Tampilkan postingan dengan label KNIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KNIL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2026

Persiapan Belanda di Australia untuk merebut kembali Indonesia: Defile pasukan KNIL gabungan kulit putih dan coklat (6)

Di penghujung 1944 dan awal 1945, ketika Jerman makin terdesak di Eropa, dan Jepang makin terpukul di kawasan Asia-Pasifik, Belanda makin menggiatkan usaha-usaha untuk merebut kembali Hindia-Belanda. Usaha-usaha ini terpusat di Australia, yang secara geografis dekat dengan Indonesia, dan secara politis dan militer berada bersama Belanda di pihak yang melawan negara-negara Poros. Seri berikut akan mencoba menampilkan dokumentasi foto tentang aktivitas Belanda di wilayah Australia ini.


Barisan KNIL dengan bayonet panjang terhunus
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Oktober 1945
Tempat: Melbourne (Australia)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat bagian lain dari defile ini yang dimulai di posting ini.

Senin, 15 Juni 2026

Kendaraan artileri KNIL di wilayah Kedu

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan di tahun 1930-an
Tempat: wilayah Kedu
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 30 Mei 2026

Penampilan KNIL Darat sebelum Perang Dunia II (3)

16 Desember 1939: Pasukan KNIL menyusuri Kali Sunter
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang serdadu KNIL berlatih menggunakan senapan mesin
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1 Maret 1927: Kesatuan zeni KNIL memasang lampu sorot yang a.l. bisa digunakan untuk "membidik" potensi serangan udara atau musuh yang mencoba menyerbu dari laut ke pesisir
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
28 Juli 1936: Jenderal Bakker (paling depan berkuda) memeriksa kesiapan Batalion Mobil X di tempat yang kelak menjadi Lapangan Banteng, dengan latar belakang Gereja Katedral
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1927, 1936, 1939
Tempat: a.l. Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 28 Mei 2026

Penampilan KNIL Darat sebelum Perang Dunia II (2)

11 Desember 1937: Satu truk penuh serdadu KNIL memasuki kawasan pelabuhan Ambon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kesatuan KNIL berlatih menggunakan senapan mesin
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Parade pasukan KNIL dengan kesatuan pemain musik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
24 Juni 1939: Markas Batalion Infantri XII
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1937, 1939
Tempat: a.l. Ambon
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 26 Mei 2026

Penampilan KNIL Darat sebelum Perang Dunia II (1)

22 Januari 1927: Para opsir Batalion XX di tangsi mereka di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
11 Desember 1937: Kesatuan KNIL menangkap dan menggiring para "pemberontak" di Seram Barat (di Kamal, Kairatu Barat?). Catatan foto memakai istilah de deelnemers aan het verzet (pelaku perlawanan) tanpa memberi rincian lebih lanjut tentang perlawanan yang dilakukan warga Maluku ini.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
2 Juli 1938: KNIL mencoba pemakaian alat komunikasi militer yang mereka kembangkan sendiri. Alat ini beratnya sekitar 25 kg, masih bisa diangkut dengan punggung, dan memiliki jangkauan kirim-terima signal sekitar 10 km.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kesatuan artileri KNIL berpose dengan meriam mereka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1927, 1937, 1938
Tempat: a.l. Jakarta, Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 24 Mei 2026

Pesawat amfibi dan pesawat pembom KNIL sebelum Perang Dunia II

6 Juli 1929: Dua pesawat amfibi mendarat, tepatnya melaut, di perairan Sabang di Pulau Weh
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
3 Desember 1938: Pesawat pembom buatan Glenn Martin (Dutch Martin model 166)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1929, 1938
Tempat: a.l. Sabang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 22 Mei 2026

Kekuatan KNIL Laut sebelum Perang Dunia II (3)

Kesatuan Marinir di geladak sebuah kapal perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Siluet kapal penjelajah Hr. Ms. Java di perairan Makassar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan 1936: Kapal perang Sumatra (depan) dan Soemba (belakang) serta beberapa kapal selam menyambut kedatangan Laksamana Madya Hendrikus Ferwerda yang diangkat menjadi Panglima Angkatan Laut Hindia-Belanda. Foto diambil di perairan Tanjung Priuk yang saat itu masih bisa menyingkap Gunung Salak (kanan) dan Gunung Gede (kiri) di latar belakang.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1936
Tempat: a.l. Makassar, Tanjung Priuk (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 20 Mei 2026

Kekuatan KNIL Laut sebelum Perang Dunia II (2)

30 Juni 1939: Manuver armada kapal perang KNIL di perairan Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal perang Soemba mengaktifkan meriam perangnya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kapal selam dengan kamuflase dedaunan untuk mengelabui musuh. Metode ini berhasil digunakan oleh kapal penyapu ranjau Hr. Ms. Abraham Crijnssen untuk terlepas dari kejaran Jepang dan akhirnya berhasil menyelamatkan diri ke Australia (lihat posting ini).
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1939
Tempat: a.l. Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 18 Mei 2026

Kekuatan KNIL Laut sebelum Perang Dunia II (1)

Latihan awak meriam kapal perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Oktober 1937: Armada kapal perang KNIL di perairan Ambon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
30 Januari 1926: Buritan kapal penjelajah Hr. Ms. Java penyok setelah tabrakan di perairan Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1926, 1937
Tempat: a.l. Ambon, Tanjung Priuk (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 12 Mei 2026

Latihan militer KNIL di sekitar Tanjung Priuk, 1934 (2)

Panglima KNIL Letnan Jenderal Koster (berkacamata), didampingi ajudannya dan beberapa anggota Volksraad (a.l. Van Baalen di latar depan), mengamati jalannya latihan militer yang mensimulasikan adanya pendaratan musuh di pesisir Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Simulasi penyerbuan musuh dengan menggunakan perahu pendarat yang dihadapi KNIL dengan penembakan cahaya yang menerangi langit dan kawasan pesisir
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kumpulan foto latihan yang memperlihatkan satuan komunikasi (kanan atas), artileri (kiri bawah), lampu sorot (kanan bawah), serta bagaimana latihan ini menjadi tontonan bagi warga sekitar (kiri atas)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 22 September 1934
Tempat: sekitar Tanjung Priuk, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 10 Mei 2026

Latihan militer KNIL di sekitar Tanjung Priuk, 1934 (1)

Penembakan cahaya magnesium ke langit yang kemudian turun perlahan dengan parasut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Latihan kesiagaan menghadapi serbuan musuh dari arah laut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Penembakan lampu sorot yang sangat terang ke arah bagian pantai yang menjadi potensi tempat serangan dari arah laut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 22 September 1934
Tempat: sekitar Tanjung Priuk, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 08 Mei 2026

Gubernur Jenderal Hindia-Belanda terakhir, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer: Dalam Koninginnedag terakhir sebelum invasi Jepang, 1941 (3)

Koninginnedag (sekarang Koningsdag) merupakan hari nasional besar bagi warga Belanda. Pada hari itu warga Belanda di negerinya, dan di wilayah jajahannya, merayakan hari ulang tahun Sang Ratu (sekarang Raja). Tahun 1941 merupakan saat terakhir di mana Hindia-Belanda merayakan hari besar ini di bawah pimpinan Gubernur Jenderal. Tidak sampai lima bulan kemudian, pasukan Jepang menyerang dan kemudian menduduki Hindia-Belanda.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1941 (hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-61)
Tempat: Jakarta, tepatnya di area yang sekarang menjadi Istana Merdeka
Tokoh: Conrad Emil Lambert Helfrich (depan kanan; Panglima KNIL Laut, terkenal karena prestasi armada kapal selamnya dalam menenggelamkan kapal-kapal Jepang, kelak menjadi penentang sengit kemerdekaan Indonesia); Jonkheer Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (bersetelan serba putih; Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1936-1942); Letnan Jenderal Gerardus Johannes Berenschot (depan kiri; Panglima KNIL) 
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 27 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (26)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Evacuatie onder Nica-bescherming. West-Java.
  • Terjemahan: Evakuasi di bawah perlindungan NICA. Jawa Barat.
  • Bahasan: Dari foto-foto tentang masyarakat sipil di Jawa yang melakukan evakuasi di masa perang, ada semacam keseragaman bagaimana mereka membawa barang-barang mereka: kaum lelaki membawa pikulan, sementara kaum perempuan membawa bundelan kain yang diselempangkan ke pinggang atau ditempatkan ke punggung. Umumnya mereka berpakaian seadanya dan tanpa alas kaki. Foto di atas lebih memperlihatkan tiga lelaki yang tampaknya membawa karung berisi hasil bumi, serta seorang perempuang yang tidak membawa apa-apa dan malah mengenakan pakaian serta sepatu rapi. Beberapa tentara Belanda di ujung jembatan yang tampak sedang mengerjakan perbaikan makin mengindikasikan bahwa foto ini sebenarnya menunjukkan sebuah jembatan yang kemungkinan dirusak para pejuang, dan pihak Belanda berusaha mereparasinya. Dan untuk sementara, warga masih bisa memakainya tetapi dengan menggunakan papan yang dipasang di antara bilah besi. Tidak ada evakuasi di sini, dan pihak ada NICA di sana dalam rangka perbaikan jembatan.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 23 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (24)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:"Blijdschap bij de komst van de brengers van recht en veiligheid. De bevolking komt naar onze colonne toe en is bereid en gewillig om ons inlichtingen te verstrekken." West Java. 
  • Terjemahan: "Kegembiraan [masyarakat] atas kedatangan pembawa keadilan dan keamanan [=militer Belanda]. Masyarakat mendatangi barisan kami dan siap serta bersedia memberikan informasi kepada kami." Jawa Barat.
  • Bahasan: Sangat kentara bahwa justru tentara Belanda yang mendatangi warga dan anak-anak yang sedang berkerumun di sebuah tegalan. Dari postur dan sikap dari orang-orang yang terfoto bisa terlihat pula bahwa lebih mungkin tentara Belanda yang menanyai para warga ini, dan bukan sebaliknya masyarakat secara sukarela berbagi informasi.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 22 Oktober 2025

Peleburan sebuah kesatuan KNIL ke dalam APRIS, 1950

Barisan kesatuan KNIL yang dilebur ke dalam Angkata Perang Republik Indonesia Serikat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Barisan para perwira, baik dari KNIL maupun TNI, yang menghadiri acara peleburan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan acara pengambilan sumpah yang dipimpin seorang perwira TNI dan diikuti anggota kesatuan KNIL yang sepenuhnya terdiri dari warga lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang Belanda perwira KNIL memberikan sambutan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Lapangan tempat acara peleburan yang dihadiri banyak khalayak ramai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1950
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa: Dengan terbentuknya Republik Indonesia Serikat setelah Konferensi Meja Bundar 1949, semua kekuatan bersenjata yang tadinya berseteru, yaitu KNIL dan TNI, melebur ke dalam APRIS. Acara peleburan ini terjadi di mana-mana, seperti Bandung, Banjarmasin, Jakarta, Malang, Muara Enim, dsb.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 01 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (12)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di kawasan Puncak, yang sekarang menjadi Istana Cipanas, dengan latar belakang Gunung Pangrango di kejauhan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah pertunjukan perburuan rusa di kawasan sekitar Bogor yang disaksikan warga Belanda (?) dari sebuah saung, serta masyarakat di kejauhan. Dua rusa tampak dikepung oleh empat pemburu lokal berkuda bertopi, dua di antaranya menghunuskan senjata tajam
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah Asisten Residen Sumedang yang dibangun dengan gaya khas kolonial di masanya, yaitu dengan pilar-pilar bundar yang menopang atap luas bergenting, tembok putih, serta deretan pintu bercelah yang diwarnai hijau, dan tentunya bendera Belanda. Asisten Residen Sumedang saat itu melapor ke Residen Priangan yang berdiam di Bandung.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua perwira KNIL mengunjungi Talaga Bodas di Garut, seorang di antaranya dipayungi opas lokal yang mengindikasikan tingginya pangkat yang bersangkutan. Dua warga lokal lain tampak di sebelah kanan, kemungkinan bertanggung jawab atas akomodasi atau konsumsi perjalanan perwira ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Masjid Agung Banten, Serang, yang selesai dibangun di tahun 1566 dan ditambahi menara di sekitar tahun 1632. Mesjid ini menunjukkan banyak perpaduan budaya: atap yang khas Pulau Jawa, sebagian tembok yang meminjam gaya Eropa, serta menara yang dipengaruhi arsitektur Tionghoa.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 28 September 2025

Van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, dan para tamunya di tahun 1948 (3)

1 Agustus 1948: Van Mook menyambut kedatangan Uskup Agung Georges-Marie de Jonghe d'Ardoye yang diutus Vatikan sebagai Delegatus Apostolik pertama untuk wilayah Hindia-Belanda, di resepsi perpisahan dia sebagai Letna Gubernur Jenderal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
September 1948, d.ki.k.ka.: Menlu Belanda Dirk Stikker, PM Belanda Louis Beel, Van Mook, Laksamana Madya Frederik Jentje Kist (Menteri Kelautan di Kabinet Pemerintahan Federal Sementara)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
11 Oktober 1948: Acara perpisahan Van Mook yang akan melepas Letnan Gubernur Jenderal empat hari kemudian. Acara dihadiri banyak kalangan, sipil dan militer, kulit putih dan lokal, termasuk Petrus Johannes Willekens (Vikaris Apostolik Batavia) dan seorang memakai kafiyeh a la Timur Tengah (tokoh masyarakat dari Sulawesi Selatan?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 18 September 2025

KNIL Laut kembali menguasai penuh Vliegkamp Morokrembangan, 1948/1950 (5)

3 November 1948: Komandan Vliegkamp Morokrembangan, R. Vroon (kanan), memberikan penghargaan kepada W.H. Tetenburg, yang ditemani istrinya, dalam bentuk bendera komando perak. W.H. Tetenburg kemungkinan saat itu akan pensiun dari jabatannya sebagai Panglima KNIL Laut Hindia-Belanda untuk wilayah timur. Di latar belakang tampak pesawat Catalina sumbagan warga Australia James Fleming untuk Republik Indonesia. Pesawat yang dijuluki "kucing penyelundup" ini tertangkap Belanda dan dikabarkan memuat senjata senilai $350.000 yang ditujukan untuk para pejuang kemerdekaan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
W.H. Tetenburg (depan kiri), memeriksa barisan awak lokal Vliegkamp Morokrembangan, ditemani R. Vroon (kanan depan), kemungkinan masih dalam rangkaian acara pelepasan Tetenburg dari jabatan Panglima KNIL Laut Hindia-Belanda untuk wilayah timur.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan 9 Februari 1950, setelah pengakuan kedaulatan: Laksamana Hendricus Cornelis Willem Moorman (berjas), yang saat itu menjabat Sekretaris Negara Kerajaan Belanda untuk urusan Angkatan Laut, mengunjungi Vliegkamp Morokrembangan, ditemani para petinggi KNIL Laut. Moorman kemudian menjadi politisi sayap kanan dari Parta Katolik (Belanda) yang a.l. menentang masuknya wilayah Papua ke Republik Indonesia. Moorman sendiri pernah aktif bertugas di Hindia-Belanda sebagai perwira KNIL Laut.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948, 1950
Tempat: Pangkalan udara Morokrembangan (Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: