Tampilkan postingan dengan label Ciamis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ciamis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Desember 2019

Peninggalan purbakala dari bagian tenggara Jawa Barat: Cipaku, Kawali, Nagarawangi (Ciamis)

PENGANTAR

Pada tahun 1863-1864 Isidore van Kinsbergen menerbitkan sebuah album berjudul Oudheden van Java, op last der Ned. Indische regering, onder toezigt van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang berisi foto-foto peninggalan purbakala di Jawa, dari wilayah Banten hingga ke Jawa Timur.


Candi, arca, dan situs purbakala dari bagian tengah dan timur pulau Jawa umumnya sudah sangat terkena, banyak dibahas, dan menjadi objek wisata hingga sekarang. Berbeda dengan peninggalan purbakala di bagian barat, yang tampaknya tidak mendapat perhatian sebesar di bagian tengah dan timur.

Seri foto berikut akan mencoba untuk memperlihatkan apa yang sudah didokumentasikan oleh van Kinsbergen lebih dari 100 tahun lalu, dengan harapan mudah-mudahan tidak membuat kita lupa akan peninggalan nenek moyang ini.


Peta di bawah memperlihatkan situs-situs tempat ditemukannya benda-benda purbakala di bagian tenggara Jawa Barat, yang sekarang meliputi wilayah Ciamis, Garut, Kuningan, Majalengka, dan Tasikmalaya.
(klik untuk memperbesar)

Sisa arca Ganesha, dewa berlengan empat, dan lembu Nandi dari Nagarawangi
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Dua lingga, satu arca dari masa sebelum Hindu-Buddha, dan sebuah batu dengan tapak kaki dari Cipaku
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Sebuah mazbah batu di depan pohon beringin di Kawali
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: 1864
Tempat: Cipaku, Kawali, Nagarawangi (Ciamis)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Sabtu, 07 Desember 2019

Peninggalan purbakala dari bagian tenggara Jawa Barat: Panjalu dan Sadapaingan (Ciamis)

PENGANTAR

Pada tahun 1863-1864 Isidore van Kinsbergen menerbitkan sebuah album berjudul Oudheden van Java, op last der Ned. Indische regering, onder toezigt van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang berisi foto-foto peninggalan purbakala di Jawa, dari wilayah Banten hingga ke Jawa Timur.


Candi, arca, dan situs purbakala dari bagian tengah dan timur pulau Jawa umumnya sudah sangat terkena, banyak dibahas, dan menjadi objek wisata hingga sekarang. Berbeda dengan peninggalan purbakala di bagian barat, yang tampaknya tidak mendapat perhatian sebesar di bagian tengah dan timur.

Seri foto berikut akan mencoba untuk memperlihatkan apa yang sudah didokumentasikan oleh van Kinsbergen lebih dari 100 tahun lalu, dengan harapan mudah-mudahan tidak membuat kita lupa akan peninggalan nenek moyang ini.


Peta di bawah memperlihatkan situs-situs tempat ditemukannya benda-benda purbakala di bagian tenggara Jawa Barat, yang sekarang meliputi wilayah Ciamis, Garut, Kuningan, Majalengka, dan Tasikmalaya.
(klik untuk memperbesar)

Kentongan perungu dari Sadapaingan
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Kentongan yang sama difoto dari arah sebaliknya
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Piring berdekorasi dan genta dari Payungsari, Panjalu
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Ujung dwisula, penyangga lampu, dan pedang dari Panjalu
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: 1864
Tempat: Ciamis
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Jumat, 06 April 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Ciamis, 1926

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Ciamis, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: antara 1926-1929
Tempat: Ciamis
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 05 Desember 2016

Paska Renville: Kunjungan wartawan Reuters H. Laming ke sekitar Tasikmalaya (2), 1948

Satuan militer Belanda yang mendampingi H. Laming
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Sepeda motor yang mengawal H. Laming diperiksa setelah perjalanan jauh
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
H. Laming mengunjungi "contact bureau" TNI di Sindangrasa (Ciamis)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Oktober 1948
Tempat: Ciamis, Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa: Berdasarkan hasil perjanjian Renville pasukan TNI harus mundur dari wilayah-wilayah yang diakui sebagai daerah Belanda, a.l. dari Jawa Barat. Perundingan mengenai proses pemunduruan ini, yang kemudian dikenal sebagai "hijrah", a.l. berlangsung di Tasikmalaya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Foto ketiga adalah update dari foto sebelumnya yang diposting tanggal 30 Septembe 2016.

Jumat, 30 September 2016

Paska Renville: Kunjungan wartawan Reuters H. Laming ke sekitar Tasikmalaya (1), 1948

Wartawan "Reuters", H. Laming (berdasi) mengunjungi wilayah sekitar Tasikmalaya untuk mengamati tindak lanjut dari perundingan Renville
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
H. Laming mengunjungi "contact bureau" TNI di Sindangrasa (Ciamis)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Oktober 1948
Tempat: Ciamis, Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa: Berdasarkan hasil perjanjian Renville pasukan TNI harus mundur dari wilayah-wilayah yang diakui sebagai daerah Belanda, a.l. dari Jawa Barat. Perundingan mengenai proses pemunduruan ini, yang kemudian dikenal sebagai "hijrah", a.l. berlangsung di Tasikmalaya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Foto kedua akan diupdate dengan yang lebih besar dan berkualitas lebih baik di posting tanggal 5 Desember 2016.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Para pimpinan pemberontakan komunis di Ciamis, 1927

Sastra Tabai, dihukum seumur hidup.
(klik untuk memperbesar, © gahetna)
Dirja (kiri) dan Egom (kanan), keduanya dihukum mati.
(klik untuk memperbesar, © gahetna)
Hasan Baki, dihukum mati.
(klik untuk memperbesar, © gahetna)
Waktu: 1927
Tempat: Ciamis (?)
Tokoh: Sastra Tabai, Dirja, Egom, Hasan Baki (para pimpinan pemberontakan komunis di Ciamis tahun 1926, yang kemudian divonis oleh Belanda dengan hukuman mati atau seumur hidup).
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 02 Juli 2014

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 1

Tidak semua rakyat Hindia Belanda menginginkan kemerdekaan. Dengan berbagai alasan beberapa pihak malah lebih senang hidup di bawah kekuasaan Belanda atau malah memusuhi para pejuang kemerdekaan. Generalisasi tentu tidak bisa disimpulkan terhadap kelompok atau suku tertentu. Tapi foto-foto berikut mudah-mudahan bisa menambah bahan masukan untuk diskusi tentang hal ini.


1. Kelompok pertama adalah warga sipil yang bersedia menjadi bagian dari aparat pemerintahan penjajahan Belanda.

Contohnya adalah wedana Ciamis dan wakilnya yang dilantik oleh Residen Priangan Dr. Van de Harst sebagaimana diperlihatkan di bawah ini.
© gahetna
Atau pelantikan 38 wedana di wilayah Jawa Barat oleh Mayor Jendral Dürst Britt di Garut.
© gahetna

[bersambung]

Waktu: antara 1946 dan 1949
Tempat: Ciamis, Garut
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief