Tampilkan postingan dengan label keluarga campuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga campuran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang pedagang berkulit hitam dan keluarganya

Kata negro pedler berarti pedagang keliling berkulit hitam. Karena tidak ada catatan sejarah tentang pedagang dari Afrika di sekitar abad ke-17 di Nusantara, maka kemungkinan yang dimaksud adalah orang Hadramaut atau orang Tamil/Keling yang muslim. Ini terutama terlihat dari model pakaian yang terdiri dari peci, jubah panjang, serban di pundak, serta tasbih. Ada kemungkinan si wanita adalah istrinya yang merupakan warga lokal, beserta anak-anak berdarah campuran mereka.
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1744
Tahun peristiwa: abad ke-17
Tempat terbit: Inggris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Johan Nieuhof
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Minggu, 03 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam foto studio: Studio Koene, Jakarta (3)

Akhir abad ke-19: Seorang pria Belanda bersama istri (?) yang berwajah lokal
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1895: Seorang perwira KNIL
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1897: Seorang wanit Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: akhir abad ke-19 (a.l. 1895, 1897)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Koene & Co; Studio Koene & Büttinghausen
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 12 April 2020

Keluarga campuran Belanda-Indonesia (4)

PENGANTAR

Sejarah kolonialisme di seluruh dunia menunjukkan bahwa bangsa yang dominan/menjajah dianggap sebagai warga kelas satu, sementara masyarakat lokal/terjajah menjadi warga kelas bawah; masing-masing hidup terpisah di kelompoknya sendiri-sendiri. Meski demikian, jodoh terkadang punya jalur sendiri, yang memunculkan pernikahan campuran antar dua etnis yang berbeda ini. Tak terkecuali di Indonesia; di zaman penjajahan pun sudah muncul pernikahan antara warga Belanda dengan warga pribumi.

Tapi perlu dicatat, perkawinan campur ini umumnya antara pria Belanda dan wanita pribumi. Hubungan antara wanita dari kelompok dominan dengan lelaki pribumi masih dianggap tabu.

Berikut beberapa foto dari pernikahan campuran itu, bersama buah "Indo"-nya.

Tiga foto cukup menarik karena memperlihatkan perkembangan si bapak yang menjadi semakin tua, sementara anak-anaknya semakin besar. Posisi si ibu di dalam foto juga perlu dicatat: Awalnya hanya di latar belakang, kemudian makin terlihat, dan akhirnya berada di pusat perhatian.

Sekitar 1910
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1912
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1917
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1910, 1912, 1917
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 10 April 2020

Keluarga campuran Belanda-Indonesia (3)

PENGANTAR

Sejarah kolonialisme di seluruh dunia menunjukkan bahwa bangsa yang dominan/menjajah dianggap sebagai warga kelas satu, sementara masyarakat lokal/terjajah menjadi warga kelas bawah; masing-masing hidup terpisah di kelompoknya sendiri-sendiri. Meski demikian, jodoh terkadang punya jalur sendiri, yang memunculkan pernikahan campuran antar dua etnis yang berbeda ini. Tak terkecuali di Indonesia; di zaman penjajahan pun sudah muncul pernikahan antara warga Belanda dengan warga pribumi.

Tapi perlu dicatat, perkawinan campur ini umumnya antara pria Belanda dan wanita pribumi. Hubungan antara wanita dari kelompok dominan dengan lelaki pribumi masih dianggap tabu.

Berikut beberapa foto dari pernikahan campuran itu, bersama buah "Indo"-nya.

Rangkaian foto menunjukkan perwira KNIL bernama A.J. Ten Velden beserta istri dan anaknya.
Sekitar 1930
(klik untuk memperbesar | © NGA / A.M.A. Susan)
Sekitar 1921
(klik untuk memperbesar | © NGA / Beng Ik Tjian)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1921, 1930
Tempat: kemungkinan Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: A.M.A. Susan (foto pertama), Beng Ik Tjian (foto kedua)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:


UPDATE 24 Mei 2021: Foto kedua dalam versi tanpa tanda tangan.
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Rabu, 08 April 2020

Keluarga campuran Belanda-Indonesia (2)

PENGANTAR

Sejarah kolonialisme di seluruh dunia menunjukkan bahwa bangsa yang dominan/menjajah dianggap sebagai warga kelas satu, sementara masyarakat lokal/terjajah menjadi warga kelas bawah; masing-masing hidup terpisah di kelompoknya sendiri-sendiri. Meski demikian, jodoh terkadang punya jalur sendiri, yang memunculkan pernikahan campuran antar dua etnis yang berbeda ini. Tak terkecuali di Indonesia; di zaman penjajahan pun sudah muncul pernikahan antara warga Belanda dengan warga pribumi.

Tapi perlu dicatat, perkawinan campur ini umumnya antara pria Belanda dan wanita pribumi. Hubungan antara wanita dari kelompok dominan dengan lelaki pribumi masih dianggap tabu.

Berikut beberapa foto dari pernikahan campuran itu, bersama buah "Indo"-nya.

Sekitar 1895
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1925
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1945
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1895, 1925, 1945
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 04 Januari 2013

Keluarga campuran Belanda-Indonesia (1)

(klik untuk memperbesar)
Waktu: (?)
Tempat: Jawa
Tokoh: (?)
Peristiwa: Seorang Belanda beristerikan wanita Indonesia berada di beranda rumah bersama dua anak indo mereka. Semuanya mengenakan pakaian tradisional Indonesia.
Fotografer: C.H. Graves
Hak cipta: National Geographic Society / Corbis

Update tanggal 30 April 2013.
Foto di bawah ini, yang jelas berasal dari pemotretan yang sama, menyebutkan Herbert Ponting sebagai fotografernya (bukan C.H. Graves); dan waktu pengambilan foto di antara tahun 1900-1906. Karena Herbert Ponting pergi ke Jawa setelah dia meliput Perang Jepang-Rusia, yang berlangsung tahun 1904-1905, maka kemungkinan besar foto ini diambil di antara tahun 1905 dan 1906.

Waktu: sekitar 1906
Tempat: Jawa
Fotografer: Herbert George Ponting
Sumber / Hak cipta: Popperfoto/Getty Images