Tampilkan postingan dengan label 1918. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1918. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Pesta dan perayaan

1926: Sebuah pesta di Bondowoso
(klik untuk memperbesar | © NGA)
28 Januari 1918: Sebuah pesta di Solo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1922: Sebuah perayaan 50 tahun di Solo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah perayaan yang dihadiri a.l. oleh warga Belanda, Jawa, dan Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1918, 1922, 1926
Tempat: Jawa (a.l. Bondowoso, Solo)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Promemoria, Bondowoso (foto pertama); Studio L. Keng Meng (foto nomor 2 dan 3)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Studio "L. Keng Meng" juga disebut "L. King Ming" atau "L. King Meng"

Minggu, 31 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam jepretan studio foto ternama (2)

Studio foto Charles Kleingrothe, November 1918: Seorang ibu dengan dua  anak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Studio foto A.J. Jahn, 1910: Seorang pria (campuran?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1910, 1918
Tempat: Jawa (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charles Kleingrothe, A.J. Jahn
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 07 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (13)

Kuburan seorang Belanda bernama Antonius Johannes ten Velden di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah toko pakaian lelaki dan peralatan olahraga bernama Java Stores
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bandung, 1918: Batavia's Elftal, cikal bakal Persija, menjadi juara sepakbola se-Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1890: Seorang Belanda bersama warga Minangkabau; tulisan di foto menyebutkan nama "Datuk Bandara" yang disebut sebagai tetua di "Padang Tarok" (Agam)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Reruntuhan sebuah candi di Jawa yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1890, 1918
Tempat: a.l. Bandung, Padang Tarok (Agam), Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 22 Mei 2023

Serakan foto dari berbagai fotografer (2)

Tampak dalam sebuah rumah petinggi Belanda di Jakarta (?)
(klik untuk memperbesar | © Tan Tjie Lan / NGA)
1918: Sebuah kesatuan pasukan KNIL
(klik untuk memperbesar | © Heow San / NGA)
Tanjung Priuk, ~1895: Kapal Reael dari Aceh merapat di Jakarta dengan banyak warga Tionghoa bertopi dan/atau bertaucang di sekitarnya
(klik untuk memperbesar | © Tan Tjie Lan / NGA)
Yogyakarta: Tokoh Bima dalam wayang orang
(klik untuk memperbesar | © Studio Chelan / NGA)
Tampak dalam sebuah rumah petinggi Belanda di Jakarta (?)
(klik untuk memperbesar | © Tan Tjie Lan / NGA)

Waktu: a.l. 1895, 1918
Tempat: a.l. Jakarta, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Tan Tjie Lan | Heow San | Studio Chelan
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 05 Desember 2021

Batavia's Elftal, cikal bakal Persija, menjuarai turnamen sepakbola se-Hindia Belanda, 1918

(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1918
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa: Batavia's Elftal menjuarai turnamen sepakbola se-Hindia Belanda yang diselenggarakan di Bandung.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: 1) Saat itu peserta turnamen hanya berasal dari Pulau Jawa, seperti halnya PON pertama di Solo tahun 1948. 2) Tepat 100 tahun kemudian, Persija memenangkan Piala Presiden.

Senin, 25 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1903-1923

De Amsterdammer, 1 November 1903
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz menyambut kedatangan Merkurius, dewa perdagangan Romawi, di pelabuhan Sabang, yang menyusul Mars, dewa perang Romawi, yang sudah ada di sana. Karikatur ini bisa ditafsirkan bahwa dari awal Belanda memang memiliki motivasi ekonomi di dalam usahanya untuk menguasai Aceh.

De Amsterdammer, 26 Januari 1908
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur di atas berasal dari era ketika para seniman besar Belanda di bidang pertunjukan pada mendatangi wilayah Nusantara. Nama-nama yang ditampilkan a.l. Louis Bouwmeester, Anton Kimmel, dan Albert Vogel. Mbok Indonesia yang merasa heran bertanya kepada Nona Belanda apakah mereka itu anak-anaknya. Nona Belanda menjawab bahwa mereka itu sekedar pencari emas.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur ini muncul antara tahun 1914 dan 1918 dan menggambarkan bagaimana seorang agen Jerman merayu rakyat Indonesia dengan menjanjikan senjata dan uang untuk mengenyahkan penjajah Belanda. Bahwa Jerman mencoba membangkitkan perlawanan rakyat Indonesia untuk mengusir Belanda, ini adalah hal yang tampkanya jarang disinggung sejarah.

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini muncul di tahun 1923, di saat Belanda melakukan banyak pengetatan anggaran. Tetapi, sebuah undang-undang dengan nama de Vlootwet (Undang-undang Armada) disahkan, guna mempertangguh kekuatan laut Belanda di wilayah Nusantara. Tampaknya saat itu Belanda sudah menyadari bahwa wilayah Nusantara dengan banyak pulau dan periarannya memerlukan armada laut yang tangguh. Boleh jadi Belanda juga sudah melihat bahwa kekuatan laut Jepang bisa menjadi ancaman serius; sebuah pandangan yang kemudian terbukti benar.

Waktu: 1903, 1908, 1918, 1923
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers | Piet van der Hem
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 21 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Tipe segitiga

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Jawa 1935: Bentuk awal dari tambahan bambu yang mencuat miring ke atas membentuk segitiga. Ini tampaknya untuk memperbesar stabilitas pada jembatan yanga agak panjang.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kebon Sirih, Jakarta 1936: Jika di foto atas bagian yang miring disambung dengan bambu horisontal, di sini sambungannya menggunakan bambu vertikal di tengah. Secara teknis ini akan menambah beban ke jembatan; dan karenanya ada tumpuan tambahan dari dasar sungai.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Moga, Pemalang 1903: Konstruksi segitiga di jembatan ini bisa dipertanyakan karena tampaknya justru hanya menambah beban yang tidak perlu. Tapi secara estetis memang lebih ok.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Bandung 1930: Sambungan vertikal di jembatan ini lumayan masif, ada tiga pasang dengan masing-masing dua batang bambu. Jelas ini adalah penambahan beban yang lumayan, dan boleh jadi kurang sebanding dengan stabilitas yang dihasilkan.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Cikapundung, Bandung 1920: Jembatan dengan segitiga ganda. Konstruksi ini bisa termasuk stabil karena kaki segitiga berpijak langsung di dasar sungai, bukan ke tanggul.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Jawa 1918: Ini versi ganda dari jembatan di Bandung di atas. Tiap segitiga memiliki tiga pasang bambu vertikal dengan masing-masing dua batang bambu. Secara sepintas si jembatan akan lebih terasa ringan jika tambahan segitiga ini dihilangkan.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1903, 1918, 1920, 1930, 1935, 1936
Tempat: Bandung, Jakarta, Jawa, Pemalang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:


UPDATE 3 Januari 2020

Konstruksi segitiga yang digunakan tentara Belanda sebagai gerbang masuk ke area perkemahan mereka, 15 Juli 1948:

(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / Het Geheugen / Spaanerstad)

Rabu, 08 Mei 2019

Beberapa wajah warga Nusantara dari akhir abad ke-19 ke awal abad ke-20

Sumatera, September 1885: Dua warga lokal menemani seorang pemburu Belanda. Di sekeliling tenda tampak kepala badak, banteng, serta kaki badak yang sudah dipotong.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Bali(?), 1900-1910: Anak-anak bermain di sungai
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
1913: Seorang ibu berkebaya bersama anak berbaju monyet di sebelah pohon kelapa yang lebat buahnya
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Jawa, 1918: Acara selamatan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1885, 1900-an, 1913, 1918
Tempat: Bali(?), Jawa, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Sabtu, 28 Februari 2015

Suasana multi-etnis di perkebunan tembakau di Sumatera Utara di awal abad ke-20 (2)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1918
Tempat: Binjai
Tokoh:
Peristiwa: Para mandor Tionghoa (atas) dan Jawa (bawah) yang dipekerjakan Belanda di perkebunan tembakau di Binjai, berfoto bersama kelompoknya.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 17 Juni 2014

Suasana multi-etnis di perkebunan tembakau di Sumatera Utara di awal abad ke-20 (1)


Waktu: 1918
Tempat: Binjai
Tokoh:
Peristiwa: Tuan Belanda sebagai administrator perkebunan di Binjai duduk bersama anjingnya, dikelilingi para mandor dan juru tulis dari Tiongkok, Jawa, dan Tamil.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief


Update 6 Juli 2014
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Waktu: 1901
Tempat: Deli (Mariendal)
Tokoh:
Peristiwa: Pemilik perkebunan Belanda di Deli Mariendal dikelilingi oleh para pegawainya yang tampak berasal dari Jawa, Tiongkok, atau India. Orang Belanda tampak berpakaian puith-putih, berdiri, atau duduk, dan juga memangku anak. Pekerja dari Tiongkok kelihatan telanjang dada, kepala plontos bertaucang. Pekerja dari India (Tamil?) duduk bersila dengan sehelai kain penutup dada. Yang lainnya kemungkinan besar berasal dari Jawa, jika dilihat dari kebaya atau jangkepnya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief