Tampilkan postingan dengan label mengungsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengungsi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Januari 2026

Mengungsi semasa Perang Kemerdekaan, 1947

Jawa Tengah, 1947: Sebuah keluarga dengan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan mengungsi dari wilayah pertempuran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Keluarga yang sama, difoto dari belakang, dengan seorang tentara Belanda mendekap anak lelaki tertua
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Satu bayi di ayunan dengan baskom penampung air di bawahnya, dikelilingi beberapa anak-anak dan ibu-ibu di antara tumpukan barang-barang. Catatan foto menyebutkan bahwa ini adalah para "pengungsi Tionghoa", yang tampaknya deskripsi yang keliru.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 04 Januari 2026

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (31)

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.


Surabaya, November 1945: Tiga warga Tionghoa dan seorang pembantu (?) yang menggendong anak, mengungsi dari rangkaian pertempuran yang melahirkan Hari Pahlawan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1947: Seorang wanita Tionghoa bersama dua anak kecil mengungsi ke wilayah yang dikuasai Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jawa, 1947: Teks foto menyebutkan bahwa para pria Tionghoa ini menceritakan pengalaman mereka semasa berada di bawah kekuasan para pejuang kemerdekaan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… sementara edisi lain dari foto yang sama disertai dengan teks bahwa para pria Tionghoa ini meminta bantuan militer Belanda untuk membebaskan sejawat mereka yang disekap para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945, 1947
Tempat: Jawa (a.l. Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga foto-foto lain di rangkaian yang dimulai di posting ini.

Kamis, 21 Maret 2024

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (30): Pengungsian di Serpong, 1946

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Pasukan Belanda yang datang ke Serpong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pasukan Belanda menyeberangi Sungai Cisadane
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pasukan Belanda yang didominasi wajah lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Tionghoa Serpong di antara kendaraan militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pembagian makanan kaleng oleh militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 8 Juni 1946
Tempat: Serpong
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting terkait sebelum ini.

Selasa, 16 Februari 2021

Stasiun akhir repatriasi warga Belanda dan pengungsian warga Indonesia pro-Belanda, 1958

Bubarnya Republik Indonesia Serikat dan tidak berjalannya Uni Belanda-Indonesia, yang kemudian disusul oleh nasionalisasi aset-aset Belanda di Indonesia, membuat warga Belanda meninggalkan Indonesia dan berepatriasi ke negeri leluhurnya, dengan diikuti juga oleh sebagian warga lokal dan Indo-Belanda yang lebih memilih tinggal di Belanda daripada menetap di Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Dua bocah berwajah Nusantara tampak turun dan dituntun dari kapal Willem Ruys yang mengangkut mereka dari Indonesia ke Rotterdam.

(klik untuk memperbesar | © Guust Hens / AVS)

Dua anak di foto pertama di atas mungkin menjadi inspirasi buat Guust Hens untuk membuat sketsa di atas, paling tidak dalam menggambarkan dua bocah lelaki dan perempuan di barisan paling depan dari antrian warga yang turun dari kapal Willem Ruys ini. Berbeda dengan foto sebelumnya yang memperlihatkan wajah yang ceria, wajah-wajah di sketsa ini, terutama di kalangan dewasa, cenderung lebih dingin.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Suasana lebih dingin ditampilkan oleh Leo Jordaan dalam karikatur di atas. Tampak satu keluarga yang melakukan repatriasi (si ibu tampaknya mengenakan bawahan kain batik) harus menghadapi bukan hanya cuaca yang dingin, pepohonan yang kering, rumah susun yang sepi dan gelap, tapi juga penghuni lama yang tampak apatis. Leo Jordaan tampaknya ingin memperlihatkan itulah sambutan dan tempat tinggal yang menanti mereka di Belanda.

Waktu: 1958
Tempat: Rotterdam
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Guust Hens | Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 29 Juni 2020

Pengungsian warga Indonesia pro-Belanda ke Belanda, 1958

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu:  19 Januari 1958
Tempat:  Rotterdam
Tokoh:
Peristiwa:  Ketika Republik Indonesia Serikat bubar, dan Uni Belanda-Indonesia terkubur, kemudian Soekarno mencanangkan nasionalisasi aset-aset (warga) Belanda, serta Papua mulai menjadi bahan perseteruan Belanda-Indonesia, banyak warga Belanda kembali ke negeri nenek moyangnya, repatriasi. Selain warga Belanda, tidak sedikit warga lokal yang merasa lebih nyaman hidup bersama orang Belanda, dan rela meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencoba hidup baru di Eropa.
Foto-foto di atas memperlihatkan kedatangan kapal Sibayak di Rotterdam, yang a.l. mengangkut pengungsi "kulit coklat" dari Indonesia ke Belanda.
Fotografer: Nationaal Foto Persbureau
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 10 November 2019

Pasukan Australia dan pengungsi melintasi bangunan yang dibumihanguskan pejuang kemerdekaan, 1946

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: 1946
Tempat: Jawa Barat (kemungkinan sekitar Bogor)
Tokoh:
Peristiwa: Latar belakang ketiga foto ini adalah kompleks perumahan yang diporakporandakan para pejuang kemerdekaan. Di latar delapan tampak beberapa warga melintas, serta juga tiga orang dari kesatuan militer Australia. Karena pasukan Australia banyak ditempatkan di wilayah Bogor, kemungkinan lokasi foto ada di dilayah ini. Perlu pula dicatat bahwa warga yang melintas tampak berpakaian relatif rapi dan bersepatu yang menunjukkan mereka bukan warga kampung. Malah, ada kemungkinan bukan warga setempat. Pasukan Australia kemungkinan juga datang untuk melindungi atau mengungsikan mereka.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 11 Oktober 2019

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (29): Pengungsian di Serpong, 1946

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Warga Tionghoa mengangkut babi melintasi Sungai Cisadane menuju pengungsian
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Tionghoa, dan kemungkinan juga warga lainnya, asal Serpong di penampungan pengungsi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang nenek dan dua anak di pengungsian
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 8 Juni 1946
Tempat: Serpong
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 29 Mei 2019

Aksi Polisionil 1: Sebuah keluarga Belanda mengungsi, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa: Ternyata di saat perang kemerdekaan, bukan hanya rakyat Indonesia yang harus mengungsi, warga Belanda pun harus meninggalkan kediaman mereka, seperti yang dialami keluarga Bloem ini. Tampak Pak Bloem (berbaju putih) ditemani istrinya (paling kanan) dan dua anak perempuannya (paling depan dan belakang) serta pembantunya yang membawa sepeda, pergi meninggalkan komplek perumahan mereka dengan latar belakang tentara Belanda berjaga-jaga. Tampak pula dua anak kecil digendong, serta satu bocah dituntun tanpa alas kaki. Menarik untuk dicatat bahwa para perempuan di keluarga Bloem ini mengenakan kebaya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 04 September 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (28): Pengungsian di Jawa Timur

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Mojokerto, 21 November 1947: Sekitar 530 warga Tionghoa diungsikan dari Jombang (wilayah Republik) ke selatan Mojokerto (wilayah kekuasaan Belanda) dengan dikawal oleh beberapa pemuda Tionghoa dan pejuang TNI.
(klik untuk memperbesar | © Nicola Drakulic / gahetna)
Mojokerto, 21 November 1947: Pihak Belanda berkoordinasi dengan para pemuda Tionghoa dalam proses pengungsian sekitar 530 warga Tionghoa dari Jombang ke Mojokerto.
(klik untuk memperbesar | © Nicola Drakulic / gahetna)
Krebet (Malang), 19 Desember 1948: Pasukan Belanda membebaskan warga Tionghoa yang ditahan para pejuang di Krebet pada saat Aksi Polisionil 2.
(klik untuk memperbesar | © G.J. Aaldriks / gahetna)

Waktu: 21 November 1947 & 19 Desember 1948
Tempat: Malang, Mojokerto
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Nicola Drakulic (dua foto atas) / G.J. Aaldriks (foto bawah)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 31 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (26): Kerusakan dan pengungsian di Palembang dan sekitar Padang

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Kehancuran di area pecinan Palembang
(klik untuk memperbesar | © W.F.J. Pielage / spaarnestad)
Kerusakan di pasar Padang Panjang (?) yang berdekatan dengan pemukiman warga Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
4 Juni 1948: Sekitar 240 warga Tionghoa dari Painan (Sumatera Barat) diungsikan ke Padang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1948, masa perang kemerdekaan
Tempat: Palembang, Padang Panjang, Padang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief / Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 05 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (13): Mengungsi lagi dari Ciledug, Cirebon

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.


(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 11 Oktober 1947
Tempat: Ciledug (Cirebon)
Tokoh:
Peristiwa: Menyusul penghancuran atas perumahan warga Tionghoa di bagian timur Cirebon, yang terjadi tanggal 6 Oktober malam, warga Tionghoa di Ciledug (Cirebon) diungsikan dengan bantuan militer Belanda. Pengungsian dilanjutkan pada tanggal 11 Oktober 1947 dengan dikawal milisi Tionghoa bersenjata.
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 03 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (12): Persiapan pengungsian berikutnya dari Ciledug, Cirebon

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 11 Oktober 1947
Tempat: Ciledug (Cirebon)
Tokoh:
Peristiwa: Menyusul penghancuran atas perumahan warga Tionghoa di bagian timur Cirebon, yang terjadi tanggal 6 Oktober malam, warga Tionghoa di Ciledug (Cirebon) diungsikan dengan bantuan militer Belanda. Pengungsian dilanjutkan pada tanggal 11 Oktober 1947 dengan dikawal milisi Tionghoa bersenjata.
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 30 Juli 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (10): Pengungsian di wilayah Cirebon

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

22 Juli 1947: Warga Tionghoa menunggu kedatangan truk yang akan membawa mereka ke tempat pengungsian
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
22 Juli 1947: Warga Tionghoa diungsikan dengan bantuan militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © van Kalken / gahetna)
25 Juli 1947: Warga Tionghoa di Jamblang, Cirebon, menyambut kedatangan tentara Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 22/25Juli 1947
Tempat: Cirebon
Tokoh:
Peristiwa: Pengungsian warga Tionghoa di wilayah Cirebon di saat Aksi Polisionil 1.
Fotografer: van Kaken (dua foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 23 Oktober 2017

Aksi Polisionil 1: Penduduk Jawa mengungsi, 1947

Agustus 1947: Warga sipil mengungsi di dekat sebuah tank Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Yogyakarta: Warga sipil, kemungkinan dari luar Yogyakarta, antri di tempat pendaftaran evakuasi yang dikelola TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1947
Tempat: Yogyakarta, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 19 Oktober 2017

Aksi Polisionil 1: Warga Sidamanik mengungsi, 1947

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 27 Oktober 1947
Tempat: Sidamanik (Simalungun)
Tokoh:
Peristiwa: Warga sipil di sekitar Bah Butong dan Sidamanik, sebagian di antaranya kemungkinan besar warga Tionghoa, mengungsi menghindari tempat pertempuran antara TNI dengan militer Belanda di saat Aksi Polisionil 1.
Fotografer: B. Huisman
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 3 Agustus 2018
Tambahan foto dari peristiwa yang sama:
(klik untuk memperbesar | © gahetna)