orang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
65. Tarian Bedhaya
klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
66. Tarian Serimpi
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1925
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 23 Juni 2025

Sebuah rangkaian foto tentang berbagai tari Jawa di kalangan keraton, keluaran tahun 1925 (6)

46. Tari Klana Gagah Dasa Wisesa; 47. Antasena dalam ragam kambeng
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Empat pose: 48: keplok tangan, 49: atrap jamang, 50: ngugur sinom, 51: miwir kepuh
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Empat pose: 52: atrap sumping, 53: ukel tangan, 54: lembeyan (?), 55: dolanan sumping (?)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Empat pose: 56: atur-atur, 57: dolanan sonder (?), 58: dolanan supe (?), 59: sekar suwun
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
60. Perseteruan antara Arjuna dan Domangjaya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1925
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 21 Juni 2025

Sebuah rangkaian foto tentang berbagai tari Jawa di kalangan keraton, keluaran tahun 1925 (5)

40. Angkawijaya dalam posisi sebelum tarian di mulai (gaya Jogja)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
41. Posisi sebelum tarian di mulai (gaya Solo)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
42. Pregiwa menghibur Pregiwati (posisi duduk)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
43. Pregiwa menghibur Pregiwati (posisi berdiri)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
44 dan 45. Perkelahian antara Srikandi dan Larasati
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1925
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: