Tampilkan postingan dengan label Joannes Benedictus van Heutsz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Joannes Benedictus van Heutsz. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Januari 2026

Kemiskinan semasa perang kemerdekaan (8): Jakarta

PENGANTAR

Kemiskinan di negeri kita ada di sebelum kemerdekaan, di saat perang kemerdekaan, setelah perang kemerdekaan, di masa pemerintahan Soekarno, Soeharto, dan boleh jadi hingga sekarang ini. Situasi rakyat miskin semasa perang tetapi lebih memilukan karena orang lain memiliki prioritas lain daripada memperhatikan mereka. Dan foto-foto rakyat miskin di masa perang menjadi lebih memiliki nilai propaganda karena publik luar dengan mudah mengasosiasikannya dengan perang, dan bisa menganggapnya sebagai dampak dari peperangan, yang bisa jadi benar.

Foto-foto berikut akan memperlihatkan rakyat miskin kita semasa perang kemerdekaan.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Tiga gelandangan berkerumun di sekitar Monumen Van Heutsz. Monumen ini berada di wilayah Menteng dan dibangun untuk mengagungkan dan mengenang "kemenangan" Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz di Perang Aceh. Bangunan di di tahun 1960an diruntuhkan oleh pemerintah.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto tentang kemiskinan semasa perang kemerdekaaan yang dimulai di posting ini.

Rabu, 06 Oktober 2021

Gubernur Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz dalam perjalanan mobil dari Jakarta ke Bandung, 1907

Ketika industri otomotif dunia mulai, kawasan Hindia-Belanda termasuk relatif cepat mendapatkan kereta bermotor. Mobil-mobil dipasok untuk para pembesar Belanda hingga ke para pemilik perkebunan di berbagai pelosok. Salah satu importir mobil di Hindia-Belanda adalah Verwey & Lugard, yang tampaknya mendatangkan mobil Fiat ke Jakarta a.l. untuk Gubernur Jenderal Van Heutsz.

Dalam foto di bawah tampak Van Heutsz, yang oleh sejarah Indonesia lebih dikenang dalam kaitan dengan Perang Aceh, duduk di mobil terdapan di kursi belakang kanan. Di sebelahnya seorang perwira artileri bernama C.M. Kan. Salah satu pendiri Verwey & Lugard, J.F. Verwey langsung menyetiri mobil ini; didampingi oleh Th. A.A. Faubel, seorang perwakilan Verwey & Lugard. Mobil kedua kemungkinan diisi oleh istri Van Heutsz.

Menarik untuk dicatat adalah seorang warga lokal di paling kanan foto. Dia, kemungkinan duduk atau jongkok di pijakan mobil, bertugas untuk membunyikan klakson.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: Agustus 1907
Tempat: Jawa Barat
Tokoh: Joannes Benedictus van Heutsz (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Verwey & Lugard
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 25 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1903-1923

De Amsterdammer, 1 November 1903
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz menyambut kedatangan Merkurius, dewa perdagangan Romawi, di pelabuhan Sabang, yang menyusul Mars, dewa perang Romawi, yang sudah ada di sana. Karikatur ini bisa ditafsirkan bahwa dari awal Belanda memang memiliki motivasi ekonomi di dalam usahanya untuk menguasai Aceh.

De Amsterdammer, 26 Januari 1908
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur di atas berasal dari era ketika para seniman besar Belanda di bidang pertunjukan pada mendatangi wilayah Nusantara. Nama-nama yang ditampilkan a.l. Louis Bouwmeester, Anton Kimmel, dan Albert Vogel. Mbok Indonesia yang merasa heran bertanya kepada Nona Belanda apakah mereka itu anak-anaknya. Nona Belanda menjawab bahwa mereka itu sekedar pencari emas.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur ini muncul antara tahun 1914 dan 1918 dan menggambarkan bagaimana seorang agen Jerman merayu rakyat Indonesia dengan menjanjikan senjata dan uang untuk mengenyahkan penjajah Belanda. Bahwa Jerman mencoba membangkitkan perlawanan rakyat Indonesia untuk mengusir Belanda, ini adalah hal yang tampkanya jarang disinggung sejarah.

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini muncul di tahun 1923, di saat Belanda melakukan banyak pengetatan anggaran. Tetapi, sebuah undang-undang dengan nama de Vlootwet (Undang-undang Armada) disahkan, guna mempertangguh kekuatan laut Belanda di wilayah Nusantara. Tampaknya saat itu Belanda sudah menyadari bahwa wilayah Nusantara dengan banyak pulau dan periarannya memerlukan armada laut yang tangguh. Boleh jadi Belanda juga sudah melihat bahwa kekuatan laut Jepang bisa menjadi ancaman serius; sebuah pandangan yang kemudian terbukti benar.

Waktu: 1903, 1908, 1918, 1923
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers | Piet van der Hem
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 02 November 2020

Karikatur Belanda yang kritis atas Perang di Aceh, 1896-1935

Tidak semua pihak di Belanda setuju atau malah mendukung sepak terjang Belanda di Perang Aceh. Tiga karikatur di bawah ini adalah contoh dari suara kritis yang mengingatkan masyarakat Belanda bahwa perang di Aceh telah membawa banyak sekali korban, termasuk dari kalangan sipil.

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karya Johan Braakensiek yang diterbitkan tanggal 27 September 1896. Karikatur ini memperlihatkan IsaƤc Dignus Fransen van de Putte, politisi Belanda yang sempat menjadi Perdana Menteri dan Menteri Urusan Jajahan; Van de Putte tampaknya turut terlibat dalam keputusan untuk melancarkan aksi militer di Aceh. Teks di bawah menyebutkan bagaimana Van de Putte berkata "Saya tidak sekejap pun mundur dari tanggung jawab yang saya pikul," dengan postur tubuh yang percaya diri tetapi dengan muka yang berpaling dari kekacauan dan penderitaan yang muncul dari Perang Aceh.

(klik untuk memperbesar | AVS)

Karya Albert Hahn dari tahun 1904. Karikatur ini menggambarkan langit memerah darah, rakyat Aceh bergelimpangan membasahi bumi dengan darah. PM Belanda, Abraham Kuyper, yang memang juga rohaniawan, berjalan di antara jasad warga Aceh sambil mengutip kitab suci, sementara seorang lain membagi-bagikan kitab suci ke mayat warga Aceh.
Teks puitis di bawah kartikatur berbunyi ("Bram" tampaknya dimaksudkan Abraham Kuyper):
Perang Aceh itu pada mulanya adalah ketidakadilan, begitu sabda Tuhan.
Bram berkata: "Ketidakadilan itu dilarang", maka jadilah dia bukan ketidakadilan.
Tewasnya orang Aceh, di persisaan Deli yang kaya,
- tapi kemudian bawakan dia rahmat Injil!

(klik untuk memperbesar | AVS)

Karya Chris Lebeau dari tahun 1935. Karikatur ini diarahkan ke pengagungan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz sebagai pahlawan Perang Aceh. Karya ini menyindir bahwa apa yang dielu-elukan sebagai "Nederlands Pacificator" (pembawa perdamaian Belanda) dan "De vredestichter die men huldigt" (pembawa perdamaian yang diagungkan orang" sejatinya berdiri di atas penderitaan banyak orang dan dengan topangan meriam.
Gambar dua pesawat tampaknya (tempur) tampaknya ditambahkan untuk mengingatkan warga Belanda akan efek mengerikan kerusakan akibat Perang Dunia I beberapa tahun sebelumnya. Pada masa Perang Aceh belum ada penggunaan pesawat tempur di dunia.

Waktu: 1896, 1904, 1935
Tempat: tiga karikatur ini mengacu ke perang yang terjadi di Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek / Albert Hahn / Chris Lebeau
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk / Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 27 Oktober 2020

Patung Jenderal Van Heutsz di kota kelahirannya Coevorden, Belanda, 1933

Catatan atau keterangan asli pada foto-foto dari arsip Belanda, yang a.l. dimuat di posting ini, tidak jarang menjuluki para pejuang kemerdekaan dengan istilah "ekstremis", "subversif", "bandit", bahkan "teroris". Pahlawan bagi satu pihak, memang bisa jadi penjahat bagi pihak lain; dan sebaliknya. Demikian juga halnya dengan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz: Bagi Belanda dia adalah pahlawan yang memenangkan perang alot melawan rakyat Aceh; sementara sejarah Indonesia mengenangnya sebagai pembantai rakyat Aceh.

Di tahun 1933, sembilan tahun setelah Van Heutsz meninggal, Pangeran Hendrik (suami Ratu Wilhelmina) meresmikan berdirinya patung Van Heutsz di Coevorden, tempat kelahiran jenderal ini. Foto di bawah memperlihatkan patung ini di tahun peresmiannya. Di tahun 2009, atau 76 tahun kemudian, Coevorden diam-diam membongkar patung ini dan memindahkannya. Tampaknya waktu juga bisa mengubah pandangan orang tentang apakah seseorang itu bisa menjadi kebanggaan atau tidak.

(klik untuk memperbesar | AVS)

(klik untuk memperbesar | AVS)

Waktu: 1933
Tempat: Coevorden, Belanda
Tokoh: Joannes Benedictus van Heutsz (Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 22 Januari 2019

Coretan "Merdekka" di Monumen Van Heutsz di Amsterdam

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: kemungkinan akhir 1940-an
Tempat: Amsterdam
Tokoh:
Peristiwa: Kawasan monumen untuk mengenang panglima perang Belanda di Perang Aceh, Joannes Benedictus van Heutsz, dicoreti kata "MERDEKKA". Kelebihan huruf "K" menunjukkan kemungkinan bahwa ini dilakukan oleh warga Belanda yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Sekarang ini gambar dan nama "Van Heutsz" sudah hilang dari monumen ini, dan namanya berganti menjadi Monument Indiƫ-Nederland. Monumen ini kemudian memang kontroversial karena mengagungkan seseorang yang membuat ribuan rakyat Aceh terbunuh. Di Jakarta sendiri, monumen Van Heutsz di kawasan Menteng dirobohkan di tahun 1960-an.

Sabtu, 01 Desember 2018

Jakarta 1936: Bangunan dan monumen yang sekarang sudah hilang

Van Heutszmonument di Menteng, tugu mengenang kemenangan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz di Perang Aceh; dihancurkan di tahun 1960-an.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Amsterdamse Poort, Gerbang Amsterdam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Prasasti dalam bahasa Belanda dan Jawa yang memperingatkan nasib Pieter Erberverd, seorang Jerman-Indo yang didakwa hendak melawan VOC, dan karenanya di tahun 1722 dihukum VOC dengan cara ditarik oleh empat ekor kuda ke berbagai penjuru. Karena kematiannya yang tragis ini warga lokal menyebutnya Pangeran Pecah Kulit.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Hotel des Indes; di awal 1970-an dibongkar untuk pembangunan pertokoan Duta Merlin
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1936
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 29 Agustus 2017

Karikatur Belanda tentang perang Aceh dan Teuku Umar, 1896-1897

5 April 1896
Het verraad van Toekoe Oemar
Generaal v.d. Heyden tot zijn invalieden: "Hebben wij daarvoor nu ons leven gewaagd!"

[Pengkhianatan Teuku Umar. Jenderal Karel van der Heyden berkata kepada orang-orang lemahnya: "Kita telah mempertaruhkan hidup kita!"
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
19 April 1896
Generaal Deykerhoff als zondebok
Toekoe Oemar: 'Dat zal hun opbreken!'

[Jenderal Deykerhoff sebagai kambing hitam. Teuku Umar berkata: "Ini akan mematahkan mereka!"]
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
19 Juni 1896
De Pedir-expeditie
Toekoe Oemar: - Oh, lo! ik lari lari! - ik smeer hem voor die snaphan Setan!

[Ekspedisi Pedir. Teuku Umar: "Oh, aku lari! Aku melumasi senapan (?) setan!"]
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
31 Oktober 1897
Een deputatie van mevrouw v. Kol c.s. naar Atjeh
De Dames: "Och, lieve soldaatjes, laat die arme Toekoe Oemar nu maar met rust, er is bloed genoeg vergoten!"

[Penugasan nyonya Kol. cs. ke Aceh. Para wanita: "Oh prajurit-prajuirt, biarkan saja Teuku Umar yang malang; sudah cukup banyak darah tertumpah."]
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Waktu: 1896, 1897
Tempat: Belanda, Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:


UPDATE 18 Oktober 2020: Tambahan karikatur karya Johan Braakensiek tentang perang di Aceh dan Lombok akan dimuat di posting tanggal 31 Oktober 2020.

UPDATE 22 Oktober 2020: Karikatur yang sama dalam ukuran yang lebih besar.

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

 

Sabtu, 16 Januari 2016

Jenderal van Heutsz di pertempuran memperebutkan Batee Iliek, Aceh 1901

(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)

Waktu: 3 Februari 1901
Tempat: Batee Iliek (Aceh)
Tokoh: Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz (Gubernur Militer Belanda di Aceh; di tengah dengan tangan ke belakang)
Peristiwa: Jenderal van Heutsz bersama para staffnya memantau penyerbuan pusat pertahanan pejuang Aceh di Batee Iliek
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: C. Nieuwenhuis / Spaarnestad Photo / Fotoleren
Catatan:

Senin, 10 November 2014

Perang Aceh: Monumen dan tugu Belanda mengenang Perang Aceh

Monumen Aceh di Taman Wilhelmina, Jakarta, yang kemudian menjadi area Mesjid Istiqlal
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Tugu mengenang Jenderal van Heutsz di wilayah Menteng, Jakarta, di tahun 1932. Tugu ini kemudian dihancurkan di awal tahun 1960-an.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Tugu pengenang Mayor Jenderal Pel di pemakaman tentara Belanda di Peucut, Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: awal abad ke-20 (atau akhir abad ke-19), dan 1932
Tempat: Jakarta, Kutaraja
Tokoh:
Peristiwa:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 09 November 2014

Perang Aceh: Pertemuan Panglima Polem dengan Jenderal van Heutsz di Padang, 1903

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 3 Desember 1903
Tempat: Padang
Tokoh d.ki.k.ka.:
    menghadap kamera:
      Kolonel Grevers
      Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz (Gubernur Militer Belanda di Aceh)
      Sultan Muhammad Daud Syah (Sultan Aceh)
      Letnan Kolonel van Daalen
      Sekretaris Veenhuyzen
    membelakangi kamera:
      Tuanku Pangeran Usan
      Tuanku Raja Keumala
      Panglima Polem
      Tuanku Mahmud
    berbaris di sebelah kanan:
      Teuku Na Meurasa
      Teuku Ali Maliku Ade Missigit Raya
      Teuku Panglima Missigit Raya
      Teuku Cik Meurandu
Peristiwa: Panglima Polem beserta komandan perangnya menghadap pembesar sipil dan militer Belanda di Padang, 1903. Pihak Belanda menyebut tindakan Panglima Polem ini "onderwerping" (=tunduk), sementara pihak Aceh/Indonesia menyebut ini "berdamai" yang terpaksa dilakukan karena Belanda menawan isteri-isteri dari pihak kesultanan Aceh.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Versi panjang dari gambar, dengan tambahan empat orang yang hadir, bisa dilihat di tautan di bawah foto.