Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang pemburu Dayak dikayuhi sampan

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1858
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Den Haag
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas memperlihatkan seorang lelaki Dayak dengan tombak di tangan kanan, tameng di tangan kiri, serta mandau di pinggang, berdiri di bagian depan sampan yang dikayuh seorang wanita. Wanita ini boleh jadi seorang budak. Dari beberapa gambar/foto tentang budak di Nusantara yang pernah dimuat di blog ini, kita bisa perhatikan bahwa para budak mengenakan pakaian yang lebih tertutup daripada tuannya.
Juru foto/gambar: Auguste van Pers
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Sabtu, 21 Maret 2026

Lima rangkaian wajah-wajah penduduk Nusantara di sekitar tahun 1941

Senyum pemetik teh di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Tionghoa pengolah timah di Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua petani membajak sawah di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang Dayak di selatan Kalimantan menggunakan sipet ketika berburu 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang perempuan Jawa menggunakan canting dalam membatik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1941
Tempat: Belitung, Jawa, Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 01 Januari 2026

Senin, 08 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Lukisan kuno tentang bayi dan warga dewasa Dayak

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: sekitar 1839 
Tempat terbit: Leiden (?)
Tokoh:
Deskripsi: Gambar-gambar zaman dulu buatan orang Eropa tentang warga Nusantara jarang sekali menampilkan bayi. Karenanya, lukisan di atas menjadi unik dan merupakan sebuah pengecualian yang jarang ditemukan. Selain itu, lukisan ini juga lumayan mendetail dalam menggambarkan perkakas dan asesoris warga Dayak zaman dulu. Kita lihat a.l. tattoo di sekujur tubuh pria dayak, istrinya (?) yang telanjang dada, sementara budaknya yang menggendong bayi mengenakan pakaian, sesuatu yang di logika masa sekarang kurang masuk akal. Kita saksikan juga penutup kepala kedua perempuan yang bundar dan lebar, sementara si pria cukup memakai ikat kepala. Tidak ketinggalan: mandau, keranjang punggung, bentuk perahu, dan juga rumah panggung warga Dayak.
Juru foto/gambar: H.A. von Henrici / Willem Jan Gordon
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Sabtu, 06 Desember 2025

Rabu, 06 Agustus 2025

Kumpulan beberapa ilustrasi zaman dulu tentang Nusantara (3)

Berbagai jenis perahu dan kapal serta peralatan yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan
[P.A. van der Lith, 1875, Amsterdam]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar di atas
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
D.ki.k.ka. serta d.at.k.ba.
Kampung di Manila (!)
Warga Arafuru
Desa warga Melayu
Pengantin, bangsawan, dan prajurit di Jawa
Reruntuhan Borobudur
Warga Dayak di sebuah pesisir
Warga Timor
Sebuah kampung di Timor
Kuburan di Ambon
Sebuah desa di Jawa
[1850, Jerman]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1850, 1875
Tempat terbit: Amsterdam, Jerman
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: a.l. P.A. van der Lith
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 25 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (3)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Pengadilan desa di Jawa, pewarnaan dari foto yang pernah dimuat di posting ini
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum pria di Nusantara: 1. pemuka warga Sumatera bagian utara, 2. pria Aceh, 3. warga Padang, 4. warga Minangkabau, 5. tetua warga Pasemah, 6. pria Nias dalam pakaian perang, 7. kuli angkut di kalangan warga Dayak, 8. pemuka warga Timor, 9. pria Arafura dalam pakaian perang, 10. lelaki Bali, 11. pria Papua
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum wanita di Nusantara: 1. pengantin Jawa, 2. perempuan Jawa, 3. wanita Pasundan, 4. perempuan Madura, 5. warga Payakumbuh, 6. warga Minangkabau dari kawasan Gunung Merapi, 7. perempuan Payakumbuh, 8. wanita Singgalang, 9. pemuka warga Nias, 10. budak dari Batak, 11. anak perempuan dari seorang raja Batak, 12. wanita Bali, 13. perempuan Dayak
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 23 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (2)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Empat penari Bedhaya dengan iringan gamelan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah gambar yang diberi judul "ras Melayu" dengan menampilkan dua lelaki Dayak, seorang ulama, dan sepasang orang Jawa [serta seorang petani duduk di belakang], yang merupaka kompilasi dari a.l. lukisan yang pernah dimuat di sini, sini, dan sini.
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 15 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (7)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang wanita Dayak bernama Sulau Landang, dengan ikat kepala, kalung berlapis, dua pasang anting di kuping yang memanjang, serta tattoo di tangan dan kaki
(klik untuk memperbesar)
Kuburan seorang pemuka Dayak bernama Rajah Sinen, dalam bentuk bangunan panggung dengan ukiran dan hiasan, serta penjagaan
(klik untuk memperbesar)
Seekor kancil yang ditemui Carl Bock di Sumatera
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemburu harimau bernama Sinen di Sumatera
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Jumat, 13 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (6)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang pria Dayak dari Long Wai dalam pakaian perang, lengkap dengan tameng, tombak, mandau, pakaian berbulu binatang
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemuda Dayak bernama Hetdung, yang kemungkinan adalah pengiring Carl Bock dalam perjalanannya
(klik untuk memperbesar)
Carl Bock melukis semacam selfie dengan menggambarkan dia berada di depan melintasi sebuah sungai di wilayah Benanga diikuti para pengiringnya yang membawa perbekalan dan peralatan
(klik untuk memperbesar)
Seorang kepala suku Dayak terbaring dengan ditutupi kain; seorang pria dan seorang wanita yang menuntun anak berada di dekatnya
(klik untuk memperbesar)
Pria ini bernama Sibau Mobang, merupakan salah satu kepala suku Dayak, dengan kalung berlapis dan kuping memanjang yang antingnya tampaknya sudah dilepas
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Rabu, 11 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (5)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Kiri: Orang Bukit dari wilayah Amuntai dengan lembing, parang, dan keranjang; kanan: seorang wanita dari Long Wai pulang membawa buah-buahan dengan ditemani seekor anjing
(klik untuk memperbesar)
Berbagai macam perabotan warga Dayak termasuk alat musik
(klik untuk memperbesar)
Berbagai macam senjata warga Dayak seperti mandau, tombak, anak panah, parang, dsb.
(klik untuk memperbesar)
Seorang wanita Dayak dari Long Wai dengan anting, kalung, dan tattoo di tangan serta kaki
(klik untuk memperbesar)
Pria dari Dayak Tring ini bernama Ipping dan merupakan dukun atau tokoh spiritual di kalangan warganya
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Senin, 09 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (4)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Kuburan keluarga dari seorang tokoh Dayak bernama Rajah Dinda dalam bentuk bangunan panggung tinggi dengan hiasan dan ukiran kayu serta penjagaan
(klik untuk memperbesar)
1. Pria Dayak Punan dari Long Wahau
2-3. Dua tengkorak manusia yang menjadi piala
4. Topeng yang dipakai dalam perayaan
(klik untuk memperbesar)
Seorang perempuan Dayak dari Long Wai dengan tutup kepala, kalung, serta tattoo di punggung tangan
(klik untuk memperbesar)
Tarian perang dari kaum pria Dayak Tring
(klik untuk memperbesar)
Seorang wanita Melayu yang dijumpai Carl Bock dalam perjalanannya di Sumatera
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Sabtu, 07 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (3)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Perkampungan Dayak Long Wai dengan rumah panggung, babi piaraan, serta perahu
(klik untuk memperbesar)
Kemungkinan salah satu sudut Tenggarong, ibu kota Kesultanan Kutai, dengan rumah panggung di atas air dan perahu sebagai sarana transportasi utama
(klik untuk memperbesar)
Atas: Keraton Sultan Kutai; bawah: sebuah kompleks kuburan di tepi sungai yang dikawal seorang penjaga bersenjata lembing
sebuah (klik untuk memperbesar)
Seorang pria Dayak dalam pakaian perang lengkap dengan jubah dari kulit macan tutul
(klik untuk memperbesar)
Patung-patung dan hasil kerajinan tangan suku Dayak
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

UPDATE 14 Juli 2026: Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Kamis, 05 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (2)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang wanita Dayak Punan, dengan kalung, tapi tanpa perhiasan lain seperti anting, hiasan rambut, tattoo, dsb.
(klik untuk memperbesar)
Tiga pria Dayak tertidur dengan mandau, tameng, dan kantung air digantung atau disandarkan ke pohon. Tampaknya masyarakat Dayak membawa semacam tikar untuk merebahkan diri saat istirahat.
(klik untuk memperbesar)
Dua wanita Dayak. Yang sebelah kiri kemungkinan memiliki jenjang sosial lebih tinggi karena berkalung, beranting, dan memakai kain yang lebih panjang. Yang sebelah kanan, menurut Carl Bock adalah maid ("pembantu"), tampaknya bertugas menggendong anak dari perempuan yang kiri.
(klik untuk memperbesar)
1-4: Pola tattoo suku Dayak. 5: Semacam anyaman untuk menyimpan barang.
(klik untuk memperbesar)
Seorang kepala suku dengan mandau dan tombak
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan: