Tampilkan postingan dengan label Wilhelmina Helena Pauline Maria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wilhelmina Helena Pauline Maria. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Oktober 2024

Letnan Saleh Sadeli sebagai anggota dewan hakim yang mengadili kejahatan perang Jepang di Papua, 1945

Saleh Sadeli (duduk paling kanan) di depan tiga prajurit Jepang yang bersaksi di persidangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sidang dipimpin oleh Mr. Rijkee, pria berambut terang di sebelah Saleh Sadeli
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sidang berlangsung di bawah foto Ratu Wilhelmina
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Komunikasi dipandu oleh penerjemah bernama Yake (berkacamata, keempat dari kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Satu dari tiga prajurit Jepang memberikan kesaksian di hadapan Saleh Sadeli dan Mr. Rijkee
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Papua
Tokoh: Letnan Saleh Sadeli (perwira muda KNIL)
Peristiwa: Saleh Sadeli merupakan perintis dari kesatuan kavaleri TNI, dan pernah menjabat Komandan Pusat Kavaleri dari tahun 1956 hingga 1958. Seperti beberapa tokoh TNI lain, misalnya A.H. Nasution, Saleh Sadeli berasal dari KNIL. Ketika Sekutu berhasil mengalahkan Jepang di Papua, dan kemudian militer Belanda menginjakkan kaki kembali di pulau ini, Saleh Sadeli merupakan bagian dari anggota KNIL yang mengadili Jenderal Tanona (?) yang didakwa dengan kejahatan perang, seperti yang ditampilkan oleh foto-foto di atas.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 09 Agustus 2023

Persiapan Belanda di Australia untuk merebut kembali Indonesia: Perundingan para petinggi Hindia-Belanda di Kamp Columbia

Di penghujung 1944 dan awal 1945, ketika Jerman makin terdesak di Eropa, dan Jepang makin terpukul di kawasan Asia-Pasifik, Belanda makin menggiatkan usaha-usaha untuk merebut kembali Hindia-Belanda. Usaha-usaha ini terpusat di Australia, yang secara geografis dekat dengan Indonesia, dan secara politis dan militer berada bersama Belanda di pihak yang melawan negara-negara Poros. Seri berikut akan mencoba menampilkan dokumentasi foto tentang aktivitas Belanda di wilayah Australia ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1944
Tempat: Kamp Columbia (Queensland, Australia)
Tokoh:
  • Charles Olke van der Plas (berjanggut; mantan Gubernur Jawa Timur)
  • Hubertus van Mook (ketua rapat; Menteri Urusan Wilayah Jajahan, kelak Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • Mayor Jenderal Ludolph Hendrik van Oyen (berseragam militer; Panglima KNIL 1942-1946)
  • Nicolaas Selhorst Blom (berkacamata di kiri)
  • J.E. van Hoogstraten
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 10 November 2022

Persiapan Hindia-Belanda menghadapi Perang Dunia II: Luchtbeschermingsdienst (2) - Barisan para sukarelawan

LBD (Luchtbeschermingsdienst) merupakan organisasi sipil yang berisi para sukarelawan yang akan membantu masyarakat sipil lainnya pada saat ada serangan udara. LBD di Hindia-Belanda tampaknya diisi oleh kaum pemuda atau malah remaja. Foto-foto berikut akan memperlihatkan wajah-wajah anggota LBD, yang tampaknya lintas etnis dan warna kulit, pelatihan mereka, serta kegiatan simulasi pemadaman kebakaran setelah ada serangan udara.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1941
Tempat: Tiga foto pertama kemungkinan besar diambil di Jakarta; dua foto terakhir di Hotel Kalioerang, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 11 Februari 2022

Dari arsip Atlas Van Stolk: Wajah beberapa warga dan tokoh Belanda

7 Januari 1927: Pembukaan komunikasi jarak jauh Belanda-Nusantara melalui signal radio
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1927: Ratu Wilhelmina menyampaikan pesan radio dari Belanda ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Antara 1900 dan 1920: Berpose di atas dan depan mobil
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Medan, 1929: Sebuah jamuan makan warga Belanda dengan dua pelayan lokal
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Antara 1930 dan 1939: Rumah sakit Angkatan Laut di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Rotterdam, 1939: Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld mengamati maket Mesjid Demak
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1972: Sukmawati Soekarnoputri di Belanda
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1920, 1927, 1929, 1939, 1972
Tempat: Belanda, Medan, Surabaya
Tokoh: Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda); Bernhard van Lippe-Biesterfeld (suami Ratu Juliana); Sukmawati Soekarnoputri (anak Soekarno)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 24 Juni 2021

Poster menyambut seperempat abad penobatan Ratu Wilhelmina, 1923

(klik untuk memperbesar | © Johan Isings / AVS)

Waktu: 1923
Tempat: lukisan dibuat di Belanda
Tokoh: Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda, digambarkan di batu marmer di lukisan di atas)
Peristiwa: Poster di atas menyambut 25 tahun bertahtanya Wilhelmina sebagai Ratu Belanda, dan memuat banyak perlambang. Nona Belanda kali ini ditampilkan ada dua. Yang di sebelah kanan menyambut masyarakat Belanda yang a.l diwakili oleh kalangan bangsawan, militer, cendekiawan, masyarakat pedesaan, pekerja, pelaut, dll. dengan persembahan karya kebanggaan Belanda a.l. kapal laut dan lukisan. Yang di sebelah kanan, dengan latar belakang pepohonan, menyambut warga Nusantara seperti orang Jawa, Aceh, Minang, Bali, dan Dayak dengan didampingi (atau dijaga?) tentara KNIL dan pejabat kolonial Belanda. Persembahan dari arah kanan bentuknya adalah gamelan, kerajinan tangan, tenunan, dan buah-buahan.
Juru foto/gambar: Johan Isings
Sumber / Hak cipta: C.C. Callenbach | Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 28 Desember 2020

Gapura-gapura di Jakarta menyambut hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, 1898

Area yang sekarang merupakan kawasan Medan Merdeka
Hulde aan het stamhuis van Oranje
(Penghormatan atas Wangsa Oranje)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pasar Senen
Leve Koningin Wilhelmina
(Hidup Ratu Wilhelmina)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pecinan di Pasar Baru
Wij begroeten jubelend onze geliefde vorstin en den prins der Nederlanden
(Kami menyambut dengan sukacita Ratu tercinta kami dan Pangeran Belanda)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pecinan di Pasar Baru
God zij met onze Koningin
(Tuhan beserta Ratu kami)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu:1898
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Gapura-gapura di Jakarta menyambut hari ulang tahun Ratu Wilhelmina
Juru foto/gambar: 
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 28 November 2020

Kartu pos kuno "Salam dari Jawa" keluaran Surabaya 1898

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gunung Bromo dan Semeru, pedagang pikulan, pedati, dan sebuah rumah Belanda di Surabaya, bersama Ratu Wilhelmina.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kereta hias, Koffieland, sebuah toko, semuanya di Surabaya, dan jembatan gantung di Pademangan, Blitar, bersama Ratu Wilhelmina.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Candi Mendut, Tretes dan pemandian Diana di Prigen (Pasuruan), serta sketsa seorang putri Dayak.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Candi Borobudur, gamelan, pohon beringin, dan sepasang pengantin.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gunung Bromo, kawasan Kayun di Surabaya, rampogan sima di Blitar, dan Tosari.

Waktu: kartu-kartu pos di atas dikeluarkan tahun 1898
Tempat: kartu-kartu pos di atas mengacu ke hal-hal di Jawa (kecuali putri Dayak)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: F.W. Krapp | K. Fuchs
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 08 Agustus 2020

Ketika Pos Indonesia hanya memiliki perangko dengan nominal kecil, 1949

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1949
Tempat:  Jakarta dan Rotterdam
Tokoh:
Peristiwa: Amplop di atas yang dikirim dari Jakarta ke Rotterdam adalah salah satu hal yang menarik dalam sejarah. Saat itu tampaknya Pos Indonesia hanya siap dengan perangko dengan nominal kecil, dalam hal ini 12½ sen (rupiah). Karena pengiriman ke luar negeri, dan tampaknya juga berisi foto dengan berat yang lumayan, perangkonya harus ditambah dengan yang nominalnya besar. Tampaknya saat itu yang tersedia hanya perangko "kolonial" bergambar Ratu Wilhelmina. Maka yang dilakukan Pos Indonesia adalah mencoret semua kata "Ned-Indië" dan menambahkan cap kata "Indonesia". Nilainya dalam gulden tidak diubah. Perangko bernilai 60 cent (gulden) tampaknya tidak sempat terkena aksi darurat ini.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 20 Agustus 2019

Pengadilan perang atas perwira Jepang Kapten Sonai, komandan kamp tawanan Cideng, 1946

Kapten Sonai membungkuk menghormati dewan hakim militer
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapten Sonai didampingi penerjemah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapten Sonai di hadapan dewan hakim militer
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1946
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Kapten Sonai adalah komandan dari kamp tawanan Cideng yang mengurung sekitar 12.000 warga sekutu, umumnya wanita dan anak-anak Belanda, semasa Perang Dunia II. Setelah Jepang kalah perang, dan Belanda masuk lagi ke Indonesia, militer Belanda mendakwa Sonai atas kejahatan perang. Kapten Sonai menyatakan diri tidak bersalah.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

UPDATE 6 September 2019

Foto berikut menampilkan Kapten Sonai bersama dua perwira Belanda setelah pihak Belanda menangkap Sonai di penghujung 1945.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / Museon)

Sabtu, 20 Juli 2019

Pakubuwono XI bersama Gubernur Jawa Timur Charles Olke van der Plas, 1941

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 6 Maret 1941
Tempat: Surabaya
Tokoh d.ki.k.ka.: Charles Olke van der Plas (Gubernur Jawa Timur), Pakubuwono XI (Susuhunan Surakarta), istri Pakubuwono XI, istri van der Plas
Peristiwa: Pakubuwono XI bersama Ratu berbincang dengan Gubernur Jawa Timur dalam kunjungannya ke Surabaya, dengan latar belakang foto Ratu Wilhelmina.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 25 September 2018

Perwakilan Hindia-Belanda di Jambore Pramuka se-Dunia di Belanda, 1937

6 Agustus 1937: Dua pandu Hindia-Belanda berbincang dengan tiga rohaniawan Katolik, salah satunya adalah Raden Mas Darmoro yang masih kerabat keraton Mangkunegaran.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Ratu Wilhelmina dan Putri Juliana menerima kedatangan para pandu dari wilayah jajahan Belanda di Istana Het Loo. Wakil dari Hindia-Belanda tampak mengenakan kostum wayang orang.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1937
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Jambore 1937 adalah perhelatan pramuka terakhir yang dihadiri Lord Baden Powell. Di acara ini tokoh pandu dunia yang saat itu menginjak usia 81 tahun mengucapkan salam perpisahan.

Selasa, 17 Oktober 2017

Perayaan 50 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina, 1948

Lomba gigit koin di alun-alun Banyumas
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pawai masyarakat Alor Timur
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pawai anak-anak di Purwakarta
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Upacara di istana Gubernur-Jenderal
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 6 September 1948
Tempat: Alor, Banyumas, Jakarta, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 6 September 1948 warga Belanda merayakan 50 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina, termasuk di wilayah yang dikuasai Belanda di Indonesia. Wilhelmina sendiri, dengan perayaan 50 tahun ini, menjadi penguasa Belanda terlama dalam sejarah.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 30 Desember 2016

Masyarakat Belanda di Surabaya merayakan penobatan Ratu Wilhelmina, 1898

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1898
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Wilhelmina menjadi ratu Belanda di tahun 1890 pada usia 10 tahun ketika bapaknya, Raja William III, meninggal. Penobatan resminya dilakukan ketika Wilhelmina menginjak usia 18 tahun.

Senin, 11 Agustus 2014

Bangsawan Deli dan Langkat di masa penjajahan Belanda

Sultan Deli, Tengku Otteman, bersama anaknya Tengku Amiruddin, berkunjung ke Belanda, 13 Agustus 1938.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Tengku Otteman, putra mahkota Kesultanan Deli, di Istana Maimun, 1926.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Putri Sultan Langkat, Tengku Kalsum dan Tengku Latifa Khanum bersimpuh di hadapan Ratu Wilhelmina dan Pangeran Bernhard, mempersembahkan karangan bunga di perayaan penobatan Wilhelmina yang ke-40 di Stadion Olimpiade Amsterdam, 10 September 1938.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Tengku Otteman, berkunjung ke mesjid dalam acara penobatannya sebagai putra mahkota Kesultanan Deli, 1926.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Tengku Otteman, berfoto bersama para bangsawan Deli dan para petinggi Belanda dalam acara penobatannya sebagai putra mahkota Kesultanan Deli, 1926.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Tengku Otteman, pewaris tahta putra mahkota Kesultanan Deli, menikah dengan Raja Amnah dari Perak, 1925.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Waktu: 1925, 1926, 1938
Tempat: Deli, Langkat, Amsterdam
Tokoh: Tengku Otteman (Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah), Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: