Tampilkan postingan dengan label RMS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMS. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (4)

Beberapa warga kesatuan militer asal Maluku yang mendukung RMS mengadakan konferensi pers setelah unjuk rasa
(klik untuk memperbesar | © MHM)
Johannes Leimena, pendukung Republik Indonesia, menemui para pengunjuk rasa
(klik untuk memperbesar | © MHM)
Spanduk paling depan dimulai dengan kata "BUKAN Leimena ..."
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh: Johannes Leimena (Menteri Kesehatan, pahlawan nasional)
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Sabtu, 05 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (3)

(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Kamis, 03 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (2)

(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Selasa, 01 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (1)

(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Kamis, 26 November 2020

Karikatur Belanda tentang Pieter Gerbrandy, mantan PM Belanda penentang Republik Indonesia, pendukung RMS

Pieter Sjoerds Gerbrandy adalah Perdana Menteri Belanda di pengasingan ketika Jerman Nazi menduduki Belanda semasa Perang Dunia II. Pengalaman dikuasai bangsa lain ini rupanya tidak berbekas di Pieter Gerbrandy; ketika Jerman kalah perang, kemudian Ratu dan pemerintah Belanda kembali ke tanah air mereka dari pengasingan, dan rakyat Indonesia menyatakan diri merdeka, Gerbrandy adalah tokoh yang sangat gigih menentang kemerdekaan Indonesia. Ketika penghujung 1949 sudah memperlihatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dapat dibendung, Gerbrandy di tahun 1950 menyatakan dukungan atas pembentukan Republik Maluku Selatan.

Satu posting sebelum ini sudah menunjukkan sikap politisi Belanda ini dalam karikatur. Kali ini ada tambahan empat karikatur lagi tentang mantan Menteri Urusan Jajahan ini; semuanya karya dari karikaturis Leo Jordaan.

Het Parool, 18 Juni 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini menyebut Gerbrandy salah mengambil cerutu, yang meledak di mulutnya, dan mengeluarkan asap berbunyi "Resolusi Partai Buruh: Jangan ada kekerasan di Indonesia". Tampaknya ada usaha Gerbrandy di parlemen Belanda yang justru malah menggolkan sikap Partai Buruh yang memang relatif lebih bersahabat dengan Indonesia.

De Groene Amsterdammer, 24 Januari 1948
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Tahun 1948 adalah masa kepopuleran Mahatma Gandhi dengan gerakan damainya, serta jubah putih sederhana, serta kambing. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana para tokoh dunia ingin dianggap pecinta damai seperti Gandhi, termasuk Harry Truman, Joseph Stalin, Winston Churchill, dan Charles de Gaulle. Gerbrandy pun ingin dianggap sama; hanya saja mukanya tidak bersahabat, malah kambingnya pun berwajah garang, dan tulisan yang dia usung memang keinginannya: "Pokoknya ke (=merebut) Jogja!".

Het Parool, 5 Mei 1948
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ketidakpuasan Gerbrandy atas politik Belanda mengenai suasana di Indonesia membuat dia menggugat hal ini sebagai pelanggaran atas konstitusi. Sikap ini dikarikaturkan oleh Leo Jordaan dengan menggambarkan Gerbrandy sebagai Don Quichot yang akan memerangi kincir angin, dengan ditemani oleh politikus dari Partai Katolik, Charles Welter, yang mengambil posisi Sancho Panza.

Vrij Nederland, 14 Oktober 1950
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ketika Republik Maluku Selatan dikumandangkan, Gerbrandy adalah tokoh yang menyerukan bantuan bersenjata untuk RMS. Karikatur di atas menggambarkan Gerbrandy sebagai sukarelawan pertama yang siap membantu RMS, dengan pakaian militer model kuno (kemungkinan menggambarkan bahwa dia masih memimpikan masa lalu), gombrang (kemungkinan menyimbolkan bahwa dia membesar-besarkan realita), dan bertumpu pada bantal (kemungkinan bahwa dia perlu penopang semu untuk kelihatan layak dilihat).

Waktu: 1947, 1948, 1950
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 06 November 2020

Door de Eeuwen Trouw, organisasi anti RI pendukung RMS: Dalam karikatur Belanda, 1951

Door de Eeuwen Trouw ("setia sepanjang masa") adalah sebuah organisasi yang didirikan di tahun 1950 oleh sekelompok warga Belanda yang tidak bersimpati pada Republik Indonesia. Mereka menyokong pembatasan pengaruh Indonesia atas wilayah seperti Maluku, Papua, dan pulau-pulau lain yang jauh dari Jawa. Mereka secara resmi mendukung pembentukan Republik Maluku Selatan. Dukungan ini sempat menjadi perhatian media Belanda seperti yang termuat di karikatur berikut ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini terbit tanggal 16 Juni 1951, menggambarkan tiga anggota Door de Eeuwen Trouw menyalakan api yang kemudian membara. Asap yang muncul tapi menggambarkan lambang paramiliter Nazi, SS. Memang dikabarkan bahwa beberapa pentolan organisasi ini bersimpati pada, atau malah pernah terkait dengan SS. Entah kebetulan atau tidak, motto SS adalah Meine Ehre heißt Treue (kehormatanku adalah kesetiaan), yang memuat kata Jerman treue yang sepadan dengan kata Belanda trouw.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur yang terbit tanggal 19 Juni 1951 ini menampilkan beberapa potongan berita koran yang mewartakan Door de Eeuwen Trouw. Keterkaitan dengan SS tidak terdengar bagus di telinga warga Belanda yang yang relatif belum lama terbebas dari pendudukan Jerman Nazi. Karikatur ini tampaknya menggambarkan para petinggi Door de Eeuwen Trouw, tanpa wajah, dengan kutipan: "Het enige, wat wij verloren hebben, is ons gezicht … waarom zouden wij dan heengaan?" (Satu-satunya yang hilang dari kami adalah muka kami … jadi mengapa kami harus pergi?).

Waktu: 1951
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 04 November 2020

Door de Eeuwen Trouw, organisasi anti RI pendukung RMS: Pamflet semasa konflik bersenjata dengan TNI, 1950

Door de Eeuwen Trouw ("setia sepanjang masa") adalah sebuah organisasi yang didirikan di tahun 1950 oleh sekelompok warga Belanda yang tidak bersimpati pada Republik Indonesia. Mereka menyokong pembatasan pengaruh Indonesia atas wilayah seperti Maluku, Papua, dan pulau-pulau lain yang jauh dari Jawa. Mereka secara resmi mendukung pembentukan Republik Maluku Selatan. Ketika TNI diterjunkan ke wilayah Maluku untuk menumpas gerakan separatis ini, Door de Eeuwen Trouw melancarkan kampanye dukungan atas RMS seperti poster-poster di bawah ini.

Lembaran musik dukungan atas RMS
(klik untuk memperbesar | © Ary Halsema / AVS)

Poster yang menggambarkan Ambon terancam kelaparan karena blokade TNI
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Seruan pengumpulan sumbangan untuk Ambon
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1950
Tempat: Pamflet di atas beredar di Belanda, mengacu ke konflik di Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 18 Maret 2013

Pengungsi "Republik Maluku Selatan" tiba di Belanda

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: Mei 1951
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Pengungsi "Republik Maluku Selatan" tiba di Belanda
Fotografer: Cornell Capa
Sumber / Hak cipta: Time Life
Catatan: Mungkin sebagian orang tidak akan menyebut "pengungsi", tetapi "pelarian"?