Tampilkan postingan dengan label Lubuk Alung (Padang Pariaman). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lubuk Alung (Padang Pariaman). Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2018

Pasukan loreng Belanda menyisir wilayah Lubuk Alung, Desember 1947 (2)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 10 Desember 1947
Tempat: Lubuk Alung (Padang Pariaman)
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan loreng Belanda menyisir wilayah Lubuk Alung dalam usaha menyudutkan para pejuang kemerdekaan semasa Aksi Polisionil 1. Foto-foto tidak memperlihatkan adanya kontak senjata, hanya temuan Belanda akan dua meriam bambu yang tampaknya hanya mainan serta bangunan yang kemungkinan sengaja dirusak.
Fotografer: Harry Stegerda
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 28 November 2018

Pasukan loreng Belanda menyisir wilayah Lubuk Alung, Desember 1947 (1)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 10 Desember 1947
Tempat: Lubuk Alung (Padang Pariaman)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Harry Stegerda
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 28 Juli 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (9): Kerusakan di Lubuk Alung (Padang Pariaman)

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)
Warga Tioghoa(?) yang tidak sempat diungsikan
(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)
5 Oktober 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
5 Oktober 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Agustus-Oktober 1947
Tempat: Lubuk Alung (Padang Pariaman)
Tokoh:
Peristiwa: Kerusakan atas komplek perumahan warga Tionghoa di Lubuk Alung (Padang Pariaman), yang dilakukan para pejuang kemerdekaan menyusul Aksi Polisionil 1 oleh pihak militer Belanda.
Fotografer: Staal
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Foto paling atas pernah dimuat di posting sebelumnya, dengan posisi terbalik; kali ini dimuat lagi dengan kualitas lebih bagus dan ukuran lebih besar.

Kamis, 26 Juli 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (8): Kerusakan di pasar Lubuk Alung (Padang Pariaman)

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)

Waktu: Agustus 1947
Tempat: Lubuk Alung (Padang Pariaman)
Tokoh:
Peristiwa: Kerusakan atas kompleks pasar Lubuk Alung (Padang Pariaman) yang dihuni banyak warga Tionghoa, dilakukan para pejuang kemerdekaan di bulan Agustus 1947, menyusul Aksi Polisionil 1 oleh pihak militer Belanda.
Fotografer: Staal
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 13 Juli 2017

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (11): Padang dan Lubuk Alung

6 Agustus 1947: Lubuk Alung (Padang Pariaman)
(klik untuk memperbesar | © Staal / gahetna)
20 Juli 1947: Sebuah gereja Protestan di Padang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
20 Juli 1947: Sebuah gereja Protestan di Padang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Padang, Lubuk Alung (Padang Pariaman)
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 agar aset yang dianggap penting tidak jatuh ke tangan Belanda.
Fotografer: Staal (foto atas)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: