Tampilkan postingan dengan label Kemayoran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemayoran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2026

Empat tentara Australia di landasan pacu Kemayoran, 1948

Empat tentara Australia di depan sebuah pesawat militer Australia. Di latar belakang tampak sebuah pesawat militer berbendera Belanda.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1948
Tempat: Kemayoran (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 24 Oktober 2025

PM Belanda, Louis Joseph Maria Beel, di Indonesia 1947/1948 (1)

Jakarta, 1948: Louis Beel (kanan) berbicara dengan perwakilan warga bagian timur Nusantara di sebuah acara di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka. Kedua dari kiri berkumis kemungkinan adalah Don J. Thomas Ximenes da Silva dari Sikka (Flores), sementara di sebelah kirinya, berkacamata dan berjas terang, adalah Cokorda Gde Raka Sukawati dari Bali.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, November 1948: Louis Beel (kiri) berbicara dengan Wakil PM Belanda, Willem Drees (kanan) menjelang penyelenggaraan perundingan Renville
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemayoran, 7 Mei 1947: Menteri Penerangan Mohammad Natsir (kiri), menyambut kedatangan Menteri Urusan Jajahan Belanda, Jan Jonkman (membelakangi), dengan disaksikan oleh Van Mook (bertopi) dan Louis Beel (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947, 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh:Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 02 Oktober 2025

Seorang anggota Komisi Jasa-jasa Baik PBB asal India yang akan mengawasi perundingan Renville, 1947/1948

Komisi Tiga Negara atau Ketua Komisi Jasa-jasa Baik merupakan sebuah kelompok kerja yang dibentuk PBB untuk menengahi pertikaian Belanda dan Indonesia di masa perang kemerdekaan. Komisi ini berisi perwakilan dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. Komisi ini menengahi Belanda dan Indonesia di dalam perundingan Renville. Kemudian komisi ini juga berisi perwakilan militer dari banyak negara yang bertugas mengawasi pelaksanaan hasil perjanjian Renville.

Catatan Belanda menyebutkan bahwa foto-foto di bawah ini merupakan gambar dari anggota komisi yang berasal dari India. Tokoh yang sayangnya belum teridentifikasi namanya ini, akan muncul seri foto tentang perundingan Renville yang akan ditayangkan setelah ini.

Tokoh India yang akan mengawasi perundingan Renville tiba di Kemayoran dengan dibawa oleh pesawat militer dari Angkatan Udara AS
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kedatangan di Kemayoran disusul dengan penyalaan rokok, sementara seorang prajurit AU AS berbincang dengan seorang berpakaian sipil daimati oleh seorang yang mengenakan seragam KNIL, dengan latar belakang a.l. sebuah jip militer berpelat "B"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu aktivitas tokoh India di Jakarta ini adalah mengunjungi sebuah toko tekstil
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan Desember 1947
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 10 November 2024

Para pejabat Uni Belanda-Indonesia, 1950 (2)

Prof. L.J.C. Beaufort bersama Kusumah Atmaja
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Melawan arah jalur jam dari pojok kanan: M.J.C. Reyers, Wirjono Prodjodikoro, M.J. Prinsen, A.A. Maramis, J. Donner, Kusumah Atmaja, L.J.C. Beaufort, Schuurman, Kusomo Utoyo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1950
Tempat: Sebuah kafe di bandara Kemayoran, Jakarta
Tokoh: Delegasi Indonesia terdiri dari a.l. Alexander Andries Maramis, Kusumo Utoyo (utusan Kementrian Luar Negeri), Kusumah Atmaja (Ketua Delegasi), Subekti (Pengadilan Arbitrase UBI), dan Wirjono Prodjodikoro. Pihak Belanda diwakili oleh a.l. A.J. Prinsen, J. Donner (Wakil Ketua Delegasi), L.J.C. Beaufort (Pengadilan Arbitrase UBI), M.J.C. Reyers (Pengadilan Arbitrase UBI), serta Schuurman (Komisi Tinggi Belanda di Indonesia)
Peristiwa: Republik Indonesia pernah menjadi negara bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS), dan RIS pernah menjadi negara serikat dari Uni Belanda-Indonesia (UBI). UBI merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar, semacam persemakmuran yang beranggotakan Kerajaan Belanda dan mantan serta masih tanah jajahannya. Foto di atas memperlihatkan kedatangan delegasi UBI dari Belanda ke Jakarta yang disambut rekanannya dari Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini dengan para tokoh yang sama.

Rabu, 06 November 2024

Van Mook di Jakarta, Agustus/September 1946

25 Agustus 1946: Van Mook (bertolak pinggang) bersama Jenderal Mansergh (tengah) menyambut kedatangan diplomat Inggris Lord Killearn yang akan menjadi salah satu penengah dalam perundingan Linggajati
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
25 Agustus 1946: Van Mook berbincang bersama Lord Killearn dengan disaksikan Jenderal Mansergh, kemungkinan di landasan Kemayoran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
September 1946: Van Mook duduk di samping mantan PM Belanda Willem Schermerhorn yang sedang berbicara, kemungkinan di sebuah acara terkait perundingan Linggajati. Di depan tampak sebuah papan nama dari kertas bertuliskan "Mr. Soetan Sjahrir". Kelak 20 tahun kemudian ketika Soetan Sjahrir wafat di luar negeri setelah "diasingkan" oleh Soekarno, Schermerhorn menjadi salah satu pelayat yang memberikan hormat kepada jenazah Sjahrir ketika disemayamkan di Belanda.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: Agustus/September 1946
Tempat: Jakarta
Tokoh: 

Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edisi lain dari foto pertama pernah dimuat di posting ini.

Senin, 04 November 2024

Kedatangan kembali Van Mook ke Jakarta setelah konsultasi di Belanda dan Inggris mengenai nasib Indonesia, 8 Mei 1946

Van Mook turun dari pesawat yang membawanya ke Kemayoran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Van Mook disalami oleh Mr. Blom yang menyambutnya bersama Jenderal Spoor (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jenderal Mansergh (kiri) dan Komodor Udara Cecil Alfred Stevens (tengah) dari militer Inggris menyambut Van Mook di landasan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Van Mook (paling kiri) berbincang bersama para petinggi sipil Belanda: Count van Bijlandt, Mr. Blom, dan Baron van Asbeck
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 8 Mei 1946
Tempat: bandara Kemayoran, Jakarta
Tokoh: Peristiwa: Aspirasi kemerdekaan rakyat Indonesia beserta adu diplomasi dan pertikaian bersenjata yang menyertainya, yang juga melibatkan militer Inggris, membuat Van Mook harus terbang ke Belanda dan Inggris untuk berkonsultasi. Kedatangannya kembali ke Jakarta setelah konsultasi di Eropa disambut oleh para petinggi Belanda dan perwira tinggi militer Inggris yang saat itu masih ditugaskan Sekutu untuk memegang kendali keamanan di Jawa.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 25 Maret 2024

Nasib pasukan Jepang setelah kalah perang (8): jadi kuli pelabuhan dan bandara

Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
7 Desember 1946: Kemayoran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Jakarta (Kemayoran dan Tanjung Priuk)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat posting ini yang terkait dengan foto terakhir.

Jumat, 01 Juli 2022

Kecelakaan pesawat yang menewaskan Panglima KNIL, Letjen Berenschot, dan pemakamannya, 1941 (1)

Gerardus Johannes Berenschot adalah sosok yang menarik untuk diberi banyak catatan. Pertama, dia adalah seorang perwira cemerlang yang dalam usia 52 tahun sudah menjadi panglima KNIL dengan pangkat letnan jenderal. Kedua, di antara semua perwira tinggi Belanda saat itu, dia satu-satunya yang berdarah indo atau campuran. Ketiga, ketika Jepang sedang berekspansi ke mana-mana dan Hindia-Belanda harus mengantisipasi serbuan para tentara Dai Nippon ini, pesawat yang membawa Berenschot jatuh di kawasan Kemayoran dan menewaskan semua penumpangnya, termasuk pria kelahiran Solok ini. Hindia-Belanda kehilangan seorang jenderal yang handal. Pengganti Berenschot, Jenderal Hein ter Poorten, kemudian tercatat di buku sejarah sebagai panglima KNIL yang menyerah tanpa syarat kepada militer Jepang di Kalijati.

Puing pesawat yang membawa Letjen Berenschot …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… setelah Panglima KNIL ini bertemu dengan Panglima AU Inggris di Timur Jauh, Marsekal Robert Brooke-Popham
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 13 Oktober 1941
Tempat: Kemayoran (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 16 Desember 2019

Para pejabat Uni Belanda-Indonesia, 1950 (1)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1950
Tempat: lapangan terbang Kemayoran, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Uni Belanda-Indonesia (UBI) merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar, di mana Belanda dan Indonesia sepakat membentuk semacam persemakmuran yang beranggotakan Kerajaan Belanda beserta mantan dan masih tanah jajahannya. Foto di atas memperlihatkan kedatangan delegasi UBI dari Belanda ke Jakarta yang disambut rekanannya dari Indonesia.
Dari kiri ke kanan:
* Kusumo Utoyo (utusan Kementrian Luar Negeri)
* Subekti (Pengadilan Arbitrase UBI)
* M.J.C. Reyers (Pengadilan Arbitrase UBI)
* L.J.C. Beaufort (Pengadilan Arbitrase UBI)
* J. Donner (Wakil Ketua Delegasi Belanda)
* A.J. Prinsen (anggota delegasi Belanda)
* Schuurman (Komisi Tinggi Belanda di Indonesia)
* Kusumah Atmaja (Ketua Delegasi Indonesia)
* Alexander Andries Maramis (anggota delegasi Indonesia)
* Wirjono Prodjodikoro (anggota delegasi Indonesia)
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 28 Juli 2019

Wilopo dan Ida Anak Agung Gde Agung di tahun 1948

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Kemayoran (?)
Tokoh: Wilopo (Menteri Muda Perburuhan; kelak perdana menteri dari Kabinet Wilopo; berjalan paling depan berpeci), Ida Anak Agung Gde Agung (perwakilan Negara Indonesia Timur; keempat dari kanan, berdasi dan memegang topi)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 22 Juli 2019

Sultan Hamid II dan istrinya, Didi van Delden, di tahun 1946/1947

Kemayoran, 16 November 1947: Didi van Delden (kiri) dan Sultan Hamid II (kanan) setelah mendarat di Jakarta.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Didi van Delden (berbaju putih) dan Sultan Hamid II (paling kanan) mengapit Mayjen Van Oyen di area Keraton Kadariah, Pontianak
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 16 November 1947 (foto atas); ~1946 (foto bawah)
Tempat: Kemayoran, Jakarta (foto atas); Pontianak (foto bawah)
Tokoh: Sultan Hamid II (Sultan Pontianak); Didi van Delden (istri Sultan Hamid II); Mayor Jenderal Ludolph Hendrik van Oyen (Panglima KNIL 1942-1946)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

UPDATE 3 Agustus 2024:
Foto kedua berasal dari acara kunjungan Panglima KNIL, Mayjen Ludolph Hendrik van Oyen, ke Keraton Kadariah di Pontianak, kemungkinan di tahun 1946. Van Oyen disambut oleh Sultan Hamid II dan istrinya, Didi van Delden. Tambahan foto dari peristiwa ini akan dimuat di posting tanggal 6 dan 8 Desember 2024.

Rabu, 11 Oktober 2017

Nasib pasukan Jepang setelah kalah perang (7): jadi pekerja bandara

Kemayoran 19 November 1945: Tentara Jepang berbaris, kemungkinan untuk dipekerjakan di landasan peaswat
(klik untuk memperbesar | © Willem van de Poll / gahetna)
Kemayoran 1946: Tentara Jepang (dari luar Jakarta?) turun dari pesawat militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © Willem van de Poll / gahetna)
Kemayoran, 2 Januari 1946: Pasukan Jepang menggali landasan
(klik untuk memperbesar | © PIX (New York) / gahetna)
Kemayoran 1947: Tentara Jepang membongkar barang-barang artis Cilli Wang yang akan mengadakan tur pertunjukan di wilayah Indonesia
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1945, 1946, 1947
Tempat: Kemayoran (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 09 Oktober 2017

Nasib pasukan Jepang setelah kalah perang (6): jadi kuli bandara

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 7 Desember 1946
Tempat: Kemayoran (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 07 Oktober 2017

Nasib pasukan Jepang setelah kalah perang (5): jadi kuli bandara

Paket Johnnie Walker
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 7 Desember 1946
Tempat: Kemayoran (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 04 Juni 2017

Kedatangan para pembesar Belanda ke Indonesia semasa perang kemerdekaan, 1947-1948

Kemayoran 14 September 1946: Wim Schermerhorn (berdasi) dan van Mook (berkaca mata)
(klik untuk memperbesar | © ANP)
Kemayoran 14 September 1946 (d.ki.k.ka.): Max van Poll, F. de Boer, van Mook, Wim Schermerhorn
(klik untuk memperbesar | © ANP)
Kemayoran 14 September 1946: Max van Poll (berdasi belakang), Wim Schermerhorn (berdasi depan)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kemayoran 14 September 1946 (d.ki.k.ka.): Max van Poll, van Mook, Wim Schermerhorn, F. de Boer
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Jakarta 7 Mei 1947 (d.ki.k.ka.): Jonkman, van Mook, Wim Schermerhorn, Max van Poll, Louis Beel. Pria berpeci di latar belakang adalah Muhammad Natsir.
(klik untuk memperbesar | © ANP)
Kemayoran 1 November 1948: Louis Beel dan van Mook
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1947, 1948
Tempat: Kemayoran (Jakarta)
Tokoh:

  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • F. de Boer (politisi liberal Belanda)
  • Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan)
  • Louis Joseph Maria Beel (Perdana Menteri Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politikus Belanda, anggota delegasi Belanda di dalam perundingan Linggarjati)
  • Muhammad Natsir (Menteri Penerangan) 
  • Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)

  • Peristiwa:
    Fotografer: Hugo Wilmar
    Sumber / Hak cipta: ANP / Spaarnestad Photo
    Catatan:


    UPDATE 9 Oktober 2021
    Foto nomor 2 dalam saat pemotretan yang sedikit berbeda:
    (klik untuk memperbesar | © AVS)