Tampilkan postingan dengan label Kutai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (3)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Perkampungan Dayak Long Wai dengan rumah panggung, babi piaraan, serta perahu
(klik untuk memperbesar)
Kemungkinan salah satu sudut Tenggarong, ibu kota Kesultanan Kutai, dengan rumah panggung di atas air dan perahu sebagai sarana transportasi utama
(klik untuk memperbesar)
Atas: Keraton Sultan Kutai; bawah: sebuah kompleks kuburan di tepi sungai yang dikawal seorang penjaga bersenjata lembing
sebuah (klik untuk memperbesar)
Seorang pria Dayak dalam pakaian perang lengkap dengan jubah dari kulit macan tutul
(klik untuk memperbesar)
Patung-patung dan hasil kerajinan tangan suku Dayak
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

UPDATE 14 Juli 2026: Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Selasa, 03 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (1)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Rute penjelajahan Carl Bock dalam garis merah yang yang menyambungkan Banjarmasin dan Samarinda. Carl Bock menuliskan kawasan yang dihuni suku Dayak, suku Melayu, dan wilayah yang tak berpenghuni atau dipenuhi belantara. Carl Bock juga menunjukkan area yang merupakan daerah yang hanya dihuni Dayak Punan.
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemuda Dayak membawa mandau
(klik untuk memperbesar)
1 dan 2: Dua pemuda Dayak yang mengiringi Carl Bock dalam penjelajahannya. 3: Gaya rambut seorang pria Dayak dari Long Blehh.
(klik untuk memperbesar)
Seorang pria Dayak dari Long Wahau, dengan hiasan di kuping, leher, tangan, betis, dan tentu saja mandau
(klik untuk memperbesar)
Para bangsawan Kesultanan Kutai. Carl Bock mencantumkan nama-namanya. Sultan Kutai saat itu adalah Aji Muhammad Sulaiman. Dua orang dengan tutup kepala tanpa umbul-umbul, dan tanpa nama, kemungkinan adalah abdi dalem.
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Senin, 19 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (26)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


124. Klinik lapangan kesatuan KNIL di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
126. Pakubuwono IX dan Residen W. de Vogel
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
127. Sultan Hamengkubuwono VII
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
129. Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman beserta para isteri dan selirnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
130. Seorang bangsawan Gianyar beserta pengiringnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
133. Sekolah pribumi di Pakan Kamis, Tilatang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jawa, Surakarta, Yogyakarta, Kutai, Gianyar, Tilatang (Agam)
Tokoh: Aji Muhammad Sulaiman (Sultan Kutai ke-18), Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakarta), Pakubuwono IX (Susuhunan Surakarta)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. #126 pernah dimuat di posting ini, no. 127 di posting ini dan ini, no. 129 di posting ini, serta no. 130 di posting ini.

Sabtu, 17 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (25)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


115. Bongkar muat rotan di Sungai Musi, Palembang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
116. Arena pacuan kuda di Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
117. Pertunjukan wayang kulit pada saat sekaten di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
118. Penari topeng di Kesultanan Kutai
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
121. Pemain sandiwara Tionghoa di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
122. Pernikahan dua pasang warga Abung, Lampung
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Palembang, Bukittinggi, Yogyakarta, Kutai, Jawa Timur, Lampung
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 118 pernah dimuat di posting ini.

Kamis, 05 Maret 2020

Kesultanan Kutai di akhir abad ke-19 (2)

Ratu Kutai beserta para pengiringnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1875
Tempat: Kutai
Tokoh:
Peristiwa: Ratu Kutai beserta para pengiringnya di sekitar tahun 1875
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 15 Oktober 2014

Kesultanan Kutai di akhir abad ke-19 (1)

Sultan Aji Muhammad Sulaiman beserta para isteri dan selirnya.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kelompok gamelan dan tarian Kesultanan Kutai.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Kutai
Tokoh: Aji Muhammad Sulaiman (Sultan Kutai ke-18)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: