Tampilkan postingan dengan label sultan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sultan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2025

Foto yang diubah menjadi lukisan (3)

Sebelum ini kita melihat usaha di Belanda untuk mengumpulkan subjek dari beberapa gambar dan foto tentang masyarakat Nusantara ke dalam sebuah lukisan baru dan mewarnainya atau mewarnainya ulang. Sebuah proses lain juga terjadi di penghujung abad ke-19: Foto hitam putih diubah menjadi lukisan tangan. Ini tentu saja membutuhkan keterampilan khusus dan kepiawaian dalam menggambar. Blog ini akan memperlihatkan beberapa hasil dari proses menarik ini.
Sultan Hamengkubuwono VI
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pakubuwono IX
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama, dalam bahasa Belanda dan Perancis, dengan inisial pelukis
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar kedua, dalam bahasa Belanda dan Perancis
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1880 (dua gambar pertama), 1883 (dua gambar lainnya)
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 03 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (1)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Rute penjelajahan Carl Bock dalam garis merah yang yang menyambungkan Banjarmasin dan Samarinda. Carl Bock menuliskan kawasan yang dihuni suku Dayak, suku Melayu, dan wilayah yang tak berpenghuni atau dipenuhi belantara. Carl Bock juga menunjukkan area yang merupakan daerah yang hanya dihuni Dayak Punan.
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemuda Dayak membawa mandau
(klik untuk memperbesar)
1 dan 2: Dua pemuda Dayak yang mengiringi Carl Bock dalam penjelajahannya. 3: Gaya rambut seorang pria Dayak dari Long Blehh.
(klik untuk memperbesar)
Seorang pria Dayak dari Long Wahau, dengan hiasan di kuping, leher, tangan, betis, dan tentu saja mandau
(klik untuk memperbesar)
Para bangsawan Kesultanan Kutai. Carl Bock mencantumkan nama-namanya. Sultan Kutai saat itu adalah Aji Muhammad Sulaiman. Dua orang dengan tutup kepala tanpa umbul-umbul, dan tanpa nama, kemungkinan adalah abdi dalem.
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Senin, 19 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (26)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


124. Klinik lapangan kesatuan KNIL di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
126. Pakubuwono IX dan Residen W. de Vogel
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
127. Sultan Hamengkubuwono VII
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
129. Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman beserta para isteri dan selirnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
130. Seorang bangsawan Gianyar beserta pengiringnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
133. Sekolah pribumi di Pakan Kamis, Tilatang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jawa, Surakarta, Yogyakarta, Kutai, Gianyar, Tilatang (Agam)
Tokoh: Aji Muhammad Sulaiman (Sultan Kutai ke-18), Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakarta), Pakubuwono IX (Susuhunan Surakarta)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. #126 pernah dimuat di posting ini, no. 127 di posting ini dan ini, no. 129 di posting ini, serta no. 130 di posting ini.

Sabtu, 20 Februari 2021

Empat bangsawan Nusantara yang menghadiri penobatan Ratu Wilhelmina, dalam lukisan Nicolaas van der Waay, 1898

Pangeran Ario Mataram, menantu dari Pakubuwono X
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Aji Pangeran Mangkunegoro dari Kutai
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sultan Siak, Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pangeran Sosro dari Kutai
(klik untuk memperbesar | © AVS)


Waktu: 1898
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Pelantikan Ratu Wilhelmina di tahun 1898 dihadiri oleh banyak bangsawan dari Hindia-Belanda. Pelukis Belanda, Nicolaas van der Waay, membuat sketsa dan lukisan cat air dari beberapa di antaranya.
Juru foto/gambar: Nicolaas van der Waay
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 15 Januari 2021

Snouck Hurgronye dan para perwira KNIL bertamu ke Sultan Gayo dan Alas

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20
Tempat: Aceh
Tokoh: Christiaan Snouck Hurgronje (orientalis)
Peristiwa: Snouck Hurgronje (kemungkinan besar yang duduk di barisan depan kedua dari kanan), bersama beberapa perwira KNIL, berkunjung ke Sultan Gayo dan Alas (duduk di tengah dipayungi).
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Rabu, 09 Desember 2020

Koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di utara Sumatera — Album I: Istana Deli dan potret lima sultan

PENGANTAR

Seperti sudah disinggung sebelum ini, dan juga di posting tanggal 1 Desember 2020, sejarah mewariskan banyak album foto tentang wilayah utara Sumatera dari masa kejayaan perkebunan tembakau. Isinya tentunya foto-foto yang terkait dengan perkebunan tembakau, serta manusia dan tempat atau tempat di sekitarnya. Foto-foto ini umumnya jepretan C.J. Kleingrothe atau keluaran dari studio foto miliknya. Kleingrothe adalah seorang Jerman yang menetap di Medan dari penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Beberapa foto tampaknya sangat populer, sehingga ia muncul di lebih dari satu album; blog ini akan menampilkan pengulangan foto seperti ini. Blog ini juga akan menampilkan hampir semua foto dua kali: sekali dalam tampilan halaman album penuh, dan yang kedua dipotong dengan fokus ke isi foto. Hal ini terpaksa dilakukan karena Blogger membatasi ukuran lebar/panjang foto ke maksimum 1600 pixel, sementara pengecilan ukuran akan mengurangi mutu informasi yang termuat di foto.


Versi fokus

Potret para sultan dari Deli, Serdang, Siak, Asahan, dan Langkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Istana Sultan Deli
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Versi halaman penuh

Potret para sultan dari Deli, Serdang, Siak, Asahan, dan Langkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Istana Sultan Deli
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1898
Tempat: Sumatera Utara
Tokoh:
  • Ma'mun al-Rasyid Perkasa Alamsyah (Sultan Deli)
  • Sulaiman Syariful Alam Syah (Sultan Serdang)
  • Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin (Sultan Siak)
  • Muhammad Husain Rahmad Syah (Sultan Asahan)
  • Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Syah (Sultan Langkat)
Peristiwa:
Fotografer: Carl Josef Kleingrothe
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 10 Juli 2020

Sultan Tidore dan istri di penghujung abad ke-19

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu:  antara 1885 dan 1900
Tempat:  Tidore
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:  Antara 1856 dan 1906 Tidore mengalami tiga kali pergantian sultan; jadi sementara  masih belum ada informasi sultan yang mana yang ada di foto ini, apakah Syaifuddin (1856-1892), Fatahuddin (1892-1894), atau Kawiyuddin (1894-1906).

Sabtu, 07 Maret 2020

Sultan Sambas 1866-1924, Muhammad Shafiuddin II

(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: antara 1885 dan 1895
Tempat: Sambas (mungkin juga di sebuah studio foto di Jakarta atau Surabaya)
Tokoh: Muhammad Shafiuddin II (Sultan Sambas 1866-1924)
Peristiwa:
Fotografer: Gustave Lambert
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:


UPDATE 28 Oktober 2020: Halaman album foto yang menunjukkan foto di atas, bersebelahan dengan foto penari ronggeng Jawa

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Rabu, 06 November 2019

Enam foto bersama warga Nusantara zaman dulu

1914: Warga suku Pebato (Sulawesi Tengah)
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Tarian Cakaiba warga Ambon
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Pemain gamelan Bali
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Sultan Boni dan kerabatnya
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Warga Sasak, Lombok
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Warga Hindustan yang didatangkan Belanda ke Sumatera untuk menjadi pengawas perkebunan tembakau
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)

Waktu: akhir abad ke-19, awal abad ke-20
Tempat: Ambon, Bali, Bone, Lombok, Sulawesi Tengah, Sumatera Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Jumat, 06 September 2019

Bangsawan Jawa dalam jepretan S.W. Camerik, 1860: Sultan Hamengkubuwono VI

Hamengkubuwono VI dalam pakaian kebesaran Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Hamengkubuwono VI dalam seragam mayor-jenderal KNIL
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1860
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Sri Sultan Hamengkubuwana VI (Gusti Raden Mas Mustojo, Sultan Yogyakarta 1855-1877)
Peristiwa:
Fotografer: S.W. Camerik
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 20 Juli 2019

Pakubuwono XI bersama Gubernur Jawa Timur Charles Olke van der Plas, 1941

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 6 Maret 1941
Tempat: Surabaya
Tokoh d.ki.k.ka.: Charles Olke van der Plas (Gubernur Jawa Timur), Pakubuwono XI (Susuhunan Surakarta), istri Pakubuwono XI, istri van der Plas
Peristiwa: Pakubuwono XI bersama Ratu berbincang dengan Gubernur Jawa Timur dalam kunjungannya ke Surabaya, dengan latar belakang foto Ratu Wilhelmina.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 02 April 2019

Para bangsawan Nusantara di Belanda dalam rangkaian peringatan 25 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina, 1923

Kunjungan ke pabrik mobil di Trompenburg. Nomor 1 adalah GBPH Suryawijaya, nomor 2 adalah Sultan Bulungan, Maulana Muhammad Kasim Al-Din.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
KGPH Kusumoyudo dalam seragam kolonel KNIL di Apeldoom
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
KRT Rajiman Wedyodiningrat (kiri) dan KGPH Kusumoyudo (tengah) di Apeldoom
(klik untuk memperbesar | © Willem van de Poll / spaarnestad)

Waktu: 1923
Tempat: Belanda
Tokoh: KGPH Kusumoyudo (putra Pakubuwono XII), KRT Rajiman Wedyodiningrat (kerabat Keraton Solo, kelak menjadi Ketua BPUPKI), GBPH Suryawijaya (putera Hamengkubuwono VIII dari BRA Rukmi Aningdiya), Maulana Muhammad Kasim Al-Din (Sultan Bulungan)
Peristiwa:
Fotografer: Willem van de Poll (foto ketiga)
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.

Kamis, 14 Maret 2019

United Colorization of Nusantara 8: Kalimantan

PENGANTAR

Di pertengahan abad ke-19 seorang Belanda bernama J.A. Meessen mengadakan perjalanan di Sumatera, Jawa, Madura, dan Kalimantan. Dia memotret aneka ragam suku yang dia temui di daerah-daerah ini, dengan fokus pada sosok manusianya. Kumpulan dari foto-foto ini diterbitkan di Amsterdam pada tahun 1867 dengan judul Indisch Album (Album Hindia). Yang menarik dari album ini, foto-fotonya diwarnai (colorized) secara manual, agar ada warna-warni di gambar-gambar hitam putih ini

Seri foto berikut ini akan menampilkan isi dari album ini, yang menunjukkan beragamnya warga Nusantara saat itu yang kelak akan menjadi keragaman Indonesia saat ini pula.


Pemuka masyarakat sekitar Kapuas hilir
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Yang Dipertuan di Sambas
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Dayak pesisir timur Kalimantan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sultan Sambas (Muhammad Shafiuddin II?)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Dayak pesisir timur Kalimantan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1867
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: J.A. Meessen
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 11 Maret 2019

Sultan Riau terakhir, Abdul Rahman II Muazzam Syah, 1911

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1911
Tempat: ?
Tokoh: Abdul Rahman II Muazzam Syah (Sultan Riau 1893-1911)
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Abdul Rahman II menolak menandatangani perjanjian yang memposisikan Belanda lebih tinggi daripada Kesultanan Riau. Penolakan ini mengundang tindakan paksa dari Belanda untuk mengusir Sultan Abdul Rahman II yang kemudian mengungsi dan wafat di Singapura tahun 1930.

Minggu, 21 Oktober 2018

Album foto para penguasa daerah di tahun 1860-an: Sultan Siak dan pemuka Koto Gadang

Sultan Siak
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Seorang pemuka Koto Gadang
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: 1865
Tempat: Siak, Bukittinggi
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan: Foto-foto ini adalah bagian dari sebuah album dengan judul "Cabinet-Portret" dari seri "Portretten van Indonesiërs" yang dikeluarkan oleh K. Buwalda di Surabaya di akhir tahun 1860-an.

Rabu, 05 September 2018