Tampilkan postingan dengan label Gereja Immanuel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja Immanuel. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (4)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah kereta yang ditarik empat kuda, dengan sepasang kusir dan sepasang pengawal memasuki halaman gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka di Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua orang kulit putih di depan monumen Pieter Erberverd, yang oleh warga Jakarta disebut si Pangeran Pecah Kulit. Pieter Erberverd adalah pria keturunan Jerman yang dituding VOC berencana berbuat makar untuk menggulingkan pemerintahan, dan kemudian dihukum dengan ditarik oleh empat kuda ke empat arah yang berbeda yang menghancurkan badannya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di dalam trem yang ditarik kuda di Jakarta: tampak warga kulit putih duduk bercampur dengan orang Arab, Tionghoa bertaucang dan "berkumis Pai Mei", pasangan Indonesia bagian timur, serta warga asli Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua pedagang Tionghoa menjajakan kain ke seorang perempuan yang tampaknya sangat berada. Karena di kiri belakang tampak Gereja Immanuel (saat itu Willemskerk), maka area berumput hijau adalah kawasan yang kemudian menjadi Lapangan Monas sekarang, dan rumah gedung ini kemungkinan besar berada di Jalan Merdeka Barat sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Arak-arakan warga Tionghoa yang merayakan Cap Go Meh dan menjadi tontonan warga; apabila diperhatikan, barisan panjang ini tampak didominasi oleh warga berwajah pribumi
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 13 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (3)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Tiga pria di sekitar Gereja Portugis yang dibangun di tahun 1695, dan sekarang menjadi Gereja Sion
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Tampak dalam dari Gereja Portugis dengan mimbar di tengah, kursi para jemaat di tengah, diapit oleh barisan tempat duduk di kiri dan kanan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah kereta kuda berhenti di depan Schouwburg, sebuah gedung pertemuan para elite Belanda, dan sekarang menjadi Gedung Kesenian Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah kereta pembesar berpengawal memasuki halaman gedung yang kelak menjadi Istana Negara; gedung pemerintah kolonial ini dipasangi bendera dan lambang Kerajaan Belanda, serta dijaga tentara bersenjata
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah kereta kuda berpengawal tampaknya selesai menurunkan pasangan pembesar Belanda di Willemskerk (Gereja Willem) yang sekarang menjadi Gereja Immanuel
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 11 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (2)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Acara rampogan sima yang menempatkan harimau Jawa di lapangan yang dikelilingi para pria bersenjata tombak. Tradisi yang mempercepat kepunahan jenis satwa ini kemudian dilarang pemerintah Hindia-Belanda di tahun 1905.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Air terjun Bantimurung di luar Maros, Sulawesi Selatan, yang penampakan kininya, terlepas dari keramaian pengunjung sekarang, masih sangat mirip dengan yang terlukis di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Stadhuis van Batavia, yang menjadi balaikota Jakarta dari tahun 1627 hingga 1913; sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kesibukan di kawasan pecinan di Jakarta dengan rumah-rumah yang khas kawasan pecinan, sementara kubah Gereja Imanuel tampak menjulang di kanan belakang
 (klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua kuli mengangkut barang dengan melalui Gerbang Amsterdam di Jakarta, sementara sebuah trem berkuda mengikuti jalur rel mengitari ikon yang sekarang sudah hilang ini
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis) 
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 23 Februari 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (5a - Jakarta)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Keramaian di pelabuhan Sunda Kelapa dengan kapal layar berbagai ukuran, perahu kecil, serta perahu penumpang beratap panjang datar yang bentuknya masih digunakan sampai sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Gereja Willem yang sekarang menjadi Gereja Immanuel
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah seorang warga Eropa (di Jatinegara) dengan sang pemilik tampak berbincang dengan seorang Tionghoa, sementara warga lokal bekerja mengurus kebun dan kuda
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Edisi lain dari foto pertama pernah dimuat di posting ini.

Sabtu, 08 Januari 2022

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (8)

Willemskerk, sekarang Gereja Immanuel
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Pembantu di rumah Belanda: koki, opas, pelayan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Tuan Belanda dan opas (?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Nyonya Belanda berkebaya di Bogor dan pembantu rumah tangga
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1888
Tempat: Bogor, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Josias Rappard
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 28 Oktober 2020

Jakarta tempo doeloe: Rumah ibadah cikal bakal Gereja Katedral dan GPIB Immanuel

Antara 1900 dan 1913: De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming, kelak dijuluki Gereja Katedral
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Willemskerk, kelak GPIB Immanuel
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Bubaran jemaah Willemskerk, dengan antrian kereta tunggangan dan para kusirnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1900 dan 1913 (foto atas)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 28 Desember 2017

Aparat sipil pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia (6)

PENGANTAR

Ketika kita berbicara masa pendudukan Jepang di tahun 1942-1945, biasanya yang terbayang adalah militer Jepang dengan para tentaranya. Di bayangan kita semuanya laki-laki. Gambaran ini tampaknya perlu dikoreksi, karena pemerintahan pendudukan Jepang juga membutuhkan aparat sipil. Kita bisa bayangkan perlunya jawatan kesehatan, jawatan komunikasi, jawatan propaganda, jawatan pengumpul informasi, dsb. Beberapa tugas di atas akan lebih efektif jika ditangani oleh kaum perempuan, dan karenanya tidak sedikit perempuan Jepang ditugaskan di wilayah Indonesia.

Setelah Jepang kalah perang, pihak intelijen Belanda menyita banyak foto buatan Jepang. Beberapa foto ini memperlihatkan para aparat sipil ini, begitu juga keterlibatan perempuan Jepang di dalamnya.


39 warga Jepang di depan Willemskerk (sekarang Gereja Immanuel, Jakarta), 35 di antaranya berpakaian sipil, hanya 4 yang memakai seragam militer. Empat dari 39 ini adalah perempuan.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Foto bersama beberapa warga aparat sipil Jepang; empat di antaranya wanita berkimono.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Foto bersama dengan banyak peserta berpakaian sipil. Di sebelah kiri ada sekelompok perempuan Jepang; di tengah-belakang kanan tampaknya warga Indonesia dengan pecinya.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: masa pendudukan Jepang
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 30 November 2017

Milisi Seinendan bentukan Jepang di Jakarta

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: masa pendudukan Jepang
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Setelah Jepang kalah perang, pihak intelijen Belanda menyita banyak foto buatan Jepang, antara lain foto di atas yang memperlihatkan barisan Seinendan di Jakarta dengan tiga instruktur Jepangnya berpose di halaman Willemskerk (sekarang Gereja Immanuel).
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: