Tampilkan postingan dengan label 1924. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1924. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Maret 2024

Lukisan tentang Candi Borobudur karya Jan Christiaan Poortenaar

Candi Borobudur dilihat dari halaman pekarangan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Candi Borobudur dilihat dari kejauhan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pemdangan dari stupa utama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah patung Buddha di Borobudur
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Lorong menuju stupa utama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tangga menuju stupa utama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1924 atau sebelumnya
Tempat: Magelang
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Jan Christiaan Poortenaar
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 01 Februari 2024

Pertemuan penguasa Jawa dengan petinggi Belanda

Bondowoso, 1924
(klik untuk memperbesar | © NGA)
31 Agustus 1927
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1924, 1927
Tempat: Jawa (a.l. Bondowoso)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Promemoria Bondowoso (foto pertama)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 17 September 2023

Kumpulan foto-foto panorama dari pelbagai tempat (1)

Parapat, 1924: Tiga foto disusun membentuk pemandangan dengan gereja berlatar belakang Danau Toba
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tiga foto disusun membentuk pemandangan sebuah gunung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Empat foto disusun membentuk pemandangan pelabuhan Sabang (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Empat foto disusun membentuk pemandangan atas sebuah pekerjaan tanggul sungai
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1924
Tempat: a.l. Parapat (Simalungun), Sabang (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 18 April 2023

Dari serakan foto hasil jepretan studio "Gah Hin" dan "Onnes Kurkdjian"

Onnes Kurkdjian, ~1900: Halaman utama Hotel Tengger di kawasan Tosari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Onnes Kurkdjian, 1924: Armada lokomotif di pabrik gula Jatiroto II, Lumajang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Onnes Kurkdjian, 1924: Para pekerja lokal di laboratorium pabrik gula Jatiroto II, Lumajang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gah Hin, ~1910: Sepasang pengantin dan orang tuanya di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gah Hin: Sebuah keluarga bangsawan Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1900, 1910, 1924
Tempat: Jatoroto (Lumajang), kawasan Tengger, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Gah Hin | Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 08 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan pertama langsung dari Belanda ke Indonesia, 1924

Keberhasilan melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di bulan Oktober-November 1924, meskipun dengan banyak pemberhentian dan kendala (lihat posting tentang ini), merupakan hal yang sangat membanggakan warga Belanda. Betapa tidak, ini adalah penerbangan langsung terpanjang di dunia saat itu, dan sebuah pesawat dengan 3 awak membuktikan bahwa jarak 16.000 km bukan halangan untuk sebuah penerbangan langsung.

Tidak mengherankan apabila prestasi ini mendapat banyak perhatian, baik sebelum maupun sesudahnya, yang a.l. akan ditampilkan di bawah ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ini adalah sampul dari majalah Het Vliegveld keluaran September 1924, beberapa hari sebelum penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia dilaksanaan. Sampul ini menampilkan pesawat Fokker H-NACC yang akan melakukan penerbangan bersejarah ini.

(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / AVS)

Karikatur di atas terbit di De Amsterdammer edisi 4 Oktober 1924 yang memperlihatkan pelopor pelayaran dari Belanda ke Nusantara di abad ke-16, Cornelis de Houtman, menyaksikan lepas landasnya si Fokker H-NACC sambil berucap: "Anak-anak yang hebat! Persis seperti di zamanku: Pergi untuk pertama kalinya ke Hindia Timur ... dan juga tanpa bantuan pemerintah."

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ini adalah isi dari majalah Het Leven keluaran 29 November 1924. Foto paling atas memperlihatkan kerumunan warga Belanda di depan kantor KLM untuk membaca berita berhasilnya penerbangan langsung ini. Foto tengah kiri menunjukkan karangan bunga dan berbagai ucapan selamat untuk tiga awak yang berhasil terbang langsung dari Belanda ke Indonesia. Sementara foto tengah kanan tampaknya merupakan montage dari foto ketiga awak dengan karangan bunga dan baling-baling. [Foto paling bawah merupakan pesawat karya Belanda lain yang akan dipamerkan di Paris.]

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Lembaran peringatan ini terbit di Surabaya di bulan November/Desember 1924, setelah keberhasilan penerbangan langsung. Lembaran berisi sajak pujian atas tonggak perhubungan antara Belanda dan Nusantara ini. Prestasi tiga awak Fokker H-NACC disandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Cornelis de Houtman sekitar 300 tahun sebelumnya.

Waktu: 1924
Tempat: Belanda, Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek (gambar nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 15 September 2020

Kartu pos kuno tentang beberapa tempat misi Kristen

Gereja Wolo, Grobogan
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gereja di Larantuka, Flores
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gereja dan klinik sederhana di Mentawai
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: belum ada informasi
Tempat: Wolo (Grobogan, Jawa Tengah); Larantuka, Flores; Mentawai
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:


UPDATE 16 November 2020: Tambahan dua foto dengan tema yang sama

Antara 1915 dan 1924: Seorang misionaris di pedalaman Kalimantan
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Antara 1925 dan 1934: Sebuah gereja di Jayapura
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Rabu, 09 September 2020

Kartu pos lama tentang Bali

1900-1904: Gianyar
(klik untuk memperbesar | © Visser & Co. / AVS)

1910-1924: Batur
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sekitar 1970-an: Sekitar Pura Besakih
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sekitar 1970-an: Tanah Lot
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1900-1904, 1910-1924, 1970-an
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: Visser & Co. (foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 02 Juli 2020

Pejabat Belanda, pembesar Tionghoa, dan pemuka warga Palembang di awal abad ke-20

1907: Pemuka warga Palembang dengan pakaian tradisional
(klik untuk memperbesar | © C. Nieuwenhuis / NGA)

21 Agustus 1923(?): Kemungkinan di sebuah acara pembukaan sebuah fasilitas
(klik untuk memperbesar | © Tjioe Kian Hoeat / NGA)

21 Agustus 1923(?): Kemungkinan di sebuah acara pembukaan sebuah fasilitas
(klik untuk memperbesar | © Tjioe Kian Hoeat / NGA)

21 Agustus 1923(?): Kemungkinan di sebuah acara pembukaan sebuah fasilitas
(klik untuk memperbesar | © Tjioe Kian Hoeat / NGA)

1924: Raden Haji Abdulroni
(klik untuk memperbesar | © M.A. Yamato / NGA)

Waktu:  1907, 1923, 1924
Tempat:  Palembang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:  C. Nieuwenhuis / M.A. Yamato / Tjioe Kian Hoeat
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 14 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 5: Acara penghargaan untuk ketiga awak pesawat, 1924


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Ketiga awak H-NACC duduk di panggung dalam acara sambutan dan penghargaan yang diadakan pemerintah Hindia-Belanda di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Ketiga awak berdiri di panggung menghadap para pembesar Belanda di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Tugu dengan model pesawat Fokker VII H-NACC yang didirikan di Medan sebagai tempat pertama di wilayah Hindia-Belenda yang didarati sebuah pesawat yang terbang dari Belanda
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1924 (dua foto atas), 1925 (foto bawah)
Tempat: Jakarta (dua foto atas), Medan (foto bawah)
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Sabtu, 12 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 4: Penyambutan di Cililitan, 1924


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Gubernur Jenderal Dirk Fock (berkumis) hadir di acara penyambutan kedatangan H-NACC
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Para istri pembesar Belanda tak mau ketinggalan, hadir dengan pakaian meriah
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Ketiga awak pesawat, dengan pakaian rapi, dalam acara jamuan penyambutan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 24 November 1924
Tempat: Cililitan (Jakarta)
Tokoh: Dirk Fock (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1921-1926)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Kamis, 10 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 3: Memasuki wilayah udara Hindia-Belanda, 1924

PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Melintasi Selata Malaka menuju Medan, dengan dikawal pesawat amfibi milik KNIL Udara. Foto diambil dari H-NACC. Saat itu sudah ada pesawat-pesawat terbang di Hindia-Belanda, tapi masih diangkut dengan kapal dan dirakit di Indonesia, belum ada yang terbang langsung.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Di atas Teluk Betung, Palembang, sebelum mendarat untuk pemberhentian terakhir sebelum Jakarta
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Akhirnya di atas Pulau Jawa, dengan dikawal pesawat KNIL yang lain. Foto diambil dari H-NACC.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: November 1924
Tempat: Amsterdam, Plovdiv, Istambul
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Selasa, 08 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 2: Perjalanan di Asia, 1924

PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Pemberhentian di Aleppo, Suriah
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pengisian bahan bakar yang diantar oleh sapi di Allahabad, India
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pemberhentian di Kalkuta, India
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pemberhentian di Rangoon, sekarang Yangon, Myanmar
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Perawatan pesawat di Singgora atau Songkhla, Thailand; pemberhentian terkakhir sebelum memasuki wilayah udara Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: November 1924
Tempat: Aleppo (Suriah), Allahabad (India), Kalkuta (India), Rangoon (Myanmar), Singgora (Thailand)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 06 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 1: Perjalanan di Eropa, 1924

PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Schiphol: Tiga awak H-NACC sebelum lepas landas, yaitu H. van Weeden Poelman,  A.N.J. van der Hoop, P.A. van den Broeke (dari kiri ke kanan). Ketika mereka nanti kembalinya ke Schiphol, rangkaian bunga yang mereka akan lebih besar, dan lebih banyak.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kerusakan mesin di Plovdiv, Bulgaria, yang membuat pesawat harus menuggu sekitar satu bulan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
H-NACC di Plovdiv dengan ditopang segala macam benda darurat. Tampak pula baling-baling pesawat sudah dicopot.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Sambutan yang meriah di Istambul, ketika akhirnya pesawat bisa melanjutkan perjalanan dan mendarat selamat di Turki
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: Oktober 1924
Tempat: Amsterdam, Plovdiv, Istambul
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: