Tampilkan postingan dengan label Sumatera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatera. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2026

Dua jasad korban kekerasan semasa Perang Kemerdekaan

Sumatera: Catatan foto menyebutkan bahwa ini adalah jasad seorang Tionghoa  doodgemarteld door Indonesische querilla's ("disiksa sampai tewas oleh gerilyawan Indonesia")
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Catatan foto menyebutkan bahwa ini adalah Een Europeese vrouw, eerst deerlijk verminkt, daarna met prikkeldraad omwonden in een rivier gegooid ("Seorang perempuan Eropa yang awalnya dimutilasi parah dan kemudian dilemparkan ke sungai dengan kawat berduri yang melilit luka-lukanya"). Teapi deksripsi foto ini harus dicerna dengan hati-hati karena lilitan du jasad korban kelihatannya bukan kawat berduri melainkan pohon merambat yang biasa tumbuh di sekitar sungai.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: semasa Perang Kemerdekaan
Tempat: a.l. Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 13 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (19)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Kemiskinan ada dari dulu hingga sekarang, termasuk di masa penjajahan Belanda, dan kemudian dikabarkan meningkat tajam di masa pendudukan Jepang. Proklamasi kemerdekaan juga tidak menyulap kemiskinan menjadi sirna; perang kemerdekaan malah makin mempersulit pelaksanaan pengentasan kemiskinan karena prioritas para pihak berada di memenangkan konflik. Banyak foto yang menunjukkan kemiskinan semasa perang kemerdekaan: orang yang berpakaian compang-camping, berbadan kurus kering, luntang-lantung, dan warga yang senang mendapatkan makanan atau layanan kesehatan yang dibagikan pihak Belanda. Ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia sangat menderita; dan bahwa Belanda datang untuk mengubah suasana ini ke yang jauh lebih baik.
  • Teks asli penyerta foto:Voedseldistributie door Amacal, Midden-Sumatra
  • Terjemahan: Pembagian makanan oleh Amacal, Sumatera Tengah
  • Catatan: Lihat juga kumpulan foto yang menampilkan kemiskinan di masa lalu.
Waktu: 1946/1947
Tempat: Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 17 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (8)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini; di kesempatan ini kenang-kenangan Carl Bock di Sumatera.


Dari Sumetara, Carl Bock mewariskan gambar-gambar hewan yang dia amati, seperti kambing hutan … (klik untuk memperbesar)
… siamang …
(klik untuk memperbesar)
… dan gobang
(klik untuk memperbesar)
Tempat kediaman Carl Bock di Payo (kemungkinan di Merapi Barat, Lahat, Sumatera Selatan)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Minggu, 15 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (7)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang wanita Dayak bernama Sulau Landang, dengan ikat kepala, kalung berlapis, dua pasang anting di kuping yang memanjang, serta tattoo di tangan dan kaki
(klik untuk memperbesar)
Kuburan seorang pemuka Dayak bernama Rajah Sinen, dalam bentuk bangunan panggung dengan ukiran dan hiasan, serta penjagaan
(klik untuk memperbesar)
Seekor kancil yang ditemui Carl Bock di Sumatera
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemburu harimau bernama Sinen di Sumatera
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Senin, 09 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (4)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Kuburan keluarga dari seorang tokoh Dayak bernama Rajah Dinda dalam bentuk bangunan panggung tinggi dengan hiasan dan ukiran kayu serta penjagaan
(klik untuk memperbesar)
1. Pria Dayak Punan dari Long Wahau
2-3. Dua tengkorak manusia yang menjadi piala
4. Topeng yang dipakai dalam perayaan
(klik untuk memperbesar)
Seorang perempuan Dayak dari Long Wai dengan tutup kepala, kalung, serta tattoo di punggung tangan
(klik untuk memperbesar)
Tarian perang dari kaum pria Dayak Tring
(klik untuk memperbesar)
Seorang wanita Melayu yang dijumpai Carl Bock dalam perjalanannya di Sumatera
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Rabu, 27 November 2024

Peta kuno dari tahun 1725: Ketika Sumatera digambarkan vertikal

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1725
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi: Ini adalah penampakan yang tidak biasa bagi kita yang terbiasa dengan penggambaran utara menghadap ke atas. Sumatera ditampilkan di sini dengan mengikuti format kertas yang digunakan, sehingga satu pulau besar ini bisa secara pas tercantum di satu halaman.
Banyaknya nama-nama di pesisir, termasuk nama-nama tanjung dan sungai, mengindikasikan bahwa peta ini disusun dengan berdasarkan catatan dari para pelaut yang pernah menyusuri garis pantai dari pulau ini. Beberapa nama mungkin sudah hilang ditelan masa, tapi beberapa lain masih bisa diidentifikasi. Aceh, Pedir, dan Palembang adalah "langganan" yang hampir senantiasa ada di peta-peta kuno. Nama-nama lain yang termuat di peta ini a.l. Sungai Deli (Songa Dely), Lampung (Lampan), Bengkulu (Boncolo), Indragiri (Andragiere), Indrapura (Indapoura), Pariaman (Pryaman), Singkil (Sinckel), dll.
Juru kartografi: Pieter van der Aa
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 23 November 2024

Peta kuno dari tahun 1686: Jawa dan Sumatera di peta Kerajaan Siam

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1686
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Dokumen ini berjudul Carte du Royaume de Siam et des Pays Circonvoisins (Peta Kerajaan Siam dan negeri-negeri sekitarnya), tetapi sejatinya hanya sedikit menampilkan Siam dan justru banyak memperlihatkan "negeri-negeri sekitarnya" termasuk Sumatera dan Jawa, dan juga Madura, Bangka, dan Bintan (tanpa menyebut Singapura). Di Sumatera kita melihat a.l. ada Aceh, Pedir, Kampar (Canfer), Jambi, Palembang, Indrapura, Minangkabau (Menancabo), Pariaman; sementara di Jawa kita membaca a.l. Banten, Jakarta (Iacatra), Indramayu (Daramayo), Jepara, Tuban, Panarukan, Blambangan, dan Mataram (Materan).
Juru kartografi: Pierre Du Val dan Augustin Dechaussé
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 19 November 2024

Peta kuno dari tahun 1588: Sumatera lagi-lagi sebagai pulau legendaris "Tapobrana"

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1588
Tempat terbit: Jerman
Tokoh:
Deskripsi: Di posting sebelum ini kita melihat bagaimana sebuah peta keluaran Jerman dari tahun 1560 menyebut bahwa Sumatera adalah si pulau legendaris Tapobrana. 28 tahun kemudian muncul peta berikutnya yang mengklaim hal yang sama, juga dari Jerman, tapi kali ini dalam bahasa Jerman, bukan bahasa Latin. Teks di pojok kanan atas secara eksplisit menyebut "Sumatra", dan menyebut bahwa di pulau ini ada empat kerajaan, dan bahwa pulau ini kaya dengan emas dan batu mulia, serta terkenal dengan lada-nya.
Petanya sendiri secara benar menempatkan garis khatulistiwa melintasi Sumatera, dan menyebut nama seperti Pedir, Aceh (Achem), Andragiri, dan Palembang (Palimban). Tapi peta ini menempatkan Minangkabau (Manacaba) dan Indrapura (Adrapara) terlalu ke selatan. Menariknya, peta ini mengenal pulau Lingga (Linga), tetapi menempelkan Singapura (Cingalolo) ke Semenanjung Malaka. Peta ini menambahkan sedikit Jawa di pojok kanan bawah dengan menyebut tempat Sunda [Kelapa] sebagai salah satu pelabuhan di utara Jawa.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 17 November 2024

Peta kuno dari tahun 1706: Jawa dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1706
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi: Peta keluaran Belanda ini paling tidak memiliki dua hal yang perlu dicatat. Pertama, sumber Portugisnya sangat kental, ini terlihat dari cara penulisan beberapa nama tempat yang mengikuti cara orang Portugis menulisnya. Kedua, peta ini memuat nama-nama tempat di pesisir utara Jawa yang jarang tercantum di peta lain dengan skala seperti ini; ini memperkuat dugaan bahwa penyusunan peta ini bersandar berat pada catatan para pelaut (Portugis?) yang menyusuri pantai utara Jawa. Ini misalnya terlihat dari pencatuman Anyer (Anser), Untung Jawa (Ontung Java), Angke (Angkee), Pamanukan (Manucan), Pati (Paty), dan Sedayu (Sydaye), di samping nama-nama yang sudah menjadi "langganan" seperti Banten, Jakarta, Mataram, Gresik, Blambangan, dsb. Di luar Jawa kita bisa baca juga Lampung (Lumpan) di Sumatera, serta Kota Waringin (Cotaringa) dan Sampit di Kalimantan di samping nama-nama yang sudah terkenal seperti Palembang (Palimbam) dan Banjarmasin (Bandermassin).
Juru kartografi: Pieter van der Aa
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 11 November 2024

Peta kuno dari tahun 1560: Sumatera sebagai pulau legendaris "Tapobrana"

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1560
Tempat terbit: Jerman
Tokoh:
Deskripsi: Catatan Yunani Kuno mulai dari sekitar 2300 tahun lalu menyebut adanya sebuah pulau di Samudra Hindia yang bernama Tapobrana. Orang kemudian berusaha mengidentifikasi pulau mana yang dimaksud dengan nama ini; nama yang diajukan adalah Sri Lanka, Sumatera, atau pulau lain yang eksistensinya tidak diketahui lagi. Peta berbahasa Latin keluaran Jerman di atas ini memilih Sumatera (Samotra) sebagai Tapobrana. Palembang tidak tercantum di peta ini, tapi kita bisa membaca adanya Pedir dan Aceh (Pacem). Sementara Campar kemungkinan mengacu ke Kampar (Riau) tempat berdirinya Candi Muara Takus.
Halaman berikutnya setelah peta ini berkisah sedikit tentang Kalimantan (De insula bornei), disusul dengan paragraf tentang Jawa (Gyava insula). Jawa dikabarkan dicapai dari Kalimantan dengan 5 hari perjalanan laut, dan bahwa di Jawa ada beberapa kerajaan, serta penduduknya menyembah berhala. Gambar di pojok kiri bawah menyiratkan penduduk Jawa mempraktekkan kanibalisme.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 09 November 2024

Peta kuno keluaran Perancis dari tahun 1787 tentang bagian barat Nusantara: Ketika Lampung, Nusa Barung, dan Kotawaringin muncul di peta

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1787
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini berjudul wilayah semenanjung dan kepulauan Hindia di luar (=di timur) Sungai Gangga. Wilayah Nusantara terwakili oleh Sumatera, Jawa, sebagian Kalimantan, dan pulau-pulau si sekitarnya. Selain tempat-tempat "standar" yang sudah sangat sering muncul di peta, seperti Aceh di utara Sumatera, Palembang di selatan Sumatera, Banten di barat Jawa, Blambangan di timur Jawa, Banjarmasin di Kalimantan, dsb., peta ini menampilkan nama-nama "baru", meskipun sedikit, yang jarang muncul di peta lain dari masanya atau masa sebelumnya. Di selatan Sumatera misalnya kita bisa baca Lampung (Lampon); di Kalimantan kita lihat ada Kotawaringin (Cota-ringin), selain Sambas dan Sampit; di Jawa tercantum Pulau Nusa Barung (Noesa Bouron), selain Nusa Kambangan (Noesa Coembang), dan Sumedang (Sumedan).
Juru kartografi: Rigobert Bonne
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 03 November 2024

Peta dari tahun 1600 yang merupakah salah satu yang pertama secara khusus menampilkan Sumatera

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1600
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta kuno yang khusus menampilkan Sumatera ini lumayan unik: Garis khatulistiwa digambarkan vertikal di tengah peta, membuat utara mengarah ke kanan, dan barat ke atas. Pengaruh Portugis sangat kental di peta keluaran Belanda ini, terlihat dari nama-nama tempat yang mengikuti cara penulisan juru kartografi Portugis, seperti "Palimbaã" untuk Palembang, dan "Nuntaon" untuk Mentawai. Pulau Bintan dan Lingga sudah terdeteksi, tetapi Bangka dan Belitung masih belum tercantum. Minangkabau dan Inderapura masih ditempatkan di selatan sangat dekat dengan Selat Sunda. Sementara Selat Sunda sendiri keliru diberi nama dengan "Sunda calappa" (Sunda Kelapa). Terlepas dari kekeliruan-kekeliruan ini, peta ini merupakan dokumen sejarah yang penting tentang pemetaan Pulau Sumatera.
Juru kartografi: Bertius
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 01 November 2024

Peta kuno dari tahun 1750: Nusantara bagian barat (edisi tak berwarna)

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Ini merupakan versi tak-berwarna dari peta yang dimuat di posting ini sebelumnya. Peta keluaran Perancis ini tidak mengikuti tradisi orang Belanda, Italia, dan Portugis yang sempat menyebut wilayah barat Nusantara sebagai "Kepulauan Sunda Besar", tetapi langsung menyebut nama-nama pulau utamanya di judul peta yaitu Jawa, Kalimantan (Borneo), dan Sumatera. Peta ini, seperti yang sebelumnya, memang cukup senang menggambar lekukan-lekukan di pulau sehingga membuat proporsi teluk-teluk menjadi lebih besar daripada aslinya. Penamaan tempat-tempat tampak dibatasi ke yang dianggap penting saja, sehingga area pulau tidak dipenuhi oleh tulisan. Yang perlu dicatat adalah bahwa peta ini menyebut Flores sebagai "Pulau Ende", mengikuti salah satu nama tempat di selatan pulau ini. Ini menambah bahan deretan nama untuk pulau ini di samping "Pulau Ular" dan "Pulau Batuliar".
Juru kartografi: Jacques Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 22 Oktober 2024

Peta kuno dari tahun 1760 tentang "Kepulauan Sunda" tetapi menampilkan Sumatera (dan Malaka)

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1760
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Dokumen ini berjudul Premiere Carte des Isles de la Sonde (peta pertama Kepulauan Sunda), tetapi sejatinya menampilkan Sumatera, Semenanjung Malaka, dan sekitarnya. Pulau Jawa dan Kalimantan, yang biasanya masuk ke dalam "Kepulauan Sunda", hanya tergambarkan secuil. Sumatera sendiri cukup ditampilkan dengan komprehensif, yaitu memuat nama-nama yang saat itu menjadi wilayah penting seperti Aceh, Pedir, Deli, Bengkalis, Indragiri, Jambi, Palembang, Bengkulu, Indrapura, Minangkabau, Padang, Pariaman, Singkil, beserta Pulau Weh, Pulau Beras, Nias, Bangka, Belitung, Lingga, Natuna, dsb. Satu catatan: Hampir semua peta kuno dari Eropa menyebut "Banten" sebagai Bantam, termasuk peta ini. Tetapi peta ini menyebut "pelabuhan Banten" sebagai P[ort] de Bentane, sebuah penyebutan yang sudah mendekati nama "Banten".
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 20 Oktober 2024

Peta kuno keluaran Venezia dari tahun 1740 tentang "Kepulauan Sunda"

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1740
Tempat terbit: Venezia / Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Yang langsung mencolok dari peta tentang Isole di Sunda (Jawa, Kalimantan, dan Sumatera) ini adalah nama-nama yang bertebaran dan ditulis dalam jarak yang ketat dari nama-nama yang lain. Hampir semua pulau termasuk yang kecil diberi nama; wilayah pesisir pun diberi nama satu per satu. Bagian selatan Jawa mengindikasikan bahwa nama-nama ini belum tentu julukan yang dipakai penduduk setempat, melainkan boleh jadi nama yang dipakai para pelaut (atau mungkin juga rekaan juru kartografi?). Yang menarik lainnya adalah munculnya nama "Deli" di utara Sumatera yang sebelum-sebelumnya masih absen di peta lain, begitu juga nama "Bima" di Sumbawa, serta "Sampit" di selatan Kalimantan.
Juru kartografi: G. Albrizzi / Isaac Tirion
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 10 Oktober 2024

Ketika peta dari tahun 1687 merangkaikan Sumatera dengan Kerajaan Siam

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1687
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Biasanya peta dari Eropa zaman dulu menampilkan Sumatera secara tersendiri, digabungkan dengan Semenanjung Malaya, atau bersama Jawa dan Kalimantan. Peta ini berbeda: Dia merangkaikan Sumatera dengan Kerajaan Siam serta Kepulauan Andaman. Menurut peta ini, saat itu di Sumatera ada 3 kesultanan (royaume), yaitu Aceh, Jambi, dan Palembang. Peta ini juga menyebut sebuah tempat di bagian utara Sumatera sebagai wilayah yang dikuasai Belanda, serta sebuah tempat di dekat Pariaman sebagai wilayah yang ditempati orang Belanda dan Inggris.
Juru kartografi: Jean-Baptiste Nolin dan Vincenzo Maria Coronelli
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 08 Oktober 2024

Peta tentang "Kepulauan Sunda" dari sebuah buku saku keluaran tahun 1687

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1687
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Seperti pernah disinggung sebelum ini, istilah "Kepulauan Sunda" merupakan nama yang diberikan bangsa-bangsa Eropa dulu untuk wilayah yang meliputi Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan pulau-pulau di antaranya. Nama ini juga muncul sebagai Isles of Sonda di peta yang keluar di tahun 1687 ini. Yang menarik dari peta ini: Ini dikeluarkan tidak dalam bentuk lembaran atau gulungan, melainkan merupakan bagian dari sebuah buku saku. Jadi peta ini memang diniatkan untuk dibawa-bawa dengan mudah ke mana-mana. Kemudian, kontur ketiga pulau utama ini lumayan akurasinya untuk sebuah karya dari abad ke-17. Nama-nama tempat juga tercantum dengan baik, termasuk nama-nama pulau seperti Nias (Nyas), Mentawai (Mintaon), atau Pulau Laut di selatan Kalimantan. Dan bagi pengamat bahasa, membaca teks berbahasa Inggris yang sudah berusia 300 tahun lebih ternyata tidak sesulit dengan misalnya membaca naskah berbahasa Melayu atau Jawa, dan bahkan Jerman, dari zaman yang sama.
Juru kartografi: Robert Morden
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 28 September 2024

Peta kuno dari tahun 1713 tentang Sumatera dengan banyak penamaan tempat

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: 1713
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini termasuk dokumen yang banyak menyebut nama tempat di Sumatera, berbeda dengan peta-peta lain yang terkadang hanya terfokus ke Aceh dan Palembang saja. Kita bisa telusuri bagaimana peta ini mencantumkan banyak nama seperti Pedir, Deli, Bengkalis, Kampar, Indragiri, Tulang Bawang, Bengkulu, Indrapura, Padang, Kota Tengah, Pariaman, Pasaman, dan masih banyak tempat lain di samping nama-nama pulau di sekeliling Sumatera. Tidak digambarkannya Danau Toba menunjukkan bahwa bangsa Eropa saat itu hanya mengenal dan/atau tertarik dengan kawasan pesisir dan belum merambah ke pedalaman.
Juru kartografi: Diego Lopez de Sequeira / Vander Aa
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 31 Agustus 2024

Peta dari tahun 1910: Sumatera dalam dua bagian

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1910
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan bagian dari rangkaian peta Hindia-Belanda yang diterbitkan di tahun 1910. Khusus untuk Sumatera, peta dibuat dalam 2 bagian: utara dan selatan. Selain itu, beberapa wilayah dan tempat digambar terpisah dalam skala yang lebih medetail, yaitu Pulau We, Kutaraja, Medan dan Belawan, wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Kepulauan Riau, Padang dan sekitarnya, serta Selat Sunda.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 29 Agustus 2024

Peta kuno dari tahun 1730: Kepulauan Sunda

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1730
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini mengikuti tradisi orang-orang Eropa terutama Belanda yang menyebut wilayah yang meliputi Jawa, Kalimantan, dan Sumatera sebagai "Kepulauan Sunda" (dan Nusa Tenggara sebagai "Kepulauan Sunda Kecil"). Peta ini dipenuhi dengan nama-nama tempat yang dianggap penting. Pulau Jawa, karena relatif kecil dibanding dua pulau besar lainnya, harus menerima penempatan nama-nama tempat ini di luarnya, karena di dalamnya sudah penuh sesak. Peta ini menyebut 3 wilayah utama di Jawa: Bantam, Batavia, serta Mataram. Sementara di Sumatera hanya menyebut Achen serta nama-nama lain tanpa menyiratkan bahwa nama-nama itu berada di sebuah kesultanan tertentu. Di Kalimantan, peta ini menyebut beberapa nama selain Woeste Kust (pantai liar): Ryk van Borneo, Succadana, dan Banjar Massin. Menarik untuk dicatat bahwa peta ini menyebut Mahometanen (wilayah Muslim) untuk kawasan barat daya Kalimantan; sebuah istilah yang jarang digunakan.
Juru kartografi: Isaak Tirion
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: