Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (4)

Pempatan (Karangasem): Pos dan barak militer Belanda di Pempatan dengan deretan kaleng amunisi (?), serta yang tidak jelas tampak: gudang bahan bakar serta stasiun komunikasi radio
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Di sebuiah desa di bagian barat Bali, warga mengadakan tontonan pembakaran mata uang Jepang sebagai perlambang munculnya kembali Belanda untuk menggantikan Jepang. Tidak jelas apakah lelaki yang diikat dan dibawa ke atas peti hanya sandiwara belaka atau pendukung Republik yang "dihukum".
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antosari (Tabanan): Sebuah halte bus yang dihancurkan oleh para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga sebuah desa yang dikumpulkan dalam usaha Belanda untuk menggalang dukungan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dengan bantuan pemuka agama setempat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 11 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (3)

Belanda, bersama raja yang pro-Belanda, mengumpulkan warga desa untuk menggalang dukungan atas kekuasan Belanda di Bali
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebelum foto ini dibuat, para pejuang kemerdekaan meledakkan sebuah jembatan. Belanda menyebut aksi ini sebagai "terorisme". Pasukan Belanda mendatangkan truk militer ke lokasi kejadian untuk membuat bendungan darurat untuk mengatur arus air sungai.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Di sebelah kanan tampak jembatan yang rusak diledakkan para pejuang kemerdekaan. Belanda mendatangkan sebuah bulldozer untuk membersihkan sisa dan dampak ledakan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pihak Belanda, bersama raja yang pro-Belanda, di latar belakang mengamati warga desa dalam sembahyang bersama dalam acara penggalangan dukungan atas Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antosari (Tabanan): Belanda mendirikan sebuah pos dan markas militer di Antosari yang sebelumnya merupakan salah satu pusat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:


UPDATE 28 Juli 2026: Edisi lain dari foto nomor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Selasa, 09 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (2)

Sangsit (Buleleng): Belanda menyokong warga lokal dalam pembentukan kesatuan "Anti Pemberontak" untuk menghadapi pejuang kemerdekaan. Dikabarkan kesatuan ini memiliki salam seperti terlihat di foto dengan teriakan "Bersatu!".
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Negara (Jembrana?): Komandan militer Belanda di Negara mengumpulkan warga lokal untuk menentang para pendukung Republik Indonesia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pempatan (Karangasem): Sekitar 50 pejuang, dengan dua senjata mesin, menyerang pos Belanda di Pempatan. Belanda berhasil menghalau, merebut sebuah senapan mesin, dan menangkap beberapa pejuang yang di foto di atas tampak duduk (terikat?) di beranda rumah. Esoknya Belanda membagi-bagikan beras kepada penduduk Pempatan yang mendukung Belanda.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Bali yang dikumpulkan Belanda dalam menggalang dukungan untuk menghadapi para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pupuan (Tabanan): Militer Belanda datang ke Pupuan dan menghalau para pejuang kemerdekaan. Warga Pupuan yang pro Belanda menyambut kedatangan pasukan Belanda dengan mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Oktober 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 07 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (1)

Pulukan (Jembrana): Pasukan Belanda menyita senjata dan amunisi yang digunakan para pejuang Bali, yang a.l. berupa mitraliur peninggalan Jepang serta granat dan mortir peninggalan Inggris
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kesatuan Belanda mendarat di pesisir Bali setelah dikapalkan dari Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kesatuan Belanda mendirikan pos pengawasan di pinggiran sebuah kawasan perairan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perawatan kesehatan untuk pasukan Blanda di sebuah klinik militer
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pempatan (Karangasem): Belanda mencoba menarik simpati warga Bali dengan mendirikan sebuah poliklinik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: (Oktober) 1946
Tempat: Bali (a.l. Jembrana, Karangasem)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 30 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang seorang budak wanita di Bali

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: abad ke-18 
Tempat terbit: Belanda 
Tokoh:
Deskripsi: Ini adalah gambaran tentang seorang budak perempuan di Bali di sekitar akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18. Lukisan ini sejalan dengan gambar lain yang menunjukkan bahwa budak perempuan bisa berpakaian lebih tertutup daripada tuannya.
Juru foto/gambar: Cornelis de Bruijn
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Minggu, 21 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (23)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Waar de bevolking bevrijd is en er weer Recht en Veiligheid is. De opening van het vliegveld ging gepaard met een slamatan voor allen die er aan hadden gewerkt. Bevolking en hooge gasten o.a. de Radja van Djemebrana genieten van de dansen.
  • Terjemahan:Di mana penduduk dibebaskan [dari kekuasaan Republik] di situlah keadilan dan keamanan kembali ditegakkan. Pembukaan landasan pacu [di Jembrana, Bali] diiringi dengan acara kemeriahan untuk semua yang telah terlibat dalam pengerjaannya. Warga dan tamu-tamu terhormat, termasuk Raja Jembrana, menikmati suguhan tarian.
  • Bahasan: Di sini penulis propaganda ingin menunjukkan bahwa warga Jembrana merasa terbebas setelah Belanda datang dan lebih memilih untuk bekerja sama dengan Belanda.
  • Catatan:
Waktu: kemungkinan 1946
Tempat: Jembrana (Bali)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 15 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (20)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Kemiskinan ada dari dulu hingga sekarang, termasuk di masa penjajahan Belanda, dan kemudian dikabarkan meningkat tajam di masa pendudukan Jepang. Proklamasi kemerdekaan juga tidak menyulap kemiskinan menjadi sirna; perang kemerdekaan malah makin mempersulit pelaksanaan pengentasan kemiskinan karena prioritas para pihak berada di memenangkan konflik. Banyak foto yang menunjukkan kemiskinan semasa perang kemerdekaan: orang yang berpakaian compang-camping, berbadan kurus kering, luntang-lantung, dan warga yang senang mendapatkan makanan atau layanan kesehatan yang dibagikan pihak Belanda. Ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia sangat menderita; dan bahwa Belanda datang untuk mengubah suasana ini ke yang jauh lebih baik.
  • Teks asli penyerta foto:De bevrijding van Bali door Nederlandse troepen
  • Terjemahan:Pembebasan Bali [dari kekuasaan Republik Indonesia] oleh pasukan Belanda
  • Catatan: Lihat juga kumpulan foto yang menampilkan kemiskinan di masa lalu.
Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 23 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (9)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Di tahun 1940-an, bahkan hingga ke masa tidak terlalu lama sebelum sekarang, masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di pedesaan dan tempat terpencil, tidak sering menikmati hiburan. Tidak ada radio, bioskop, televisi, apalagi telepon genggam dan internet. Ketika ada rombongan orang kulit putih melintas dengan kendaraan militer, bagi banyak masyarakat itu adalah semacam tontonan yang harus dilihat meskipun harus berjalan kaki jauh ke untuk sampai ke tepi jalan. Karena pada dasarnya mereka murah senyum, rombongan ini disambut meriah pula; apalagi jika rombongan ini membagi-bagikan makanan atau barang yang belum pernah mereka lihat. Momen seperti ini banyak diabadikan juru foto Belanda; dan ada pihak yang menambahkan narasi bahwa masyarakat Indonesia menyambut meriah dan gembira kedatangan pihak Belanda, seolah-olah ini sama dengan gembiranya orang Eropa mengelu-elukan kedatangan pasukan Amerika yang mengusir tentara Nazi Jerman dari tempat mereka.
  • Teks asli penyerta foto:Bevrijde Indonesiërs op Bali.
  • Terjemahan:Warga Indonesia yang dibebaskan [Belanda] di Bali.
  • Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.
Waktu: kemungkinan 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 21 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (8)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Di tahun 1940-an, bahkan hingga ke masa tidak terlalu lama sebelum sekarang, masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di pedesaan dan tempat terpencil, tidak sering menikmati hiburan. Tidak ada radio, bioskop, televisi, apalagi telepon genggam dan internet. Ketika ada rombongan orang kulit putih melintas dengan kendaraan militer, bagi banyak masyarakat itu adalah semacam tontonan yang harus dilihat meskipun harus berjalan kaki jauh ke untuk sampai ke tepi jalan. Karena pada dasarnya mereka murah senyum, rombongan ini disambut meriah pula; apalagi jika rombongan ini membagi-bagikan makanan atau barang yang belum pernah mereka lihat. Momen seperti ini banyak diabadikan juru foto Belanda; dan ada pihak yang menambahkan narasi bahwa masyarakat Indonesia menyambut meriah dan gembira kedatangan pihak Belanda, seolah-olah ini sama dengan gembiranya orang Eropa mengelu-elukan kedatangan pasukan Amerika yang mengusir tentara Nazi Jerman dari tempat mereka.
  • Teks asli penyerta foto: met een geladenheid, die de bevolking eigen is, wacht iedereen rustig zijn beurt af. Bali. Distributie Amacal..
  • Terjemahan: Dengan ketenangan khas penduduk [setempat], semua orang dengan tenang menunggu giliran [mendapatkan bantuan]. Bali. Distribusi Amacal.
  • Catatan:
Waktu: kemungkinan besar 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 19 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (7)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Di tahun 1940-an, bahkan hingga ke masa tidak terlalu lama sebelum sekarang, masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di pedesaan dan tempat terpencil, tidak sering menikmati hiburan. Tidak ada radio, bioskop, televisi, apalagi telepon genggam dan internet. Ketika ada rombongan orang kulit putih melintas dengan kendaraan militer, bagi banyak masyarakat itu adalah semacam tontonan yang harus dilihat meskipun harus berjalan kaki jauh ke untuk sampai ke tepi jalan. Karena pada dasarnya mereka murah senyum, rombongan ini disambut meriah pula; apalagi jika rombongan ini membagi-bagikan makanan atau barang yang belum pernah mereka lihat. Momen seperti ini banyak diabadikan juru foto Belanda; dan ada pihak yang menambahkan narasi bahwa masyarakat Indonesia menyambut meriah dan gembira kedatangan pihak Belanda, seolah-olah ini sama dengan gembiranya orang Eropa mengelu-elukan kedatangan pasukan Amerika yang mengusir tentara Nazi Jerman dari tempat mereka.
  • Teks asli penyerta foto:wanneer het Rode Kruis team naar elders vertrekt wordt het steeds door de bevolking nagewuifd.. Bali 1946.
  • Terjemahan:Setiap kali tim Palang Merah [Belanda] berangkat ke lokasi lain, penduduk setempat selalu melambaikan tangan. Bali, 1946.
  • Catatan: 
Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 12 Agustus 2025

Kumpulan beberapa ilustrasi zaman dulu tentang Nusantara (6)

Pulau Banda dan Neira, beserta Gunung Api serta Benteng Nassau, dilihat dari laut
[1724, Amsterdam, François Valentijn]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Hewan-hewan di Jawa menurut sebuah naskah berbahasa Latin yang terbit di Jerman: badak, buaya (!), gajah, kura-kura
[1595-1600, Frankfurt]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dari naskah yang sama tentang kepercayaan warga Bali yang mengagungkan kasta Brahmana, dan adanya kelompok yang pantang makan daging dan ikan, serta kelompok yang jika suami meninggal maka istrinya ikut dikuburkan hidup-hidup (di gambar tetapi dibakar)
[1595-1600, Frankfurt]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1595, 1724
Tempat terbit: Amsterdam, Frankfurt
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: a.l. François Valentijn
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 22 Januari 2025

Lukisan karya Willem Gerard Hofker tentang wanita dan pria Bali (4)

1938: Sebuah pura
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1938: Seorang wanita Bali mengusung sesajen di sebuah pura di Badung
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1948: Seorang pendeta dan wanita Bali dengan anting tradisional di sebuah pura
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1948: Seorang wanita Bali jongkok di depan sebuah pura
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1938, 1948
Tempat: Bali
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Willem Gerard Hofker
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Edisi lain dari lukisan nomor 4 pernah dimuat di sini.

Senin, 20 Januari 2025

Lukisan karya Willem Gerard Hofker tentang wanita dan pria Bali (3)

1936: Seorang lelaki Bali di dekat kurungan ayam sabung
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1938: Penari Legong
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1938: Dua wanita Bali mengusung sesajen
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1948: Tiga wanita Bali
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari lukisan di atas
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1936, 1938, 1948
Tempat: Bali
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Willem Gerard Hofker
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 18 Januari 2025

Lukisan karya Willem Gerard Hofker tentang wanita dan pria Bali (2)

1948: Penari Bali
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
~1946: Seorang perempuan Bali di desa
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
~1946: Seorang perempuan Bali duduk
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
~1946: Seorang perempuan Bali dengan hiasan bunga di kepala
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1946, 1948
Tempat: Bali
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Willem Gerard Hofker
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lukisan pertama kemudian muncul di kalender 1948 yang pernah dimuat di posting ini.


UPDATE: Edisi lain dari dua foto di atas.
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Kamis, 16 Januari 2025

Lukisan karya Willem Gerard Hofker tentang wanita dan pria Bali (1)

Tanpa tahun: Ni Kenyung
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
~1947: Ni Wiriah di saat hamil
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
~1947: Persiapan mekiis/melasti
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
~1947: Penari
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: ~1947
Tempat: Bali
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Willem Gerard Hofker
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Edisi lain dari lukisan nomor 2 pernah dimuat di posting ini.

Rabu, 25 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (3)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Pengadilan desa di Jawa, pewarnaan dari foto yang pernah dimuat di posting ini
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum pria di Nusantara: 1. pemuka warga Sumatera bagian utara, 2. pria Aceh, 3. warga Padang, 4. warga Minangkabau, 5. tetua warga Pasemah, 6. pria Nias dalam pakaian perang, 7. kuli angkut di kalangan warga Dayak, 8. pemuka warga Timor, 9. pria Arafura dalam pakaian perang, 10. lelaki Bali, 11. pria Papua
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum wanita di Nusantara: 1. pengantin Jawa, 2. perempuan Jawa, 3. wanita Pasundan, 4. perempuan Madura, 5. warga Payakumbuh, 6. warga Minangkabau dari kawasan Gunung Merapi, 7. perempuan Payakumbuh, 8. wanita Singgalang, 9. pemuka warga Nias, 10. budak dari Batak, 11. anak perempuan dari seorang raja Batak, 12. wanita Bali, 13. perempuan Dayak
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: