Tampilkan postingan dengan label pendeta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendeta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (4)

Pempatan (Karangasem): Pos dan barak militer Belanda di Pempatan dengan deretan kaleng amunisi (?), serta yang tidak jelas tampak: gudang bahan bakar serta stasiun komunikasi radio
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Di sebuiah desa di bagian barat Bali, warga mengadakan tontonan pembakaran mata uang Jepang sebagai perlambang munculnya kembali Belanda untuk menggantikan Jepang. Tidak jelas apakah lelaki yang diikat dan dibawa ke atas peti hanya sandiwara belaka atau pendukung Republik yang "dihukum".
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antosari (Tabanan): Sebuah halte bus yang dihancurkan oleh para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga sebuah desa yang dikumpulkan dalam usaha Belanda untuk menggalang dukungan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dengan bantuan pemuka agama setempat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 25 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (2)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang pendeta Tionghoa di sebuah kelenteng di Jakarta. Berdasarkan gambar di atas pendeta ini , kemungkinan seorang perempuan dan penganut Taoisme. Dia memakai jubah abu-abu dengan mantel merah-hitam yang berisi berbagai ornamen. Tangannya memegang sebuah lonceng perangkat ritual keagamaan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini lumayan menyajikan komposisi yang disajikan oleh karya Hardouin
(klik untuk memperbesar)
Seorang bupati di Jawa yang diiringi seorang punakawan. Bupati ini mengenakan blangkon batik, pakaian kebesaran dengan banyak ornamen keemasan, keris yang dipasang di pinggang belakang, kain batik yang berurai hingga ke bawah lutut, serta celana yang panjang hingga ke bawah sepatu. Sang punakawan yang berbadan kerdil membawa payung kehormatan dari kertas, mengenakan blangkon, baju kebesaran, serta sarung selutut, tanpa alas kaki.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini cukup menyajikan gambaran yang realistis, kecuali celana dan sepatu bupati yang ditampilkan seperti zaman sekarang, dan bukan model stirrup pants yang menutupi sebagian sepatu.
(klik untuk memperbesar)
  
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 30 Desember 2024

Timor setelah Jepang kalah perang dan Belanda bersama Sekutu kembali datang, 1945 (3)

Warga Kupang bersama beberapa aparat NICA dari kalangan lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rombongan warga mendatangi seorang Belanda dengan seragam militer
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga sekitar Kefamenanu, Timor Tengah Utara, berdiri mengerubungi seorang pastor Belanda bernama C. Martens yang duduk di meja
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Timor bersama seorang aparat NICA bernama Snelleman
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Timor bersama seorang kolonel NICA bernama C.C. de Rooy
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto nomor 2 di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Edisi lain dari foto nomor 3 di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar September 1945
Tempat: Timor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 26 Mei 2023

Dari koleksi studio foto Onnes Kurkdjian tentang Bali (1)

Denpasar, 1913: Seorang prajurit KNIL di dekat beberapa patung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kintamani, 1913: Seorang punggawa bersama istrinya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1910: Seorang gadis penari Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1930: Seorang gadis penari Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920-an: Seorang pendeta
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1910, 1913, 1920-an, 1930
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Thilly Weissenborn ketika masih bergabung dengan studio Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto #1 pernah dimuat sebelumnya di posting ini dan ini; foto #2 di sini dan sini; foto #5 di sini.

Rabu, 25 Juli 2018

Manusia di Jawa dan sekitarnya dalam lukisan warna Ernest Hardouin: pendatang

PENGANTAR

Foto-foto hitam-putih dari zaman dulu tidak mengabarkan warna sebenarnya di balik skala abu-abu yang ditampilkan. Warna langit, daun, atau rumput tentu mudah ditebak; tetapi warna pakaian tidak semudah itu untuk diterka. Untung ada gambar warna-warni dari para pelukis zaman dulu. Tentu saja selalu ada kemungkinan bahwa si pelukis menampilkan warna pilihan dia yang berbeda dari yang sebenarnya, tapi paling tidak gambar seperti ini bisa memberikan bayangan tentang seperti apa zaman kelihatannya.

Salah satu pelukis itu adalah Ernest Hardouin yang mewariskan beberapa gambar dari sekitar tahun 1850-an. Hardouin tampak sudah menggambarkan proporsi manusia di Nusantara yang mendekati kenyataan, alias pendek; tidak seperti pelukis Eropa sebelumnya yang cenderung menampilkan manusia Nusantara jangkung seperti orang Eropa. Namun Hardouin kelihatannya menggambarkan orang di Jawa sehat-sehat atau cukup gizi; tidak kurus, ceking, atau tidak berisi. Boleh jadi Hardouin ingin menampilkan manusia yang estetis; bagaimanapun juga badan kurus kerontang bukanlah hal yang indah dipandang.

Selamat menikmati lukisan Hardouin!

Saudagar Arab
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pendeta Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pemain "kong a hian"
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Serdadu dari Afrika
Catatan: Belanda mengerahkan tentara seperti ini untuk melawan Pangeran Diponegoro dan para prajuritnya.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Orang Eropa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1850-an
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 18 April 2016

Gadis dan perempuan Bali zaman dulu dalam pelbagai aktifitas (3)

Mengusung sesajen, 1938
(klik untuk memperbesar |
© Alphons Louis Marie Antoine Hubert Hustinx /  fotomuseum)
Mengusung sesajen
(klik untuk memperbesar |
© Alphons Louis Marie Antoine Hubert Hustinx /  fotomuseum)
Pedanda isteri mencipratkan air keramat
(klik untuk memperbesar | © Last / fotomuseum)
Membidik dengan kamera, 1935
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1935 (bawah), 1938 (atas)
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Alphons Louis Marie Antoine Hubert Hustinx (dua foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Nederlands Fotomuseum / Spaarnestad Photo
Catatan:

Jumat, 18 Maret 2016

Jumat, 17 April 2015

Wajah pendeta Hindu Tengger di tahun 1880

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1880
Tempat: dataran tinggi Tengger
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:  Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:


UPDATE 11 Juni 2020: Foto yang sama dalam ukuran yang lebih besar

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Senin, 20 Mei 2013

Pedanda istri (pendeta wanita) di Bali, awal abad ke-20

(klik untuk memperbesar)
Waktu: akhir abad ke-19 / awal abad ke-20
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Gründler
Sumber / Hak cipta:
Catatan: Diambil dari buku "Natuur en Menschen in Indië" karya Augusta de Wit terbitan tahun 1914. Buku ini bisa dibaca/diundah dari Internet Archive.