Tampilkan postingan dengan label Anak Agung Gde Agung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Agung Gde Agung. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Oktober 2025

Sidang Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), 1949 (2)

Mohammad Roem dan Anak Agung Gde Agung memimpin sidang BFO yang tampak terbuka dan dihadiri khalayak hingga ke anak-anak
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Muhammad Hatta menghampiri kursi ketua sidang dan bercengkerama dengan Mohammad Roem dan Anak Agung Gde Agung dengan latar belakang anak-anak dan warga yang menyaksikan sidang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Beberapa peserta sidang BFO, a.l. di kanan adalah Johannes Leimena dan Sultan Hamengkubuwono IX
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Januari 1949
Tempat: Jakarta (di gedung bekas Volksraad, Chuo Sangi In, sekarang Gedung Pancasila di Pejambon)
Tokoh: Anak Agung Gde Agung (bangsawan Bali, bakal Menteri Dalam Negeri NIT, kelak Menteri Luar Negeri RI), Johannes Leimena (Menteri Kesehatan), Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri RI), Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI), Hamengkubuwono IX (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa: Sidang Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federale Overleg atau BFO), sebuah lembaga yang dikonsepkan sebagai majelis perwakilan dari negara-negara federal yang akan membentuk Republik Indonesia Serikat.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting terkait sebelum ini.

Kamis, 25 November 2021

Pertemuan-pertemuan politik antara pihak Indonesia Republik, Indonesia Federal, dan Belanda di tahun 1949

Jakarta, 31 Januari 1949: Sidang Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) di gedung bekas Volksraad, sekarang Gedung Pancasila
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Bangka, 2 Maret 1949: Pertemuan antara pihak Republik yang saat itu dalam pembuangan (a.l. Soekarno, Hatta, dan Mohammad Roem di sebelah kiri), dan pihak Federal (a.l. Anak Agung Gde Agung dan Sultan Hamid II di sebelah kanan)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Bandara Kemayoran, 12 April 1949: Kedatangan diplomat Van Roijen (paling kiri) yang akan memimpin pembicaraan antara Belanda dengan Indonesia
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Jakarta, 14 April 1949: Pembicaraan antara Belanda dan Indonesia; yang berjas gelap di tengah kemungkinan adalah Van Roijen
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1949
Tempat: Jakarta
Tokoh:
  • Anak Agung Gde Agung (bangsawan Bali, saat itu tokoh federal, kelak menjadi Menteri Luar Negeri RI dan pahlawan nasional)
  • Jan Herman van Roijen (diplomat Belanda)
  • Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri RI)
  • Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI)
  • Soekarno (Presiden RI)
  • Sultan Hamid II (Sultan Pontianak, tokoh federal)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Untuk foto pertama lihat juga posting ini yang menampilkan peristiwa yang sama.

Jumat, 05 November 2021

Kunjungan rombongan wartawan Amerika untuk meliput Indonesia, 1949 (3)

PENGANTAR

Di salah satu posting sebelum ini, blog ini menampilkan foto bagaimana Ki Hajar Dewantara memperlihatkan dan menerangkan pamflet PKI ke rombongan wartawan Amerika Serikat yang berkunjung ke Yogyakarta. Berikut ini tambahan dan update dari kegiatan para jurnalis ini.

Awalnya tampaknya para wartawan ini menemui Soekarno di pengasingannya di Bangka. Setelah itu mereka pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan para tokoh Republik. Seterusnya, para wartawan ini berkunjung ke Jakarta untuk berbicara dengan tokoh-tokoh Serikat. Kemudian perjalanan mereka dilanjutkan ke Medan untuk berbicara dengan tokoh anti-republik.

Seperti disebutkan sebelumnya, ketika mereka meneruskan penerbangan ke India, kecelekaan pesawat menewaskan semua peserta rombongan ini. Foto-foto kegiatan mereka selama di Indonesia tapi tetap terwariskan ke kita.


Jakarta, 24 Juni 1949: Wawancara dengan Anak Agung Gde Agung dan Sultan Hamid II
(klik untuk memperbesar | © Theo van Pinxteren / AVS)
Medan, 6 Juli 1949: Wawancara dengan Tengku Mansyur
(klik untuk memperbesar | © Theo van Pinxteren / AVS)

Waktu: 24 Juni 1949; 6 Juli 1949
Tempat: Jakarta; Medan
Tokoh: Anak Agung Gde Agung (bangsawan Bali, bakal Menteri Dalam Negeri NIT, kelak Menteri Luar Negeri RI); Hamid II (Sultan Pontianak); Tengku Mansyur (Wali Negara Sumatera Timur)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Theo van Pinxteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 12 November 2020

Karikatur Belanda tentang pertemuan Menlu Belanda dan Indonesia, Joseph Luns dan Anak Agung, di tahun 1955-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Het Parool, terbitan 13 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas hubungan Indonesia dan Belanda, tapi pertemuan ini dibayang-bayangi oleh de derde man (orang ketiga), yaitu Leon Jungschläger yang kasus hukumnya memperburuk hubungan kedua negara.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 17 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas perbaikan hubungan Indonesia dan Belanda. Luns tapi tampak tidak begitu bahagia karena Anak Agung tampak yang mendikte pembicaraan. Istilah menu à la carte diplesetkan oleh Jordaan menjadi menu à la (Dja-)carte.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: ?, terbitan akhir 1955 atau awal 1956
Juru gambar: Charles Boost
Isi: Karikatur ini berjudul Daar zijn we weer (kita bertemu lagi), yang memperlihatkan keengganan Joseph Luns bertemu dengan Anak Agung. Menariknya, Joseph Luns jutsru tampak didorong oleh orang-orang berpeci, atau pihak Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 21 Januari 1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns di Jenewa dengan dibayang-bayangi kekhawatiran pecahnya hoop (harapan), begrip (pengertian), dan vertrowen (kepercayaan) antara kedua negara yang diwakili.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 24 Februari1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Pertemuan antara Anak Agung dan Joseph Luns di Swiss pada musim dingin benar-benar membuat pembicaraan antara keduanya membeku.

Waktu: 1955, 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke pertemuan Anak Agung dan Joseph Luns di Jenewa, Swiss
Tokoh: Ida Anak Agung Gde Agung (Menteri Luar Negeri Indonesia), Joseph Luns (Menteri Luar Negeri Belanda)
Peristiwa: Di akhir tahun 1955 dan awal 1956 berlangsung Konferensi Belanda-Indonesia dengan tujuan memperbaiki hubungan kedua negara, yang delegasinya dipimpin oleh menteri luar negeri masing-masing.
Juru foto/gambar: Charles Boost / Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 21 Oktober 2020

Foto para politisi Indonesia dari koleksi Anefo 1946-1948: Sebagian tokoh Republik Indonesia Serikat

Tengku Dzulkarnain (petinggi Negara Sumatera Timur)
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Jumhana Wiriaatmaja (Perdana Menteri Negara Pasundan)
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Anak Agung Gde Agung (Perdana Menteri Negara Indonesia Timur)
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Tengku Mansyur (Wali Negara Sumatera Timur)
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)


Waktu: 1948 atau sebelumnya
Tempat: ?
Tokoh: Tengku Dzulkarnain, Jumhana Wiriaatmaja, Anak Agung Gde Agung, Tengku Mansyur
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: (1) Anak Agung dan Jumhana kemudian menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia dan aktif sebagai diplomat di luar negeri; (2) Foto Tengku Dzulkarnain dan Tengku Mansyur pernah dimuat di posting ini dalam ukuran yang lebih kecil.

Minggu, 28 Juli 2019

Wilopo dan Ida Anak Agung Gde Agung di tahun 1948

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Kemayoran (?)
Tokoh: Wilopo (Menteri Muda Perburuhan; kelak perdana menteri dari Kabinet Wilopo; berjalan paling depan berpeci), Ida Anak Agung Gde Agung (perwakilan Negara Indonesia Timur; keempat dari kanan, berdasi dan memegang topi)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 18 Juni 2019

Sidang Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), 1949 (1)

Muhammad Hatta dan Sultan Hamid II memimpin sidang
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)
Hatta dan Sultan Hamid II
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)
Suasana sidang
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)
Suasana sidan dari sudut pandang yang lain
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)
Hatta dan Sultan Hamid II berdiri mengamati diskusi antara Mohammad Roem dan Ida Anak Agung Gde Agung
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2/ NIOD)

Waktu: 31 Januari 1949
Tempat: Jakarta (di gedung bekas Volksraad, Chuo Sangi In, sekarang Gedung Pancasila di Pejambon)
Tokoh: Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI), Hamid II (Sultan Pontianak), Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri RI), Anak Agung Gde Agung (bangsawan Bali, bakal Menteri Dalam Negeri NIT, kelak Menteri Luar Negeri RI)
Peristiwa: Sidang Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federale Overleg atau BFO), sebuah lembaga yang dikonsepkan sebagai majelis perwakilan dari negara-negara federal yang akan membentuk Republik Indonesia Serikat.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

UPDATE 24 Oktober 2021: Tanggal/waktu dari peristiwa ini dikoreksi menjadi "31 Januari 1949" berdasarkan catatan dari foto lain dari peristiwa yang sama. Sebelumnya, blog ini menyebut "kemungkinan besar Juli 1948".

Selasa, 13 Februari 2018

Kunjungan Menteri Dalam Negeri Indonesia Timur, Anak Agung Gde Agung, ke Bima, 1947

(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: 1947
Tempat: Bima
Tokoh: Anak Agung Gde Agung (Menteri Dalam Negeri Negara Indonesia Timur; barisan tengah, keempat dari kanan), Sultan Bima (barisan tengah, ketiga dari kanan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Minggu, 11 Februari 2018

Kunjungan Presiden Negara Indonesia Timur, Sukawati, ke Kupang, 1947

(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: 22 Januari 1947
Tempat:  Kupang
Tokoh: Cokorda Gde Raka Sukawati (Presiden Negara Indonesia Timur; berdiri di depan tengah), Anak Agung Gde Agung (Menteri Dalam Negeri NIT; berdiri di belakang kanan), Raja Kupang (kiri depan), Raja Amarasi (kedua  dari kiri, depan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Rabu, 07 Februari 2018

Pembentukan Kabinet Negara Indonesia Timur, 1947

(klik untuk memperbesar | © KITLV)
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Waktu: 13 Januari 1947
Tempat: Jakarta
Tokoh: Cokorda Gde Raka Sukawati (Presiden Negara Indonesia Timur), Anak Agung Gde Agung (Menteri Dalam Negeri NIT)
Peristiwa: Cokorda Gde Raka Sukawati berbicara di depan susunan kabinet Negara Indonesia Timur, yang antara lain terdiri dari Anak Agung Gde Agung (Menteri Dalam Negeri), S.J. Warouw (Menteri Kesehatan), Tjia Kok Tjiang (Menteri Kehakiman), A.T.H. Bogaart (Sekretaris Departemen Sosial), F.W. van Diffelen (Direktur Pendidikan dan Kerohanian), Kolonel C.A. Warners (Direktur Perhubungan dan Perairan), W. Hoven (Direktur Administrasi Dalam Negeri)
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Kamis, 18 Januari 2018

Konferensi Malino, 1946 (13): Sukawati dan peserta lain dari Bali dan Lombok

PENGANTAR

Konferensi Malino adalah sebuah pertemuan yang berlangsung dari tanggal 15 hingga 25 Juli 1946, diprakarsai pihak Belanda, dan dihadiri oleh 39 perwakilan dari Kalimantan dan Indonesia bagian Timur (De Groote Oost), untuk membicarakan rencana pembentukan negara-negara federal di Hindia-Belanda. Pertemuan yang dipimpin oleh Letnan Gubernur Jenderal van Mook ini tampaknya bertujuan mengukuhkan pengaruh Belanda di masa depan Indonesia, dengan membentuk wilayah-wilayah yang cenderung pro-Belanda.

Berikut beberapa foto dari peristiwa ini.


Anak Agung Gde Agung (kiri), Cokorda Gde Raka Sukawati (kedua dari kiri) bersama delegasi Bali
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Lalu Mahnep (kiri) dan Lalu Serinata dari Lombok
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Lalu Serinata
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Waktu: antara 15 dan 25 Juli 1946
Tempat: Malino (Sulawesi Selatan)
Tokoh: Cokorda Gde Raka Sukawati (bangsawan Bali, bakal presiden Negara Indonesia Timur), Anak Agung Gde Agung (bangsawan Bali, bakal Menteri Dalam Negeri NIT, kelak Menteri Luar Negeri RI)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Kamis, 07 Desember 2017

Van Mook dan Cokorda Gde Raka Sukawati di Konferensi Denpasar, 1946

PENGANTAR

Konferensi Denpasar adalah kelanjutan dari Konferensi Malino, dan merupakan usaha lanjutan Belanda untuk menggalang barisan pendukung Belanda dalam penentuan masa depan Indonesia. Pertemuan berlangsung dari tanggal 7 hingga 24 Desember 1946, dihadiri 70 delegasi dari wilayah Timur Indonesia, yaitu Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Bali, ditambah pihak yang ditunjuk Belanda untuk mewakili warga Belanda, Tionghoa, dan warga asing.


7 Desember 1946: Van Mook memasuki area konferensi di Hotel Bali, Denpasar, diiringi isterinya di belakang.
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
7 Desember 1946: Para peserta konferensi berfoto di depan hotel
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
18 Desember 1946: Van Mook (kelima dari kiri) berfoto bersama para peserta konferensi, a.l. Cokorda Gde Raka Sukawati (keenam dari kiri), Anak Agung Gde Agung (kedua dari kiri)
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Waktu: Desember 1946
Tempat: Denpasar
Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Cokorda Gde Raka Sukawati (tokoh masyarakat Bali), Anak Agung Gde Agung (tokoh masyarakat Bali)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Jumat, 16 Desember 2016

Johannes Latuharhary dan Anak Agung Gde Agung di acara pengakuan Negara Indonesia Timur oleh Republik Indonesia

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 17 Januari 1948 (?)
Tempat: Jakarta
Tokoh: Johannes Latuharhary (pejuang perintis kemerdekaan Indonesia; kiri tengah), Ida Anak Agung Gde Agung (Wali Negara Indonesia Timur; kanan tengah)
Peristiwa: Johannes Latuharhary mewakili pemerintah Republik Indonesia, memberikan pengakuan atas Negara Indonesia Timur yang diterima oleh Anak Agung Gde Agung.
Fotografer: Aneta
Sumber / Hak cipta: ANP / Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 01 Juli 2015

Ida Anak Agung Gde Agung di tahun 1948

(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)

Waktu: 15 Oktober 1948
Tempat:
Tokoh: Ida Anak Agung Gde Agung (Perdana Menteri Negara Indonesia Timur)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief / Spaarnestad Photo / ANP
Catatan:

Rabu, 25 Februari 2015

Kunjungan Anak Agung Gde Agung sebagai Menteri Luar Negeri ke London, 1956

(klik untuk memperbesar | © Popperfoto/Getty Images)
Waktu: 10 Januari 1956
Tempat: London
Tokoh: Anak Agung Gde Agung (Menteri Luar Negeri; bertopi), Ahmad Subarjo (mantan Menteri Luar Negeri; berpeci)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Getty Images
Catatan:


Sabtu, 21 September 2013

Soekarno berorasi, 17 Oktober 1952

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 17 Oktober 1952 (?)
Tempat: Istana Merdeka, Jakarta (?)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI)
Peristiwa: Presiden Soekarno berorasi menyusul adanya demonstrasi yang diarahkan ke istana, sesuatu yang disebut Peristiwa 17 Oktober 1952.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis


UPDATE 31 Mei 2019
Tambahan foto dari peristiwa yang sama; di sebelah kanan Soekarno berdiri Ida Anak Agung Gde Agung.

(klik untuk memperbesar)