Tampilkan postingan dengan label binatu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label binatu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 April 2025

Surabaya di sekitar tahun 1920-an (3)

Sebuah trem melintas di atas Jembatan Simpang/Gubeng
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah jembatan di kawasan Pengampon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Surabaya mandi di Kali Pegirian, dengan latar belakang rendaman bambu, pakaian yang dijemur binatu, serta perumahan warga Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (?)
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 17 Februari 2024

Buku belajar huruf "Indisch ABC" dari tahun 1910 (3)

P … penatu > binatu; R … ronggeng; S … sarung
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
W … warung; IJ … ijsman (tukang es); Z ... zoen > sun (ciuman)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1910
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Buku Indisch ABC adalah buku Belanda untuk anak-anak berisi pengenalan huruf dengan mengacu pada hal-hal di Hindia-Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 08 Maret 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (5)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


49. Tambang batu bara di Sawahlunto
(klik untuk memperbesar | © AVS)
51. Mencuci pakaian di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © AVS)
55. Jalan Wilhelmina di Sukabumi
(klik untuk memperbesar | © AVS)
59. Drempel (pintu air), bagian dari sebuah sistem irigasi di Jawa
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Sawahlunto, Jakarta, Sukabumi, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Atlas Van Stolk
Catatan: Edisi lain dari foto no. 51 pernah dimuat di posting ini.

Senin, 09 November 2020

Jakarta tempo doeloe: Kanalisasi buatan Belanda

Sekitar 1889: Dua perahu melintas sebuah kanal
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1890: Kanalisasi di yang sekarang Jalan Veteran, dengan latar belakang Hotel Grand Java
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kemungkinan kanalisasi di Jalan Veteran sekarang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Foto di atas di tahun dan sudut pengambilan yang berbeda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sebuah kanal di saat kering (atau dikeringkan?) sementara usaha binatu tampaknya tetap jalan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1889, 1890
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 20 Oktober 2014

Mencuci di sungai, di Malang dan Jakarta, sekitar tahun 1910

Malang (?)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Jakarta
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Jakarta
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: sekitar 1910
Tempat: Jakarta, Malang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Gedung di foto bawah bertuliskan De Tabaksplant, sigaren en sigaretten magazijn (gudang tembakau dan rokok) serta Hollandsche Sociteit van levensverzekeringen (asuransi jiwa).

Jumat, 17 Oktober 2014

Wajah Malang dan warganya di sekitar tahun 1910

Jembatan di atas Kali Brantas (klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu:1910
Tempat: Malang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 05 Februari 2014

Binatu mencuci kain di sungai, 1920

Hulton Archive/Getty Images
Waktu: sekitar 1920
Tempat: Kali Besar, Jakarta (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Hulton Archive/Getty Images