Tampilkan postingan dengan label Simon Hendrik Spoor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Simon Hendrik Spoor. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2024

Kedatangan kembali Van Mook ke Jakarta setelah konsultasi di Belanda dan Inggris mengenai nasib Indonesia, 8 Mei 1946

Van Mook turun dari pesawat yang membawanya ke Kemayoran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Van Mook disalami oleh Mr. Blom yang menyambutnya bersama Jenderal Spoor (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jenderal Mansergh (kiri) dan Komodor Udara Cecil Alfred Stevens (tengah) dari militer Inggris menyambut Van Mook di landasan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Van Mook (paling kiri) berbincang bersama para petinggi sipil Belanda: Count van Bijlandt, Mr. Blom, dan Baron van Asbeck
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 8 Mei 1946
Tempat: bandara Kemayoran, Jakarta
Tokoh: Peristiwa: Aspirasi kemerdekaan rakyat Indonesia beserta adu diplomasi dan pertikaian bersenjata yang menyertainya, yang juga melibatkan militer Inggris, membuat Van Mook harus terbang ke Belanda dan Inggris untuk berkonsultasi. Kedatangannya kembali ke Jakarta setelah konsultasi di Eropa disambut oleh para petinggi Belanda dan perwira tinggi militer Inggris yang saat itu masih ditugaskan Sekutu untuk memegang kendali keamanan di Jawa.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 08 April 2024

Ereveld Ancol: Pengalihan dan penguburan jenazah warga Belanda yang dieksekusi semasa pendudukan Jepang (6), 1946

Pendampingan atas peti jenazah yang kemungkinan berisi sisa jasad seorang tentara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Peletakan karangan bunga di monumen Ereveld Ancol
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Van Mook (dan istri?) bersama para pembesar militer Belanda dan Inggris, a.l. Jenderal Simon Hendrik Spoor (paling kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tukang gali kubur membersihkan sisa-sisa tanah penguburan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Alunan terompet penghormatan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kuburan yang sudah tertutupi karangan bunga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rangkaian kuburan di Ereveld Ancol yang masih ada hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 14 September 1946
Tempat: Ancol, Jakarta
Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Jenderal Simon Hendrik Spoor (Kepala Staf Tentara Belanda di Indonesia)
Peristiwa: Semasa kekuasaanya di Indonesia pasukan Jepang banyak mengeksekusi warga Belanda dan sekutunya, terutama di awal-awal pendudukannya, yaitu tahun 1942-1943, dan menguburkannya sekedarnya atau secara sederhana (lihat misalnya posting ini). Ketika Belanda kembali ke Indonesia, dilakukan upaya-upaya untuk mengumpulkan jenazah yang berserakan ini, dan menguburkan ulang di pemakaman Ereveld Ancol seperti ditampilkan di foto-foto di atas.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 04 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1949-1952

De Vlam, 26 Maret 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Salah satu saat paling kelam dalam sejarah Belanda adalah era pendudukan Jerman Nazi di masa Perang Dunia II. Karenanya, membandingkan petinggi sipil dan militer Belanda dengan tokoh Nazi merupakan sindiran yang sangat pedas. Dan ini dilakukan oleh karikaturis Wim van Wieringen.

Pemicunya adalah sanggahan dari para pejabat Belanda atas adanya kekerasan atau malah kejahatan perang yang dilakukan KNIL dan/atau militer Belanda di Indonesia; padahal, laporan tentang itu paling tidak terdengar dari Sulawesi Selatan, Pakishaji, Bondowoso, Karawang, dan Bangka. Wim membandingkan sanggahan ini dengan penyangkalan para tokoh Nazi bahwa mereka tahu adanya pengiriman kaum Yahudi ke kamp pemusnahan.

Wim menggambarkan Komisioner Tinggi untuk Hindia-Belanda, Louis Beel (kelak menjadi PM Belanda), dan Panglima Belanda Jenderal Simon Spoor, berbaris seirama dengan Panglima SS, Heinrich Himmler, dan Menteri Propaganda Jerman, Joseph Goebbels, dan semuanya berteriak dalam bahasa Jerman "Es ist nicht wahr" (Itu tidak benar).

De Vlam, 5 November 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Penghujung 1949 adalah masa ketika Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia. Karikatur di atas menggambarkan burung garuda yang menjadi terbang bebas meninggalkan sebagian kalangan Belanda yang tampaknya selama ini memiliki beberapa rencana yang terpaksa menjadi batal dan berantakan. Rencana yang terbaca a.l. penangkapan atas ibunda Soekarno, pergerakan tentara, serta rencana atas Papua.

Vrij Nederland, 28 Januari 1950
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Buku sejarah di Indonesia umumnya menyebut pemberontakan APRA sebagai ulah Westerling. Tetapi karikatur di atas menggambarkan bahwa Westerling hanyalah sebagai bidak catur yang dimainkan orang lain. Karikatur ini bertanya: "Wie is de speler?" (Siapa pemainnya/dalangnya?).

Vrij Nederland, 31 Maret 1952
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Pada tanggal 22 Mei 1952, atasa militer Indonesia di Belanda, Kolonel Mas Tirtodarmo Haryono, dikepung dan ditodong dengan pistol oleh 2 orang tak dikenal. Sempat terjadi pergulatan dan tembakan, namun Haryono selamat meskipun kepalanya berdarah terpukul gagang pistol. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana PM Belanda, Willem Drees, bersama Nona (Nyonya?) Belanda harus kaget melihat bahwa di kasur mereka (artinya di negeri mereka) banyak sekali kutu busuk. Menurut catatan atas karikatur ini, pelaku kekerasan atas Haryono bukanlah perorangan, melainkan bagian dari kelompok anti-Indonesia yang terorganisir.

Waktu: 1949, 1950, 1952
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Belanda dan Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 15 Februari 2019

Van Mook dan Jenderal Spoor, 1948

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: Maret 1948
Tempat: kemungkinan besar di Jakarta
Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Jenderal Simon Hendrik Spoor (Kepala Staf Tentara Belanda di Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Tidak banyak dokumen yang menunjukkan tokoh puncak sipil dan militer Belanda di Indonesia semasa perang kemerdekaan ini berbarengan dalam satu foto.

Jumat, 26 Oktober 2018

Jenderal Spoor menyambut kontingen perwira Belanda yang sebelumnya diinternir di Jepang, 1946

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1946
Tempat: Jakarta
Tokoh: Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor (Panglima Tentara Hindia-Belanda; kanan)
Peristiwa: Setelah Hindia-Belanda menyerah kepada Jepang di tahun 1942, Jepang menginternir para perwira dan pembesar Belanda ke Jepang (dan Mancuria). Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu tiga tahun kemudian, para perwira ini kembali ke Belanda untuk rehabilitasi. Tidak sampai satu tahun, para perwira ini kembali dikirim ke Indonesia untuk menghadapi para pejuang kemerdekaan. Mereka tiba dengan kapal Johan van Oldenbarnevelt dan dikomandoi oleh Letnan J. Swart (kiri). Jenderal Spoor menyambut kedatangan kontingen ini di Jakarta.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 11 Agustus 2016

Jenderal Spoor mengunjungi Tasikmalaya, Juni 1948

Pesawat yang membawa Letjen Spoor ke Tasikmalaya
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Letjen Spoor disambut komandan tentara Belanda Mayor H. Roozing
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Defile menyambut kedatangan Letjen Spoor
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 22 (atau 25?) Juni 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh: Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor (Panglima Tentara Hindia-Belanda)
Peristiwa: Letjen Spoor mengunjungi Tasikmalaya untuk meninjau berkuasanya militer Belanda di wilayah ini setelah TNI hijrah ke Jawa Tengah menyusul disepakatinya perjanjian Renville.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 17 November 2015

Jenderal Simon Hendrik Spoor, panglima tentara Belanda di masa perang kemerdekaan

(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)

Waktu: 2 Februari 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Jenderal Simon Hendrik Spoor (panglima tentara Belanda di masa perang kemerdekaan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief / Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 29 Juli 2015

Jenderal Spoor menginspeksi kesiapan pasukan Belanda

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: masa perang kemerdekaan
Tempat: ?
Tokoh: Jenderal Simon Hendrik Spoor (Panglima Militer Belanda di Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 01 Desember 2014

Jenderal Spoor di markasnya di Jakarta

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1949
Tempat: Jakarta
Tokoh: Jenderal Simon Hendrik Spoor (Panglima Militer Belanda di Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Pada tahun yang sama Jenderal Spoor meninggal secara mendadak.

Kamis, 08 Mei 2014

Jenderal Spoor mengunjungi korban perang di rumah sakit

(klik untuk memperbesar)

Waktu: 22 April 1949
Tempat: Jakarta
Tokoh: Simon Hendrik Spoor (Kepala Staf Tentara Belanda di Indonesia)
Peristiwa: Jenderal Spoor mengunjungi korban perang di sebuah rumah sakit di Jakarta.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Sebulan kemudian Spoor meninggal dalam usia 47 tahun. Kematian ini menimbulkan spekulasi bahwa dia diracun, meski sebagian berpendapat bahwa kondisi fisik dia memang sudah lemah.