Tampilkan postingan dengan label 1740. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1740. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2025

Lukisan Belanda tentang Geger Pacinan, konflik bersenjata antara VOC dan warga Tionghoa Batavia, 1740 (2)

Selama hampir dua pekan, tepatnya dari tanggal 9 hingga 22 Oktober 1740, terjadi konflik bersenjata antara VOC dengan warga Tionghoa di Batavia. Diperkirakan pergolakan ini memakan korban sekitar 500 serdadu VOC anak-anak, dan orang jompo.

Dahulu, orang Belanda menyebut kejadian ini sebagai "schrikkelijke slagting der Chinezen, na de ontdekking van hun verraad" (pertempuran mengerikan orang Tionghoa setelah pengkhianatan mereka terbongkar), dan orang Jerman memberi istilah "Rebellion der Chinesen" (pemberontakan orang Tionghoa) yang senada dengan istilah Belanda "Opstand der Chinezen te Batavia", yang memberi konotasi pelaku atas warga Tionghoa. Sekarang orang lebih memilih istilah "Chinezenmoord" (pembunuhan atas warga Tionghoa) atau "Batavia Massacre" (pembantaian Batavia) yang memberi konotasi korban kepada warga Tionghoa. Sejarawan Indonesia menggunakan istilah "Geger Pacinan" yang lebih tidak memihak.

Berikut ini adalah lukisan yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya; kali ini dalam ukuran yang dua kali lebih besar, dan tampaknya berasal dari edisi lain. Edisi ini hanya berisi keterangan dua baris di bawah gambar, tidak sebanyak yang sebelumnya. Gambarnya tetapi tetap sama, yaitu a.l. memperlihatkan bagaimana meriam VOC menembaki perkampungan warga Tionghoa (yang atap rumahnya memiliki bulan sabit) sementara api sudah membara di wilayah pecinan ini. Adegan yang mengerikan tentunya bagian di mana VOC mengepung dan membantai warga Tionghoa, atau menggiringnya ke sungai untuk kemudian ditenggelamkan.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1740
Tempat terbit: Belanda 
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Adolf van der Laan 
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 14 April 2025

Lukisan karya Jacques Nicolas Bellin tentang Jakarta dan sekitarnya dari sekitar tahun 1740

Balaikota Jakarta, saat itu berada di dekat Kastil Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kemungkinan wilayah yang sekarang menjadi kawasan Petojo
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pulau Onrust, dengan tanggul batu, dua kincir angin, dan kemungkinan sarana bongkar muat kapal
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Benteng Belanda di Tangerang dengan tembok batu, pos penjagaan, menara lonceng, kemungkinan juga area pemakaman, dan kawanan kerbau digembala di depannya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1740
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Jacques Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 20 Oktober 2024

Peta kuno keluaran Venezia dari tahun 1740 tentang "Kepulauan Sunda"

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1740
Tempat terbit: Venezia / Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Yang langsung mencolok dari peta tentang Isole di Sunda (Jawa, Kalimantan, dan Sumatera) ini adalah nama-nama yang bertebaran dan ditulis dalam jarak yang ketat dari nama-nama yang lain. Hampir semua pulau termasuk yang kecil diberi nama; wilayah pesisir pun diberi nama satu per satu. Bagian selatan Jawa mengindikasikan bahwa nama-nama ini belum tentu julukan yang dipakai penduduk setempat, melainkan boleh jadi nama yang dipakai para pelaut (atau mungkin juga rekaan juru kartografi?). Yang menarik lainnya adalah munculnya nama "Deli" di utara Sumatera yang sebelum-sebelumnya masih absen di peta lain, begitu juga nama "Bima" di Sumbawa, serta "Sampit" di selatan Kalimantan.
Juru kartografi: G. Albrizzi / Isaac Tirion
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 07 April 2024

Sabtu, 21 Agustus 2021

Peta Jakarta dari abad ke-17/18: Satu basis tiga versi (1)

Clement de Jonghe adalah seorang pelukis Belanda yang hidup di abad ke-17. Sekitar tahun 1650 dia menggambar peta Batavia yang menjadi dasar dari beberapa salinan oleh pemeta lain. Berikut tiga dari versi peta Batavia yang didasari karya de Jonghe.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Versi ini berasal dari sekitar tahun 1660-1664 dan kemungkinan dibuat oleh A. Meijer. Versi ini tidak memberikan deskripsi atas bagian-bagian di peta; tetapi memberikan nuansa eksotis dengan menampilkan pohon kelapa, gajah tunggang, serta beragam manusia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Versi ini dibuat oleh Frederik de Wit di tahun 1681. Peta ini sudah memberikan beberapa deskripsi. Sungai yang melintas di bagian tengah adalah De Groote Rivier (Kali Besar), sementara beberapa bangunan dan area diberi kode huruf dan nomor dengan keterangan di pojok kanan bawah. Kita antara lain bisa membaca bahwa di kastil Batavia ada bagian Logiment van de Raden van India serta Iavansche corps dagarde yang mengindikasikan kesatuan Jawa dengan panglimanya. Selain itu ada pula Bandanees quartier (wilayah orang Banda), Mallebaera quartier (wilayah orang Malabar, India?), Cinees Siecken huys (rumah sakit Tionghoa), serta Vismarckt (pasar ikan).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Peta di atas diterbitkan berwarna di sekitar tahun 1740 oleh M. du Chesne. Isinya hampir sama persis, hanya penempatan mata angin yang berbeda, serta sekarang judul peta berbunyi Afbeldinge van 't Casteel en de Stadt BATAVIA gelegen op 't groot Eylandt JAVA-MAIOR, int Coninckrijck van IACCATRA (gambar kastil dan kota Batavia di pulau besar Jawa Raya di Kerajaan Jakatra).

Waktu: 1664, 1681, 1740
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: A. Meijer; Frederik de Wit; M. du Chesne
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 05 Mei 2021

Lukisan Belanda tentang Geger Pacinan, konflik bersenjata antara VOC dan warga Tionghoa Batavia, 1740 (1)

Selama hampir dua pekan, tepatnya dari tanggal 9 hingga 22 Oktober 1740, terjadi konflik bersenjata antara VOC dengan warga Tionghoa di Batavia. Diperkirakan pergolakan ini memakan korban sekitar 500 serdadu VOC dan menewaskan lebih dari 10.000 warga Tionghoa termasuk wanita, anak-anak, dan orang jompo.

Dahulu, orang Belanda menyebut kejadian ini sebagai "schrikkelijke slagting der Chinezen, na de ontdekking van hun verraad" (pertempuran mengerikan orang Tionghoa setelah pengkhianatan mereka terbongkar), dan orang Jerman memberi istilah "Rebellion der Chinesen" (pemberontakan orang Tionghoa) yang senada dengan istilah Belanda "Opstand der Chinezen te Batavia", yang memberi konotasi pelaku atas warga Tionghoa. Sekarang orang lebih memilih istilah "Chinezenmoord" (pembunuhan atas warga Tionghoa) atau "Batavia Massacre" (pembantaian Batavia) yang memberi konotasi korban kepada warga Tionghoa. Sejarawan Indonesia menggunakan istilah "Geger Pacinan" yang lebih tidak memihak.

Di bawah ini beberapa gambar kuno buatan Belanda, juga Perancis, yang melukiskan peristiwa ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gambar di atas berasal dari buku untuk anak-anak terbitan tahun 1817 dengan judul "Tafereelen uit de Vaderlandsche Geschiedenis; tot nut en vermaak voor de Nederlandsche Jeugd" yang melukiskan bagaimana warga Tionghoa ditangkapi dan dibantai sementara rumah mereka dibakar. Di latar belakang tampak sebuah jembatan gantung yang menunjukkan lokasi kejadian.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gambar di atas juga berasal dari buku anak dengan judul "De leidsman der jeugd" yang terbit sekitar tahun 1835-1841. Gambar karya Johannes Steyn ini melukiskan bagaimana sekelompok warga Tionghoa bersenjata bergerak ke arah sebuah pertempuran yang sudah bergejolak, sementara jasad seorang serdadu VOC tersungkur di depan mereka.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Peta di atas dibuat pada tahun 1741, jadi hanya beberapa bulan setelah Geger Pacinan. Peta ini, dengan utara mengarah ke kiri, menggambarkan detail posisi VOC dan warga Tionghoa, serta pergerakan dan pertempuran kedua belah pihak. Untuk patokan dari sudut pandang sekarang: sungai yang melintang di tengah adalah "Groote Rivier" (Kali Besar), sementara bangunan dengan nomor 30 adalah Gereja Portugis (sekarang Gereja Sion).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Lukisan di atas memiliki deskripsi dalam bahasa Perancis, dan menyebut peristiwa ini sebagai "la grande Conspiration" (persekongkolan besar). Gambar dari tahun 1740 (?) ini di sebelah kiri memperlihatkan bagaimana pada awalnya warga Tionghoa, yang digambarkan memakai semacam rok dan topi bulu, menyerang warga kulit putih. Bagian kanan menunjukkan akhir dari peristiwa ini di mana warga Tionghoa ditangkapi dan dihukum penggal kepala.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Lukisan di atas merupakan karya Adolf van der Laan dan kemungkinan dibuat sekitar 1740 juga (Van der Laan meninggal di tahun 1742). Gambar ini memperlihatkan bagaimana meriam VOC menembaki perkampungan warga Tionghoa (yang atap rumahnya memiliki bulan sabit) sementara api sudah membara di wilayah pecinan ini. Adegan yang mengerikan tentunya bagian di mana VOC mengepung dan membantai warga Tionghoa, atau menggiringnya ke sungai untuk kemudian ditenggelamkan. Gambar ini memiliki beberapa keterangan nama tempat; Kali Besar adalah sungai kedua dari bawah di lukisan ini.

Waktu: 1740 (dengan dua gambar pertama dibuat di abad ke-19)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Geger Pacinan
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: