Tampilkan postingan dengan label stasiun kereta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stasiun kereta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2026

Foto udara ke wilayah yang kelak menjadi Stasiun Kota, Museum Bank Indonesia, dan Museum Mandiri

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan akhir 1930an atau awal 1940an
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 11 Februari 2026

Pasukan Belanda bersenjata menjaga stasiun kereta api Klender, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Klender (Jakarta Timur)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 16 Oktober 2025

Beberapa foto dari perundingan Renville, Januari 1948 dan sesudahnya (7)

17 Januari 1948: Abdulkadir Widjojoatmodjo menandatangani naskah perjanjian atas nama delegasi Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Raymond Herremans, perwakilan dari Belgia berbicara. Di sisi kanan dia tampak tokoh India dan perwakilan dari Australia. Di sisi kiri dia kemungkinan kapten USS Renville, yaitu William W. renville William W. Ball, dan perwakilan Amerika Serikat Frank Graham.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Yogyakarta, 12 April 1948: Warga menyambut riuh kedatangan delegasi Indonesia yang kembali ke Yogkarta. Tampak di tengah-tengah, Ali Sostroamijoyo (berjanggut hitam), sementara anak-anak dan pemuda menjulurkan tangan gembira di halaman stasiun kereta.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Yogyakarta, 12 April 1948: Sudut lain yang memperlihatkan kemeriahan sambutan warga Yogyakarta dalam menyambut kedatangan delegasi Indonesia setelah perundingan di kapal USS Renville
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Kapal USS Renville di perairan Tanjung Priuk, Yogyakarta
Tokoh:
  • Kolonel Raden Abdulkadir Widjojoatmodjo (perwira KNIL yang anti kemerdekaan Indonesia)
  • Ali Sostroamjioyo (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)
  • Frank Porter Graham (Ketua Komisi Jasa-jasa Baik PBB)
Peristiwa: perundingan Renville dan sesudahnya
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 09 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (16)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Senenan, sebuah tradisi permainan berkuda di kaum pria dari kalangan bangsawan dan ningrat Jawa yang ditonton khalayak ramai di latar belakang. Para lelaki ini bertelanjang dada dengan mengenakan semacam celana panjang yang ditutupi kain di bagian pinggang. Kepala para lelaki ini ditutup dengan kuluk, tetapi kakinya memilih gaya nyeker.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah gereja di Salatiga dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo. Gereja ini tampak sepenuhnya terbuat dari kayu meskipun bagian yang berwarna putih mengindikasikan adanya bagian tembok.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dangau, gubuk, atau saung petani di tengah pesawahan. Dangau ini dibuat lumayan tinggi sehingga orang perlu tangga untuk memanjat hingga ke atas. Dari ketinggian ini petani, atau anak-anak mereka, bisa mengawasi bagian sawah mana yang sedang "diserang" burung sehingga mereka bisa menarik-narik tali yang cocok untuk mengagetkan dan mengusir burung yang "menyerang" ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Stasiun kereta Tanggung di Grobogan. Di peron tampak petugas kereta dalam seragam putih bersiap menyambut kedatangan kereta bertenaga uap yang sudah mendekat. Empat penumpang, salah satunta pria Tionghoa bertaucang, siap menaiki kereta yang tampkanya terdiri dari sekitar empat gerbong.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kediaman Residen Semarang dengan penjagaan bersenjata. Seorang tukang kebun tampak sednag menyapu halaman, sementara seorang opas berjalan dengan sedikit merunduk sambil mengepit seberkas dokumen.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 21 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (5)

Sebuah trem jurusan Jakarta Kota dengan coretan para pemuda yang berbunyi ""Kami bangsa Indonesia maoe damai - Pemoeda, darahmoe panas, kemaoeanmoe ke[ras]" "
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa mural propaganda Jepang dengan teks "Benteng perjoeangan Djawa - Jakin menang! Pasti menang!"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rangkaian kereta yang sudah dipenuhi jejalan penumpang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa mural propaganda Jepang dengan teks "Bikin kapal! Alat pembela Asia Timoer Raja"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah gundukan tanah yang kemungkinan menjadi kuburan dari warga kulit putih yang dieksekusi Jepang di saat perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Jumat, 28 Februari 2025

Foto udara sekitar Jawa, kemungkinan di pertengahan 1930-an (2)

Makam Raja-raja Imogiri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pemandangan di atas Semarang, a.l. terlihat depot minyak Pengapon di kiri bawah, Gereja Blenduk di atasnya, serta Stasiun Tawang di tengah atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gunung Batok di kawasan Bromo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Letusan Anak Krakatau di Selat Sunda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an
Tempat: Kawasan Bromo, Selat Sunda, Semarang, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 19 Maret 2024

Bogor setelah Jepang kalah perang, 1945/1946

Stasiun Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suasana di pasar Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua wanita Belanda di pedagang buah-buahan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua wanita Belanda di sekitar Istana Bogor yang saat itu dijaga prajurit India bagian dari kesatuan militer Inggris sebelum pasukan Belanda datang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945/1046
Tempat: Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 11 Maret 2024

Kedatangan kembali militer Belanda ke Indonesia setelah Jepang kalah perang, 1945

Agustus 1945: Kedatangan pasukan KNIL di, kemungkinan, Papua
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Agustus 1945: Kedatangan pasukan KNIL di Papua (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
9 Juni 1946: Pasukan Belanda di Tangerang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945, 1946
Tempat: Tangerang, Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 23 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (21)

Schouwburg, dengan plang jalan Komedie Buurt, sekarang Gedung Kesenian Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah sudut Jakarta dengan jalur trem
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920: Tiga wanita Jawa membatik
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920-an: Kemungkinan Pangeran Buleleng, Gusti Ngurah Ketut Jelantik, bersama tiga penari Legong
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1916: Stasiun kereta Purwokerto
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1916, 1920, 1920-an
Tempat: a.l. Buleleng, Jakarta, Purwokerto
Tokoh: Gusti Ngurah Ketut Jelantik (Pangeran Buleleng)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 02 Juli 2023

Persiapan Belanda di Australia untuk merebut kembali Indonesia: Para prajurit Belanda berwajah Indonesia di kamp militer

Di penghujung 1944 dan awal 1945, ketika Jerman makin terdesak di Eropa, dan Jepang makin terpukul di kawasan Asia-Pasifik, Belanda makin menggiatkan usaha-usaha untuk merebut kembali Hindia-Belanda. Usaha-usaha ini terpusat di Australia, yang secara geografis dekat dengan Indonesia, dan secara politis dan militer berada bersama Belanda di pihak yang melawan negara-negara Poros. Seri berikut akan mencoba menampilkan dokumentasi foto tentang aktivitas Belanda di wilayah Australia ini.


9 Februari 1944: Kedatangan para prajurit KNIL berwajah Indonesia di stasiun kereta Melbourne untuk digembleng di kamp militer
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Barisan para prajurit KNIL berwajah Indonesia di Kamp Victory
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang merupakan bagian dari kesatuan Hindia-Barat …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang a.l. terdiri dari para prajurit keturunan Jawa …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang boleh jadi untuk pertama kalinya akan menginjak tanah leluhurnya di Indonesia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1944 (2 foto pertama); 1945 (foto lainnya)
Tempat: Brisbane (Australia)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:


UPDATE 11 April 2026: Edisi lain dari dua foto pertama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Sabtu, 31 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (6)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Foto Samsoedin di Middelbare Handelsschool yang tampaknya dia masuki setelah lulus MULO; fot lainnya menunjukkan saudara-saudara perempuan dan tampaknya keponakannya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto atas tampaknya menunjukkan anak-anak kalangan atas dari warga pribumi dan Tionghoa dalam sebuah acara (sekolah?); foto bawah menunjukkan Samsoedin duduk di tengah, tampaknya di antara perkumpulan siswa yang diberi nama "Mercurius"
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto-foto dari Madura, Karang Hawu dan Cisolok di Pelabuhan Ratu, serta kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke pengurus Persatuan Islam di Bandung juga di sebuah villa di Gunung Puntang juga di Bandung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah foto keluarga dari kerabat Samsoedin
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto kerabat dan kenang-kenangan dari kunjungan ke Subang, serta penangkapan seekor hiu di Pelabuhan Ratu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kumpulan foto keluarga yang banyak menampilkan ayah Samsoedin (Sultan Anom), ibunya, serta keponakan-keponakannya; kemungkinan di Cirebon
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Bandung, Cirebon, Subang, Sukabumi
Tokoh: Khalid Sheldrake (tokoh Muslim Inggris yang bernama asli Bertram William); Samsoedin menyebut Khalid sebagai "Pres.(ident of) Western-Islamic-Association"
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 27 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (4)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Penjelajahan bersama teman-teman sekolah a.l. ke Subang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gua (?) Pawon di Bandung, serta Situ Empang di Purwakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kunjungan ke Palembang dan Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kenang-kenangan dari kunjungan ke Bangkalan, Cicalengka, Lamongan, dan menyebarangi Bengawan Solo melalui jembatan Babat-Widang di Tuban
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto keluarga a.l. di Jubileumspark Bandung dan Singapura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kebun binatang Darmo di Surabaya dan berburu banteng di Tomo/Buahdua, Sumedang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Samsoedin dalam pakaian Bali, ayah-ibunya, serta sanak saudaranya, serta foto dari kunjungan ke Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Bali, Bandung, Bangkalan, Cirebon, Lamongan, Malang, Palembang, Purwakarta, Singapura, Subang, Sumedang, Surabaya, Tuban
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: