Tampilkan postingan dengan label Danau Tondano. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Danau Tondano. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2024

Warga di sekitar Danau Tondano setelah Perang Dunia II usai, 1945/1946

Gunung Soputan dilihat dari tepian Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perahu nelayan di dermaga-dermaga di tepi Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga mandi dan mencuci baju di Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945/1946
Tempat: Danau Tondano (Minahasa)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 22 Mei 2024

Suasana di Minahasa setelah Jepang kalah perang, 1945 (3)

Seorang bapak dan anak (Belanda?) di tepi sebuah telaga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bapak dan anak yang sama di sebuah lahan perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kawasan pemukiman yang tampak terawat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kapal berbendera Amerika dengan banyak pria berseragam kelasi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kapal berbendera Belanda dengan penumpang mengenakan seragam militer Australia dan KNIL
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang petani di antara tanaman padi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Minahasa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 20 Mei 2024

Suasana di Minahasa setelah Jepang kalah perang, 1945 (2)

Suasana di tepi Danau Tondano dengan sisa-sisa kerusakan akibat perang tampak di sebelah kanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tepian Danau Tondano (?) dengan bangunan-bangunan yang rusak parah akibat perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang gadis memandang ke pesawahan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga perempuan dan dua bocah di pesawahan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kelenteng yang masih utuh berdiri, sementara bangunan sebelahnya sudah kehilangan atap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang wanita di tepi sebuah telaga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Minahasa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 18 Mei 2024

Suasana di Minahasa setelah Jepang kalah perang, 1945 (1)

Papan petunjuk arah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Danau Tondano (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Nelayan di Danau Tondano dengan latar belakang gedung yang beratap rusak peninggalan perang (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah keluarga nelayan di tepi Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sungai yang berasal dari Danau Tondano (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Keramaian di jalan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Minahasa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 01 Oktober 2021

Foto-foto dari "Album van Java" tentang Jawa-Maluku-Sulawesi menjelang akhir abad ke-19 (6)

PENGANTAR

Walter Bentley Woodbury dan James Page adalah dua orang Inggris yang menjadi salah dua perintis dunia fotografi profesional di Hindia-Belanda. Studio foto yang mereka dirikan di Batavia menjadi teladan bagi fotografer lain untuk mendirikan hal yang sama di Padang, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain di Nusantara. Blog ini sudah menampilkan banyak karya keluaran dari studio ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Di sekitar tahun 1890 studio ini mengeluarkan album dengan judul Album van Java, yang sejatinya juga berisi foto-foto dari Maluku dan Sulawesi juga. Ada kemungkinan pemesan album ini memang aktif atau pernah berkunjung ke wilayah-wilayah ini. Album ini berisi 42 foto, yang 40 di antaranya akan ditampilkan di sini sesuai nomor urut; 2 lainnya tidak tersedia di koleksi yang dipublikasikan oleh National Gallery of Australia ini. Tiap foto memiliki catatan tulisan tangan sehingga memudahkan kita untuk mengidentifikasi objek foto.


30. Warga Minahasa (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
31. Danau Tondano di Minahasa (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
32. Surabaya, kemungkinan di area pelabuhan (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
33. Salah satu pojok Surabaya (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
34. Seorang pria Makassar di depan pohon tua
(klik untuk memperbesar | © NGA)
35. Sungai Cidani/Cisadane (1868)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1868
Tempat (d.a.k.b.): Minahasa (2x), Surabaya (2x), Makassar, Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 20 Juli 2021

Empat lukisan pemandangan Nusantara di buku "De Indische Archipel" keluaran C.W. Mieling 1865

Gembala kerbau di Jawa, karya Frans Lebret
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Danau Tondano di Minahasa, karya Louis de Stuers
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Berburu harimau di Priangan, karya Raden Saleh
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Ngarai Sianok di Bukittinggi, karya Charles Deeleman
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1865 (lukisan-lukisannya tentunya dibuat sebelum buku diterbitkan)
Tempat: Jawa, Minahasa, Jawa Barat, Bukittinggi
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Frans Lebret | Louis de Stuers | Raden Saleh | Charles Deeleman
Sumber / Hak cipta: C.W. Mieling / Atlas Van Stolk
Catatan: