Tampilkan postingan dengan label Dwight D. Eisenhower. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dwight D. Eisenhower. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1959

(klik untuk memperbesar | © AVS)
12 Februari 1959: "Baik-baik ya, tapi jangan lempar ke topi si bapak!"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana Amerika (diwakili oleh Dwight Eisenhower) dan Inggris (diwakili Harold Macmillan) bukan hanya membiarkan Soekarno melecehkan Belanda (diwakili Louise Beel) tapi memberinya amunisi, selama Soekarno tidak mengganggu topi Irian.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
4 Juni 1959: "Tetes terakhir"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno menghabiskan tetes terakhir dari Demokrasi Terpimpin.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
11 Juli 1959: "Bapak-bapak, sidang kabinet dibuka"
Karikatur ini menyambut berita bahwa Soekarno membubarkan Kabinet Juanda dan menggantinya dengan kabinet baru yang terdiri dari 4 bagian. Bagi si karikaturis, isi kabinet ini hanyalah Soekarno semua.

Waktu: 1959
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 10 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1957 (1)

(klik untuk memperbesar | © AVS)
5 Januari 1957: "Badai melanda Indonesia"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana ketidakpuasan daerah telah membuat Aceh, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Tengah meninggalkan Soekarno.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
10 Januari 1957
Tampaknya pernah ada perselisihan antara Belanda (diwakili Joseph Luns) dan Inggris (diwakili Harold Macmillan) a.l. terkait penerbangan KLM dari Amsterdam ke Singapura (yang waktu itu masih jajahan Inggris). Amerika (diwakili Dwight Eisenhower) mencoba menengahi sesama anggota NATO ini. Tetapi diam-diam tangan Eisenhower memasok sesuatu ke Indonesia (diwakili Soekarno di balik pintu).

(klik untuk memperbesar | © AVS)
17 Januari 1957: "Penyanyi tenor baru"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana Soekarno lantang di panggung dengan memegang pedang kediktatoran, tetapi semuanya diatur oleh Mao Zedong, Nikita Khrushchev, dan Gamal Abdel Nasser.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
9 Maret 1957: "Dalang dan wayangnya"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno sebagai dalang dengan lakon "Irian" tetapi malah mendapat kemarahan dari wayang Indonesia Timur (tampaknya melambangkan Permesta) dan Sumatra (melambangkan PRRI).
(klik untuk memperbesar | © AVS)
21 November 1957: "Irian ... atau pintu kerangkeng dibuka!"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno siap membuka pintu amukan massa, yang begitu terkepas bebas kemungkinan bisa memangsa dirinya sendiri, dan pada ujungnya hanya menguntungkan burung nasar Mao Zedong dan Nikita Khrushchev.

Waktu: 1957
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Charles Boost (nomor 2), Leendert Jurriaan Jordaan (selain nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 08 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1954-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)
30 Januari 1954. Kasus persidangan Leon Jungschläger pernah menjadi kontoversi sengit antara Belanda dan Indonesia. Belanda merasa bahwa Indonesia tidak sepenuhnya jujur dalam hal ini. Karikatur ini menggambarkan bagaimana ketika Soekarno bicara tentang kasus ini, di depan a.l. Dwight Eisenhower dan John Foster Dulles, detektor kebohongan ditawarkan, tetapi Amerika (diwakili Richard Nixon) menolaknya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
15 November 1955. Soekarno berkata di Bandung bahwa "Hanya ada tiga pemimpin besar dalam sejarah yang mampu menarik jutaan orang untuk berkumpul: Hitler, Gandhi, dan Soekarno!" Ucapan penuh percaya diri ini disambar karikaturis Leendert Jordaan dengan menggambarkan Soekarno bersama pecinya, diberi kacamata dan jubah Gandhi, serta rambut, seragam, dan ayunan tangan Hitler. Jordaan memberi judul karikatur ini "three in one".
(klik untuk memperbesar | © AVS)
24 Mei 1956. Soekarno mendapat gelar doktor kehormatan dari Columbia University, dan langsung merobek pengakuan bersalah terhadap Belanda.

Waktu: 1955, 1955, 1956
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Charles Boost (nomor 1 dan 3), Leendert Jurriaan Jordaan (nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 02 Juli 2013

Soekarno dan Eisenhower, 1960

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: Oktober 1960
Tempat: Gedung Putih, Washington DC
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Dwight David Eisenhower (Presiden Amerika Serikat), Clarence Douglas Dillon (Pejabat Menteri Luar Negeri AS; berdiri di dekat bendera AS)
Peristiwa: Soekarno bertemu Eisenhower di Gedung Putih di dalam usaha Soekarno untuk mempertemukan Eisenhower dengan pemimpin Uni Sovyet Nikita Krushchev.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Keystone-France / Gamma-Keystone via Getty Images

Senin, 01 Juli 2013

Soekarno dan Eisenhower, 1956

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 16 Mei 1956 & 19 Mei 1956 (foto bawah)
Tempat: Washington DC
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Dwight David Eisenhower (Presiden AS), Mamie Geneva Doud Eisenhower (First Lady AS, foto bawah)
Peristiwa:
- Soekarno berkunjung ke Gedung Putih.
- Eisenhower menerangkan cara kerja penyiaran televisi dari Gedung Putih.
- Eisenhower dan isteri menjamu Soekarno makan malam di Hotel Mayflower.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis
Catatan: Lihat juga foto-foto di bawah dari agentur yang lain untuk peristiwa yang sama.


(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Fotografer: Doug Chevalier [1], Ed Clark [2-3]
Sumber / Hak cipta: AFP / Getty Images [1], Time Life Pictures / Getty Images [2], LIFE [3]