Tampilkan postingan dengan label Jembatan Batutulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jembatan Batutulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Agustus 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (29)

Pemandangan dari Hotel Bellevue ke Gunung Salak dengan latar depan jalur kereta dan Sungai Ciliwung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Februari 1935: Sebuah toko buku Kristiani
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jembatan Batutulis dengan latar belakang Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gedung pemerintahan yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gedung yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1935
Tempat: Jawa (a.l. Bogor)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 25 Juni 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (7)

Jakarta, 1885-1895: Foto studio seorang pemuda membelah kelapa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jakarta, 1885-1895: Foto studio seorang pemudi membelah kelapa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1900: Seorang pendatang Arab
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa: Sebuah rumah dengan pendopo besar dan halaman luas
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bogor: Sekitar jembatan Batutulis (di sebelah kiri)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1895, 1900
Tempat: Jawa (a.l. Bogor, Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 03 Mei 2022

Dari sebuah album foto tentang wilayah Priangan di sekitar tahun 1938 (5)

Danau Gunting di Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jembatan Batutulis dengan latar belakang Gunung Salak, Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Panen singkong
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sungai Cisadane dengan latar belakang Gunung Salak, Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1938
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Wijnand Elbert Kerkhoff
Sumber / Hak cipta: Officieele Vereeniging voor Toeristenverkeer / National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 17 November 2020

Dari album foto C.B. Nieuwenhuis tentang Bogor dan Minangkabau: Sekitar Kebun Raya Bogor

PENGANTAR

Christiaan Benjamin Nieuwenhuis termasuk orang yang berjasa mengabadikan banyak wajah Nusantara zaman dulu dan mewariskannya ke dunia sepeninggalnya. Blog ini sudah memuat beberapa foto karya orang Belanda yang wafat di Padang ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Salah satu kumpulan dari foto-foto jepretan dia adalah sebuah album berjilid merah di atas ini, yang berisi 30 foto, 6 di antaranya tentang Bogor dan sisanya mengenai Minangkabau. Blog ini akan menampilkannya di sini.


Paleis te Buitenzorg, kelak Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gazebo di Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Beberapa bocah di Kebun Raya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pepohonan di Kebun Raya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua lelaki berpose di Kebun Raya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jembatan Batutulis
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1890, kecuali foto terakhir sekitar 1900
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C.B. Nieuwenhuis
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto terakhir pernah dimuat di posting ini (dalam skala-abu dan hampir tanpa halaman album).

Rabu, 27 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Jembatan Batutulis (2)

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Jembatan bambu di atas Sungai Cisadane di Batutulis, Bogor, termasuk objek yang banyak muncul di kartu-kartu pos zaman dulu. Tampaknya orang Belanda terkesan oleh pemakaian bambu di konstruksi melengkung atau jembatan busur. Foto-foto berikut ini akan memperlihatkan jembatan ini di berbagai era.

Sekitar 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1910 (versi 1)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1910 (versi 2)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1920
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1930
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1905, 1910, 1920, 1930
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:


UPDATE 11 Juni 2020: Tambahan foto

Sekitar tahun 1900
(klik untuk memperbesar | © C. Nieuwenhuis / NGA)

(klik untuk memperbesar | © George Lewis / NGA)

Senin, 25 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Jembatan Batutulis (1)

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Jembatan bambu di atas Sungai Cisadane di Batutulis, Bogor, termasuk objek yang banyak muncul di kartu-kartu pos zaman dulu. Tampaknya orang Belanda terkesan oleh pemakaian bambu di konstruksi melengkung atau jembatan busur. Foto-foto berikut ini akan memperlihatkan jembatan ini di berbagai era.

Sekitar 1867
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1890
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1900
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1900
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Antara 1901 dan 1902
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1902
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1867, 1890, 1900, 1902
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Foto nomor 4 pernah dimuat di posting sebelum ini.


UPDATE 11 Juni 2020

Foto nomor 2 dari sumber lain:

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Jumat, 01 Juni 2018

Berbagai jenis jembatan bambu di zaman Belanda

1930: Model sederhana, jembatan gantung (dan goyang) tanpa pegangan yang kokoh
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1900, aliran Cisadane di Batutulis (Bogor): Jembatan melengkung dengan tumpuan di bentangan (dan sambungan) bambu di antara dua tepian sungai
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1893 Cipait/Citarum, Karawang: Konstruksi yang lebih rumit dengan menggabungkan bentangan dan lengkungan, dilengkapi dengan atap bertingkat
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1905 Cikampek: Penyelesaian jembatan bambu yang rumit bisa membanggakan. Pembukaan dan peresmiannya menjadi kesempatan buat warga Belanda mengadakan pesta, di atas jembatannya.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Perayaan yang sama, difoto dari luar. Wedana wilayah Cikampek berdiri dipayungi sebelah kanan; isterinya berkebaya di tengah, di sebelah insinyur Belanda, B.M. Biljdenstein. Di latar belakang tampak kerumunan warga di tepi seberang sungai.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1893, 1900, 1905, 1930
Tempat: Jawa Barat (a.l. Bogor, Cikampek, dan Karawang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: