Tampilkan postingan dengan label mesjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mesjid. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang pemandangan di sekitar sebuah sungai di Surabaya

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1835
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Perancis
Tokoh:
Deskripsi: Lukisan di atas memperlihatkan sebuah sungai (Kali Mas?) di Surabaya dengan beberapa elemen: pepohonan bambu, perahu yang menunjukkan bahwa sungai ini digunakan sebagai jalur transportasi, kemungkinan sebuah kakus yang boleh jadi terlalu berada di tengah, dan atap sebuah mesjid di antara pepohonan.
Juru foto/gambar: Sigismond Himely
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Jumat, 26 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang mesjid di Jepara dengan arsitektur unik

Versi 1
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Versi 2
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1708
Tahun peristiwa: abad ke-17
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas menyebut Jepara sebagai Iapare dan mesjid sebagai tempel; serta Muslim sebagai Moren, sebuah julukan yang digunakan orang Eropa terhadap umat Islam, sebuah kata yang kelak terkait dengan nama Maroko, Mauritania, Mauritius, serta Bangsa Moro di Mindanao. Lukisan ini kemungkinan menunjukkan Masjid Mantingan, yang didirikan di tahun 1559. Tampilan mesjid di lukisan ini bisa dipastikan berlebihan dan tidak sesuai aslinya. Tetapi, kita bisa melihat esensi arsitektur mesjid di Jawa, terutama di pesisir utara, saat itu yang memang banyak dipengaruhi oleh gaya Tionghoa dan Hindu-Jawa. Komponen Islaminya biasanya baru terlihat di ornamen di dinding atau dalam mesjid.
Juru foto/gambar: Wouter Schouten
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Arsip blog ini memiliki foto mesjid di Aceh dari abad ke-19 yang sedikit banyak memiliki struktur yang mirip (lihat posting ini dan ini).

Kamis, 23 April 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang sekelompok pria Aceh dan mesjid yang dibentengi

Mesjid di Aceh yang diberi tembok pertahanan sekeliling (atas); enam pria Aceh termasuk satu anak-anak (bawah)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1874
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: 's Hage Wed. E. Spanier & Zn.
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Sabtu, 04 April 2026

Dari koleksi foto seorang warga Sekolah Guru B di Sambas di tahun 1956 (1)

Rangkaian foto berikut hanya memiliki sedikit catatan. Tetapi foto bisa teridentifikasi bahwa pemilik kumpulan foto ini merupakan warga dari Sekolah Guru B di Sambas di tahun 1956, kemungkinan salah satu tenaga pengajar.


Latihan senam untuk para siswa SGB, yang menurut catatan foto dipimpin oleh orang bernama "M. Moestam"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bioskop di Sambas yang sedang menayangkan film berjudul Ratapan Ibu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kedatangan inspektur pendidikan guru dari Banjarmasin ke SGB Sambas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Masjid Jami Sultan Muhammad Syafiudin yang merupakan warisan dari Kesultanan Sambas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1956
Tempat: Sambas
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 01 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (12)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di kawasan Puncak, yang sekarang menjadi Istana Cipanas, dengan latar belakang Gunung Pangrango di kejauhan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah pertunjukan perburuan rusa di kawasan sekitar Bogor yang disaksikan warga Belanda (?) dari sebuah saung, serta masyarakat di kejauhan. Dua rusa tampak dikepung oleh empat pemburu lokal berkuda bertopi, dua di antaranya menghunuskan senjata tajam
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah Asisten Residen Sumedang yang dibangun dengan gaya khas kolonial di masanya, yaitu dengan pilar-pilar bundar yang menopang atap luas bergenting, tembok putih, serta deretan pintu bercelah yang diwarnai hijau, dan tentunya bendera Belanda. Asisten Residen Sumedang saat itu melapor ke Residen Priangan yang berdiam di Bandung.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua perwira KNIL mengunjungi Talaga Bodas di Garut, seorang di antaranya dipayungi opas lokal yang mengindikasikan tingginya pangkat yang bersangkutan. Dua warga lokal lain tampak di sebelah kanan, kemungkinan bertanggung jawab atas akomodasi atau konsumsi perjalanan perwira ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Masjid Agung Banten, Serang, yang selesai dibangun di tahun 1566 dan ditambahi menara di sekitar tahun 1632. Mesjid ini menunjukkan banyak perpaduan budaya: atap yang khas Pulau Jawa, sebagian tembok yang meminjam gaya Eropa, serta menara yang dipengaruhi arsitektur Tionghoa.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 21 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (5)

Sebuah mesjid di Ambon dengan atap rumbia dan konstruksi berbasis kayu
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah rumah warga Belanda/Eropa di Ternate dengan dua wanita membawa kipas di halamannya
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Senjata dan perabotan warga Papua
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Bangunan keramat warga Teluk Doreh di Manokwari
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Rabu, 19 Februari 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (4a - Banten)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Masjid Agung Banten, Serang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kapal-kapal layar yang memenuhi Selat Sunda
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sekelompok nelayan menarik jaring ikan di Anyer
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


UPDATE 22 Juni 2026: Edisi lain dari lukisan nomor 3, dari khazanah Bartele Gallery
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Sabtu, 06 Mei 2023

Minangkabau di akhir abad ke-19 dalam jepretan Christiaan Benjamin Nieuwenhuis (6)

Christiaan Benjamin Nieuwenhuis adalah seorang prajurit KNIL menjelang akhir abad ke-19 yang kemudian beralih profesi menjadi juru foto. Awalnya di Batavia, Nieuwenhuis kemudian menekuni dunia fotografi ini di Padang hingga akhir hayatnya. Foto-foto berikut berasal dari sebuah koleksi atau seri yang khusus menampilkan hasil jepretan dari Minangkabau. Beberapa di antaranya sudah pernah ditampilkan di blog ini, beberapa lainnya baru kali ini. Selamat menikmati!
Air terjun di Lembah Anai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang wanita Belanda berkebaya dan payung ditemani dua warga lokal di Air Putih
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Koto Gadang di bawah pohon beringin
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Mesjid di Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: akhir abad ke-19 (atau sekitar 1900)
Tempat: Minangkabau
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Christiaan Benjamin Nieuwenhuis
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Edisi lain dari foto nomor 1 pernah dimuat di posting ini; nomor 2 di posting ini; nomor 3 di posting ini; nomor 4 di posting ini.

Jumat, 24 Februari 2023

Propaganda Jepang dalam bentuk kisah dengan lukisan (1)

Ketika Jepang menyerah, pihak Belanda menyita banyak material propaganda dalam bentuk lukisan bercerita yang tampaknya bertujuan menggalang dukungan masyarakat Indonesia terhadap kekuasaan Jepang. Beberapa lukisan berisi hal yang sama, dan hasil akhirnya sangat mirip, atau hanya memiliki sedikit variasi. Ini menunjukkan bahwa lembaran-lembaran propaganda ini tidak dicetak, melainkan benar-benar digambar dan diwarnai satu per satu dengan tangan. Blog ini akan menampilkan beberapa dari lukisan ini.


Anak-anak mengelu-elukan pemuda Indonesia yang berlatih kemiliteran untuk Jepang. Di latar belakang tampak perumahan dan sebuah mesjid.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak, tampaknya di halaman sekolah, ikut latihan berbaris di bawah pimpinan seorang pemuda dalam pakaian milisi Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para pemuda Indonesia dalam gemblengan militer Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Halaman awal sebuah kisah dengan judul Berkoerban dengan pelukis (?) bernama M.B. Loebis
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Halaman awal dari kisah lain dengan judul Menangkap serdadoe moesoeh
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: masa pendudukan Jepang
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 22 Oktober 2022

Dari album foto lain keluaran Topografische Dienst van Nederlands-Indië semasa Perang Aceh (1), 1874-1878

PENGANTAR

Di posting sebelum ini, blog ini menampilkan 30 foto dari album yang dikeluarkan oleh Topografische Dienst van Nederlands-Indië (Jawatan Topografi Hindia-Belanda) di tahun 1870-an, yang memperlihatkan situasi di Aceh pada saat itu yang masih diselimuti oleh suasana Perang Aceh. Ke-30 foto tersebut berasal dari tweede serie (seri kedua) dengan judul dertig gezigten (tiga puluh wajah); seri pertama dengan judul vierendertig gezigten (tiga puluh empat wajah), yang memang berisi 34 foto, akan ditampilkan di rangkaian berikut ini.


1874: Pasukan Belanda menaiki Gunongan (kiri) dan membuat benteng karung ke arah makam Sultan Iskandar Thani (kanan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Dua meriam kaliber 12 cm
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Para petinggi Belanda di geladak kapal Prins Alexander
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Sebuah mesjid di Gampong Jawa, Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Para perwira dan prajurit dari Brigade III, yang juga berisi wajah-wajah pribumi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1874, 1878
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Topografische Dienst van Nederlands-Indië
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 23 Agustus 2022

Aceh, Minangkabau, dan Priangan di tahun 1880-an dalam koleksi foto Woodbury and Page (5)

Kemungkinan kompleks perumahan perwira Belanda di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tampak dalam sebuah benteng Belanda di Aceh dengan barak tentara dan meriam
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Monumen Kohler, jenderal Belanda yang tewas di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan kawasan pemukiman warga Belanda di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah mesjid di Lambaro, Aceh, yang diduduki Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1880-an
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury and Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Edisi lain dari foto nomor 5 pernah dimuat di posting ini.

Sabtu, 25 Juni 2022

Berbagai rumah tradisional dan mesjid di tahun 1930-an

1937: Perumahan warga Tengger
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pinggiran Batavia: Perumahan warga Tionghoa (kiri) yang tampaknya berhadapan dengan perumahan warga lokal (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1936: Bagian belakang sebuah pecinan di Jakarta (Jatinegara?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1937: Sebuah kampung di Salatiga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah mesjid di Jawa yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Mesjid Raya Medan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1930-an (a.l. 1936, 1937)
Tempat: Jakarta, Medan, Salatiga, Tengger
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 19 April 2022

Demak di sekitar tahun 1898 dalam album foto "Javasche Landschappen" (4)

Kampung Moro (?) di Gemulak (Sayung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Anak-anak mandi bersama kerbau di jalur Gemulak menuju arah Semarang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga menyusuri sungai dengan perahu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah mesjid di Sayung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Kalikondang dengan ternak ayam dan kambing
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1898
Tempat: Demak
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: