Tampilkan postingan dengan label Jepara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang mesjid di Jepara dengan arsitektur unik

Versi 1
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Versi 2
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1708
Tahun peristiwa: abad ke-17
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas menyebut Jepara sebagai Iapare dan mesjid sebagai tempel; serta Muslim sebagai Moren, sebuah julukan yang digunakan orang Eropa terhadap umat Islam, sebuah kata yang kelak terkait dengan nama Maroko, Mauritania, Mauritius, serta Bangsa Moro di Mindanao. Lukisan ini kemungkinan menunjukkan Masjid Mantingan, yang didirikan di tahun 1559. Tampilan mesjid di lukisan ini bisa dipastikan berlebihan dan tidak sesuai aslinya. Tetapi, kita bisa melihat esensi arsitektur mesjid di Jawa, terutama di pesisir utara, saat itu yang memang banyak dipengaruhi oleh gaya Tionghoa dan Hindu-Jawa. Komponen Islaminya biasanya baru terlihat di ornamen di dinding atau dalam mesjid.
Juru foto/gambar: Wouter Schouten
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Arsip blog ini memiliki foto mesjid di Aceh dari abad ke-19 yang sedikit banyak memiliki struktur yang mirip (lihat posting ini dan ini).

Jumat, 12 Maret 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (7)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


78. Pengolahan tembakau tradisional di Payakumbuh
(klik untuk memperbesar | © AVS)
80. Tempat minum kuda di pertambangan batu bara Ombilin (Sawahlunto)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
82. Pedati Sumatera
(klik untuk memperbesar | © AVS)
94. Kartini (kanan) membatik bersama adik-adiknya: Kardinah (kiri), dan Rukmini (tengah)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Payakumbuh, Sawahlunto, Sumatera, Jepara (?)
Tokoh: Kardinah, Kartini, Rukmini
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Atlas Van Stolk
Catatan: Edisi lain dari foto no. 94 pernah dimuat di posting ini.

Senin, 11 Mei 2020

Warisan Kartini: Peninggalan dan kenangan

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Salah satu karya seni Kartini (kemungkinan dibuat di sekitar tahun 1900)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Beberapa karya Kartini, 1902
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1904: Makam R.A. Kartini di Rembang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Rembang, 1905 Makam Kartini (paling kanan); yang di tengah adalah makam istri pertama RMAA Singgih Joyodhiningrat, suami Kartini
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Leiden, 1939: Masyarakat Belanda dan Indonesia mengenang Kartini; dari warga Indonesia a.l. Soedjarwo Tjondronegoro (lelaki di tengah baris kedua, dengan jas gelap) yang kelak menjadi Dubes Indonesia di Belanda, dan Tuan Yusuf Muda Dalam (baris ketiga, kedua dari kiri) tokoh kiri yang kemudian menjadi Gubernur Bank Indonesia, dan setelah G30S divonis mati di awal masa Orde Baru.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
21 April 1953: Perayaan Hari Kartini
(klik untuk memperbesar | © NMVW)

Waktu: 1900, 1902, 1904, 1905, 1939, 1953
Tempat: Jepara (dua foto pertama), Rembang (foto nomor 3 & 4), Leiden (foto nomor 5)
Tokoh: Soedjarwo Tjondronegoro, Tuan Yusuf Muda Dalam (lihat catatan di foto nomor 5)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden / Nationaal Museum van Wereldculturen
Catatan:

Minggu, 03 Mei 2020

Dari album foto keluarga Kartini: Kartini dan saudara-saudaranya (1)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Jepara, sekitar 1890. D.ki.k.ka. belakang: Kartini, Sulastri, Rukmini, Kardinah; depan Kartinah, Rawito
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kebun Raya Bogor, September 1900. D.ki.k.ka.: ?, Hilda de Booy-Boissevain, RMAA Sosroningrat (?), Kardinah?, Rukmini?, Kartini? (memegang Thijs de Booy)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Bogor, September 1900: Rukmini, Kardinah, Kartini, Thijs de Booy, Hilda de Booy-Boissevain
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Rukmini dan Kartini di Semarang
(klik untuk memperbesar | © Charls & Co. / Universiteit Leiden)

Waktu: sekitar 1890 (foto pertama), 1900
Tempat: Jepara, Bogor, Semarang
Tokoh: Raden Ayu Kartini (perintis pendidikan perempuan), Kardinah (adik Kartini), Rukmini (adik Kartini), Sulastri (kakak Kartini), Rawito (adik  Kartini), Hilda de Booy-Boissevain (sahabat pena Kartini, isteri dari ajudan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), RMAA Sosroningrat (ayah Kartini), Thijs de Booy (anak Hilda de Booy-Boissevain)
Peristiwa:
Fotografer: Charls & Co. (foto terakhir)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Potongan foto kedua pernah dimuat di posting ini.

Jumat, 01 Mei 2020

Dari album foto keluarga Kartini: RMAA Sosroningrat, ayah Kartini

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara
(klik untuk memperbesar | © Charls & Co. / Universiteit Leiden)
Sekitar 1898: Bupati Jepara RMAA Sosroningrat (keenam dari kanan) bersama beberapa pembesar Belanda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
RMAA Sosroningrat, ayah Kartini
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
D.ki.k.ka.: Sumantri, Rukmini, RMAA Sosroningrat, Kartini, Kardinah
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
RMAA Sosroningrat beserta istri dan sebagian anak-anaknya a.l. (berdiri di belakang d.ki.k.ka. Kardinah, Rukmini, Kartini, Sumantri)
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Waktu: 1898 (foto kedua), sekitar 1900 (foto lainnya)
Tempat: Semarang (foto pertama & terakhir), Jepara (foto lainnya) 
Tokoh: Raden Ayu Kartini (perintis pendidikan perempuan), Kardinah (adik Kartini), Rukmini (adik Kartini), Sumantri (adik tiri Kartini), RMAA Sosroningrat (Bupati Jepara, ayah Kartini)
Peristiwa:
Fotografer: Charls & Co. (paling tidak foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden / Nationaal Museum van Wereldculturen
Catatan: Foto Kartini muda yang dimuat di posting sebelum ini tampaknya merupakan potongan dari foto terakhir di atas

Rabu, 29 April 2020

Dari album foto keluarga Kartini: Potret Kartini

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Kartini (berdiri kanan), bersama adik-adiknya: Rukmini (berdiri kiri), Sumantri (duduk belakang kiri), dan Kardinah (duduk belakang kanan), di Jepara memberikan pelajaran kepada anak-anak, yang ternyata tidak semuanya perempuan.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sebuah sketsa Kartini bertanggal 14 Oktober 1916 dengan tanda tangan "Samoed"
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Potret Kartini dari sekitar tahun 1900, yang menjadi dasar sketsa di atas
(klik untuk memperbesar | © Charls & Co. / NMVW)
Foto Kartini yang menjadi "gambar standard" di deretan para pahlawan
(klik untuk memperbesar | © NMVW)

Waktu: sekitar 1900
Tempat: Jepara (foto pertama), Semarang (kemungkinan foto ketiga dan keempat)
Tokoh: Raden Ayu Kartini (perintis pendidikan perempuan), Kardinah (adik Kartini), Rukmini (adik Kartini), Sumantri (adik tiri Kartini)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden / Nationaal Museum van Wereldculturen
Catatan:

Rabu, 26 Februari 2020

Jemaah haji Hindia-Belanda di Jeddah, 1885: Asal pulau Jawa

Seorang jemaah perempuan asal Banten
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua jemaah asal Sukapura, sekarang Tasikmalaya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tiga jemaah asal Jepara
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jemaah asal Malang dan Pasuruan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1885
Tempat: Konsulat Belanda di Jeddah (Arab Saudi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Christiaan Snouck Hurgronje
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Diambil dari buku "Bilder-Atlas zu Mekka" yang terbit tahun 1888.

Minggu, 28 Agustus 2016

Tiga perempuan Jawa membatik, awal abad ke-20

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: antara 1880-1910
Tempat: Jepara (?)
Tokoh: Kardinah, Kartini, Rukmini
Peristiwa: Kartini dan adik-adiknya membatik
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:


UPDATE 18 April 2019

Tambahan foto dari sumber yang sama, dan periode yang sama, kebetulan juga judulnya masih cocok.

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

UPDATE 31 Desember 2019

Tambahan foto dari kunjungan A.E.F. Muntz ke usaha batik di Solo pada tahun 1901/1902.

(klik untuk memperbesar | © A.E.F. Muntz / Universiteit Leiden)

UPDATE 12 Oktober 2021:

1) Revisi informasi tentang tokoh yang ada di foto.
2) Foto yang sama dalam edisi lain dimuat di posting ini.