Tampilkan postingan dengan label rumah tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah tradisional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2026

Tentara Belanda membaca koran "Kompas", 1947 (18 tahun sebelum surat kabar Kompas terbit)

Seorang tentara Belanda tanpa baju membaca koran "Kompas" dengan kepala berita "This is America!", di sebelah sebuah rumah berdinding anyaman bambu 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 8 Februari 1947
Tempat: kemungkinan Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:  Bentuk huruf koran ini mirip dengan harian berbahasa Indonesia yang mulai terbit 18 tahun kemudian, berbeda di posisi kemiringan saja. Di kalangan Katolik Belanda, atau dalam pengaruh Belanda, tampaknya nama "kompas" dan/atau bentuk huruf ini relatif disukai. Lihat misalnya tampilan koran ini, atau berita tentang media ini.

Selasa, 16 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Lukisan kuno tentang rumah tradisional di Tapanuli

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: ?
Tempat terbit: Perancis (?)
Tokoh:
Deskripsi: Gambar ini berasal dari buku harian yang ditulis tangan dalam bahasa Perancis, dengan keterangan "maison des inhabitants de [?], pres de Tapanouli" (rumah penduduk ? dekat Tapanuli)
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Minggu, 14 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Lukisan kuno tentang Pulau Krakatau seabad sebelum letusan dahsyat menenggelamkannya (2)

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: 1788
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Di Februari 1780, kapal HMS Resolution dan HMS Discovery singgah di Pulau Krakatau dalam perjalanan pulang ke Inggris setelah menjelajah dunia di bawah pimpinan James Cook, yang tewas di Hawaii setahun sebelumnya. Di pulau yang mereka sebut "Cocoterra/Cracatoa" ini mereka bisa mendapatkan air tawar untuk perjalanan, dan bahkan sumber air panas. John Webber, salah satu anggota penjelajahan, membuat lukisan tentang penampakan di dalam pulau ini, sesuatu yang jarang, dan kemudian malah tidak mungkin karena letusan besar Gunung Krakatau di 1883 menghancurkan sekitar 2/3 dari pulau ini dan membuatnya tidak bisa dihuni lagi.
Gambar di atas memperlihatkan seorang pria Krakatau di dekat sebuah rumah yang dikelilingi berbagai pepohonan. 
Juru foto/gambar: John Webber
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Senin, 08 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Lukisan kuno tentang bayi dan warga dewasa Dayak

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: sekitar 1839 
Tempat terbit: Leiden (?)
Tokoh:
Deskripsi: Gambar-gambar zaman dulu buatan orang Eropa tentang warga Nusantara jarang sekali menampilkan bayi. Karenanya, lukisan di atas menjadi unik dan merupakan sebuah pengecualian yang jarang ditemukan. Selain itu, lukisan ini juga lumayan mendetail dalam menggambarkan perkakas dan asesoris warga Dayak zaman dulu. Kita lihat a.l. tattoo di sekujur tubuh pria dayak, istrinya (?) yang telanjang dada, sementara budaknya yang menggendong bayi mengenakan pakaian, sesuatu yang di logika masa sekarang kurang masuk akal. Kita saksikan juga penutup kepala kedua perempuan yang bundar dan lebar, sementara si pria cukup memakai ikat kepala. Tidak ketinggalan: mandau, keranjang punggung, bentuk perahu, dan juga rumah panggung warga Dayak.
Juru foto/gambar: H.A. von Henrici / Willem Jan Gordon
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Jumat, 17 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (20)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sungai Kapuas di Sintang, dengan sebuah rakit bergubuk di latar depan, sebuah kapal uap di latar tengah, dan benteng dan gedung pemerintahan Belanda di latar belakang. Lukisan ini memiliki beberapa kemiripan dengan sebuah foto yang terbit sekitar tahun 1880 (lihat posting ini) yang mengindikasikan bahwa Rappard mengambil inspirasi (menjiplak dengan variasi?) dari foto tua ini.
 (klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pendulangan intan tradisional di Kalimantan, kemungkinan di sekitar Banjarmasin. Tampak seorang pria menyerahkan seayak bebatuan ke seorang pria lain, sementara seorang lelaki lain berjalan menuju sungai dengan membawa seayak kerikil. Di sungai, tiga lelaki mencoba memilah batuan intan dari kumpulan tanah dan kerikil.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah lanting, atau rumah terapung di atas rakit, di Sungai Barito. Rumah ini kemungkinan besar milik seorang pemuka warga Banjar. Ini terlihat dari panjangnya rakit, ukuran dan jumlah rumah di atasnya, kemudian dua kelompok pendayung di bagian depan dan belakang, serta tentu saja pemasangan bendera Belanda di tengah-tengahnya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah pemandangan khas Kalimantan: badan air yang besar dan relatif tenang (sungai atau danau), pepohonan yang tumbuh menembus permukaan air, serta gelondong kayu yang mengapung di permukaan air.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 15 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (19)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Kapal uap berbendera Belanda bernama “Zeemeuw”, kemungkinan dalam pelayaran menyusuri pantai barat Sumatera
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di sebuah kampung di Aceh. Seorang ibu tampak mencuci sehelai kain atau pakaian di sungai, sementara anaknya duduk di tepi, kemungkinan sesudah mandi di kali ini. Kali kecil ini memiliki jembatan sederhana dari sebilah papan. Di sebelah kiri tampak sebuah rumoh Aceh sangat sederhana, yang merupakan rumah panggung agak tinggi, terbuat dari kayu, bambu, dan atap sirap, dengan sebuah tangga menuju tempat keluarga berdiam.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pulau Penyengat yang terletak tidak jauh dari Tanjungpinang. Karena lukisan ini lumayan mirip dengan sebuah karya Van de Velde yang terbit sekitar tahun 1844 (lihat posting ini) ada kemungkinan Rappard mengambil inspirasi (menjiplak dengan variasi?) dari karya yang lebuh dulu muncul ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah tungku peleburan timah (di sekitar Bangka?). Tujuh pria bertopi caping (Tionghoa?) tampak bekerja di gedung yang panas ini. Lima orang tampak terlibat langsung di pengolahan biji timah  di dalam tungku, seorang jongkok mengawasi keluaran cairan timah dari tungku, dan seorang lain memindahkan timah cair ini ke cetakan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 05 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (14)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah kampung di Jawa dengan rumah-rumah yang terbuat dari bambu. Seorang ibu tampak berbincang dengan seorang pedagang keliling, sementara tiga anak kecil yang hampir tanpa pakaian bermain tidak jauh dari situ.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah motif tentang Jawa yang tidak sedikit menjadi bahan lukisan: banjir. Air tampak sudah mencapi atap rumah, sehingga sebuah keluarga harus diselamatkan dengan menerobos atap. Proses penyelamatan ini menggunakan perahu atau rakit (dari pohon pisang?) sepeti yang ditampilkan di gambar di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Arak-arakan pengantin dengan adat Betawi, kemungkinan dari kalangan berada karena pengantin pria menunggang kuda, sementara pengantin wanita ditandu oleh empat pria dengan hiasan angsa di atas tandunya, dan sepasang ondel-ondel memimpin rombongan prosesi yang diiringi sekelompok pemusik.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Salah satu sudut pantai Karangbolong di Anyer yang banyak disinggahi burung walet untuk bersarang. Lima pria tampak menuruni tebing pantai dengan menggunakan tangga dan tali untuk mencapai ke sebuah gua yang menjadi tempat kumpulan sarang walet.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah rumah milik kontroleur di Jawa. Kontroleur merupakan jabatan yang sedikit banyak sejajar dengan camat sekarang. Jenjang kontroleur berada di bawah asisten residen, di bawah residen, di bawah gubernur. Berbeda dengan rumah asisten residen yang berpilar tembok, rumah kontroleur di atas ini bertiang kayu dan merupakan rumah panggung, dan kemungkinan tidak sepenuhnya bertembok batu-bata.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 29 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (11)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Seorang wanita Belanda duduk dan membaca di sebuah gazebo di Kebun Raya Bogor, di tepi kolam yang berisi air mancur dan daun teratai
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah pelukis Raden Saleh Syarif Bustaman di kawasan Menteng, Jakarta, yang termasuk sangat mewah dan luas di masanya. Bagian dari kawasan rumah ini sekarang diisi RS Cikini dan Taman Ismail Marzuki.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kebanyakan foto dan gambar Istana Bogor menampilkannya dari depan; lukisan di atas menunjukkan tampak belakangnya yang lebih jarang dipaparkan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Tiga warga Belanda di sebuah Gazebo di sebuah tempat yang agak tinggi di Kebun Raya Bogor. Mereka mengamati pemandangan dengan latar belakang Gunung Pangrango serta aliran sungai dan kali yang kemungkinan berhulu di kaki gunung ini. 
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Lima lelaki bergotong royong membangun rumah yang terbuat dari kayu, bambu, dan sirap. Bentuk rumah serta atapnya menunjukkan kekhasan wilayah ini. Khas pula adanya bendera merah dan sesajen berupa buah-buahan yang dipasang di bagian tinggi atap rumah.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 03 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (5)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Jawa Timur: Pertunjukan tarian di lapangan terbuka di sebuah desa dengan latar belakang Gunung Arjuno
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sumedang: Sebuah pemandangan tentang sebuah kampung di waktu malam. Tampak empat orang mengelilingi sebuah ungun untuk menghangatkan badan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Jawa Timur: Seekor macan tutul minum di sebuah telaga di dekat sebuah sungai yang mengalir deras
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Malang: Aktivitas warga di Wendit yang berkisar di kegiatan air seperti mandi, cuci, atau sekedar bersantai dan bercengkerama. Lokasi ini sekarang menjadi tempat wisata air.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Senin, 01 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (4)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Malang: Sebuah rombongan pembesar, dengan kendaraan utama sebuah kereta yang ditarik empat kuda, dengan kawalan berkuda di depan, samping, dan belakang, tampak melintasi sebuah jembatan dengan latar belakang sebuah gunung berapi
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Arak-arakan dari rombongan pengantin di sebuah desa di kaki Gunung Salak. Pengantin pria menaiki kuda, semantara pengantin wanita kemungkinan diangkut di dalam tandu yang didahului oleh sepasang penari, sinden (?), dan pemain gamelan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Banten: Sebuah perkampungan dengan rumah-rumah tradisional, dengan later belakang pesawahan dan pegunungan berawan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Dua gembala bersama kambing-kambingnya, dan sepasang petani, tampak di area pesawahan, dengan latar belakang perkampungan dan Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Kamis, 28 Agustus 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (2)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Bogor: Rumah besar milik asisten-residen di Citeureup dengan latar belakang pesawahan dan pegunungan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Malang: Pantai di Srigonco, Bantur, dengan bongkahan batu besar baik di latar depan maupun di belakang, sementara beberapa warga tampak bersantai di tepian laut
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Serang: Perahu-perahu yang lalu lalang di Anyer dengan pelabuhannya di latar belakang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kawasan Bromo-Tengger-Semeru: Pemandangan di Bromo dengan banyak orang menaiki kuda dengan mengenakan topi kuning
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Selasa, 26 Agustus 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (1)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Bogor: Seorang petani di Kedungbadak minum dari bekal yang dibawa istrinya, dengan latar belakang air jernih memancar dan Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kaki Gunung Semeru: Sebuah desa di Pasuruan dengan rumah-rumah yang beratap rumbia dan kumpulan warga dalam berbagai aktivitas
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Tuban: Air terjun Nglirip di Singgahan dengan latar depan tiga gembala yang menjaga kawanan kambing yang berkumpul di tepian
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Tegal: Pabrik gula di Pangkah dengan enam cerobong asap, sementara pedati berdatangan membawa tebu yang siap diolah untuk menjadi gula
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Rabu, 02 April 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (11)

Kampung Andai di Manokwari, Papua
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kampung Ayambori di Manokwari, Papua
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Reruntuhan Candi Prambanan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Candi Borobudur
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Sabtu, 29 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (9)

Salah satu sudut kota Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Perempatan Harmoni dengan "lapak" penjahit Perancis ternama di Jakarta ketika itu, Oger Frères, di sebalah kanan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah jalan di Jakarta yang kemungkinan sekarang menjadi Jalan Gajah Mada/Hayam Wuruk
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah kampung di, saat itu pinggiran, Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Minggu, 23 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (6)

Pertunjukan tari ronggeng (?) di bawah pohon beringin dengan disaksikan khalayak ramai di Bogor
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah kampung (di Jawa?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pertunjukan gamelan di sebuah pendopo
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah keluarga dengan dua anak (kemungkinan di Jakarta)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.