Tampilkan postingan dengan label 1934. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1934. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2026

Latihan militer KNIL di sekitar Tanjung Priuk, 1934 (2)

Panglima KNIL Letnan Jenderal Koster (berkacamata), didampingi ajudannya dan beberapa anggota Volksraad (a.l. Van Baalen di latar depan), mengamati jalannya latihan militer yang mensimulasikan adanya pendaratan musuh di pesisir Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Simulasi penyerbuan musuh dengan menggunakan perahu pendarat yang dihadapi KNIL dengan penembakan cahaya yang menerangi langit dan kawasan pesisir
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kumpulan foto latihan yang memperlihatkan satuan komunikasi (kanan atas), artileri (kiri bawah), lampu sorot (kanan bawah), serta bagaimana latihan ini menjadi tontonan bagi warga sekitar (kiri atas)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 22 September 1934
Tempat: sekitar Tanjung Priuk, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 10 Mei 2026

Latihan militer KNIL di sekitar Tanjung Priuk, 1934 (1)

Penembakan cahaya magnesium ke langit yang kemudian turun perlahan dengan parasut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Latihan kesiagaan menghadapi serbuan musuh dari arah laut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Penembakan lampu sorot yang sangat terang ke arah bagian pantai yang menjadi potensi tempat serangan dari arah laut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 22 September 1934
Tempat: sekitar Tanjung Priuk, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 23 Februari 2024

Poster iklan penerbangan KLM rute Amsterdam-Jakarta dari tahun 1934

Satu tahun setelah pesawat Pelikan bisa menempuh penerbangan dari Belanda menuju Hindia-Belanda hanya dalam waktu empat hari –sebuah rekor dunia pada saat itu– KLM dengan bangga mulai membuka penerbangan untuk umum. Saat itu waktu tempuhnya adalah lima setengah hari; suatu yang mencengangkan mengingat perjalanan tercepat sebelumnya, melalui laut, membutuhkan waktu 6 minggu atau lebih dari 40 hari.

Poster ini memperlihatkan kota-kota ternama saat itu yang disinggahi; dan juga membandingkan rute penerbangan terjauh bangsa lain seperti Inggris (London-Kapstadt dan London-Madras) serta Perancis (Marseille-Saigon) yang masih lebih pendek daripada rute Amsterdam-Jakarta-Bandung. Poster ini juga menjadi menarik karena menunjukkan rute pelayaran laut internasional pada saat itu, yang menggambarkan jalur transportasi mana yang sangat penting di dunia, selain Amerika, menjelang pertengahan abad ke-20.

Iklan yang menyebutkan penerbangan mingguan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Iklan yang menyebutkan dua penerbangan seminggu
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1934
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 18 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Dua sobekan dari sebuah album foto

Antara 1930 dan 1935: Pembukaan sekolah pribumi khusus perempuan di Mardikenya, Purwokerto (atas); dua warga Tionghoa dengan nama Ang Beng Siang dan Ang [?] Koan (bawah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Yogyakarta, 18 Desember 1934: Para pegawai OVL (kemungkinan Openbare Verlichting = Jawatan Lampu Penerangan Umum)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Antara 1930 dan 1935: 30 pria Eropa dengan pakaian resmi bersama seorang pria Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman asal dua foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1934
Tempat: Jawa (a.l. Purwokerto, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 13 Juni 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (1)

1931: Raja Karangasem, I Gusti Agung Bagus Jelantik, kermungkinan bersama istri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1930: Raja Kasunanan Surakarta, Pakubuwono X, bersama Ratu Hemas (?) dan salah satu putri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1875: Sebuah pengerjaan penguatan (tanggul sungai?) di Batang-Serangan, Langkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
3 Agustus 1934: Para pangeran Keraton Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920: Lima gadis Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1875, 1920, 1930, 1931, 1934
Tempat: Bali (a.l. Karangasem), Batang-Serangan (Langkat), Surakarta, Yogyakarta
Tokoh: I Gusti Agung Bagus Jelantik (Raja Karangasem), Pakubuwono X (Raja Kasunanan Surakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Edisi lain dari foto no. 1 pernah dimuat di posting ini.

Kamis, 26 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Pengikut NSB di Surabaya

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, antara lain di Surabaya.


19 Januari 1934: Deklarasi pendirian NSB di Surabaya, dengan bendera NSB, foto Ratu Wilhelmina, dan foto Anton Mussert
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
19 Januari 1935: Foto bersama para pengikut NSB memperingati satu tahun berdirinya NSB di Surabaya, sesi para lelaki …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan sesi foto bersama para wanita
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
22 Agustus 1936: Pimpinan Nationale Jeugdstorm (berseragam) bersama seorang petinggi NSB …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
…  dan bersama tiga petinggi NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga pimpinan NSB di Surabaya, salah satunya kemungkinan berdarah campuran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an (a.l. 1934, 1935, 1936)
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 03 Februari 2022

Dari arsip Atlas Van Stolk: Wajah beberapa warga Nusantara

Antara 1898 dan 1906: Sebuah pengadilan di Semarang (?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Warga Karo di sekitar Brastagi
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Arak-arakan di Medan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Antara 1900 dan 1934: Benteng Rotterdam di Makassar
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1909: Dua misionaris Belanda bersama 3 warga Minahasa
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1906, 1909, 1934
Tempat: Brastagi, Makassar, Medan, Minahasa, Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 19 Desember 2021

Dari sebuah perjalanan ke Lombok, Bali, dan Madura di sekitar tahun 1930: Dua foto dari Madura

Berlayar dengan perahu nelayan Madura
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Dua perempuan dengan babi piaraan di Ujung Piring
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1925-1934
Tempat: Madura
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 17 Desember 2021

Dari sebuah perjalanan ke Lombok, Bali, dan Madura di sekitar tahun 1930: Empat foto dari Bali

Warga Buleleng berkumpul di pekarangan sebuah rumah pembesar
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Reruntuhan sebuah candi atau pura di Buleleng
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Seorang perempuan Bali ...
(klik untuk memperbesar | © AVS)
... menuntun dua kerbau
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1925-1934
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 15 Desember 2021

Dari sebuah perjalanan ke Lombok, Bali, dan Madura di sekitar tahun 1930: Sekitar Ampenan

Kemungkinan Kali Jangkok, tempat bersejarah dalam Perang Lombok
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Rumah warga Sasak (?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Pemandian umum
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Tari Gandrung
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Beberapa warga di pemukiman
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1925-1934
Tempat: Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 13 Desember 2021

Dari sebuah perjalanan ke Lombok, Bali, dan Madura di sekitar tahun 1930: Pengaruh Karangasem di Lombok Barat

Pura Lingsar
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Taman Narmada
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Bagian dalam kawasan Pura Lingsar
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Taman yang dijadikan Belanda sebagai tugu peringatan bagi prajurit dan perwira KNIL yang tewas semasa Perang Lombok
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Dua benda keramat di sebuah pura
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1925-1934
Tempat: Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 12 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan cepat dari Belanda ke Indonesia, 1933-1934

Setelah berhasil melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di tahun 1924, para perintis penerbangan Belanda membuat rekor baru di bulan Desember tahun 1933: penerbangan Belanda-Indonesia dalam waktu 4 hari, sebuah prestasi yang mencengangkan di saat itu (lihat posting tentang ini).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di bulan November 1933, sudah keluar perangko yang menggambarkan akan adanya penerbangan pos cepat pertama antara Amsterdam dan Jakarta. Gambar yang ditampilkan pesawat berbaling-baling tiga, yang sedikit banyak mirip dengan pesawat Fokker F18 "Pelikan" yang sebulan kemudian melakukan penerbangan yang sebenarnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini keluar tahun 1934 untuk mengenang pesawat "Pelikan" dan empat awaknya yang menempuh rute penerbangan terpanjang di dunia saat itu sejauh 14.350 km. Sebagai perbandingan, poster ini menunjukkan rute penerbangan terjauh negara lain seperti Inggris (London-Kapstadt dan London-Madras), serta Perancis (Marseille-Saigon) yang masih lebih pendek daripada Amsterdam-Jakarta-Bandung.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kalau sebelumnya pabrik biskuit Elder membuat permainan papan untuk mengenang penerbangan H-NACC di tahun 1924, maka kali ini giliran pabrik semir sepatu Erdal untuk membuat permainan yang mirip untuk mengenang penerbangan Pelikan PH-AIP. Permainan ini memperlihatkan rute mulai dari Amsterdam dengan tujuan Jakarta, dilanjutkan ke Bandung, dan kembali ke Amsterdam.

Waktu: 1933, 1934
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 29 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1934-1945

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur di atas dibuat sekitar tahun 1915 dan 1934. Seperti disinggung di posting sebelum ini, masalah candu di Hindia-Belanda, terutama di Jawa telah menjadi persoalan yang akut. Karikatur di atas mengabarkan bahwa masyarakat Tionghoa di Hindia-Belanda memohon kepada pemerintahan Belanda yang berasal dari dunia Kristiani agar dalam waktu 3 tahun produksi dan penjualan candu bisa dihentikan, serta rumah sakit untuk perawatan pecandu didirikan.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur di atas dibuat sekitar tahun 1925-1934 oleh Leo Jordaan yang kemudian akan membuat banyak karikatur tentang Indonesia. Karya ini berjudul "... dan Hindia berdansa!" yang bisa ditafsirkan bahwa dansa-dansinya warga Belanda di Indonesia sejatinya dibayang-bayangi oleh bahaya bahwa suatu saat rakyat Hindia-Belanda akan "meletus".

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Sketsa di atas dibuat di tahun 1942, dan tampaknya memperlihatkan kesiagaan warga Hindia-Belanda bersama kesatuan KNIL dalam menghadapi invasi (Jepang). Sejarah mencatat bahwa Jepang dengan relatif cepat bisa menundukkan pertahanan KNIL.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur di atas terbit di bulan Oktober 1945, hanya sekitar 2 bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Menurut karikatur ini, Menteri Urusan Tanah Jajahan, Profesor Johann Logeman berusaha untuk menghubungi rakyat Indonesia untuk menyampaikan bereidheid tot onderhandelen (kebersediaan untuk bernegosiasi), tetapi upaya ini tidak disambungi oleh Perhimpunan Indonesia.

Waktu: 1934, 1942, 1945
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Nusantara
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Louis Raemaekers
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: