Tampilkan postingan dengan label 1931. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1931. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2024

Tiga potret bangsawan Jawa: Hamengkubuwono VIII, Bupati Pemalang, Bupati Trenggalek

Hamengkubuwono VIII, kemungkinan di tahun 1920-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1931: Bupati Pemalang, RAA Sudoro Suroadikusumo dan istri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bupati Trenggalek, dalam pakaian kebesaran dengan cincin dan koleksi uang logam, kemungkinan di awal 1930-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1920-an, 1930-an, 1931
Tempat: Pemalang, Trenggalek, Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono VIII (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 13 Juni 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (1)

1931: Raja Karangasem, I Gusti Agung Bagus Jelantik, kermungkinan bersama istri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1930: Raja Kasunanan Surakarta, Pakubuwono X, bersama Ratu Hemas (?) dan salah satu putri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1875: Sebuah pengerjaan penguatan (tanggul sungai?) di Batang-Serangan, Langkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
3 Agustus 1934: Para pangeran Keraton Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920: Lima gadis Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1875, 1920, 1930, 1931, 1934
Tempat: Bali (a.l. Karangasem), Batang-Serangan (Langkat), Surakarta, Yogyakarta
Tokoh: I Gusti Agung Bagus Jelantik (Raja Karangasem), Pakubuwono X (Raja Kasunanan Surakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Edisi lain dari foto no. 1 pernah dimuat di posting ini.

Jumat, 23 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (2)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Keluarga Keraton Kanoman di tahun 1931: Samsoedin memperlihatkan ayahnya (Sultan Anom?), ibunya, dan saudara-saudaranya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Acara ulang tahun keponakan Samsoedin, anak dari Mochtar, yang bernama Otje
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang menunjukkan Samsoedin bersama teman-teman sekolahnya di MULO-C, saat lebaran 1931, serta bersama mobil dan anjing herder di 1933
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perjalanan Samsoedin bersama ayah, ibu, dan saudara a.l. ke Surabaya, Mojokerto, dan Pantai Popoh di Tulungagung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perjalanan Samsoedin bersama ayah, ibu, dan saudara mengunjungi Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon, serta acara sekaten di Solo dan Yogyakarta, di samping Pasar Gede dan Sriwedari, Solo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Keluarga Samsoedin di Jakarta; di bagian atas ada tiga foto yang lepas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Cirebon, Jakarta, Magelang, Mojokerto, Semarang, Solo, Tulungagung, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 21 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (1)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.

Jilid album foto
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman awal foto yang memperlihatkan nama Samsoedin, foto dia (sebelah kanan di foto atas-bawah, dan sebelah kiri di foto kiri-kanan) bersama Mochtar, kakaknya, serta keterangan nama tempat dan waktu Surabaya, Kanoman, Bandung, 1928 dan 1933
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto ayah Samsoedin (Sultan Anom?) di Singapura tahun 1931, ibunya, Samsoedin sedang pusing belajar, serta ayahnya meninjau sebuah sungai di Cirebon. Ada satu foto tentang Cicalengka yang lepas.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Lembaran dengan foto keluarga, Bupati Lamongan bersama seorang pembesar Belanda, dan kegiatan Samsoedin di sekolah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sultan Anom (?) dan istri di Borobudur, serta keluarga dari Mochtar yang akan sering muncul di album ini
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Keponakan-keponakan Samsoedin, salah satunya adalah anak Mochtar bernama Oetje yang akan sering muncul di album ini lintas beberapa tahun
(klik untuk memperbesar | © NGA)


Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Cirebon, Lamongan, Magelang, Singapura
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 27 Juni 2022

Rumah kusta Lau Simomo di tahun 1931 dan beberapa fasilitas kesehatan lainnya pada masa Hindia-Belanda

1931: Rumah perawatan bagi penderita kusta yang didirikan Belanda di Lau Simomo (Kabanjahe, Karo)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Deli, 1931: Sebelumnya para penderita kusta diasingkan di rumah atau gubuk seperti ini
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Klinik yang didirikan Belanda di Leksula (Pulau Buru) bagi masyarakat dan juga pesakitang yang ditahan di sana
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Rumah sakit Santo Carolus di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Deli: Posyandu untuk ibu dan anak dari pekerja perkebunan tembakau asal Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sebelum 1942 (a.l. 1931)
Tempat: Deli, Kabanjahe, Pulau Buru, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 13 Januari 2021

Poster dan gambar tentang pameran budaya Nusantara di berbagai ajang eksebisi, 1873-1951

Paviliun Hindia-Belanda di Pameran Dunia di Wina, Austria, 1873
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster pameran kolonial di Semarang, 1914
(klik untuk memperbesar | © Albert Hahn sr. / AVS)

Poster pameran budaya Hindia Barat dan Timur di Arnheim, Belanda, 1928
(klik untuk memperbesar | © Nicolaas de Koo / AVS)

Rumah batak di Pameran Kolonial Internasional di Paris, Perancis, 1931
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster pameran budaya Antilles, Indonesia, dan Suriname di Haarlem, Belanda, 1950/1951
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1873, 1914, 1928, 1931, 1951
Tempat: Arnheim dan Haarlem, Paris (Perancis), Semarang, Wina (Austria)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Albert Hahn sr. (nomor 2) | Nicolaas de Koo (nomor 3)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 14 Desember 2020

Halaman muka "De Notenkraker" yang kritis atas situasi penjajahan di Hindia-Belanda, 1927-1935

De Notenkraker adalah media mingguan yang dekat dengan Partai Buruh Sosial-Demokrat Belanda, SDAP. Sebagai bagian dari spektrum politik kiri tidak mengherankan jika media ini kritis atas sepak terjang politik kaum kanan, termasuk dalam kaitannya dengan penjajahan. Tiga edisi di bawah ini memperlihatkan karikatur halaman muka karya Albert Hahn dengan tema Hindia-Belanda.

25 Juni 1927
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Nona Belanda, yang biasanya digambarkan terhormat sebagai dewi Romawi, atau polos sebagai gadis desa Belanda, kali ini terlihat tua, dengan helm kerajaan, pedang berdarah, dan kalung salib. Dia mencoba mencari-cari apa yang dia bisa dapat dari Indonesia. Teks di bagian bawah berbunyi "Mencari pembenaran atas kesalahan sendiri".

10 Januari 1931
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kali ini Albert Hahn menggambarkan pria Indonesia yang diikat, disekap mulutnya, di sebuah ruangan gelap berjeruji; sementara latar belakang menunjukkan pengerukan sumber daya alam. Ini adalah reaksi De Notenkraker atas vonis yang dijatuhkan kepada para pimpinan PNI. Teks di bagian bawah bertanya "Atas dasar hukum apa!".

18 Mei 1935
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kali ini Albert Hahn menggambarkan Henri van Kol berbicara dengan pria Indonesia. Van Kol adalah pendukung SDAP, tetapi dia memiliki aktivitas bisnis terselubung di Hindia-Belanda yang membuat kalangan kiri mempertanyakan posisi dia. Di karikatur ini, yang terbit 10 tahun setelah Van Kol meninggal karena terjatuh saat turun dari mobil, Van Kol berkata: "Ya, ya, saudara coklatku. Kami tidak mendudukimu, tapi mengelabuimu."

Waktu: 1927, 1931, 1935
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke situasi di Hindia-Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Albert Pieter Hahn
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 04 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1931-1947

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Ini mungkin karikatur terawal yang menampilkan Soekarno. Gambar ini dimuat di harian De Notenkraker terbitan 1 Augustus 1931. Setahun sebelumnya Soekarno mengeluarkan pledoi "Indonesia menggugat" yang ditulisnya di penjara. Menteri Urusan Jajahan, Simon de Graaff, menyangkal adanya tahanan politik, dan dikutip menyebut "Kami tidak memiliki tahanan politik, hanya keadilan yang kokoh tertanam di sanubari."

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Harian Metro terbitan 26 Oktober 1945 menampilkan karikatur Soekarno di halaman depan dengan judul "Soekarno membebaskan Hindia[-Belanda]". Soekarno digambarkan mencoba membebaskan seorang perempuan terikat, perlambang Hindia-Belanda ("Mbok Indonesia"), dengan langsung menebang pohonnya, bukan membuka tali pengikatnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur terbitan 16 November 1946 menampilkan pertandingan bola, antara Soekarno, bersama Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir, di satu tim, melawan tim politisi Belanda a.l. yang terdiri dari Schermerhorn, van Mook, van Roijen (?), van Verduynen, dan Lampson. Yang menjadi objek tendang dan permainan adalah mahkota Kerajaan Belanda.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur keluaran 5 Juli 1947 ini menampilkan bagaimana Soekarno dan van Mook, yang sedang berdebat tentang (Perjanjian) Linggarjati, kaget ketika Amerika Serikat, dilambangkan dengan Paman Sam, datang bergabung dengan berkata "Hello boys! Aku datang untuk menengahi."

Waktu: 1931, 1945, 1946, 1947
Tempat:
Tokoh: Soekarno (pejuang kemerdekaan, kemudian Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Wybo Meyer, Marten Toonder, Eppo Doeve, Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 23 Oktober 2019

Tarian Jawa dalam buku cetak zaman dulu

(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Tari Bedhaya, 1931
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Tarian Pregiwa & Pregiwati, 1931
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Tarian Srikandi & Larasati, 1931
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)

Waktu: 1931
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Selasa, 23 Juli 2019

Beberapa bangsawan Bali zaman dulu

Sekitar 1820: Raja Buleleng dan istri
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Sekitar 1927: Dua bangsawan muda membawa keris
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Sekitar 1931: I Gusti Agung Bagus Jelantik
(klik untuk memperbesar | © National Gallery of Australia)
Gusti Ngurah Jelantik (?)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1820, 1927, 1931
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia | Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Senin, 22 April 2019

Ketika gendong masih menjadi sarana transportasi manusia, 1931

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1931
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Foto yang memperlihatkan metode gendong untuk transportasi manusia zaman dulu di Indonesia, relatif langka. Yang lebih banyak terlihat itu tandu jika harus menggunakan tenaga manusia.

Senin, 28 Januari 2019

Berbagai jam penunjuk jadwal kereta api di stasiun Gambir, 1931

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1931
Tempat: Stasiun kereta Koningsplein (sekarang Gambir), Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Lima jam yang menunjukkan waktu berbeda-beda, kemungkinan sebagai pemberitahuan jadwal kereta jurusan Meester Cornelis (Jatinegara), Buitenzorg (Bogor), Bandung, Cirebon, dan rute Jakarta sendiri.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 20 Mei 2018

Budi daya kina di Jawa Barat pada awal abad ke-20

1907
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1923
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Cinyiruan, 1931
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1907, 1923, 1931
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: