Tampilkan postingan dengan label karikatur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karikatur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Mei 2023

Poster-poster proganda anti-Jepang yang disebarkan Belanda dan Sekutu (2)

~1943: Poster ini menyerukan kerjasama antara Belanda, dengan klewang, dan pribumi, dengan keris, untuk membebaskan diri dari lilitan ular militer Jepang
(klik untuk memperbesar | © Harry Waters Armstrong / Beeldbank WO2 / NIOD)
~1943: Militer Jepang digambarkan sebagai gurita yang panik mendapat serangan bom dari Sekutu
(klik untuk memperbesar | © Albert Orbaan / Beeldbank WO2 / NIOD)
~1945: Militer Jepang digambarkan sebagai orang sadis yang doyan menyiksa dan menganggap orang lain roti untuk disantap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
5 Mei 1945: Poster ini menyebut bahwa Belanda sudah bebas (dari pendudukan Jerman), tetapi Hindia-Belanda masih ditikam Jepang yang sudah babak belur dan tenggelam
(klik untuk memperbesar | © Frederixs / Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1943, 1945
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: a.l. Albert Orbaan, Frederixs, Harry Waters Armstrong
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 15 Mei 2023

Poster-poster proganda anti-Jepang yang disebarkan Belanda dan Sekutu (1)

~1945: Hindia-Belanda harus bebas! Kerjakan dan perjuangkan itu!
(klik untuk memperbesar | © Pat Keely / Beeldbank WO2 / NIOD)
~1943: Militer Jepang digambarkan sebagai monyet yang ketakutan akan datangnya serangan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Mac Arthur
(klik untuk memperbesar | © Albert Orbaan / Beeldbank WO2 / NIOD)
~1943: Militer Jepang digambarkan sebagai laba-laba bengis yang mencengkram Hindia-Belanda sementara PBB siap membebaskannya dengan senjata
(klik untuk memperbesar | © Harry Waters Armstrong / Beeldbank WO2 / NIOD)
~1943: Militer Jepang digambarkan sebagai orang yang menjanjikan kesejahteraan tetapi sejatinya membawa kesengsaraan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari poster nomor 2 di atas
(klik untuk memperbesar | © Albert Orbaan / Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1943, 1945
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: a.l. Albert Orbaan, Harry Waters Armstrong, Pat Keely
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Poster pertama pernah dimuat di posting ini dalam ukuran yang lebih kecil.

Sabtu, 16 Oktober 2021

Karikatur tentang penyebaran faham komunisme di Indonesia oleh kelompok kiri Belanda, 1930

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 14 Juni 1930
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Wilhelm Middendorp adalah mantan anggota parlemen Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk menjadi asisten-residen. Middendorp berpaham kiri, dan karikatur di atas memperlihatkan bagaimana dia mencoba menyebarkan ideologinya di kalangan masyarakat Indonesia. Lambang Kerajaan Belanda tampak tak terurus, semantara foto Lenin malah terpasang rapi. Bendera palu arit tampak berada di kursi rumah dinasnya sebagai asisten-residen, dan juga menyebar ke masyarakat Indonesia yang mendengarkannya.
Juru foto/gambar: Wam Heskes
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 16 Februari 2021

Stasiun akhir repatriasi warga Belanda dan pengungsian warga Indonesia pro-Belanda, 1958

Bubarnya Republik Indonesia Serikat dan tidak berjalannya Uni Belanda-Indonesia, yang kemudian disusul oleh nasionalisasi aset-aset Belanda di Indonesia, membuat warga Belanda meninggalkan Indonesia dan berepatriasi ke negeri leluhurnya, dengan diikuti juga oleh sebagian warga lokal dan Indo-Belanda yang lebih memilih tinggal di Belanda daripada menetap di Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Dua bocah berwajah Nusantara tampak turun dan dituntun dari kapal Willem Ruys yang mengangkut mereka dari Indonesia ke Rotterdam.

(klik untuk memperbesar | © Guust Hens / AVS)

Dua anak di foto pertama di atas mungkin menjadi inspirasi buat Guust Hens untuk membuat sketsa di atas, paling tidak dalam menggambarkan dua bocah lelaki dan perempuan di barisan paling depan dari antrian warga yang turun dari kapal Willem Ruys ini. Berbeda dengan foto sebelumnya yang memperlihatkan wajah yang ceria, wajah-wajah di sketsa ini, terutama di kalangan dewasa, cenderung lebih dingin.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Suasana lebih dingin ditampilkan oleh Leo Jordaan dalam karikatur di atas. Tampak satu keluarga yang melakukan repatriasi (si ibu tampaknya mengenakan bawahan kain batik) harus menghadapi bukan hanya cuaca yang dingin, pepohonan yang kering, rumah susun yang sepi dan gelap, tapi juga penghuni lama yang tampak apatis. Leo Jordaan tampaknya ingin memperlihatkan itulah sambutan dan tempat tinggal yang menanti mereka di Belanda.

Waktu: 1958
Tempat: Rotterdam
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Guust Hens | Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 08 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan pertama langsung dari Belanda ke Indonesia, 1924

Keberhasilan melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di bulan Oktober-November 1924, meskipun dengan banyak pemberhentian dan kendala (lihat posting tentang ini), merupakan hal yang sangat membanggakan warga Belanda. Betapa tidak, ini adalah penerbangan langsung terpanjang di dunia saat itu, dan sebuah pesawat dengan 3 awak membuktikan bahwa jarak 16.000 km bukan halangan untuk sebuah penerbangan langsung.

Tidak mengherankan apabila prestasi ini mendapat banyak perhatian, baik sebelum maupun sesudahnya, yang a.l. akan ditampilkan di bawah ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ini adalah sampul dari majalah Het Vliegveld keluaran September 1924, beberapa hari sebelum penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia dilaksanaan. Sampul ini menampilkan pesawat Fokker H-NACC yang akan melakukan penerbangan bersejarah ini.

(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / AVS)

Karikatur di atas terbit di De Amsterdammer edisi 4 Oktober 1924 yang memperlihatkan pelopor pelayaran dari Belanda ke Nusantara di abad ke-16, Cornelis de Houtman, menyaksikan lepas landasnya si Fokker H-NACC sambil berucap: "Anak-anak yang hebat! Persis seperti di zamanku: Pergi untuk pertama kalinya ke Hindia Timur ... dan juga tanpa bantuan pemerintah."

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ini adalah isi dari majalah Het Leven keluaran 29 November 1924. Foto paling atas memperlihatkan kerumunan warga Belanda di depan kantor KLM untuk membaca berita berhasilnya penerbangan langsung ini. Foto tengah kiri menunjukkan karangan bunga dan berbagai ucapan selamat untuk tiga awak yang berhasil terbang langsung dari Belanda ke Indonesia. Sementara foto tengah kanan tampaknya merupakan montage dari foto ketiga awak dengan karangan bunga dan baling-baling. [Foto paling bawah merupakan pesawat karya Belanda lain yang akan dipamerkan di Paris.]

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Lembaran peringatan ini terbit di Surabaya di bulan November/Desember 1924, setelah keberhasilan penerbangan langsung. Lembaran berisi sajak pujian atas tonggak perhubungan antara Belanda dan Nusantara ini. Prestasi tiga awak Fokker H-NACC disandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Cornelis de Houtman sekitar 300 tahun sebelumnya.

Waktu: 1924
Tempat: Belanda, Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek (gambar nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 06 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1955-1958 & 1970

Het Parool, 19 April 1955
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Bagi Leo Jordaan yang membuat karikatur ini, Konferensi Asia Afrika di Bandung adalah ajang buat Zhou Enlai untuk menawarkan komunisme dan Jawaharlal Nehru untuk mengkampanyekan nasionalisme-sekuler di kalangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

(klik untuk memperbesar | © Menno van Meeteren / AVS)

Karikatur yang berjudul Het verloren paradijs ("surga yang lepas") ini disebut berasal dari tahun 1956, tapi mungkin dibuat di tahun 1950. Karya ini menggambarkan seorang Belanda dengan pakaian a la Gubernur Jenderal meninggalkan Indonesia dengan menahan malu, sementara Singa Belanda yang mendampinginya tampak cedera.

Vrij Nederland, 1 Maret 1958
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Perang saudara di Indonesia antara pemerintah pusat di Jakarta dengan pemberontak di Sumatera Barat digambarkan oleh Leo Jordaan sebagai peristiwa di mana pada ujungnya dunia komunisme (diwakili oleh Nikita Khrushchev dan Mao Zedong) adalah pihak yang akan mengambil keuntungan.

De Tijd - De Maasbode, 12 Agustus 1970
(klik untuk memperbesar | © Charles Boost / AVS)

Soekarno banyak berkunjung ke manca negara, dan berbagai negara di Eropa, tapi tidak pernah ke Belanda. Karenanya, kunjungan Soeharto ke Belanda di tahun 1970 merupakan tonggak penting dalam pemulihan persahabatan antara Belanda dan Indonesia. Namun, di Belanda sudah menunggu berbagai kalangan yang cenderung negatif terhadap Indonesia seperti diperlihatkan di karikatur di atas. Ini mulai dari Door de Eeuwen Trouw yang mendukung RMS, hingga ke kalangan yang menyebut Soeharto sebagai moordenaar (jagal), dan yang memperjuangkan hak-hak rakyat Papua.

Waktu: 1955, 1956, 1958, 1970
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Boost | Leo Jordaan | Menno van Meeteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 04 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1949-1952

De Vlam, 26 Maret 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Salah satu saat paling kelam dalam sejarah Belanda adalah era pendudukan Jerman Nazi di masa Perang Dunia II. Karenanya, membandingkan petinggi sipil dan militer Belanda dengan tokoh Nazi merupakan sindiran yang sangat pedas. Dan ini dilakukan oleh karikaturis Wim van Wieringen.

Pemicunya adalah sanggahan dari para pejabat Belanda atas adanya kekerasan atau malah kejahatan perang yang dilakukan KNIL dan/atau militer Belanda di Indonesia; padahal, laporan tentang itu paling tidak terdengar dari Sulawesi Selatan, Pakishaji, Bondowoso, Karawang, dan Bangka. Wim membandingkan sanggahan ini dengan penyangkalan para tokoh Nazi bahwa mereka tahu adanya pengiriman kaum Yahudi ke kamp pemusnahan.

Wim menggambarkan Komisioner Tinggi untuk Hindia-Belanda, Louis Beel (kelak menjadi PM Belanda), dan Panglima Belanda Jenderal Simon Spoor, berbaris seirama dengan Panglima SS, Heinrich Himmler, dan Menteri Propaganda Jerman, Joseph Goebbels, dan semuanya berteriak dalam bahasa Jerman "Es ist nicht wahr" (Itu tidak benar).

De Vlam, 5 November 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Penghujung 1949 adalah masa ketika Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia. Karikatur di atas menggambarkan burung garuda yang menjadi terbang bebas meninggalkan sebagian kalangan Belanda yang tampaknya selama ini memiliki beberapa rencana yang terpaksa menjadi batal dan berantakan. Rencana yang terbaca a.l. penangkapan atas ibunda Soekarno, pergerakan tentara, serta rencana atas Papua.

Vrij Nederland, 28 Januari 1950
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Buku sejarah di Indonesia umumnya menyebut pemberontakan APRA sebagai ulah Westerling. Tetapi karikatur di atas menggambarkan bahwa Westerling hanyalah sebagai bidak catur yang dimainkan orang lain. Karikatur ini bertanya: "Wie is de speler?" (Siapa pemainnya/dalangnya?).

Vrij Nederland, 31 Maret 1952
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Pada tanggal 22 Mei 1952, atasa militer Indonesia di Belanda, Kolonel Mas Tirtodarmo Haryono, dikepung dan ditodong dengan pistol oleh 2 orang tak dikenal. Sempat terjadi pergulatan dan tembakan, namun Haryono selamat meskipun kepalanya berdarah terpukul gagang pistol. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana PM Belanda, Willem Drees, bersama Nona (Nyonya?) Belanda harus kaget melihat bahwa di kasur mereka (artinya di negeri mereka) banyak sekali kutu busuk. Menurut catatan atas karikatur ini, pelaku kekerasan atas Haryono bukanlah perorangan, melainkan bagian dari kelompok anti-Indonesia yang terorganisir.

Waktu: 1949, 1950, 1952
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Belanda dan Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 02 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1948

De Vlam, antara 1946 dan 1948
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Ada kalangan di Belanda yang menganggap bahwa Uni Sovyet, atau dunia komunisme, mendukung Indonesia dalam perjuangannya melawan Belanda. Menurut karikatur ini, kenyataannya keberanian Indonesia yang dengan tangan kosong melawan Singa Belanda yang bersenjata pedang, justru membuat melongo si Beruang Rusia.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur karya Leo Jordaan yang berjudul De oplossing? (Solusi?) ini tampaknya mengajukan pendapat bahwa solusi atas konflik bersenjata antara Belanda dan Indonesia mungkin bisa tercapai apabila kekuatan militer kedua belah pihak meletakkan senjatanya dan beristirahat tanpa harus segan-segan berdekatan.

De Groene Amsterdammer, 24 Juli 1948
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Olimpiade 1948 yang diselenggarakan di London seharusnya bisa menjadi ajang persahabatan pertama dunia setelah usainya Perang Dunia II. Kenyataannya 1948 merupakan tahun yang penuh konflik, a.l. Arab vs. Israel, Stalin vs. Tito, Marshall vs. Molotov, dsb. termasuk Soekarno vs. Van Mook. Dewi pembawa obor Olimpiade tampak digambarkan kesulitan untuk berjalan melewati pihak-pihak yang bertikai ini.

Het Parool, 14 Desember 1948
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan Muhammad Hatta dan Menlu Belanda Dirk Stikker, yang sebenarnya berdiri tidak jauh dari satu sama lain, dan keduanya sudah bersedia dan bersiap untuk saling menghampiri. Tetapi belukar yang terdiri dari berbagai macam persoalan menghalangi keduanya untuk makin mendekat. Beluar ini a.l. adalah kesalahpahaman, gengsi, penafsiran atas hasil perjanjian Linggarjati dan Renville, dll.

Waktu: 1948
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu konflik Belanda-Indonesia di tahun 1948.
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 31 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1946-1947

De Groene Amsterdammer, 16 Februari 1946
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini berasal dari masa ketika Belanda berusaha memulihkan kekuasaan di Indonesia, sementara rakyat Indonesia mencoba mendirikan pemerintahan sendiri yang berdaulat. Situasi ini digambarkan seperti di pertunjukan sirkus. Profesor Johann Logemann, saat itu Menteri Urusan Tanah Jajahan, digambarkan sudah melepaskan Van Mook, tokoh kelahiran Semarang yang ditunjuk menjadi Letnan Gubernur Jenderal. Tetapi Sutan Sjahrir, saat itu Perdana Menteri, tampak belum di posisi yang siap menyambut Van Mook. Para penonton tampak terlihat tegang untuk melihat kelanjutan dari adegan ini.

Elseviers Weekblad, 9 November 1946
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Karikatur ini mengenang Eduard Douwes Dekker dan mengutip ucapan Multatuli: "Baiklah, baiklah! Tapi ... rakyat Jawa dianiaya!", serta menggambarkan bagaimana rakyat jelata harus memikul beban yang berat, sementara kaum priyayi dan berada hanya menyaksikan.

De Groene Amsterdammer, 7 Desember 1946
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini tampaknya menggambarkan reaksi sebagian kalangan di Belanda yang menolak Perjanjian Linggarjati, antara lain kelompok Indië in Nood, Partij voor de Vrijheid, Nationale Jonge Verbond, serta pers liberal, yang dianggap mencoba menahan lajunya jam.

Het Parool, 2 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini muncul ketika Aksi Polisionil 1 diluncurkan dan konflik bersenjata antara Belanda dan pejuang kemerdekaan pecah menjadi perang. Presiden AS, Harry Truman, digambarkan sebagai polisi yang mencoba melerai perkelahian antara Belanda dan Indonesia, dan menawarkan bantuan keuangan bagi yang mengikuti arahan dia.

Elsevier, Juli/September 1947
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Kaikatur ini menggambarkan kelesuan para pedagang Tionghoa di masa Aksi Polisionil 1. Perang terbuka yang pecah telah membuat warung, toko, dan perdagangan menjadi sepi.

Waktu: 1946, 1947
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Eppo Doeve | Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 29 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1934-1945

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur di atas dibuat sekitar tahun 1915 dan 1934. Seperti disinggung di posting sebelum ini, masalah candu di Hindia-Belanda, terutama di Jawa telah menjadi persoalan yang akut. Karikatur di atas mengabarkan bahwa masyarakat Tionghoa di Hindia-Belanda memohon kepada pemerintahan Belanda yang berasal dari dunia Kristiani agar dalam waktu 3 tahun produksi dan penjualan candu bisa dihentikan, serta rumah sakit untuk perawatan pecandu didirikan.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur di atas dibuat sekitar tahun 1925-1934 oleh Leo Jordaan yang kemudian akan membuat banyak karikatur tentang Indonesia. Karya ini berjudul "... dan Hindia berdansa!" yang bisa ditafsirkan bahwa dansa-dansinya warga Belanda di Indonesia sejatinya dibayang-bayangi oleh bahaya bahwa suatu saat rakyat Hindia-Belanda akan "meletus".

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Sketsa di atas dibuat di tahun 1942, dan tampaknya memperlihatkan kesiagaan warga Hindia-Belanda bersama kesatuan KNIL dalam menghadapi invasi (Jepang). Sejarah mencatat bahwa Jepang dengan relatif cepat bisa menundukkan pertahanan KNIL.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur di atas terbit di bulan Oktober 1945, hanya sekitar 2 bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Menurut karikatur ini, Menteri Urusan Tanah Jajahan, Profesor Johann Logeman berusaha untuk menghubungi rakyat Indonesia untuk menyampaikan bereidheid tot onderhandelen (kebersediaan untuk bernegosiasi), tetapi upaya ini tidak disambungi oleh Perhimpunan Indonesia.

Waktu: 1934, 1942, 1945
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Nusantara
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Louis Raemaekers
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 27 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1925-1929

De Groene Amsterdammer, 1925
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / AVS)

Perkembangan faham komunis di Hindia-Belanda di tahun 1920-an membuat gusar beberapa pihak di Belanda. Pertemuan PKI pada tahun 1925 (di Jakarta?), yang a.l. menyerukan penumbangan pemerintahan penjajahan Belanda, menjadi catatan buat beberapa kalangan Belanda. Karikatur di atas menyuarakan bahwa apa yang ditabur oleh kaum komunis akan diikuti oleh kematian.

Januari/Februari 1925
(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Pulau Jawa di abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan salah satu wilayah penyebaran candu. Karikatur di atas mengkritik pemerintah Belanda yang membiarkan kerusakan akibat ganja meraja lela demi keuntungan 40 juta Gulden per tahun.

De Telegraaf, 19 September 1929
(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Para pemilik perkebunan di Hindia-Belanda, sejak tahun 1880, memiliki hak untuk menjatuhkan poenale sanctie (sanksi hukuman) kepada para pekerja atau kulinya jika dianggap malas, melakukan penghinaan, atau berusaha kabur dari perkebunan. Hukuman dera merupakan sanksi yang banyak diterapkan. Di tahun 1929 tampaknya ada pekerja yang tewas gara-gara hukuman ini, dan memicu perdebatan tentang perlakuan terhadap para kuli. Karikatur di atas menggambarkan bahwa di atas kepala pemilik perkebunan sekarang bergantung pedang Damokles, yang suatu saat bisa tiba-tiba lepas dari tali tipisnya dan jatuh mengenai si pemilik perkebunan.

De Telegraaf, 31 Oktober 1929
(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Pemerintah penjajahan Hindia-Belanda akhirnya mengeluarkan aturan yang lebih melindungi para kuli. Sekitar sebulan setelah kematian seorang kuli akibat poenale sanctie, sanksi hukuman seperti ini dilarang, tapi sementara hanya untuk pekerja yang sudah usai masa kontraknya dan kemudian memperpanjangnya.

Waktu: 1925, 1929
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Hindia-Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 25 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1903-1923

De Amsterdammer, 1 November 1903
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz menyambut kedatangan Merkurius, dewa perdagangan Romawi, di pelabuhan Sabang, yang menyusul Mars, dewa perang Romawi, yang sudah ada di sana. Karikatur ini bisa ditafsirkan bahwa dari awal Belanda memang memiliki motivasi ekonomi di dalam usahanya untuk menguasai Aceh.

De Amsterdammer, 26 Januari 1908
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur di atas berasal dari era ketika para seniman besar Belanda di bidang pertunjukan pada mendatangi wilayah Nusantara. Nama-nama yang ditampilkan a.l. Louis Bouwmeester, Anton Kimmel, dan Albert Vogel. Mbok Indonesia yang merasa heran bertanya kepada Nona Belanda apakah mereka itu anak-anaknya. Nona Belanda menjawab bahwa mereka itu sekedar pencari emas.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur ini muncul antara tahun 1914 dan 1918 dan menggambarkan bagaimana seorang agen Jerman merayu rakyat Indonesia dengan menjanjikan senjata dan uang untuk mengenyahkan penjajah Belanda. Bahwa Jerman mencoba membangkitkan perlawanan rakyat Indonesia untuk mengusir Belanda, ini adalah hal yang tampkanya jarang disinggung sejarah.

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini muncul di tahun 1923, di saat Belanda melakukan banyak pengetatan anggaran. Tetapi, sebuah undang-undang dengan nama de Vlootwet (Undang-undang Armada) disahkan, guna mempertangguh kekuatan laut Belanda di wilayah Nusantara. Tampaknya saat itu Belanda sudah menyadari bahwa wilayah Nusantara dengan banyak pulau dan periarannya memerlukan armada laut yang tangguh. Boleh jadi Belanda juga sudah melihat bahwa kekuatan laut Jepang bisa menjadi ancaman serius; sebuah pandangan yang kemudian terbukti benar.

Waktu: 1903, 1908, 1918, 1923
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers | Piet van der Hem
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 23 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1888-1897

De Amsterdammer, 16 September 1888
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas mengenang salah satu jenderal KNIL yang mashur di Perang Aceh dan tampaknya menyukai wilayah Minangkabau, Johannes van Swieten, yang meninggal pada tanggal 9 September 1888.

De Amsterdammer, 8 Oktober 1892
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan serah terima jabatan Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda dari Cornelis Pijnacker Hordijk (kanan) ke Carel Herman Aart van der Wijck (kiri) dengan latar belakang Istana Bogor. Hordijk mengeluhkan bahwa nama Buyten-Sorgh (=buiten zorge; cikal bakal nama Bogor) yang maknanya "tanpa kekhawatiran" telah menjadi Nooyt-Gedagt (=nooit gedagt) yang bermakna "tidak pernah bermesraan". Tampaknya keluhan ini keluar karena konflik di Aceh dan kemudian Lombok menjadi masalah pelik untuk kedua gubernur-jenderal ini.

De Amsterdammer, 17 April 1893
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Presiden Perancis, Marie François Sadi Carnot, yang kewalahan menghadapi perlawanan bangsa Afrika di koloni Perancis di sana, meminta saran dari politisi Belanda, Willem Karel van Dedem, yang dianggap handal dalam menghadapi wilayah jajahannya. Van Dedem hanya bisa berujar bahwa Carnot pastinya belum pernah mendengar perlawanan rakyat Aceh.

De Amsterdammer, 24 Oktober 1897
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Gubernur-Jenderal Cornelis Pijnacker Hordijk memberikan kursi baru untuk rakyat Indonesia dengan tumpuan batubara, tembakau, minyak bumi, dan emas, untuk menggantikan kursi lama yang sudah mulai patah yang bertumpu sepenuhnya pada hasil agraria tembakau, gula, dan kopi.

Waktu: 1888, 1892, 1893, 1897
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: