Tampilkan postingan dengan label benteng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label benteng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juli 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang benteng Inggris di Rembang

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1815
Tahun peristiwa: awal abad ke-19
Tempat terbit: Inggris
Tokoh:
Deskripsi: Ketika Inggris menguasai Jawa, mereka mengambil alih benteng Belanda di Rembang yang sudah didirikan sejak zaman VOC. Benteng yang dekat dengan laut ini terdiri dari beberapa bangunan, menara pengintai, serta  lapisan tembok mengitari wilayah dalam benteng. Dikabarkan bahwa area ini sekarang menjadi kawasan gedung DPRD Rembang.
Juru foto/gambar: William Thorn
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Selasa, 19 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang tiga pos dan benteng militer Belanda di "pinggiran" Jakarta

Benteng militer Belanda di Ancol yang saat itu merupakan titik batas wilayah kekuasaan Belanda di sebelah timur-utara
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Benteng militer Belanda di ujung selatan yang diberi nama Noortwyck (sekarang sekitar Jalan Juanda)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Penampakan benteng Noortwyck dari seberang Kali Ciliwung
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Pos militer Belanda di ujung selatan yang lain yang diberi nama Ryswyck (sekarang sekitar Jalan Veteran)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tahun peristiwa: abad ke-18
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Jan van Schley
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Jumat, 17 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (20)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sungai Kapuas di Sintang, dengan sebuah rakit bergubuk di latar depan, sebuah kapal uap di latar tengah, dan benteng dan gedung pemerintahan Belanda di latar belakang. Lukisan ini memiliki beberapa kemiripan dengan sebuah foto yang terbit sekitar tahun 1880 (lihat posting ini) yang mengindikasikan bahwa Rappard mengambil inspirasi (menjiplak dengan variasi?) dari foto tua ini.
 (klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pendulangan intan tradisional di Kalimantan, kemungkinan di sekitar Banjarmasin. Tampak seorang pria menyerahkan seayak bebatuan ke seorang pria lain, sementara seorang lelaki lain berjalan menuju sungai dengan membawa seayak kerikil. Di sungai, tiga lelaki mencoba memilah batuan intan dari kumpulan tanah dan kerikil.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah lanting, atau rumah terapung di atas rakit, di Sungai Barito. Rumah ini kemungkinan besar milik seorang pemuka warga Banjar. Ini terlihat dari panjangnya rakit, ukuran dan jumlah rumah di atasnya, kemudian dua kelompok pendayung di bagian depan dan belakang, serta tentu saja pemasangan bendera Belanda di tengah-tengahnya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah pemandangan khas Kalimantan: badan air yang besar dan relatif tenang (sungai atau danau), pepohonan yang tumbuh menembus permukaan air, serta gelondong kayu yang mengapung di permukaan air.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 09 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (1)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Reruntuhan Candi Borobudur mendapat kunjungan dari tiga orang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kesibukan pelayaran di Kepulauan Banda, dengan Gunung Api di sebelah kiri, serta Pulau Banda Neira dengan Benteng Belgica-nya di sebelah kanan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah kapal bersandar di pelabuhan Makassar sementara beberapa sosok orang tampak beraktivitas di kawasan pelabuhan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Tiga warga Minang, di antaranya menggiring pedati, terlukis dengan latar belakang Gunung Marapi
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Benteng Rotterdam di Makassar dengan beberapa pohon rimbun di latar depan, serta sebuah kuburan Belanda di lapangan depan benteng
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 12 Agustus 2025

Kumpulan beberapa ilustrasi zaman dulu tentang Nusantara (6)

Pulau Banda dan Neira, beserta Gunung Api serta Benteng Nassau, dilihat dari laut
[1724, Amsterdam, François Valentijn]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Hewan-hewan di Jawa menurut sebuah naskah berbahasa Latin yang terbit di Jerman: badak, buaya (!), gajah, kura-kura
[1595-1600, Frankfurt]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dari naskah yang sama tentang kepercayaan warga Bali yang mengagungkan kasta Brahmana, dan adanya kelompok yang pantang makan daging dan ikan, serta kelompok yang jika suami meninggal maka istrinya ikut dikuburkan hidup-hidup (di gambar tetapi dibakar)
[1595-1600, Frankfurt]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1595, 1724
Tempat terbit: Amsterdam, Frankfurt
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: a.l. François Valentijn
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 10 Agustus 2025

Kumpulan beberapa ilustrasi zaman dulu tentang Nusantara (5)

Padang, Sumatera Barat, dilihat dari laut
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Atas: Benteng Nassau di Pulau Banda; bawah: Gunung Api di Banda Neira
[1806, London]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Borobudur
[W. Purser, 1835]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: a.l. 1806, 1835
Tempat terbit: a.l. London
Tokoh: a.l. W. Purser
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 16 April 2025

Lukisan karya Jacques Nicolas Bellin tentang Benteng Nassau di Banda dari sekitar tahun 1750

Tampak udara dari Fort Nassau dengan empat pojok bermeriam yang diarahkan ke berbagai penjuru, gerbang utama (dan satu-satunya?), serta area pemukiman di dalamnya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: ~1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Jacques Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 14 April 2025

Lukisan karya Jacques Nicolas Bellin tentang Jakarta dan sekitarnya dari sekitar tahun 1740

Balaikota Jakarta, saat itu berada di dekat Kastil Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kemungkinan wilayah yang sekarang menjadi kawasan Petojo
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pulau Onrust, dengan tanggul batu, dua kincir angin, dan kemungkinan sarana bongkar muat kapal
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Benteng Belanda di Tangerang dengan tembok batu, pos penjagaan, menara lonceng, kemungkinan juga area pemakaman, dan kawanan kerbau digembala di depannya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1740
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Jacques Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 06 Desember 2024

Foto-foto pengintaian udara yang diambil Sekutu semasa Perang Dunia 2: Ngawi, Pomalaa, dan Yogyakarta

Benteng Vreedeburg di Yogyakarta yang menjadi kamp tawanan bagi warga sipil Eropa selain Jerman
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1942: Benteng Van den Bosch di Ngawi yang menjadi kamp tawanan bagi warga Eropa yang dianggap musuh Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pomalaa dengan informasi intelijen mengenai a.l. posisi jalur rel, tempat pembuangan sisa mesiu, barak pekerja, instalasi tambang berikut jalur transportasi menuju dermaga, dsb.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: antara 1942 dan 1945
Tempat: Ngawi, Pomalaa (Kolaka), Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa: Menjelang akhir Perang Dunia 2, ketika Jepang makin defensif, pihak Sekutu memanfaatkan keunggulan udara mereka untuk melakukan pengintaian atas-atas posisi penting atau strategis, termasuk berbagai tempat di wilayah Nusantara seperti yang ditampilkan di foto-foto di atas.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 22 November 2024

Kepulauan Banda setelah Jepang kalah perang dan Belanda kembali datang, 1945 (3)

Kapal AL Australia HMAS Broome di kejauhan, dilihat dari sebuah jendela Benteng Nassau
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Banda yang menyambut kedatangan perwakilan militer Australia dan Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga bocah Banda di reruntuhan Benteng Nassau yang saat itu berumur 336 tahun
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Catatan foto menyebutkan bahwa ini adalah sisa-sisa pemukiman warga Tionghoa di Banda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: November 1945
Tempat: Banda
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 11 April 2024

Aceh di tahun 1870 (1)

Sebuah benteng Belanda di Kluet Kambing (?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pasukan Belanda di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sungai Krueng Aceh di Aneuk Galong (?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1870
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 24 Oktober 2022

Dari album foto lain keluaran Topografische Dienst van Nederlands-Indië semasa Perang Aceh (2), 1874-1878

PENGANTAR

Di posting sebelum ini, blog ini menampilkan 30 foto dari album yang dikeluarkan oleh Topografische Dienst van Nederlands-Indië (Jawatan Topografi Hindia-Belanda) pada tahun 1874, yang memperlihatkan situasi di Aceh pada saat itu yang masih diselimuti oleh suasana Perang Aceh. Ke-30 foto tersebut berasal dari tweede serie (seri kedua) dengan judul dertig gezigten (tiga puluh wajah); seri pertama dengan judul vierendertig gezigten (tiga puluh empat wajah), yang memang berisi 34 foto, akan ditampilkan di rangkaian berikut ini.


1878: Kesatuan penembak mortir
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Batalion IX di Gampong Jawa, Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Krueng Aceh, dilihat dari pos meriam berkaliber 12 cm
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Kesatuan penembak mortir di balik dinding pertahanan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Parit pertahanan yang didirikan pasukan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1878
Tempat: Kutaraja
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Topografische Dienst van Nederlands-Indië
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 23 Agustus 2022

Aceh, Minangkabau, dan Priangan di tahun 1880-an dalam koleksi foto Woodbury and Page (5)

Kemungkinan kompleks perumahan perwira Belanda di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tampak dalam sebuah benteng Belanda di Aceh dengan barak tentara dan meriam
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Monumen Kohler, jenderal Belanda yang tewas di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan kawasan pemukiman warga Belanda di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah mesjid di Lambaro, Aceh, yang diduduki Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1880-an
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury and Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Edisi lain dari foto nomor 5 pernah dimuat di posting ini.

Rabu, 17 Agustus 2022

Aceh, Minangkabau, dan Priangan di tahun 1880-an dalam koleksi foto Woodbury and Page (2)

Hotel du Chemin de Fer, Bogor, sekarang digunakan sebagai kantor polisi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan sebuah makam dari tentara atau perwira Belanda yang tewas di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pos pertahanan Belanda di sebuah puncik bukit di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan barak tentara Belanda di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Taman Sari Gunongan, Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1880-an
Tempat: Aceh, Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury and Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Edisi lain dari foto nomor 3 pernah dimuat di posting ini.