![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Indies Gallery) |
Waktu: 1894
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Penyusun peta: F.H.H. Guillemard (London)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:
Sebuah usaha untuk mengumpulkan foto/gambar tentang Indonesia zaman dulu yang tersebar di dunia maya. Setelah 13 tahun (hampir) tiap hari mengudara blog ini mohon izin untuk mulai mengurangi frekwensi siarannya. Anda tetap diminta untuk menambahkan/membetulkan informasi di setiap foto/gambar ini. Urun rembug Anda akan membantu pemirsa yang lain.
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Indies Gallery) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Indies Gallery) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Indies Gallery) |
Dunia fotografi Indonesia tidak akan lepas dari nama Kassian Céphas. Orang Yogya ini merupakan warga pribumi Hindia-Belanda pertama yang menggeluti dunia fotografi secara profesional; dan umumnya autodidak. Karya-karyanya telah berjasa memperlihatkan kepada generasi setelahnya bagaimana wajah budaya Jawa pada masanya. Tak ketinggalan pula foto-fotonya tentang situs-situs purbakala di bagian tengah Jawa saat itu.
Beberapa karyanya telah tersebar di blog ini. Kali ini blog ini mencoba mengumpulkan foto-foto lainnya dalam beberapa seri. Sebagian di antaranya pernah dimuat sebelum ini, dan akan merupakan pengulangan.
![]() |
| ~1894: Sultan Hamengkubuwono VII bersama Residen C.M. Ketting Olivier (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| ~1894: Kediaman Residen Yogyakarta (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| 1897: Kassian Céphas di Macingan, Parangtritis (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| 1895: Rongkop, Gunung Kidul (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| ~1890: Gerbang Keraton Yogyakarta (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| 1895: Tebing sarang burung walet di Rongkop, Gunung Kidul (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Beberapa prajurit KNIL di pantai, kemungkinan mengawasi suplai militer dalam kotak kayu yang diangkut dengan perahu (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Sebuah pojokan ritual umat Hindu di dekat posisi markas KNIL (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Markas KNIL di Ampenan (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Tumpukan kotak kayu yang kemungkinan suplai militer di pantai Ampenan (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Taman Narmada, salah satu situs yang direbut dan dikuasai pasukan Belanda (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Pura Dalem Karang Jangkong, tempat tewas dan dimakamkannya panglima Belanda Mayor Jenderal P.P.H. van Ham (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Kali Jangkok, kemungkinan salah satu tempat pertempuran yang menjadi catatan Belanda (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Kali Jangkok, dengan beberapa warga lokal (klik untuk memperbesar | © NGA) |
Perang Lombok tak luput dari pencermatan para juru gambar Belanda. Perhatian mereka tetapi tidak senantiasa sejalan. Dua gambar di bawah ini menunjukkan sikap pandang warga Belanda tentang ekspedisi militer Belanda di Lombok ini.
![]() |
| De Nederlandsche Spectator, 1894 (klik untuk memperbesar | © Johan Schmidt Crans / AVS) |
Karikatur pertama ini muncul di awal ekspedisi militer Belanda di Lombok, memperlihatkan Nona Belanda memerintahkan Singa Belanda untuk bergerak menuju Lombok, dan mengaum dengan dahsyat untuk tidak menjadikan Lombok sebagai Aceh kedua. Saat itu Belanda memang kerepotan dengan kegigihan perlawanan rakyat Aceh.
![]() |
| De Kroniek, 26 Mei 1895 (klik untuk memperbesar | © Rusticus / AVS) |
Karikatur kedua terbit setelah Belanda menguasai Lombok, dan nadanya menjadi kritis. Panglima KNIL, Mayor Jenderal Jacobus Vetter, digambarkan sebagai seorang triumphator, pemenang perang a la Romawi, yang memamerkan kemenangannya di arena. Karikatur ini cenderung bernuansa gelap, dan menggambarkan bagaimana Vetter sejatinya menyeret "Lombok" tanpa belas kasihan.
Setelah Perang Aceh, yang sejatinya saat itu belum tuntas, ekspedisi militer Belanda di Lombok merupakan hal yang menyita banyak perhatian masyarakat Belanda. Ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk mencoba menjual barang dagangannya dengan membonceng "kepopuleran" Perang Lombok di dalam iklan atau kemasan produknya. Ini terdengar agak aneh, tapi gambar-gambar di bawah ini memang menunjukkan bahwa ada produk kakao/coklat dan rokok yang diiklankan atau dibungkus dengan referensi ke Perang Lombok.
![]() |
| Iklan kakao (coklat) dengan motif Perang Lombok (klik untuk memperbesar | © AVS) |
![]() |
| Bungkus rokok dengan gambaran pertempuran di Lombok, serta tulisan Mataram dan Tjakranegara (klik untuk memperbesar | © AVS) |
![]() |
| Bungus rokok yang sama, kali ini dengan penekanan pada seorang perwira KNIL yang terlibat Perang Lombok: Kolonel Andries Scheuer (klik untuk memperbesar | © AVS) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © AVS) |
Buku ini terbit tahun 1894 dan sampulnya menunjukkan kejayaan pasukan KNIL di dalam menduduki Lombok.
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © AVS) |
Buku ini terbit tahun 1895, disusun oleh H. Karels, seorang kapelmeester (komandan musik) di pasukan berkuda yang berperang di Lombok. Isi buku ini adalah lembaran musik mars; dengan dilengkapi peta Lombok dan rute peperangan Belanda.
![]() |
| (klik untuk memperbesar | AVS) |
21 Februari 1892: Karikatur ini menggambarkan dua jenderal KNIL yang terlibat Perang Aceh, yaitu Karel van der Heyden dan Gustave Verspyck, dengan latar belakang konflik bersenjata di Aceh dengan beberapa korban. Van der Heyden mengucapkan selamat kepada Verspyck yang berulang tahun ke-70: "Selamat, kamerad! Seandainya saja kita bisa memperbaiki kembali apa yang terjadi di sana …"
![]() |
| (klik untuk memperbesar | AVS) |
30 September 1894: Karikatur ini berjudul "Petualangan senapan infantri Belanda" yang menggambarkan bagaimana senjata Belanda setelah melewati beberapa tangan, termasuk Inggris yang dilambangkan dengan John Bull, akhirnya bisa berakhir di tangan warga Tionghoa dan warga Aceh, yang kemudian digunakan untuk melawan balik tentara Belanda dalam Perang Aceh.

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
14 Juli 1895: Karikatur ini menggambarkan Mayor Jenderal Jacobus Vetter (Panglima KNIL) yang berbisik kepada Jacob Bergsma (Menteri Urusan Koloni) dengan latar belakang Gusti Gede Jelantik (penguasa Karangasem yang ditempatkan Belanda di Lombok). Isi bisikan adalah: "Tidak ada lagi pita tersisa untuk Gusti Jelantik? Dia membantu kita dengan menindas kan?"
Waktu:
1892, 1894, 1895
Tempat: karikatur di atas mengacu ke perang di Aceh dan Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk / Universiteit Leiden
Catatan:
Karya lain dari Johann Braakensiek tentang Perang Aceh bisa dilihat di posting ini.
Letnan H.A. Zeilmaker adalah seorang perwira artileri Belanda yang bertugas di Hindia-Belanda paling tidak dari tahun 1894 hingga 1899. Dia diterjunkan di Perang Aceh, dan tampaknya kemudian tinggal di Surabaya. Dia membuat sebuah album album foto pada tahun 1900 dengan judul "1894 Souvenir 1899" yang kelihatannya ditujukan untuk kerabatnya di Belanda untuk memperlihatkan bagaimana itu Hindia-Belanda.
Selain foto-foto yang memang terkait dengan dia dan sejawatnya, album ini juga berisi foto-foto dari studio atau juru potret lain, yang juga bisa ditemukan di album atau kumpulan foto pihak lain. Ini menunjukkan bahwa pada saat itu peredaran dan jual-beli foto dengan motif tertentu bukan hal yang jarang.
Album foto ini pada akhirnya menjadi salah satu sumber berharga untuk menengok sejarah negeri kita di masa lampau beserta manusia-manusia yang hidup di saat itu.
![]() |
| 1894: Kapal Koningin Regentes yang membawa Zeilmaker dari Belanda pada tanggal 19 Oktober 1894 hingga ke Tanjung Priok pada tanggal 28 November 1894 (klik untuk memperbesar | © AVS) |
![]() |
| Kediaman Zeilmaker di pos militer Belanda di Lambaro, Aceh. Di sebelah kiri tampaknya pembantu rumah tangga, sementara di kanan salah seorang sejawat Zeilmaker (klik untuk memperbesar | © AVS) |
![]() |
| Lombok, 1894: Para pembesar sipil dan militer Belanda dengan dua penguasa terakhir dari Karangasem untuk Lombok pada saat Perang Lombok (lihat catatan di bawah) (klik untuk memperbesar | © AVS) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Gerbang ke sebuah kampung Bali (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Warga Sasak di depan gerbang ke sebuah kampung Bali (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Pura kecil antara Ampenan dan Mataram (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Seorang tentara Belanda bersama warga Sasak (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Sebuah kampung Bali di Ampenan (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Pura Lingsar (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Pura Lingsar (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Pura Lingsar (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Taman Narmada (klik untuk memperbesar | © NGA) |
![]() |
| Pemuka warga Bali, Gusti Bagus Pahos (berdiri), bersama para pengikutnya di Taman Narmada (klik untuk memperbesar | © NGA) |