Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2026

Dua wajah perempuan Yogyakarta zaman dulu

Seorang putri keraton, priyayi bangsawan ningrat …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan seorang wanita dari kalangan biasa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 16 Oktober 2025

Beberapa foto dari perundingan Renville, Januari 1948 dan sesudahnya (7)

17 Januari 1948: Abdulkadir Widjojoatmodjo menandatangani naskah perjanjian atas nama delegasi Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Raymond Herremans, perwakilan dari Belgia berbicara. Di sisi kanan dia tampak tokoh India dan perwakilan dari Australia. Di sisi kiri dia kemungkinan kapten USS Renville, yaitu William W. renville William W. Ball, dan perwakilan Amerika Serikat Frank Graham.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Yogyakarta, 12 April 1948: Warga menyambut riuh kedatangan delegasi Indonesia yang kembali ke Yogkarta. Tampak di tengah-tengah, Ali Sostroamijoyo (berjanggut hitam), sementara anak-anak dan pemuda menjulurkan tangan gembira di halaman stasiun kereta.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Yogyakarta, 12 April 1948: Sudut lain yang memperlihatkan kemeriahan sambutan warga Yogyakarta dalam menyambut kedatangan delegasi Indonesia setelah perundingan di kapal USS Renville
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Kapal USS Renville di perairan Tanjung Priuk, Yogyakarta
Tokoh:
  • Kolonel Raden Abdulkadir Widjojoatmodjo (perwira KNIL yang anti kemerdekaan Indonesia)
  • Ali Sostroamjioyo (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)
  • Frank Porter Graham (Ketua Komisi Jasa-jasa Baik PBB)
Peristiwa: perundingan Renville dan sesudahnya
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 07 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (15)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Kompleks Candi Arjuna di kawasan dataran tinggi Dieng dengan latar belakang pemukiman di perbukitan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pemukiman warga Sembungan di tepi Danau Cebong, Dieng. Posisi gambar sangat mirip dengan yang ada di foto di posting ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah perjalanan malam di bawah bulan purnama di sebuah tempat di Jawa Tengah. Yang berdiri di belakang adalah penjaga atau pengawal, sementara yang duduk di kanan adalah sang kusir. Yang duduk di kiri depan kemungkinan penumpang berkebangsaan Belanda.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kediaman Residen Yogyakarta, yang kelak menjadi Gedung Agung
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah rumah di Jawa tempat para pecandu menikmati ganja yang saat itu belum dilarang oleh pemerintah Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 21 Juni 2025

Sebuah rangkaian foto tentang berbagai tari Jawa di kalangan keraton, keluaran tahun 1925 (5)

40. Angkawijaya dalam posisi sebelum tarian di mulai (gaya Jogja)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
41. Posisi sebelum tarian di mulai (gaya Solo)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
42. Pregiwa menghibur Pregiwati (posisi duduk)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
43. Pregiwa menghibur Pregiwati (posisi berdiri)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
44 dan 45. Perkelahian antara Srikandi dan Larasati
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1925
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 28 Februari 2025

Foto udara sekitar Jawa, kemungkinan di pertengahan 1930-an (2)

Makam Raja-raja Imogiri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pemandangan di atas Semarang, a.l. terlihat depot minyak Pengapon di kiri bawah, Gereja Blenduk di atasnya, serta Stasiun Tawang di tengah atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gunung Batok di kawasan Bromo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Letusan Anak Krakatau di Selat Sunda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an
Tempat: Kawasan Bromo, Selat Sunda, Semarang, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 24 Februari 2025

Foto udara atas kawasan-kawasan industri di Jawa, sekitar pertengahan 1920-an (7)

Pabrik gula Sewugalur di Kulonprogo, Yogyakarta, yang area pabriknya tampak besar dibanding kawasan pemukiman pegawainya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik gula Purwokerto di tengah pesawahan, perkebunan tebu, dan pemukiman warga serta pegawai pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik gula Kalirejo di Sumpiuh, Banyumas, dengan sebuah taman bundar yang dikelilingi perumahan pegawai pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Jawa (Banyumas, Purwokerto, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 06 Desember 2024

Foto-foto pengintaian udara yang diambil Sekutu semasa Perang Dunia 2: Ngawi, Pomalaa, dan Yogyakarta

Benteng Vreedeburg di Yogyakarta yang menjadi kamp tawanan bagi warga sipil Eropa selain Jerman
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1942: Benteng Van den Bosch di Ngawi yang menjadi kamp tawanan bagi warga Eropa yang dianggap musuh Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pomalaa dengan informasi intelijen mengenai a.l. posisi jalur rel, tempat pembuangan sisa mesiu, barak pekerja, instalasi tambang berikut jalur transportasi menuju dermaga, dsb.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: antara 1942 dan 1945
Tempat: Ngawi, Pomalaa (Kolaka), Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa: Menjelang akhir Perang Dunia 2, ketika Jepang makin defensif, pihak Sekutu memanfaatkan keunggulan udara mereka untuk melakukan pengintaian atas-atas posisi penting atau strategis, termasuk berbagai tempat di wilayah Nusantara seperti yang ditampilkan di foto-foto di atas.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 29 September 2024

Aneka foto dari masa perang kemerdekaan (2)

19 Desember 1948: Pasukan Belanda merengsek maju untuk merebut Yogyakarta dari kekuasaan TNI
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pasukan Belanda mendarat di pesisir Lombok
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang prajurit Belanda berbagi rokok dengan bapak berpeci
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1947: Pesawat Firefly Mk 2 di pangkalan udara Morokembangan, Surabaya, yang struktur bangunannya tampak rusak
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947, 1948
Tempat: Jawa (a.l.Surabaya, Yogyakarta), Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Foto pertama pernah dimuat di posting ini.

Senin, 05 Februari 2024

Tiga potret bangsawan Jawa: Hamengkubuwono VIII, Bupati Pemalang, Bupati Trenggalek

Hamengkubuwono VIII, kemungkinan di tahun 1920-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1931: Bupati Pemalang, RAA Sudoro Suroadikusumo dan istri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bupati Trenggalek, dalam pakaian kebesaran dengan cincin dan koleksi uang logam, kemungkinan di awal 1930-an
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1920-an, 1930-an, 1931
Tempat: Pemalang, Trenggalek, Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono VIII (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 24 Januari 2024

Hamengkubuwono VIII, kerabat keraton Yogyakarta bersama para pembesar Belanda

9 November 1937: Hamengkubuwono VIII bersama para pembesar Belanda; lihat catatan di bawah untuk detail
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1930-an (a.l. 1937)
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono VIII (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto pertama merupakan update gambar atas posting ini. Tokoh lain foto ini, dari Hamengkubuwono VIII ke arah kiri: W.H. van Helsdingen (ketua Volksraad), Louise Abbenhuis-Verschueren (istri asisten residen), berikutnya tidak di kenal; dari beliau ke arah kanan: Christiaan Abbenhuis (asisten residen), tidak dikenal, Ratu Pembayun (?), tidak dikenal, tidak dikenal, H.J. van Mook (Direktur Urusan Ekonomi, kelak Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda).

Kamis, 18 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Dua sobekan dari sebuah album foto

Antara 1930 dan 1935: Pembukaan sekolah pribumi khusus perempuan di Mardikenya, Purwokerto (atas); dua warga Tionghoa dengan nama Ang Beng Siang dan Ang [?] Koan (bawah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Yogyakarta, 18 Desember 1934: Para pegawai OVL (kemungkinan Openbare Verlichting = Jawatan Lampu Penerangan Umum)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Antara 1930 dan 1935: 30 pria Eropa dengan pakaian resmi bersama seorang pria Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman asal dua foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1934
Tempat: Jawa (a.l. Purwokerto, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 25 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam jepretan studio-studio foto Tionghoa (3)

Studio foto Thio Piek, Bogor, ~1910: Seorang bayi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Studio foto Tio, Cimahi: Seorang perwira KNIL
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Studio foto Gahien, Yogyakarta: Seorang anak perempuan berpita rambut
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1910
Tempat: Bogor, Cimahi, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio foto Thio Piek, Tio, Gahien
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 26 Oktober 2023

Hindia-Belanda dalam foto stereoskopi (13)

PENGANTAR
Di akhir abad ke-19 foto stereoskop cukup populer untuk melihat foto dengan kesan tiga dimensi. Teknik yang digunakan saat itu adalah dengan membuat dua foto dengan sudut pengambilan yang sedikit berbeda. Kemudian kedua foto ini disandingkan, dan dilihat dengan menggunakan alat bersekat yang memisahkan pandangan mata kiri dan kanan. Gambar di kiri memperlihatkan contoh alat ini.

Wilayah Hindia-Belanda pun tak luput dari mode fotografi ini. Seri berikut akan menampilkan beberapa motif foto dari Hindia-Belanda yang ada di koleksi penggemar stereoskopi.

Dua pria Belanda di Kayeli, Pulau Buru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gua pinggir laut di Pulau Damar, Maluku
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Istana air Taman Sari, Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Teluk Tomini dilihat dari Poso, Sulawesi Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Teluk Tomini dilihat dari Pagimana, Sulawesi Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang pria duduk di tepi laut
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tidak ada keterangan
Tempat: Maluku (Pulau Buru, Pulau Damar), Sulawesi Tengah (Pagimana, Poso), Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: