Tampilkan postingan dengan label 1926. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1926. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2026

Kekuatan KNIL Laut sebelum Perang Dunia II (1)

Latihan awak meriam kapal perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Oktober 1937: Armada kapal perang KNIL di perairan Ambon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
30 Januari 1926: Buritan kapal penjelajah Hr. Ms. Java penyok setelah tabrakan di perairan Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1926, 1937
Tempat: a.l. Ambon, Tanjung Priuk (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 03 Februari 2024

Foto bersama warga Jawa dengan orang Belanda

Solo, antara 1915 dan 1920, di depan bangunan yang kelak menjadi Museum Radya Pustaka; …
(klik untuk memperbesar | © NGA)
… kemungkinan di bagian lain dari bangunan yang sama (dua wanita Belanda di foto pertama muncul lagi di foto ini)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah foto bersama di tahun 1926
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1915-1920, 1926
Tempat: Jawa (a.l. Solo)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio L. Keng Meng (foto pertama dan kemungkinan juga nomor 2)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Studio "L. Keng Meng" juga disebut "L. King Ming" atau "L. King Meng"

Minggu, 14 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Pesta dan perayaan

1926: Sebuah pesta di Bondowoso
(klik untuk memperbesar | © NGA)
28 Januari 1918: Sebuah pesta di Solo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1922: Sebuah perayaan 50 tahun di Solo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah perayaan yang dihadiri a.l. oleh warga Belanda, Jawa, dan Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1918, 1922, 1926
Tempat: Jawa (a.l. Bondowoso, Solo)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Promemoria, Bondowoso (foto pertama); Studio L. Keng Meng (foto nomor 2 dan 3)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Studio "L. Keng Meng" juga disebut "L. King Ming" atau "L. King Meng"

Rabu, 10 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Pentas dan pertunjukan (1)

1926: Sebuah pertunjukan dengan pria berkostum kelasi dan wanita mengenakan kimono
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pertunjukan yang memeragakan Kleopatra (?) dengan para dayang-dayangnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pertunjukan dengan kostum dan tata panggung Germania
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pertunjukan dari kisah Kurcaci dan Pembuat Sepatu (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1926
Tempat: tidak ada keterangan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 09 Maret 2023

Kumpulan foto hasil jepretan K.T. Satake dari sekitar tahun 1930 (5)

K.T. Satake adalah juru foto dari Jepang yang berkeliling di Hindia-Belanda pada sekitar tahun 1930 dan mempublikasikan foto-fotonya di album berjudul Sumatra Java Bali yang dikeluarkan pada tahun 1933. Blog ini pernah menampilkan beberapa foto karya Satake ini sejak tanggal 30 Juni 2017 hingga 7 Agustus 2017.

Halaman pengantar album K.T. Satake edisi bahasa Inggris
(klik untuk memperbesar)

Kali ini beberapa foto tambahan akan menambah rangkaian ini. Ada pula pemuatan beberapa ulang foto, kali ini dalam ukuran yang lebih besar, serta dengan level kontras-terang yang sudah di-adjust dengan bantuan komputer.


~1930: Beranda bangsawan Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1926: Tiga wanita Bali mengangkut kelapa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1930: Pemandian kuda di Tejakula, Buleleng
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah kawasan pura dengan kolam dan pemandian
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1930: Dua warga Bali membawa padi dengan bantuan kuda dan sapi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1926, 1930
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: K.T. Satake
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 1 dan 3 pernah dimuat di posting ini; nomor 4 di posting ini.

Minggu, 05 Maret 2023

Kumpulan foto hasil jepretan K.T. Satake dari sekitar tahun 1930 (3)

K.T. Satake adalah juru foto dari Jepang yang berkeliling di Hindia-Belanda pada sekitar tahun 1930 dan mempublikasikan foto-fotonya di album berjudul Sumatra Java Bali yang dikeluarkan pada tahun 1933. Blog ini pernah menampilkan beberapa foto karya Satake ini sejak tanggal 30 Juni 2017 hingga 7 Agustus 2017.

Halaman pengantar album K.T. Satake edisi bahasa Inggris
(klik untuk memperbesar)

Kali ini beberapa foto tambahan akan menambah rangkaian ini. Ada pula pemuatan beberapa ulang foto, kali ini dalam ukuran yang lebih besar, serta dengan level kontras-terang yang sudah di-adjust dengan bantuan komputer.


~1930: Goa Lawah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1926: Letusan Gunung Batur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1930: Dua gunung (yang belum teridentifikasi)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pedagang minuman dan pembeli
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1930: Dua wanita Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1926, 1930
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: K.T. Satake
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 09 Juni 2022

Perkebunan tebu pemasok pabrik gula Wonopringgo, Pekalongan, 1926

Perkebunan tebu di kawasan Bojong Kidul dengan latar belakang Gunung Slamet
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah seorang mandor perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Mesin pompa air di perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para mandor perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gunung Slamet dilihat dari kawasan perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1926, kecuali foto terakhir 1933
Tempat: Wonopringgo (Pekalongan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 24 April 2020

Hindia-Belanda dalam foto stereoskopi (4): Warga Karo, 1926

PENGANTAR
Di akhir abad ke-19 foto stereoskop cukup populer untuk melihat foto dengan kesan tiga dimensi. Teknik yang digunakan saat itu adalah dengan membuat dua foto dengan sudut pengambilan yang sedikit berbeda. Kemudian kedua foto ini disandingkan, dan dilihat dengan menggunakan alat bersekat yang memisahkan pandangan mata kiri dan kanan. Gambar di kiri memperlihatkan contoh alat ini.

Wilayah Hindia-Belanda pun tak luput dari mode fotografi ini. Seri berikut akan menampilkan beberapa motif foto dari Hindia-Belanda yang ada di koleksi penggemar stereoskopi.

Sebuah pemukiman Karo dengan rumah tradisionalnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Makam leluhur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tiga gadis mencari kutu ...
(klik untuk memperbesar | © NGA)
... dan melempar senyum
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah keluarga
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang kakek
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang nenek di sawah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang nenek di pemukiman
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1926
Tempat: Karo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 04 April 2019

Lawatan bangsawan Jawa ke Belanda, 1926/1936

1926: Rombongan Keraton Solo di sebuah pabrik barang perak di Voorschoten
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
1936: Mangkunegoro VII bersama isterinya, Kanjeng Gusti Ratu Timur, di acara pernikahan Putri Yuliana
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1926 & 1936
Tempat: Belanda
Tokoh: Mangkunegoro VII (Pangeran Praja Mangkunegaraan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 30 Mei 2018

Wanita Belanda naik delman zaman dulu

Jakarta, 1920-an
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Jakarta, 1920-an
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Jawa, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Garut, sekitar 1930
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1920-an, 1926, 1930
Tempat: Garut, Jakarta, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:


UPDATE 11 Januari 2019:
Parakan (Bandung?), 1929
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Sabtu, 14 April 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Majalengka, 1926

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Majalengka, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: antara 1926-1929
Tempat: Majalengka
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 12 April 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Kuningan, 1926

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Kuningan, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: antara 1926-1929
Tempat: Kuningan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 10 April 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Indramayu, 1926

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Indramayu, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Dewan pemerintahan daerah Indramayu, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: antara 1926-1929Tempat: Indramayu
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: