Tampilkan postingan dengan label 1690. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1690. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Maret 2025

Peta Jakarta dari abad ke-17/18: Satu basis tiga versi (2)

Ini merupakan lanjutan dari posting sebelumnya yang menampilkan bagaimana sebuiah peta tentang Jakarta yang dibuat di sekitar tahun 1650 menjadi dasar dari munculnya beberapa variasi dari tahun-tahun sesudahnya.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Ini adalah versi keluaran sejarawan Italia, Gregorio Leti di tahun 1690 di Amsterdam, yang tampak jelas merupakan sadura dari peta keluaran Frederik de Wit (lihat posting sebelumnya). Leti kelihatannya hanya menghapus kata "F de Witt …" setelah "Anno 1681" di spanduk judul. Perlu dicatat, bahwa kotretan di dekat ujung kanan bawah spanduk, di dekat tameng sang singa, bukanlah coretan biasa, tetapi menunjukkan tempat orang dihukum gantung, dengan lokasi di sekitar Ancol sekarang.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Ini merupakan versi tidak berwarna dari peta keluaran Gregorio Leti.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Ini versi yang lebih "muda", yaitu keluaran tahun 1725 di Leiden dari tangan juru kartografi Pieter van der Aa. Versi ini mengubah gambar pelabuhan di tengah bawah, kemudian mengubah legenda di pinggir kanan dari bahasa Belanda ke bahasa Perancis, mengubah judul yang ada di spanduk, dan memasang kembali legenda berbahasa Belanda ke pinggir kiri.

Tahun terbit: 1690, 1725
Tempat terbit: Amsterdam, Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 11 Februari 2025

Peta kuno keluaran Italia dari tahun 1690 tentang kepulauan Nusantara

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)


Tahun terbit: sekitar 1690
Tempat terbit: Italia
Tokoh:
Deskripsi:

Ini merupakan versi hitam-putih dari peta yang sebelumnya dimuat di posting ini. Peta keluaran Italia ini memuat relatif  banyak nama-nama tempat, baik yang biasa muncul di peta lain, maupun yang jarang. Di Sumatera misalnya, selain nama biasa seperti Aceh, Pedir, dan Palembang, peta ini juga memuat Pasai (Passay), Kampar (Camfer), Jambi, Pasaman, serta Pulau Wei (Vay), Pulau Nias (Nyas). Di Kalimantan, selain nama langganan seperti Banjarmasin dan Sukadana, peta ini juga memuat nama lain seperti Balikpapan (Billipapan), Sampit, dan Kota Waringin (Cotaringin).

Menariknya, Pulau Jawa, yang bentuknya masih perlu beberapa koreksi, hanya diwakili oleh sedikit nama saja, yaitu Banten, Batavia, Demak, Mataram, Tuban, Pasuruan, dan Blambangan. Sulawesi sebaliknya: Di peta-peta lain umumnya hanya diberi sedikit nama tempat; di peta ini malah sebaliknya, lumayan banyak. Selain nama biasa seperti Makassar dan Manado, ada juga Toli-toli (Tettoli), Gorontalo (Coroutalao), dan Mamuju (Mamoya).

Wilayah Maluku dan Nusa Tenggara seperti biasa dipenuhi dengan pulau-pulau kecil dan sedang dengan nama-nama yang relatif sudah terkenal di Eropa, seperti Seram, Halmahera (Gilolo), Banda, Timor, Flores, dsb. Papua masih digambar "ngambang" yang menandakan bahwa konturnya memang belum sepenuhnya terjelajahi. Begitu juga Kepulauan Aru, yang masih digambar seolah-olah sebuah pulau besar dengan kontur bagian timur dibiarkan kosong (Arow).

Juru kartografi: Vincenzo Maria Coronelli
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 10 September 2024

Peta Italia dari tahun 1690 yang membagi Nusantara dalam 3 wilayah: Filipina, Maluku, dan Sunda

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1690
Tempat terbit: Venezia
Tokoh:
Deskripsi: Orang Italia dikenal sebagai jago kartografi dan pembuat peta yang handal. Menariknya, mereka tidak menggunakannya seperti orang Belanda, Inggris, Portugis atau Spanyol untuk berlayar jauh dan mendirikan koloni di belahan-belahan dunia. Orang Italia cenderung terfokus ke wilayah sekitar Laut Tengah sehingga koloni mereka berada misalnya di Etiopia, Eritrea, Libia, atau Somalia. Karena itu peta Italia yang menampilkan Isole dell'indie (kepulauan Hindia) ini menjadi menarik. Peta ini secara tegas membagi area kepulauan ini dalam tiga wilayah: Filipina, Sunda (meliputi Bali, Jawa, Kalimantan, Lombok, Sumatera, Sumbawa, dan sekitarnya), serta Maluku (pulau-pulau di timur mulai Flores dan Sulawesi hingga ke Papua). Hal lain yang menarik adalah bahwa Pulau Jawa hanya diberi keterangan sedikit, sementara peta-peta lain umumnya dipenuhi oleh nama-nama tempat di Jawa. Sebaliknya, pesisir timur Kalimantang yang sering hanya disebut sebagai "pantai belukar" oleh peta-peta lain, di peta ini malah ramai dengan nama-nama tempat.
Juru kartografi: Vincenzo Maria Coronelli
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 19 Agustus 2024

Peta kuno dari sekitar tahun 1690: Kedudukan Nusantara di Asia

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1690
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Salah satu hal yang menarik dari peta ini adalah bahwa penyusunnya, Nicolaas Witsen, adalah seorang politisi yang pernah menjadi walikota Amsterdam sebanyak 13 kali (!). Dan yang terkait dengan sejarah Indonesia: Nicolaas Witsen pernah menjadi pucuk pimpinan VOC. Tidak mengherankan apabila penggambaran wilayah Nusantara sudah cukup lumayan, termasuk pemisahan antara Papua dari Australia yang pada saat sebelumnya masih dianggap menyambung. Di peta ini bangsa Eropa saat itu bisa melihat bagaimana banyak sekali pulau bertebaran mulai dari ujung Sumatera di barat hingga ke Maluku dan Papua di timur, serta kawasan Filipina di utara, dan Nusa Tenggara di selatan.
Juru kartografi: Nicolaas Witsen
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: