Tampilkan postingan dengan label 1946. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1946. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (11)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Bocah-bocah di sebuah kampung dengan penampilan yang hampir seragam: telanjang dada, celana goni dengan sabuk seadanya, memegang arit, sebagian memakai semacam peci, dan perut busung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga lelaki memikul keranjang berpapasan dengan truk Angkatan Laut Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
5 Desember 1946: Tank yang disulap menjadi kapal Marbrig yang membawa rombongan Sinterklaas dan Zwarte Piet …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang tampaknya berkeliling Surabaya hingga malam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kunjungan seorang politisi Belanda yang sempat difoto oleh Bob
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Surabaya dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 21 Juli 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (10)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Desember 1946 (?): Sinterklaas ditemani Zwarte Piet berkunjung ke rumah sakit angkatan laut, …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… berpose bersama para suster, dua di antaranya beratribut militer, satu di antaranya (?) menjadi Zwarte Pietin, …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… menyalami anak-anak, …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… menghibur tentara (?) yang dirawat, …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan membawa tradisi natalan Belanda ke para penghuni rumah sakit
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 17 Juli 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (8)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Tulisan di bilik bambu berbunyi "1946" dan "slamet dateng". Bendera Belanda bergantungan dari atap. Ada kemungkinan ini adalah sambutan sebuah kampung atas kedatangan tentara Belanda …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dengan menyuguhkan acara kesenian tradisional, dan memberi kesempatan foto bersama dengan para bintang panggung.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gamelan pengiring yang kemungkinan besar adalah kelompok gambang kromong mengindikasikan bahwa peristiwa ini terjadi di Jakarta …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan acara yang disuguhkan adalah lenong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah rumah yang dijadikan pasukan Belanda sebagai pos dan ditambahi dengan gardu penjagaan yang dikelilingi gundukan karung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: kemungkinan besar Jakarta dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 13 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (4)

Pempatan (Karangasem): Pos dan barak militer Belanda di Pempatan dengan deretan kaleng amunisi (?), serta yang tidak jelas tampak: gudang bahan bakar serta stasiun komunikasi radio
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Di sebuiah desa di bagian barat Bali, warga mengadakan tontonan pembakaran mata uang Jepang sebagai perlambang munculnya kembali Belanda untuk menggantikan Jepang. Tidak jelas apakah lelaki yang diikat dan dibawa ke atas peti hanya sandiwara belaka atau pendukung Republik yang "dihukum".
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antosari (Tabanan): Sebuah halte bus yang dihancurkan oleh para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga sebuah desa yang dikumpulkan dalam usaha Belanda untuk menggalang dukungan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dengan bantuan pemuka agama setempat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 11 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (3)

Belanda, bersama raja yang pro-Belanda, mengumpulkan warga desa untuk menggalang dukungan atas kekuasan Belanda di Bali
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebelum foto ini dibuat, para pejuang kemerdekaan meledakkan sebuah jembatan. Belanda menyebut aksi ini sebagai "terorisme". Pasukan Belanda mendatangkan truk militer ke lokasi kejadian untuk membuat bendungan darurat untuk mengatur arus air sungai.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Di sebelah kanan tampak jembatan yang rusak diledakkan para pejuang kemerdekaan. Belanda mendatangkan sebuah bulldozer untuk membersihkan sisa dan dampak ledakan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pihak Belanda, bersama raja yang pro-Belanda, di latar belakang mengamati warga desa dalam sembahyang bersama dalam acara penggalangan dukungan atas Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antosari (Tabanan): Belanda mendirikan sebuah pos dan markas militer di Antosari yang sebelumnya merupakan salah satu pusat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:


UPDATE 28 Juli 2026: Edisi lain dari foto nomor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Selasa, 09 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (2)

Sangsit (Buleleng): Belanda menyokong warga lokal dalam pembentukan kesatuan "Anti Pemberontak" untuk menghadapi pejuang kemerdekaan. Dikabarkan kesatuan ini memiliki salam seperti terlihat di foto dengan teriakan "Bersatu!".
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Negara (Jembrana?): Komandan militer Belanda di Negara mengumpulkan warga lokal untuk menentang para pendukung Republik Indonesia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pempatan (Karangasem): Sekitar 50 pejuang, dengan dua senjata mesin, menyerang pos Belanda di Pempatan. Belanda berhasil menghalau, merebut sebuah senapan mesin, dan menangkap beberapa pejuang yang di foto di atas tampak duduk (terikat?) di beranda rumah. Esoknya Belanda membagi-bagikan beras kepada penduduk Pempatan yang mendukung Belanda.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Bali yang dikumpulkan Belanda dalam menggalang dukungan untuk menghadapi para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pupuan (Tabanan): Militer Belanda datang ke Pupuan dan menghalau para pejuang kemerdekaan. Warga Pupuan yang pro Belanda menyambut kedatangan pasukan Belanda dengan mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Oktober 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 07 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (1)

Pulukan (Jembrana): Pasukan Belanda menyita senjata dan amunisi yang digunakan para pejuang Bali, yang a.l. berupa mitraliur peninggalan Jepang serta granat dan mortir peninggalan Inggris
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kesatuan Belanda mendarat di pesisir Bali setelah dikapalkan dari Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kesatuan Belanda mendirikan pos pengawasan di pinggiran sebuah kawasan perairan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perawatan kesehatan untuk pasukan Blanda di sebuah klinik militer
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pempatan (Karangasem): Belanda mencoba menarik simpati warga Bali dengan mendirikan sebuah poliklinik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: (Oktober) 1946
Tempat: Bali (a.l. Jembrana, Karangasem)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 05 Juni 2026

Kedatangan pasukan Belanda dari Divisi "7 Oktober" di Tanjung Priuk, 1946

Tanjung Priuk, 26 September 1946: Divisi "7 Oktober" tiba di Jakarta setelah berlayar dari Belanda dengan tujuan mempertahankan kekuasaan Belanda di Nusantara …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

… yang dimulai dengan senyum, sebelum sekitar 10 bulan kemudian melancarkan Aksi Polisionil 1. Kode "E.M." di emblem mereka merupakan singkatan dari Expeditionaire Macht (=pasukan penjelajah)(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 26 September 1946
Tempat: Tanjung Priuk (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 10 April 2026

Pasukan Jepang dalam tahanan Belanda dan Sekutu setelah kalah perang, 1945/1946

Enam tentara Jepang, kemungkinan perwira, dalam penjagaan seorang sersan KNIL, di sebuah kamp yang dikelilingi dinding kawat berduri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para tentara Jepang duduk berderet dalam pemeriksaan pihak Sekutu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua tentara Sekutu berpose di depan barisan tentara Jepang yang dikumpulkan di sebuah lapangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah area pemukiman yang dikelilingi tegalan dan pagar bambu, serta diberi kode PW yang kemungkinan singkatan dari "Prisoners of War"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945/1946
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 01 Februari 2026

Propaganda Belanda di "Soerat Kabar Dinding" setelah Jepang kalah perang, 1945/1946

(klik untuk memperbesar | Beeldbank WO2 / NIOD)

Segala apa jang telah mendjadi harta-peninggalan dari zaman pendoedoekan Djepang, gedoeng² jang hantjoer, perindoestrian dan pengangkoetan jang katjau-bilau itoe, semoea itoe dengan sekoeat tenaga diperbaiki dan dibangoenkan kembali.
Gedoeng² jang roesak, jang diperbaiki dengan segera, sekarang dapat dipergoenakan seperti sediakala.
Paberik² dan peroesahaan² tenoen diboeka kembali, menghasilkan kain² jang amat diboetoehkan oleh pendoedoek Negeri.
Dengan mendatangkan barang² dari loear negeri, banjak peroesahaan telah dapat diperbaiki dan didjalankan lagi.
Keboen² karet jang tadinja diabaikan, dioesahakan kembali, pohon² karet disadap, hasilnja diperiksa, diangkoet sesoedah selesai dikerdjakannja dan selandjoetnja dibikin lain² barang jang perloe boeat pembangoenan ekonomi.
Begitoepoen dibagian Pertanian nampak poela kegiatan dan keradjinan sebagai sediakala. Pak Tani dengan badjak dan kerbaunja pagi² soedah nampak diladang²nja, bekerdja dengan asjik.
HOEDJAN TOEROEN, AMAN DIDJAMIN DAN PETANI² MOELAI SIBOEK MENGERDJAKAN SAWAHNJA. PAK TANI MOEKTI, NEGARA LOHDJINAWI
PENGASOET² PERANG DJEPANG DIDEPAN PENGADILAN SERIKAT
Doedoek dari kiri kekanan:
Tojo, Oka Umezu, Araki, dll. sedang mendengarkan toentoetan Hakim.
PENGIRIMAN BARANG² BAKAL OENTOEK PEKERDJAAN PEMBANGOENAN
1. Dipelaboehan Tandjoeng Perioek tiba sedjoemlah besar barang² bakal. Pembongkaran karoeng berisi tepoeng. 2. Berkaroeng-karoeng benang boeat keperloean tenoen. 3. Sedang memintal benang dipaberik tenoen. 4. Paberik tenoen sedang bekerdja giat lagi.
SETELAH KAOEM PEROESOEH MENGOENDOERKAN DIRI DARI KOTA BANDOENG, BANJAK ROEMAH DLL. JANG ROESAK DAN HANTJOER.
1. Gedoeng bekas Kantor Pemerintah roesak hantjoer. 2. Mesdjid djoega dapat keroesakan; kini sedang diperbaiki lagi.
PEROESAHAAN KARET BANDJARMASIN
1. Getah karet dibawa dengan ember oentoek didjoeal. 2. Karet lembaran dibawa dengan lori kegoedang² oentoek nanti dikirimkan ke Amerika Serikat. 3. Pembikinan ban delman.
KARENA ITOELAH.
Bantoelah pekeradjaan 2 ini oentoek kemadjoean dan kemakmoeran Negara.
Tjoerahkanlah seqenap tenagamoe! …
Waktu: kemungkinan 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 18 Januari 2026

Kepulangan Jenderal Mansergh dari Surabaya ke Inggris setelah konflik pasukannya dengan para pejuang menyulut pertempuran Surabaya

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Surabaya
Tokoh: Jenderal Robert Mansergh (Panglima Sekutu untuk wilayah Hindia-Belanda)
Peristiwa: Robert Mansergh memimpin kedatangan pasukan Sekutu ke Indonesia setelah Jepang kalah perang. Kehadiran pasukan Inggris setelah proklamasi kemerdekaan ini menyulut beberapa pertempuran dengan konflik paling dasyhat terjadi di Surabaya di bulan November 1945. Setelah peristiwa ini Mansergh melepas jabatan lapangannya dan kembali ke Inggris untuk menerima jabatan di belakang meja, sebelum kemudian kembali memegang pimpinan teritorial di Hong Kong.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 12 Januari 2026

Kunjungan Jenderal Van Oyen ke Keraton Kadariah, Pontianak 1946 (3)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1946
Tempat: Pontianak
Tokoh: Sultan Hamid II (Sultan Pontianak)
Peristiwa: Sultan Hamid II menaiki sebuah perahu motor ketika menyambut kedatangan Mayor Jenderal Ludolph Hendrik van Oyen (Panglima KNIL 1942-1946; tidak terlihat di foto) ke Pontianak.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto terkait di posting ini dan ini.

Jumat, 02 Januari 2026

Kemiskinan semasa perang kemerdekaan (8): Jakarta

PENGANTAR

Kemiskinan di negeri kita ada di sebelum kemerdekaan, di saat perang kemerdekaan, setelah perang kemerdekaan, di masa pemerintahan Soekarno, Soeharto, dan boleh jadi hingga sekarang ini. Situasi rakyat miskin semasa perang tetapi lebih memilukan karena orang lain memiliki prioritas lain daripada memperhatikan mereka. Dan foto-foto rakyat miskin di masa perang menjadi lebih memiliki nilai propaganda karena publik luar dengan mudah mengasosiasikannya dengan perang, dan bisa menganggapnya sebagai dampak dari peperangan, yang bisa jadi benar.

Foto-foto berikut akan memperlihatkan rakyat miskin kita semasa perang kemerdekaan.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Tiga gelandangan berkerumun di sekitar Monumen Van Heutsz. Monumen ini berada di wilayah Menteng dan dibangun untuk mengagungkan dan mengenang "kemenangan" Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz di Perang Aceh. Bangunan di di tahun 1960an diruntuhkan oleh pemerintah.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto tentang kemiskinan semasa perang kemerdekaaan yang dimulai di posting ini.

Minggu, 21 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (23)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Waar de bevolking bevrijd is en er weer Recht en Veiligheid is. De opening van het vliegveld ging gepaard met een slamatan voor allen die er aan hadden gewerkt. Bevolking en hooge gasten o.a. de Radja van Djemebrana genieten van de dansen.
  • Terjemahan:Di mana penduduk dibebaskan [dari kekuasaan Republik] di situlah keadilan dan keamanan kembali ditegakkan. Pembukaan landasan pacu [di Jembrana, Bali] diiringi dengan acara kemeriahan untuk semua yang telah terlibat dalam pengerjaannya. Warga dan tamu-tamu terhormat, termasuk Raja Jembrana, menikmati suguhan tarian.
  • Bahasan: Di sini penulis propaganda ingin menunjukkan bahwa warga Jembrana merasa terbebas setelah Belanda datang dan lebih memilih untuk bekerja sama dengan Belanda.
  • Catatan:
Waktu: kemungkinan 1946
Tempat: Jembrana (Bali)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 15 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (20)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Kemiskinan ada dari dulu hingga sekarang, termasuk di masa penjajahan Belanda, dan kemudian dikabarkan meningkat tajam di masa pendudukan Jepang. Proklamasi kemerdekaan juga tidak menyulap kemiskinan menjadi sirna; perang kemerdekaan malah makin mempersulit pelaksanaan pengentasan kemiskinan karena prioritas para pihak berada di memenangkan konflik. Banyak foto yang menunjukkan kemiskinan semasa perang kemerdekaan: orang yang berpakaian compang-camping, berbadan kurus kering, luntang-lantung, dan warga yang senang mendapatkan makanan atau layanan kesehatan yang dibagikan pihak Belanda. Ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia sangat menderita; dan bahwa Belanda datang untuk mengubah suasana ini ke yang jauh lebih baik.
  • Teks asli penyerta foto:De bevrijding van Bali door Nederlandse troepen
  • Terjemahan:Pembebasan Bali [dari kekuasaan Republik Indonesia] oleh pasukan Belanda
  • Catatan: Lihat juga kumpulan foto yang menampilkan kemiskinan di masa lalu.
Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 11 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (18)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Kemiskinan ada dari dulu hingga sekarang, termasuk di masa penjajahan Belanda, dan kemudian dikabarkan meningkat tajam di masa pendudukan Jepang. Proklamasi kemerdekaan juga tidak menyulap kemiskinan menjadi sirna; perang kemerdekaan malah makin mempersulit pelaksanaan pengentasan kemiskinan karena prioritas para pihak berada di memenangkan konflik. Banyak foto yang menunjukkan kemiskinan semasa perang kemerdekaan: orang yang berpakaian compang-camping, berbadan kurus kering, luntang-lantung, dan warga yang senang mendapatkan makanan atau layanan kesehatan yang dibagikan pihak Belanda. Ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia sangat menderita; dan bahwa Belanda datang untuk mengubah suasana ini ke yang jauh lebih baik.
  • Teks asli penyerta foto:Voedseldistributie, West-Java.
  • Terjemahan:Pembagian makanan, Jawa Barat.
  • Catatan: Lihat juga kumpulan foto yang menampilkan kemiskinan di masa lalu.
Waktu: 1946
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 09 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (17)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Kemiskinan ada dari dulu hingga sekarang, termasuk di masa penjajahan Belanda, dan kemudian dikabarkan meningkat tajam di masa pendudukan Jepang. Proklamasi kemerdekaan juga tidak menyulap kemiskinan menjadi sirna; perang kemerdekaan malah makin mempersulit pelaksanaan pengentasan kemiskinan karena prioritas para pihak berada di memenangkan konflik. Banyak foto yang menunjukkan kemiskinan semasa perang kemerdekaan: orang yang berpakaian compang-camping, berbadan kurus kering, luntang-lantung, dan warga yang senang mendapatkan makanan atau layanan kesehatan yang dibagikan pihak Belanda. Ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia sangat menderita; dan bahwa Belanda datang untuk mengubah suasana ini ke yang jauh lebih baik.
  • Teks asli penyerta foto:Hedendaags Batavia: slapers op de keien.
  • Terjemahan: Jakarta sekarang ini: orang tidur di atas batu ubin jalanan.
  • Catatan: Lihat juga kumpulan foto yang menampilkan kemiskinan di masa lalu.
Waktu: 1946
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: