Tampilkan postingan dengan label pemusik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemusik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2026

Penampilan KNIL Darat sebelum Perang Dunia II (2)

11 Desember 1937: Satu truk penuh serdadu KNIL memasuki kawasan pelabuhan Ambon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kesatuan KNIL berlatih menggunakan senapan mesin
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Parade pasukan KNIL dengan kesatuan pemain musik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
24 Juni 1939: Markas Batalion Infantri XII
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1937, 1939
Tempat: a.l. Ambon
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 11 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno yang menjelaskan asal-usul kata "biduan"

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1858
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Den Haag
Tokoh:
Deskripsi: Kata "biduan" sekarang ini  bermakna "penyanyi", dan sering hanya digunakan dalam pengertian "penyanyi wanita", meskipun dulu orang memiliki kata sendiri "biduanita" untuk ini. Jika kita melihat gambar di bawah, pada abad ke-19 kata "biduan" (ditulis di gambar ini dalam huruf Jawi/Arab) awalnya memiliki makna pemusik jalanan, yang kemungkinan besar juga melantunkan lagu. Boleh jadi juga kata ini awalnya hanya diterapkan untuk kaum pria.
Juru foto/gambar: Auguste van Pers
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Jumat, 26 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno karya Theodor de Bry tentang pemain gamelan di Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: abad ke-16 
Tempat terbit: kemungkinan Frankfurt am Main 
Tokoh:
Deskripsi: Theodor de Bry terkenal sebagai ilustrator abad ke-16 yang banyak memperkenalkan kepada warga Eropa suasana di luar Eropa seperti Amerika dan Asia Timur termasuk Nusantara. Karena de Bry menumpahkan imaginasinya berdasarkan naskah-naskah dan narasi yang dia baca atau dapat, dan bukan menyaksikan sendiri, maka tidak jarang hasil karyanya harus dipandang dengan cermat. Seperti halnya gambar tentang pemain gamelan di Jawa ini. Lelaki di sebelah kanan dipastikan adalah pemain gong. De Bry sudah benar dalam menampilkan gong dalam ukurang yang tidak sama; sayangnya tetapi kelebihan dua, dan posisinya 90 derajat terlalu banyak. Dua lelaki lain sudah benar digambarkan dalam keadaan duduk di lantai, memegang dua pemukul yang ujungnya dibungkus, menghadap "meja" yang berisi kenongan. Tetapi, bayangan de Bry tentang bentuk kenongan sedikit meleset: benjolannya terlalu lebar.
Juru foto/gambar: Theodor de Bry
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Jumat, 14 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (12)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin memperlihatkan wajah seorang ulama di Jawa di abad ke-19, kemungkinan di sebuah area keagamaan misalnya mesjid atau pesantren. Dia mengenakan serban, sarung kotak-kotak, baju gamis yang ditutup jubahm serta sndal jepit. Dia juga membawa sebuah kitab dan tasbih.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI cukup berhasil dalam membuat lukisan Hardouin menjadi tampak realistis. Bagian-bagian dari pakaian si ulama, hingga ke kita dan tasbihnya tampak seperti hasil fotografi. AI tetapi menambahkan kumis dan janggut putih ke Pak Kyai yang membuatnya tampak lebih matang.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah seorang Tionghia yang duduk memainkan kongahyan, sebuah alat musik gesek yang kemudian menyebar ke masyarakat Betawi, Sunda, Jawa, hingga ke Bali. Pria ini digambarkan bertelanjang dada dan bertaucang dan kelihatan sedang berada di sebuah kawasan pecinan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Secara keseluruhan AI lumayan berhasil menampilkan gambaran yang lebih realistis dari lukisan Hardouin di atas. Si pemain konghayan digambarkan seperti nyata, begitu juga pria di latar belakang, kawasan perumahan hingga ke lampion yang menggantung. Kesalahan muncul di alat penggesek yang ditampilkan seperti sepasang sumpit yang panjang.
(klik untuk memperbesar)
 
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 05 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (14)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah kampung di Jawa dengan rumah-rumah yang terbuat dari bambu. Seorang ibu tampak berbincang dengan seorang pedagang keliling, sementara tiga anak kecil yang hampir tanpa pakaian bermain tidak jauh dari situ.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah motif tentang Jawa yang tidak sedikit menjadi bahan lukisan: banjir. Air tampak sudah mencapi atap rumah, sehingga sebuah keluarga harus diselamatkan dengan menerobos atap. Proses penyelamatan ini menggunakan perahu atau rakit (dari pohon pisang?) sepeti yang ditampilkan di gambar di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Arak-arakan pengantin dengan adat Betawi, kemungkinan dari kalangan berada karena pengantin pria menunggang kuda, sementara pengantin wanita ditandu oleh empat pria dengan hiasan angsa di atas tandunya, dan sepasang ondel-ondel memimpin rombongan prosesi yang diiringi sekelompok pemusik.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Salah satu sudut pantai Karangbolong di Anyer yang banyak disinggahi burung walet untuk bersarang. Lima pria tampak menuruni tebing pantai dengan menggunakan tangga dan tali untuk mencapai ke sebuah gua yang menjadi tempat kumpulan sarang walet.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah rumah milik kontroleur di Jawa. Kontroleur merupakan jabatan yang sedikit banyak sejajar dengan camat sekarang. Jenjang kontroleur berada di bawah asisten residen, di bawah residen, di bawah gubernur. Berbeda dengan rumah asisten residen yang berpilar tembok, rumah kontroleur di atas ini bertiang kayu dan merupakan rumah panggung, dan kemungkinan tidak sepenuhnya bertembok batu-bata.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 21 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (7)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah toko di Jakarta yang menjual aneka barang a.l. porselan, lampu gantung, lampu duduk, jam dinding, lukisan, dll. Toko tampak dijaga oleh seorang yang berwajah dan berpakaian lokal, sementara para pengunjung berkulit putih dan mengenakan pakaian perlente, yang mengindikasikan bahwa ini merupakan sebuah toko berkelas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang wanita Belanda berkebaya, yang tampaknya menghuni sebuah gedung mewah dengan lahan yang luas, membeli ayam hidup dari pedagang yang datang. Si pedagang kemungkinan adalah pria yang berlutut dan membawa golok. Pria yang berdiri di tengah bisa merupakan orang yang memikul ayam, atau juga pembantu atau tukang kebun di rumah itu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pesta dansa warga Belanda di depan sebuah rumah bergaya kolonial, kemungkinan di Jakarta. Tarian yang dibawakan oleh warga kulit putih ini diiringi musik terompet dan genderang yang dilantunkan warga lokal. Warga lokal pula yang membawa penerangan dalam bentuk obor, sekaligus menjadi penonton yang berkerumun.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang biarawati berdiri di di dekat patung pastor Henricus van der Grinten di area kuburan Belanda di Tanahabang. Kompleks pemakaman ini sekarang menjadi Museum Taman Prasasti. Pastor Henricus sendiri a.l. dikenal sebagai misionaris yang aktif menyebarkan ajaran Kristiani di wilayah Jakarta.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah adegan yang boleh jadi lumayan romantis: Di malam bulan purnama, tampak seorang pemuda bersandar di sebuah pohon memainkan seruling. Kemungkinan lagu yang dia lantunkan adalah nada-nada yang dia persembahkan ke wanita pujaannya yang tampak mengintip dari jendela terbuka di sebelah kanan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 16 September 2025

KNIL Laut kembali menguasai penuh Vliegkamp Morokrembangan, 1947/1948 (4)

Komandan lama dari vliegkamp Morokrembangan, R.A.H. Roembeek (berkacamata) bersama komandan baru, R. Vroon (depan kiri), memeriksa barisan para kelasi yang umumnya terdiri dari warga Belanda …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… serta berisan para pelaut dengan pangkat yang lebih tinggi …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… begitu juga barisan kehormatan bersenjata …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan juga barisan pemusik pangkalan (dengan latar belakang seorang Indonesia membersihkan mobil perwira)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947/1948
Tempat: Pangkalan udara Morokrembangan (Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 14 September 2025

KNIL Laut kembali menguasai penuh Vliegkamp Morokrembangan, 1947/1948 (3)

Dua perwira yang baru disumpah memberi hormat kepada komandan lama (R.A.H. Roembeek) …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dengan irigan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus, yang dibawakan rombongan kelasi pemusik yang umumnya berwajah lokal …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… serta penghormatan ke bendera Belanda (tidak tampak) …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dilanjutkan dengan inspeksi barisan termasuk ke deretan para istri perwira
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947/1948
Tempat: Pangkalan udara Morokrembangan (Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 10 September 2025

KNIL Laut kembali menguasai penuh Vliegkamp Morokrembangan, 1947/1948 (1)

Upacara militer di Vliegkamp Morokrembangan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dengan parade kesatuan KNIL Laut dengan iringan tambur dan seruling …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… kemungkinan dalam acara pergantian komandan landasan udara dari yang lama, R.A.H. Roembeek (kiri) …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… ke komandan yang baru (R. Vroon)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947/1948
Tempat: Pangkalan udara Morokrembangan (Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 18 Agustus 2025

Kumpulan beberapa ilustrasi (dan foto) zaman dulu tentang Nusantara (9)

~1870-1880: Empat pria Jawa, dua di antaranya berpose dengan seruling dan rebab
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
~1880-1890, kemungkinan di Jakarta: Tiga wanita di studio foto
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
~1880: Foto seorang perempuan Sumatera (Barat?)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1870, 1880
Tempat terbit: a.l. Jakarta
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 31 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (10)

Sebuah penginapan di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tiga penjaga malam di Jakarta, dengan kentongan, galah penangkap maling, serta kendi air
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Dua perempuan, salah satunya memainkan gambang
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Ikat kepala pria Jawa (kiri) dan Melayu (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Kamis, 20 Maret 2025

Konferensi Asia-Afrika 1955: Pemandangan di dalam dan sekitar Gedung Merdeka

Suasana konferensi di dalam Gedung Merdeka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gedung Merdeka dengan penjagaan ketat aparat keamanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu pertigaan Gedung Merdeka, dengan barisan tentara penabuh genderang di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Khalayak menyaksikan barisan tentara penabuh genderang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: April 1955
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto yang dimuat mulai posting tanggal 30 September 2013 hingga 17 November 2013.

Minggu, 09 Maret 2025

Relief tentang penari dan pemusik dari Candi Borobudur dan Candi Prambanan, 1925

Candi Borobudur: Penari didampingi penabuh tambur dan peniup seruling (atas); seorang penari di kiri tengah dengan sekelompok pemusik di sebelah kiri, menghibur pasangan raja-ratu
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Candi Prambanan: Seorang penari wanita di kanan di samping pemain alat musik petik (?), juga wanita, menghibur pasangan raja-ratu
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Candi Prambanan: Tiga penari berambut gimbal dan beranting bulat, tampaknya pria
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1925
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 15 Januari 2025

Prostitusi kelas atas semasa zaman pendudukan Jepang

Prostitusi semasa pendudukan Jepang adalah tema yang jarang dibahas atau didokumentasikan meski keberadaannya tidak bisa dipungkiri. Salah satu tempat "hiburan" untuk para pembesar Jepang ini bernama "Akebono", yang dulunya bernama "Trianon". Foto di bawah adalah salah dua dari sedikit rekaman jejak yang memperlihatkan penampakan dari establishment semacam ini.

Foto kedua memperlihatkan para tamu yang tampaknya para pembesar Jepang, beberapa di antaranya berseragam militer, dilayani oleh para pramusaji berseragan blangkon, kain, dan setelan pakaian daerah. Di latar belakang tampak para perempuan penghibur berbaris di belakang sebuah mikrofon.

Foto pertama memperlihatkan para awak dari Akebono ini, yang antara lain terdiri dari para pramusaji, pemusik bersetelan putih dengan dasi kupu-kupu, para wanita penghibur, dan tampaknya pasangan pengelola atau mucikari dari tempat hiburan ini. Pasangan pengelola memiliki wajah Eropa atau Indo, kecuali seorang pria yang bertampang Asia Timur. Para perempuan penghibur didominasi oleh para wanita berwajah Indo, meski kemungkinan ada juga yang berparas lokal.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: masa pendudukan Jepang
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 21 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (1)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih dan gambar berwarna, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Sebuah grup ronggeng.
Kompilasi dari dua gambar lain yang pernah dimuat di sini dan sini.
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kaum pria di Jawa: 1. bupati, 2. priyayi, 3. orang Sunda, 4. kuli Sunda, 5. pemuka warga Madura, 6.  petani, 7. ulama, 8. abdi dalem
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar di atas.
Ini merupakan kompilasi a.l. dari gambar yang pernah dimuat di sini, sini, dan sini.
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: